Sore temaram di London. Matahari bersembunyi di balik awan mendung. Musim hujan baru saja dimulai. Anak-anak gelandangan dan pengemis berebut posisi strategis di atas jembatan Sungai Thames menguji keahlian untuk melempar batu. Meski tidak akan terlihat jelas akibat suram dan derasnya air sungai kala itu.
Seorang gadis cilik berpakaian compang camping tidak melewatkan kesempatan tersebut. Ia bersandar dekat teman-teman yang senasib dengannya sambil melantunkan sebuah lagu bermelodi sederhana. Suara-suara lainnya–gemerisik jas hujan, ketukan langkah sepatu, suara kendaraan yang melintas, bahkan celotehan-celotehan tak berarti–ikut memeriahkan senandung sederhana yang terdengar sumbang.
Sebuah kereta kuda berjalan perlahan memecah genangan air. Berlalu tanpa mempedulikan sekitar. Di dalamnya terdapat seorang bangsawan muda dan seorang gadis berkedudukan sama. Sesekali si lelaki muda merapikan rambutnya yang berwarna kuning keemasan.
“Kulihat kau menikmati perjalanan singkat ini, Thomas?”
“Ya, tentu saja. Ini semua karena kau ikut, Margaret.” Si pria mencium tangannya dengan lembut. “Pelayanan yang memuaskan.” Ia tersenyum nakal.