Aku berdiri di tempat kita mengikat janji. Aku masih mengusahakan untuk mengenakan pakaian yang sama, sepatu yang sama dan bahkan berdiri di tempat yang sama. Saat itu hujan dan aku membawa payungku dari rumah. Sekarang pun situasinya tidak berbeda dan aku masih menggunakan payung yang sama. Hanya saja dingin tidak lagi begitu terasa. Apa karena aku sudah berdiri terlalu lama?
Aku melihat sekitarku. Belum ada tanda-tanda kau akan tiba. Meski begitu hatiku berdebar tak karuan jika teringat dirimu. Orang lain tentu akan membuka ponsel mereka untuk menanyakan posisi orang yang mereka tunggu. Tapi biarlah, aku ingin kedatanganmu menjadi kejutan spesial untukku.
Sebenarnya sudah sangat lama aku menyimpan rasa padamu semenjak kita bertemu di bangku sekolah menengah pertama. Kepribadianmu yang tenang bagaikan air, tawamu yang khas, dan matamu yang memandang lurus lawan bicara, membuat perasaanku bertekuk lutut. Tapi saat itu aku masih anak-anak, masih bocah, belum bisa menjadi seseorang yang dapat kau andalkan. Tapi sekarang pun aku masih bertanya, sudah pantaskah aku bersanding di sisimu?
Hari-hari tak pernah terlewat sedikit pun tanpa memperhatikan keseharianmu. Berulang kali aku mencoba untuk menarik perhatianmu dengan bertingkah konyol. Kau hanya tersenyum iba. Seolah yang kulakukan hanya menjadi badut kelas.
Pernah kita hampir duduk bersebelahan. Jantungku seakan melompat keluar. Mulutku kelu, tidak sanggup menyapa. Yang dapat kulakukan hanya bermain dengan teman sebangku yang lain. Ya, mengacuhkanmu. Aku benar-benar tidak tahu cara memulai pembicaraan. Tapi begitu seseorang mengambil alih perhatianmu dan menjadi kawan berbincang yang menyenangkan, aku terbakar cemburu. Seharusnya aku yang duduk di sana sambil bersenda gurau bersamamu.
Aku masih berdiri di tempatku, tidak bergerak seinci pun. Aku menatap langit yang tak kunjung cerah. Tapi aku percaya kau akan menepati janjimu. Selama aku mengenalmu, tak pernah sekalipun aku dikecewakan. Kau selalu datang meski terlambat dan selalu mengusahakan untuk bertemu denganku dulu jika memang ada keperluan lain. Justru aku yang terlalu sering memberimu harapan palsu. Aku menatap tetesan air hujan dalam sesal.
Selama tiga tahun, aku ingin mengajakmu pulang bersama. Berbincang apapun agar tidak sepi. Namun kenyataannya tak begitu. Kita hanya berjalan membentuk barisan renggang. Aku hanya bisa mengawasimu dari belakang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Saat kelulusan, aku sudah mempersiapkan hatiku untuk mengutarakan segala yang mengendap dalam kepalaku. Tapi aku tak berani. Akhirnya aku hanya dapat memberi selamat. Ya, kupikir ini terakhir kalinya aku akan bertemu jadi aku hanya akan menjadi seorang teman yang sama dengan lainnya. Detik itu pun menjadi hari terakhir kita saling bertatap muka. Mungkin seharusnya memang kukatakan saja, agar dadaku tidak seperih ini.
Aku berjalan lesu menuju pendaftaran sekolah baruku untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Tak kusangka kau mendaftar di sekolah yang sama denganku. Atau aku yang justru bersekolah di tempat yang sama denganmu. Yang jelas, ini kesempatanku untuk berbicara lebih banyak lagi. Mengenalmu lebih dekat lagi agar perasaanku tersampaikan.
Kita berada di kelas berbeda namun dapat bertemu selama istirahat. Bahkan di lain kesempatan aku mengantarmu pulang. Kita banyak mengobrol saat itu dan terlihat amat dekat layaknya sepasang kekasih. Meski tidak dapat kuungkapkan dengan kata-kata, aku amat senang bisa bersamamu.
Sayangnya, kudengar kau menjalin hubungan dengan pria lain. Salahku karena begitu pengecut. Aku sangat menyesal. Mengapa tidak kuberitahu saja ketika mendapat kesempatan?
Kau ingin kita tetap berteman. Sayangnya, aku tidak bisa menahan kecemburuanku dengan terus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku berusaha menjaga jarak darimu dengan mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Berusaha untuk melepasmu. Ah.. hatiku semakin perih.
Pernah sekali kau mencoba untuk berbicara. Tapi aku hanya bisa memberikan reaksi dingin. Sejak itu, kita, ah, bukan. Tapi aku yang tidak ingin bersamamu lagi. Aku tahu semuanya salahku, kau hanyalah korban dari keegoisanku. Memangnya aku bisa apalagi?
Hujan turun semakin deras. Semakin sedikit orang yang melintas di depanku. Sesekali kendaraan beroda empat berlalu dengan kecepatan normal. Terkadang mereka begitu terburu-buru hingga mencipratkan sejumlah air meski tak banyak. Aku masih dapat menghindarinya. Tidak, tidak. Aku tidak akan beranjak dari posisiku saat ini.
Hubungan kita tidak begitu baik hingga lulus sekolah menengah atas. Kita memang tidak lagi berkomunikasi secara intensif. Tapi aku selalu mengawasimu melalui media sosial. Aku pun mengetahui kabar kau berpisah dari sana. Aku berpikir inilah kesempatanku untuk berdekatan denganmu.
Aku memberanikan diri untuk menyapamu. Kau menjawab dengan ramah. Kita mulai membicarakan kesibukan kita masing-masing. Sesuai harapanku, kau menerima ajakanku untuk berjalan-jalan.
Setiap hari, kedekatan kita semakin intim. Meski begitu, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Kupikir kau masih enggan untuk berbicara terbuka karena kepribadianmu yang agak tertutup. Ataukah ada orang lain yang menarik perhatianmu? Aku mencoba berpikir positif dan menghormati privasimu. Meski begitu, sampai kapan aku dapat menahan rasa penasaranku?
Kupikir sudah saatnya aku mengutarakan apa yang aku rasakan terhadapmu selama ini. Waktunya amat pas; kita sedang di taman kota, duduk santai di bawah rindangnya pohon, dan suasananya amat bagus. Aku memanggil namamu. Kau menatapku dengan wajah bahagia, entah apa yang kau pikirkan tentangku. Aku pun langsung menyatakan perasaanku tanpa basa-basi.
Raut wajahmu berubah gusar. Mendadak perasaanku gundah, takut kau tolak. Takut jika kau malah menghindariku nanti. Takut jika kita tak bisa mengobrol normal seperti biasanya. Dan takut jika kau memutuskan untuk melupakanku. Aku terdiam menunggu jawaban darimu. Rasanya satu menit begitu lama bagiku, seakan menjalani satu abad untuk mengetahui jawabanmu.
Kau memanggil namaku dengan enggan. Aku tersenyum kecut, khawatir kecewa dan meninggalkan luka yang dalam di hatiku. Tapi kenyataannya tak begitu. Rupanya kau amat senang mendengar pernyataanku. Lalu apa yang membuat begitu gelisah, wahai gadis pujaanku?
Kau menjelaskan, jika waktumu di Indonesia tidak lama lagi. Kau akan bersekolah ke luar negeri. Bagiku tidak masalah asal kita tetap berkomunikasi. Hanya yang kau khawatirkan bukanlah aku, tapi dirimu. Kau takut tidak kuat dan berpindah ke sisi lelaki lain. Aku mencoba meyakinkanmu jika hubungan kita akan baik-baik saja. Aku akan mengumpulkan uang dan sesekali berkunjung ke negara tempatmu menimba ilmu. Dapatkah janjiku ini membuatmu tenang?
Kau menggeleng perlahan. Menatapku dengan pandangan pedih. Mengapa harus terjadi sekarang? Seharusnya kau memberitahuku jauh-jauh hari, agar kita dapat menikmati hari-hari terakhir kita dengan senyuman. Selama jangka waktu itu, aku pasti akan membuatmu yakin.
Angin berhembus begitu kencang. Seakan ingin menerbangkan payungku. Membiarkanku basah kuyup dan membuatku malu saat bertemu denganmu nanti. Tidak akan kuijinkan angin membawanya pergi. Aku hanya perlu bertahan lebih lama untuk menebus kesalahanku.
Hari itu terasa berjalan lambat. Aku merasa amat bersalah telah menghapus senyum bahagiamu dengan berterus terang. Meski begitu aku amat senang mendengar jawabanmu, jika kau akan mencobanya. Aku sangat percaya, kita berdua pasti bisa melaluinya. Jika boleh aku berharap, aku ingin mendampingimu hingga menginjak pelaminan. Bolehkah kusimpan mimpi ini?
Tak kusangka, hari-hari terakhirmu justru membuatmu terlihat makin terbebani. Aku tahu kau amat siap untuk menghadapi kehidupan barumu. Tapi tak sanggup meninggalkanku. Aku kembali meyakinkanmu dan berhasil membuatmu terbahak. Tapi itu tak lama. Begitu kau melihatku, meski sepintas, aku tahu kau amat memikirkanku. Aku menggenggam tanganmu, berusaha untuk membuatmu tegar. Kau menatapku dengan berurai airmata. Aku sangat tidak tega melihatmu begini. Haruskah kita memutuskan status kita?
Nanti malam kau akan terbang melintasi negara. Kau memberitahuku untuk tidak mengantarmu ke bandara. Kau menjelaskan, akan sangat berat menaiki pesawat jika melihatku. Tapi sebagai gantinya kita akan bertemu hari ini pada pukul sepuluh siang. Aku menyetujui.
Aku mengenakan kaos berwana hitam dengan jaket berbahan fleece warna biru langit. Aku juga mengenakan celana berbahan denim dan sepatu sport. Hari ini hujan jadi aku memakai payungku. Sayangnya, terjadi sesuatu pada adikku. Penyakit jantungnya kambuh, ia terkena serangan. Aku amat panik dan melupakanmu untuk sesaat. Aku lupa memberitahumu, jika seharian ini aku tengah duduk di Unit Gawat Darurat menjaga adikku. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Kau tahu keadaan keluargaku; ayahku bekerja di luar kota dan ibuku saat ini tengah bekerja mengurusi klien penting. Hanya aku yang tersisa untuk menjaganya. Aku tidak tega meninggalkan adikku sendirian tanpa seseorang yang memberinya semangat dan doa.
Masa-masa kritis telah berlalu. Aku mensyukuri hal itu. Tapi jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku bertanya-tanya, akankah kau masih di sana menunggu kehadiranku?
Saat mengantar adikku tadi aku memanggil taksi. Ponselku tertinggal, uangku telah terpakai untuk membayar ongkos dan uang muka untuk biaya menginap adikku. Yang dapat kulakukan saat ini berlari ke tempat biasa kau menungguku. Selama berlari, aku terus berharap kau masih berdiri menungguku. Lalu menyambutku dengan senyum atau kau boleh memarahiku dan memukulku jika mau. Sayangnya, waktu sedang tidak bersahabat denganku.
Matahari tenggelam lebih cepat dari biasanya. Amat berbeda dengan hari itu, detik yang kurasa bergerak amat lambat. Aku memacu kecepatanku tapi sia-sia. Kau tidak ada lagi di sana. Tubuhku rasanya lemas. Aku berbaring di atas tanah basah. Tidak memedulikan jika nanti akan meninggalkan noda.
Hari itu pertama kalinya aku mengecewakanmu. Hatiku sangat perih. Rasanya kepalaku amat berat dan aku sulit bernapas. Aku terbatuk berusaha mendapatkan udara untuk bernapas. Dadaku terasa panas seakan tenggorokanku menyempit. Aku berusaha untuk berdiri dan memutuskan untuk pulang agar dapat segera meminum obatku. Celaka, kurasa asmaku kambuh. Segalanya terlihat gelap.
Penantianku berakhir. Kau datang sambil melambaikan tangan. Aku berjalan mendekatimu. Kau tertawa enggan, meminta maaf akibat terlalu lama. Aku menggeleng. Kuraih tanganmu. Aku tak lagi bisa merasakan hangatnya tubuhmu karena saat ini kita hanyalah roh. Kita bisa terus bersama tanpa terkekang waktu sekarang.
Fin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar