Kamis, 29 Desember 2016
Lockwood
Judul: Lockwood & Co.
The Screaming Staircase
Undakan Menjerit
Penulis: Jonathan Stroud
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 419
Saat beli buku ini, sebenarnya agak kecewa pada cover-nya. Sebab pendahulunya, Bartimaeus memiliki desain yang lebih memorable dan bikin puas hati saat menyentuh emboss gambarnya. *mari abaikan pendapat pribadi yang masih gagal move on
Sebenarnya sudah punya bukunya agak lama, tapi baru sempat baca-baca lagi. Dan seorang rekan menyarankan this masterpiece.
Selasa, 20 Desember 2016
Curcol
21 Desember 2016
Seperti biasa, pada hari-hari biasa orang bekerja ada yang mengendarai kendaraan atau berjalan kaki. Bahkan ada pula yang memang pekerjaannya berjibaku dengan jalanan dan kendaraan. Tapi bukan itu inti masalahnya. Hanya memberikan gambaran singkat mengenai jalur yang selalu aku lewati.
Setiap hari atau terkadang, aku berbagi kendaraan dengan adik perempuanku yang tengah kuliah. Biasanya aku diantar sampai kantor atau terkadang kebagian jatah untuk membawa sendiri. Ada kalanya aku minta diantar sampai perempatan jalan lalu berjalan kaki menuju kantor. Atau ada kalanya juga aku lupa membawa ponsel dan harus pulang dengan menaiki angkot. Sebelum naik angkot itulah aku harus berjalan menuju perempatan yang sama. Sekali lagi bukan ini masalahnya, percayalah padaku.
Minggu, 18 Desember 2016
The Black Hallway
Sebuah lorong waktu hitam selalu muncul di atas lapisan bumi, mentransfer orang-orang secara acak ke dunia yang berbeda, jauh dari apa yang mereka bayangkan. Lorong waktu hitam itu kemudian disebut the black hallway.
***
Pada tahun 173. 567 SM, hidup kawanan Katpilounia di sebuah pulau bernama Gorgona. Katpilounia merupakan hewan yang memiliki kekuatan magis dan IQ yang cukup tinggi. Mereka bahkan dapat melakukan telepati pesan dalam jarak tak terhingga, asalkan keberadaan mereka masih dapat dirasakan di waktu yang sama. Adapula beberapa golongan saja yang dapat membaca dan mengontrol pikiran.
Rabu, 07 Desember 2016
[Prototype] Rainy
Aku berdiri di samping tiang listrik yang hanya berjarak beberapa kaki dari taman kecil di kota tempatku tinggal. Sebuah payung melindungiku dari rintik hujan, seperti biasa, aku berdiri di sana menanti kehadiranmu. Kuusahakan pada kondisi yang sama; pakaian yang sama, tempat yang sama, perkiraan waktu bertemu yang sama, rintik hujan lembut yang sama, sepatu yang sama, kaos kaki yang sama dan payung yang sama. Tapi kau belum menampakkan–ah, bagaimana aku mengatakannya ya–batang hidungmu. Sayangnya, hal ini merupakan hal sama yang kau lakukan dulu. Aku tersenyum simpul menatap cipakan air hujan dekat kakiku.
***
Suara dering alarm memaksaku untuk bangun. Aku mengintip dengan malas dari dalam pelukan hangat selimut kosan. Tanganku berusaha menggapainya meski mata dan tubuh masih ingin berbaring. Pagi itu, kuusahakan untuk bangkit. Telingaku menangkap suara tak asing. Hujan. Hari ini hujan seperti kemarin dan lusa, aku hanya menghembuskan nafas dengan berat.
Kamis, 01 Desember 2016
Sisi Lain Dunia Kucing
Seorang gadis SMP kelas dua berjalan keluar rumahnya sambil membawa semangkuk makanan kucing lengkap dengan air. Ia mengenakan pakaian seragam lengkap dengan rambut dibiarkan terurai menutupi bahu. “Belle! Ayo sini makan dulu!”
Dari kejauhan seekor kucing Anggora betina berlari mendekati panggilan tuannya. Terpasang sebuah kalung dengan bandul lonceng warna emas pada lehernya, ia begitu lapar. Alicia meletakkan mangkuk yang dibawanya. Belle langsung menyantap makanan yang disediakan dengan lahap. “Kamu suka sekali main di luar ya Belle?” Ia hanya memperhatikan hewan kesayangannya.
Dari dalam rumah sederhana terdengar suara seorang pria paruh baya. “Alicia! Sarapan dulu!”
Senin, 28 November 2016
[Fantasy] The Last War
Aku tidak tahu siapa atau apa diriku. Aku juga tidak tahu berapa usiaku yang sebenarnya. Terkadang, aku bisa hidup berhari-hari tanpa makanan dan tidak merasa lapar atau haus. Kondisi tubuhku tetap sama sejak bumi ini masih belum dipenuhi manusia seperti sekarang. Yang pasti, ingatan yang kumiliki saat pertama kali membuka mataku adalah membunuh Demon.
Aku tidak menua, juga tidak mengalami regenerasi. Aku pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Menikah dan hidup bersama tapi kami tidak memiliki keturunan. Seiring usia, keriput melahap pasanganku. Sejak awal memang ada yang berbeda denganku. Manusia normal pasti akan takut hidup bersamaku. Tapi, gadis itu sama sekali tidak merasa takut. Ia justru menyuruh pergi untuk menyelamatkan diri dari amukan warga desa. Aku kembali menjalani kehidupanku yang suram. Berganti tempat tinggal, bersembunyi lalu muncul dengan nama berbeda.
Aku telah menjalani berbagai profesi dalam hidupku. Memalsukan identitasku agar tidak dicurigai. Menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarku. Bersikap sewajarnya di siang hari dan berburu saat malam datang.
Minggu, 27 November 2016
White Castle ver 2
Para penghuni Hotel Tiqua, berjalan keluar dari kamar masing-masing menuju lobby untuk menikmati sarapan yang disajikan khas hotel berbintang 3, tidak terkecuali siswa dan siswi SMP Ravers yang kebetulan menginap di sana.
Sayaka dan Kazu mengambil pastry untuk sarapan mereka pagi ini. Mereka duduk di meja yang sama. “Tidurmu nyenyak?” Tanya Kazu, sambil menahan kantuknya.
“Iya, lumayan.” Sayaka mengambil donat yang dibalut dengan coklat, lalu menggigitnya sedikit.
“Begitu juga aku. Ahh.. bagaimana dengan yang lain ya?” Tanya Kazu sambil menggigit roti gandum yang sudah dilapisi selai lemon.
“Mungkin sama tegangnya dengan kita.” Sayaka mengambil gigitan yang cukup besar.
***
“TES, TES, 1, 2, 3, DENGARKAN BAIK-BAIK. KALIAN AKAN BERKELILING DESA DAN MENDAPATKAN KETERANGAN MENGENAI KASTIL ITU. TAPI JANGAN SEKALI-KALI MASUK KE SANA. DENGARKAN APA YANG DIKATAKAN MENTOR KALIAN. MENGERTI??” Tanya Fujiwara Sensei singkat.
Rabu, 23 November 2016
[Fantasy] Hujan
Aku berdiri di tempat kita mengikat janji. Aku masih mengusahakan untuk mengenakan pakaian yang sama, sepatu yang sama dan bahkan berdiri di tempat yang sama. Saat itu hujan dan aku membawa payungku dari rumah. Sekarang pun situasinya tidak berbeda dan aku masih menggunakan payung yang sama. Hanya saja dingin tidak lagi begitu terasa. Apa karena aku sudah berdiri terlalu lama?
Aku melihat sekitarku. Belum ada tanda-tanda kau akan tiba. Meski begitu hatiku berdebar tak karuan jika teringat dirimu. Orang lain tentu akan membuka ponsel mereka untuk menanyakan posisi orang yang mereka tunggu. Tapi biarlah, aku ingin kedatanganmu menjadi kejutan spesial untukku.
Sebenarnya sudah sangat lama aku menyimpan rasa padamu semenjak kita bertemu di bangku sekolah menengah pertama. Kepribadianmu yang tenang bagaikan air, tawamu yang khas, dan matamu yang memandang lurus lawan bicara, membuat perasaanku bertekuk lutut. Tapi saat itu aku masih anak-anak, masih bocah, belum bisa menjadi seseorang yang dapat kau andalkan. Tapi sekarang pun aku masih bertanya, sudah pantaskah aku bersanding di sisimu?
Kamis, 17 November 2016
Neulli Serum
Hi, this is my first writing about skin care, yeah! After along time to think what kind of product i want to review. Its more easy to call it lazy
Let's skip and continue the review.
This is how Neulii Green Tea BHA Pore Tightening Serum looks like. It's sample anyway :D
This is how Neulii Green Tea BHA Pore Tightening Serum looks like. It's sample anyway :D
This is how it looks like. Don't have backwards photo, sorry. But behind it, there are english and hangeul :D
its only contains 1 ml, but i could use it for 3 or 4 times in the morning. I never use it before sleep, i choose to use sleeping pack. Okay, we're gonna talk about it later.
The texture is liquid watery. This is my first time to use serum so i don't know how to compare it to another serum.
I love the scent, it's not too strong.
When apply to face, it's kinda easy to absorb by skin. So it's only need some time and i can apply toner after that.
This product claimed can shrink pore. And it's true! I have use for 8 samples and happy for the result. Sorry no picture before and after use :'
But maybe not that significant. I still can see my pores because it shrink a little. But the point, my pores were shrink yaayy *Awww thanks for this product.
Repurchase? It depends on your decision. But me, i'm gonna find another product. Going to do Error and Trial ;)
Well, hopefully this is useful for your references. See you :DDD
Minggu, 13 November 2016
White Castle, Ver.1
Dahulu hidup seorang putri yang berwajah cantik dan elegan di sebuah kastil yang diberi julukan White Castle. Kastil ini tidak hanya bermakna “putih” tetapi ada hal yang lebih dalam dari itu, “tulus”.
Sang putri begitu mencintai kastil itu, hingga ia tidak pernah menginjakkan kakinya keluar kastil. Hingga suatu hari sang putri terkena penyakit yang sangat parah yang mewabah di desa tempat tinggalnya. Seluruh tabib di penjuru desa telah datang untuk mengobatinya, namun tidak ada yang berhasil.
Lalu, perdana menteri memberi usul untuk membawa sang putri berobat di luar desa, akan tetapi sang putri menolaknya mentah-mentah. Raja dan Ratu negeri itu pun semakin resah dengan kondisi putri mereka. Di dalam pikiran mereka terlintas sebuah penyesalan karena menghadiahi sebuah kastil terkutuk untuk putri semata wayang mereka.
Rabu, 09 November 2016
Another Story of White Castle
Dahulu hidup seorang putri yang berwajah cantik dan elegan di sebuah kastil yang diberi julukan White Castle. Kastil ini tidak hanya bermakna “putih” tetapi ada hal yang lebih dalam dari itu, “tulus”.
Sang putri begitu mencintai kastil itu, hingga ia tidak pernah menginjakkan kakinya keluar kastil. Hingga suatu hari sang putri terkena penyakit yang mewabah di desa tempat tinggalnya. Setiap detik, kondisinya semakin bertambah parah. Seluruh tabib di penjuru desa telah datang untuk mengobatinya, namun tidak ada yang berhasil.
Lalu, perdana menteri memberi usul untuk membawa sang putri berobat di luar desa, akan tetapi sang putri menolaknya mentah-mentah. Raja dan Ratu negeri itu pun semakin resah dengan kondisi putri mereka. Di dalam pikiran mereka terlintas sebuah penyesalan karena menghadiahi sebuah kastil terkutuk untuk putri semata wayangnya.
Senin, 31 Oktober 2016
Bayangan Bulan di Atas Danau
“Selamat pagi, Kishimoto!” Seru seorang anak yang tengah berlari mendekati temannya berwajah campuran barat-asia. Ia mengenakan seragam sekolah yang terlihat elit. Dengan kemeja putih, celana dan sepatu pantofel berwarna hitam, dan tas ransel.
Ia berbalik dan tersenyum menunggunya. “Selamat pagi Heiji.”
“Bagaimana, tugas musim panas tahun ini sudah selesai?” Tanya Heiji penuh semangat.
“Iya, tahun ini kami sekeluarga berkunjung ke rumah nenek di Prefektur Hiroshima. Kalau tidak salah Pulau Mima.. hmm, apa ya, Jimamiya?” Jawab Kishimoto tidak yakin.
“Miyajima.. ya ampun, bahasa jepangmu masih payah. Padahal sudah tiga tahun menetap.” Heiji tertawa. “Apa kamu tidak malu dengan anak berusia lima tahun yang sudah mahir berbahasa jepang?” Ledek Heiji.
“Walaupun usiaku sudah 13 tahun, tetap saja aku butuh adaptasi di sini.” Kishimoto memonyongkan bibirnya.
Jumat, 28 Oktober 2016
Inside Cave
Masih segar dalam ingatanku yang masih dalam proses tumbuh berkembang. Aku menaiki mobil keluaran tahun delapan puluhan bersama ayah, ibu, dan adik perempuan dengan selisih umur tiga tahun, menuju sebuah tempat asing yang belum pernah kukunjungi. Saat itu aku telah memasuki bangku taman kanak-kanak.
Seingatku, Bandung masih belum sepadat sekarang. Aku melaju kencang dengan bebas tanpa hambatan. Udaranya pun masih tergolong bersih dan sejuk. Tanpa menghidupkan pendingin pun kami dapat menikmati udara segar dengan membuka jendela pintu kendaraan.
Kami berlalu melintasi rindangnya bayangan pohon jati , toko-toko kecil yang dibangun dengan jarak berjauhan serta pilar-pilar besar sebagai pondasi jembatan yang dikenal dengan nama Surapati pada zaman sekarang. Ayah mengambil kelokan ke kawasan Dago di depan sambil mengobrol santai dengan ibu di sampingnya. Aku dan adikku, Euis, duduk di belakang. Ia tertidur di sebelahku ditemani selimut tipis dan boneka kesayangannya. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke luar.
Rabu, 26 Oktober 2016
Lock
Udara dingin ditambah kabut tipis turun di jalanan yang dipenuhi makhluk mengaku abadi. Aku memerhatikan mereka bersosialisasi dengan topeng kepentingan masing-masing. Tidak ada yang spesial. Sudah ribuan tahun bahkan ratus ribuan tahun aku memerhatikan ketamakan mereka yang menjijikkan. Aku hapal betul wajah palsu mereka. Jadi percuma. Percuma saja mencoba untuk menipuku –lagi pula tidak ada satu pun dari makhluk hidup itu yang dapat melihatku. Hal itu karena perbedaan tingkat kami. Semakin tinggi kemampuan dan keahlian yang kau miliki, semakin sulit makhluk yang lebih rendah darimu dapat melihat wujudmu dengan mata telanjang.
Kau bertanya ini di mana? Akan kujawab pertanyaanmu dengan mudah. Dunia Iblis. Terletak diantara belahan dimensi surga dan neraka. Aku sendiri berkewajiban untuk mencatat makhluk-makhluk biadab penuh tipu muslihat ini. Serta mengawasi jika mereka memutuskan untuk menyeberang menuju dunia roh yang terkunci dengan fisik, tepat sekali kuduga kau akan mudah menebaknya, Dataran Gaia–begitulah aku menyebutnya. Ada banyak spesies makhluk hidup yang dapat dirayu, digoda, dan dikendalikan. Dari makhluk busuk, tak berakal dan penuh belatung, hingga strata makhluk suci yang mengagungkan monarki.
Selasa, 25 Oktober 2016
Bunmar Pokboi
Aku berdiri diam di balik batang pohon. Menanti dengan sabar sembari menggenggam tongkat kayu yang ujungnya telah kutajamkan. Gemerisik suara dalam cahaya redup matahari yang berusaha menembus rindangnya atap pepohonan. Itu tandanya.
Aku melompat, melesat, melemparkan tongkat sepanjang satu setengah meter. Aku mendarat di antara jelujur akar pohon beringin, tanpa buang waktu aku mengambil potongan tongkat yang lain dan melemparkannya sekuat tenaga. Dadaku yang kecil berdetak kencang, rasanya sangat sulit bernapas. Aku menyeka peluh dari keningku. Kupalingkan wajahku ke arah buruan yang bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
“Ternyata memang masih belum cukup.” Tubuh yang kecil agak menyulitkanku untuk mengembangkan kekuatan dan kecepatan. Aku berjalan sekitar lima puluh kaki lalu mengambil sepasang kayu yang kulempar. Jarak ini bahkan tidak ada setengahnya dari pohon yang telah kutandai.
Aku benar-benar kesal! Tinggal seminggu lagi aku akan genap menjadi bocah lelaki berusia delapan tahun. Aku kehabisan waktu!
Senin, 24 Oktober 2016
Myohyang
Aku membuka pintu, melirik ke kanan dan kiriku. Khawatir, kalau-kalau ada pelayan yang datang memergokiku. Aku berjalan perlahan menyeret rok tipis seringan gula kapas. Lalu duduk di tepi serambi kecil. Membuka kaos kakiku dan mencelupkan ujung jariku yang terasa perih ke dalam danau. Dinginnya air terasa begitu segar membawa semangat baru dalam diriku untuk berlatih lagi. Memandangi daun gugur yang hanyut. Aku menengadah memandangi dedaunan pepohonan yang berubah warna menjadi oranye. Tanah yang ditutupi rerumputan hijau kini berubah menguning. Aroma musim gugur yang menenangkan. Hingga suara yang akrab membuyarkan segalanya.
“Nona Myohyang! Apa yang sedang anda lakukan di luar sana?!” Seru kepala pelayan wanita dengan rambut kepang yang dililitkan sekitar kepalanya. Wajahnya menunjukkan rasa khawatir bercampur panik. Ia berlari tergesa melalui jalan setapak yang sempit mendekatiku, roknya yang lebar berkibar membelah angin.
Aku menyambutnya dengan cemberut. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Aku bahkan tidak menyentuh apapun jika kau ingin tahu.” Bukan tanpa alasan aku mempertegas hal itu. Menyentuh jiwa elemen alam secara sembarangan akan mempengaruhi jenis keahlian Myohyang dalam memanipulasi kekuatan Majeong. Itu sebabnya, sejak diumumkan secara rahasia calon Myohyang berikutnya, aku harus ditempatkan di ruangan terpencil ini dengan pengawasan ketat.
Minggu, 23 Oktober 2016
Makoto to Kotowari
Sakit…
Gelap…
Dingin..
Rasanya sesak, paru-paruku terasa terbakar…
Aku memerhatikan sekelilingku. Tidak ada siapa-siapa. Aku… dimana?
Aku melompat dengan ringan. Seakan tubuhku tak berbobot.
Kemudian… muncul cahaya di kejauhan. Cahaya kecil yang hangat. Aku bergegas mendekatinya penuh semangat. Sebuah api lilin tunggal kecil berpendar kebiruan yang menenangkan. Aku menengadahkan tanganku, menciduknya. Seketika aku dapat mendengar desiran darah mengalir ke seluruh tubuh dan detak lembut jantung yang kurindukan.
“Oi, yang di sana!”
Selasa, 18 Oktober 2016
Flute
“Lihat, lihat, itu anak haram penyihir!” Seorang bocah lelaki menunjuk bocah lelaki lainnya yang memiliki rambut putih keperakan dengan bola mata putih.
“Oh! Benar! Anak haram! Itu anak haram penyihir!” Seorang bocah perempuan ikut mengolok-olok. Ia berteriak memanggil teman-teman yang lain untuk ikut memeriahkan pesta kecil sederhana menyakitkan itu.
“Oh! Benar! Anak haram! Itu anak haram penyihir!” Seorang bocah perempuan ikut mengolok-olok. Ia berteriak memanggil teman-teman yang lain untuk ikut memeriahkan pesta kecil sederhana menyakitkan itu.
Black Ceremony
“Tuanku,” seorang pria bertelinga berujung lancip, berkulit putih sepucat salju dengan rambut terkepang rapi berlutut, ia meletakkan helm yang terbuat dari titanium dan campuran sisik naga perak di hadapannya. Si pria melirik pada buku yang kubaca lalu menghela napas–aku dapat melihat ia cukup kecewa mengingat situasi saat ini sangat genting. “Persiapannya sudah selesai, kami hanya tinggal memperbarui pasak perlindungan.”
“Terima kasih, Aleiner.” Aku menanggapinya dengan posisi masih duduk penuh wibawa di kursi megahku dan menutup dengan anggun buku yang bercerita tentang cinta kalangan muda Elf Putih. Aku cukup menyukai tema-tema demikian. “ Kau boleh pergi, oh, dan ingatkan pada pasukanmu untuk waspada.”
Senin, 17 Oktober 2016
Ice Breaking
Selamat datang di Blog milik saya :D
Ini merupakan media untuk mengasah kemampuan saya. Maka dari itu jika ada kritik dan saran, saya akan sangat senang menerimanya untuk memperbaiki karya tulisan saya menjadi lebih baik :D
Selain itu, tahun 2016 ini saya sedang menikmati beberapa produk skin care dan kosmetik baik dari Korea maupun Thailand. Berhubung saya sedang pasif menulis fiksi, kemungkinan saya akan mengisinya dengan review produk dan manfaat yang saya rasakan dari produk tersebut.
Insanity
Deru langkah kaki, gang sempit dengan penerangan lampu apartemen murahan, cipakan air berbau busuk, dan tak lupa pengejaran. Benar, saat ini aku sedang berlari menyelamatkan nyawaku dan tentu saja hal yang lebih penting daripada berlian. Notasi nada. Silakan tertawa, tapi benda ini setara dengan nyawa seorang Irct.
Irct–yaitu aku pun termasuk, sangat membutuhkan notasi-notasi seni ini untuk sekedar memperkuat sihir atau memperpanjang umur–terutama yang kelebihan harta dan tidak berkeinginan buru-buru mati. Hanya saja–ah, sial! Aku menginjak kotoran anjing! Notasi blok yang salah akan merenggut segalanya dari si pengguna yang ceroboh dan meninggalkan jejak kehidupan di belakang.
Anugerah sekaligus kutukan ini tidak dimiliki oleh seluruh ras Irct. Kebetulan aku dan beberapa Irctian–panggilan ini semacam sebutan kebangsaan jadi tak perlu ambil pusing memikirkannya–yang memilikinya. Bahkan Beethoven pun akan menangis saat mengetahui kemampuan unikku ini–sayangnya dia sudah lama mati. Segala prosesi pinjam-meminjam ini diawali dengan berjejalan di tengah gedung orkestra mewah dalam samaran penikmat musik kaya raya. Lalu dengan diam-diam aku memilah dan memilih nada inti dari nada pendukung lainnya. Tidak hanya telinga yang berperan dalam kegiatan yang hampir merenggut nyawa jika ketahuan, tetapi juga kejelian mata.
Langganan:
Komentar (Atom)

