Sore temaram di London. Matahari bersembunyi di balik awan mendung. Musim hujan baru saja dimulai. Anak-anak gelandangan dan pengemis berebut posisi strategis di atas jembatan Sungai Thames menguji keahlian untuk melempar batu. Meski tidak akan terlihat jelas akibat suram dan derasnya air sungai kala itu.
Seorang gadis cilik berpakaian compang camping tidak melewatkan kesempatan tersebut. Ia bersandar dekat teman-teman yang senasib dengannya sambil melantunkan sebuah lagu bermelodi sederhana. Suara-suara lainnya–gemerisik jas hujan, ketukan langkah sepatu, suara kendaraan yang melintas, bahkan celotehan-celotehan tak berarti–ikut memeriahkan senandung sederhana yang terdengar sumbang.
Sebuah kereta kuda berjalan perlahan memecah genangan air. Berlalu tanpa mempedulikan sekitar. Di dalamnya terdapat seorang bangsawan muda dan seorang gadis berkedudukan sama. Sesekali si lelaki muda merapikan rambutnya yang berwarna kuning keemasan.
“Kulihat kau menikmati perjalanan singkat ini, Thomas?”
“Ya, tentu saja. Ini semua karena kau ikut, Margaret.” Si pria mencium tangannya dengan lembut. “Pelayanan yang memuaskan.” Ia tersenyum nakal.
Kedua tangan Margaret sibuk membetulkan pakaiannya yang sedikit berantakan, “jamuan pesta lainnya, eh?”
“Ya, perdana menteri mengirimkannya padaku, lebih tepatnya padamu untuk kita berdua.” Si pria muda mengambil dua surat undangan dari balik saku dalam jas hitamnya. “Terdengar menyenangkan.” Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, sibuk melumat bibir tipis berwarna merah jambu. Tanpa sadar siku tangannya menyibak tirai yang sejak tadi tertutup rapat. Bola mata kanannya menyadari pemandangan yang terasa familiar : anak-anak gelandangan, jembatan, batu. Sorot matanya berubah tajam dan keras. Ia segera membenarkan posisi tirai tanpa melepaskan bibir si wanita.
Mereka berjalan perlahan, melewati dua tikungan, beberapa toko, serta kafe. Menyadari jaraknya semakin pendek, kedua manusia yang tersembunyi dengan baik dalam kereta bersiap berbenah diri. Memposisikan penampilan pada strata yang lebih terhormat. Kereta kuda berhenti tepat di sebuah bangunan berdesain klasik yang anggun. Pintu terbuka, seorang pelayan mempersilakan kedua bangsawan tersebut untuk turun berjalan melalui karpet merah tebal menuju pintu masuk teater.
Kedua tamu khusus itu digiring menuju sebuah tempat spesial dengan pemandangan yang lebih baik untuk menyaksikan pertunjukkan. Thomas menyibakkan tirai satin, mempersilakan Margaret untuk masuk terlebih dulu. Terdapat lima kursi kayu mahoni berukir halus. Kedua pasangan tersebut memilih untuk mengisi tempat duduk dengan jarak pandang strategis. Tirai tebal di atas panggung masih tertutup rapat. Thomas menyeret kursinya lebih dekat pada Margaret. Ia duduk bersandar pada bantalan empuk di belakang punggung, masih menanti tirai tebal sandiwara terbuka.
Kedua bola matanya yang berwarna biru laut menerawang ke langit-langit gedung teater, sedetik kemudian Thomas terjatuh dalam lamunan masa lalu. Hal itu terjadi karena ia melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Bersamaan dengan dimulainya orkestra pembuka, Thomas tenggelam semakin dalam pada ingatan yang ingin ia lupakan.
***
“Dasar gembel busuk! Matilah kalian!” Seorang lelaki tua berdiri di depan kios kecil miliknya. Ia mengepalkan tangannya ke udara seraya menyumpah. Sesekali ia melemparkan beberapa butir telur busuk yang telah disiapkannya ke arah anak-anak yang berusaha menyelamatkan diri.
Dalam perjalanan pelarian tersebut, 2 buah apel terjatuh dan berakhir terinjak oleh roda mobil. si anak lelaki berambut pirang kumal berpaling sejenak, wajahnya terlihat kecewa. Sebenarnya bukan masalah baginya untuk memungut daging buah yang telah bercampur dengan lumpur dan polusi kendaraan tersebut, karena ia pernah makan sesuatu yang lebih buruk dari itu, tapi sayangnya keadaan sedang memusuhi mereka. “Thomas?! Apa yang kau lakukan?! Cepat! Si tua Bangka itu semakin mendekat!”
Dua anak yang tertinggal di belakang segera mengambil langkah lebar untuk mengejar empat orang lainnya di depan. Mereka berlari memasuki gang sempit berbau menyengat: melewati bangkai hewan pengerat yang tengah melalui proses pembusukan, beberapa tong yang dipenuhi sampah organik beraroma tajam, dan kantong sampah yang berceceran. Dalam sekejap saja mereka sudah berada di bangunan tua usang–terdapat lubang besar menganga pada tembok, sebagian besar atapnya berlubang, jendela yang ditutup paksa dengan susunan kayu–yang berfungsi sebagai tempat tinggal.
Lima anak yang bekerja pagi itu mengumpulkan benda-benda yang berhasil mereka dapatkan untuk sarapan 14 anak lainnya. Ketua kelompok kecil itu menghitung dan berusaha membagi dengan adil 6 buah apel, 3 buah jeruk, dan 5 batang wortel. “Mary, mengapa kau mengambil wortel? Bukankah, di depanmu tadi ada satu bulat melon dan semangka, jika aku dapat memprotes.”
“Kita butuh sesuatu yang lebih berbobot, Dean. Buah-buahan itu tidak akan cukup.” Mary mengambil dengan kasar dari tangan Dean. Menyiapkan kaleng cukup besar, air, dan api dari kayu tak terpakai. Lalu dengan cekatan mengupasnya menggunakan pisau berkarat buatan sendiri. Memotongnya kecil-kecil sambil menanti air mendidih.
“Keputusan yang tepat, Mary.” Nada suara Dean berubah ketus. “Udara begitu dingin musim ini. Aku butuh sesuatu yang hangat. Tapi biar aku koreksi sesuatu,” –ia mengelus dagunya–“kita tidak memiliki mangkuk!”
“Ya, tuhan, Dean! Willie sedang sakit, sisanya menggigil kedinginan! Jika tidak ada hal lain yang kau ributkan, bisa tolong potong buah-buahan yang ada di hadapanmu itu? Nah, bagus begitu.” Mary begitu marah tapi ia tidak dapat mengeluarkan makian, itu hanya akan membuat keadaan semakin buruk. “Ngomong-ngomong, tuan-tuan, apa ada yang melihat Si Tua Fred?” –ia menuangkan botol air terakhir–“sepertinya kita kehabisan air bersih.”
Dean melemparkan sebuah koin dari saku celananya, “sisanya ikut aku. Waktunya bekerja.”
***
Kedua belas anak-anak tersebut terbagi menjadi 6 gerombolan lebih kecil yang terdiri atas dua orang tiap kelompok. Mereka menyebar di beberapa pusat keramaian London untuk mengemis belas kasihan. Dua orang lainnya tengah duduk di sisi lain jembatan Sungai Thames menanti recehan sisa keluar untuk menyokong kehidupan. Di tengah konsentrasi membuat wajah memelas, sebuah kereta kuda mewah berjalan dengan angkuh melewati mereka.
“Katakan Rajj, mungkin akan menyenangkan jika kita dapat bepergian menggunakan kendaraan seperti itu, eh?” Thomas tidak melepaskan pandangannya dari kereta tersebut.
“Jangan bodoh, Thomas.” Anak lelaki keturunan India itu berkata. “Sampai kapan pun tidak ada kesempatan untuk kita.” Ia memalingkan wajahnya ke jalanan. “Bahkan tidak ada seorang pun yang menginginkan keberadaan kita.” Rajj memaksakan wajahnya yang jengkel untuk tersenyum. Kulit tubuhnya yang gelap menciptakan gradasi warna pekat yang membuatnya memiliki aura yang lebih hitam dan suram.
“Pasti ada! Kita tidak akan seperti ini sepanjang hidup kita, Rajj! Aku tidak mau terus menerus dikejar orang yang sama hanya karena mencuri sayuran, aku juga sudah bosan memakai baju jelek ini, aku muak dengan semua aroma busuk itu! Aku ingin berubah!”
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Jangan mengkhayal yang bukan-bukan! Sana, kembalilah bekerja!”
Setelah pembicaraan singkat yang membakar emosi itu berakhir tidak menyenangkan, Thomas bertekad untuk membuktikan ucapannya. Ia tidak tahu harus memulai darimana, tapi yang jelas, ia akan melakukan dan mengorbankan apapun untuk mendapatkannya. Sejak detik itu, semua berubah dalam sudut pandang Thomas. Tubuhnya yang kecil dan lemah harus menanggung beban hasrat kekuasaan yang besar.
Malam itu Thomas tidak bisa tidur. Ada begitu banyak hal yang tidak ia mengerti. Keberadaannya, mengapa ia bisa berada di sana, dan mengapa orangtuanya meninggalkan kardus dingin itu di atas jembatan. Mengacuhkan jerit tangisnya. Menyakitkan!
Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Melemparkan selimut, mengambil mantel, lalu berjalan keluar tanpa tujuan. Udara malam itu begitu dingin hingga terasa dari balik mantel tebal tua yang dikenakannya. Kabut menyelimuti London, tapi Thomas tidak memedulikannya. Ia terus berjalan melewati toko, kafe, bar, tikungan, dan beberapa apartemen murahan. Ia tidak sadar dua orang lelaki dewasa mengawasi dan mengikutinya dari belakang.
Salah seorang dari mereka berbisik, “bagaimana menurutmu dengan anak itu?”
“Entahlah, tapi kupikir, dia akan menyukainya.”
Langkah kaki semakin cepat, pikiran Thomas begitu kalut hingga membutakan indera pendengarannya. Pria dewasa sebelah kanan mengambil saputangan dari balik mantel yang dikenakannya. Dengan gerakan cepat, ia membekap Thomas. Membiarkannya menghirup obat bius yang disisipkan. Sedetik kemudian, gerakan panik bocah lelaki itu terhenti. Ia tertidur lemas dalam dekapan orang asing.
Jantungnya berdetak cepat, matanya masih berkunang-kunang, kesadarannya perlahan berkumpul, dingin merambat pada daging di tubuhnya yang kering. Thomas terbangun tanpa mengenakan selembar pakaian. Ia dimandikan secara paksa di ruang bawah tanah. Para pelayan wanita sibuk membersihkan tubuhnya dengan sikat yang biasa digunakan untuk menggosok lantai. Thomas meringis kesakitan. Tapi bukan ia saja yang mengalami itu, beberapa anak lelaki lainnya juga diperlakukan sama. Ia tidak bisa melawan. Tubuhnya membeku, Thomas hanya mendekap lututnya erat-erat. Berusaha memahami apa yang telah menimpanya.
Tidak lama kemudian mereka–termasuk Thomas–didandani dengan pakaian mahal seperti boneka yang dipamerkan dalam etalase toko. Dipaksa berdiri berjajar dengan rapi saling berhadapan dalam sebuah ruangan yang dipenuhi benda-benda mewah. Seorang pria bertubuh gempal memasuki pintu terbuka, wajahnya memerah akibat gerah. Seorang pria muda bertubuh tegap mencium tangannya, ia terlihat berbicara sopan dan membuat pria yang bertubuh tambun itu bahagia. Thomas memperhatikan hal itu baik-baik, ia berpikir kejadian ini merupakan takdir yang menjawab keinginannya.
Si pria bertubuh besar itu berjalan pelan sambil mengamati. Ia berbicara perlahan nyaris berbisik dengan nada kecewa, “tidak ada yang istimewa, eh?”
Thomas maju ke depan, ia berlutut dengan satu kaki di depan layaknya lamaran pernikahan. Menyentuh tangan gemuk itu lalu menciumnya dengan kasih sayang, meskipun wajahnya terlihat pucat. “Oh! Kalian mendapatkan ‘anak domba’ yang bagus!” Pria gemuk itu berseru girang. “Bawa ia ke kamarku, aku ingin dilayani malam ini.” Thomas menundukkan wajahnya, ia tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Sebelum sampai di tempat itu, telinganya banyak mendengar rumor. Sudah tidak ada kesempatan untuk kembali, ia tidak peduli jika harus merendahkan dirinya lebih hina daripada seekor babi.
***
Thomas berusaha bangun, terdapat beberapa luka lebam di punggung dan di lehernya. Malam yang menyakitkan, tapi itu harga yang pantas untuk mengejar kedudukan yang ingin ia raih. Thomas mengambil pakaian tidur tipis berjalan pelan mendekati jendela dengan tirai terbuka. Sorot matanya berubah kejam dan penuh ambisi.
Masih terlalu awal untuk berpuas diri. Ia harus belajar lebih banyak untuk mendukung tindak tanduknya kelak. Thomas menyentuh lembut tirai di sampingnya, lalu menutupnya perlahan.
“Tuanku, selamat pagi.” Seorang bocah lelaki berpakaian rapi membuka tirai. “Hari ini para pelayan menyiapkan teh dan juga makanan kesukaan anda. Kami berharap anda segera turun.” Bocah lelaki berambut kuning keemasan itu mengusap lembut tangan majikannya. Ia berbisik dengan nada menggoda, “apakah pelayanan semalam kurang memuaskan?”
“Ah, kamu, Th.. Th?”
“Thomas, Sir. Ah, anda tidak perlu seterkejut itu. Saya baru saja mempelajari ini semua dari pelayan-pelayan anda. Saya minta maaf jika pemilihan kata saya masih kasar. Jika anda berkenan, saya akan membantu anda untuk berpakaian.” Thomas tersenyum penuh hormat.
“Oh, Thomas sayang, ini.. ini luar biasa! Bravo! Bagaimana kau dapat melakukan semua etika ini? ditambah lagi,” –si pria gempal menyentuh wajah Thomas–“kau begitu menawan.”
“Seperti yang anda lihat, saya mudah mempelajari sesuatu dengan cepat. Dan pernyataan anda barusan dengan senang hati saya terima, terima kasih, Sir.” Thomas menjilat tangan majikannya.
Wajah pria bertubuh tambun itu merona merah, “bakatmu! Aku harus menyalurkan bakatmu! Segera panggil Albert kemari. Oh ya, jika aku boleh tahu, siapa nama lengkapmu, Anakku?”
“Hanya Thomas, Sir”
“Oh, tidak, jangan panggil sir terlalu formal. Panggil aku Barney, aku beri ijin padamu untuk berimprovisasi saat menggunakannya. Well, jika begitu, mulai hari ini namamu Thomas Dwight. Nah ayo, sekarang pergi, panggil ia kemari.”
Akhirnya Barney memutuskan untuk memanggil seorang tutor pribadi untuk Thomas. Tubuh kekurangan asupan gizi itu kini terlihat berkelas dalam balutan setelan mahal. Di bawah bimbingan tutornya, Thomas mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, bahasa, politik, juga etika bangsawan. Tidak dapat dipungkiri, walau Barney manusia amoral, ia menyukai keteraturan. Apalagi jika peliharaannya dapat memperlakukannya sebagai seorang ratu.
Kini Thomas tumbuh sebagai remaja tampan berwibawa. Tutur katanya sopan dan yang paling penting ia mudah bergaul dengan orang-orang dari strata sosial yang lebih tinggi. Hal itu justru membuat Barney ketakutan akan kehilangan Thomas. Sedikit demi sedikit Barney membatasi ruang lingkup pergaulan Thomas. Bahkan pada tiap pesta, Barney selalu memerintahkan Thomas untuk mengenakan topeng serta memberinya peringatan untuk tidak menjauh dari sisinya. Bahkan yang paling ekstrem, mengunci Thomas di kamar ketika ia mengadakan pesta pribadi. Pemuda tanggung itu tahu dan belum waktunya ia bertindak. Ia masih menunggu saat yang tepat.
Matahari pagi bersinar hangat. Thomas duduk di halaman belakang. Bersantai menikmati teh dan membaca buku. Tiba-tiba kehadiran seorang gadis mengejutkannya. Barney berlari kecil, “Oh, Thomas, apa yang kau lakukan di sini?” Nada suaranya terdengar khawatir.
Thomas membungkuk memberi hormat, “saya tidak tahu jika anda tengah menerima tamu, Sir. Jadi hari ini saya keluar untuk menikmati udara pagi.”
Seorang pria paruh baya berjalan anggun mengikuti Barney. “Pemuda tampan yang sopan, Barney.” Ia ikut berkomentar.
“Oh ya, hampir saja lupa,” Barney berkata canggung. “Kenalkan Thomas, dia Baron Blackwood teman bisnisku dan gadis cantik ini adalah putrinya. Lady Michelle Blackwood.” Gadis polos itu memberi salam.
Thomas tersenyum, ia menyadari perubahan raut wajah Barney. “Baiklah, saya harap anda menikmati jamuan yang kami berikan, Sir. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya harus segera ke kamar saya,” –ia membawa buku dan cangkir teh–“ada hal lain yang harus saya kerjakan, permisi.” Thomas membungkuk memberi hormat, kemudian berlalu dengan langkah mantap. Gadis itu terpesona, ayahnya memahami hal tersebut, dan tentu saja Barney bertambah takut.
“Barney, aku tertarik dengan pemuda itu. Dapatkah kau mengenalkannya pada kami?” Baron Blackwood tidak melepaskan matanya dari punggung Thomas.
“Err.. iya tentu. Tentu saja, Sir.” Wajah Barney menampakkan emosi yang tidak dapat ia kendalikan.
***
Derap langkah menggema dalam lorong. Membuka dengan kasar sebuah pintu. Nafasnya berpacu tak beraturan. “Thomas! Aku sudah dengar semuanya! Mengapa kau mau pergi dari sini?! Aku sudah memberikan segala hal yang kau inginkan. Ini akan sangat menghancurkanku, kau tahu?”
Aku harus meraih kedudukan yang lebih tinggi!
“Thomas? Kau mendengarku?”
“Maaf Barney sayang, pikiranku agak kalut.”
Benar, aku harus menggapai tempat yang lebih tinggi!
Sorot mata Thomas berubah suram dan tajam. “Aku tahu Barney sayang, aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku demi dirimu. Aku mencintainya, hanya itu yang kupahami. Jika kau menghalangiku, aku hanya akan mati. Lalu belatung-belatung menjijikkan yang kau benci itu akan menggerogoti tubuhku. Kau mencintai tubuhku, bukan? Apa kau mau, aku berakhir menjadi bangkai yang memuakkan itu?”
“Tidak, tentu tidak. Tapi kenapa harus jadi seperti ini?”
Thomas menghampiri wajah lesu itu, “jangan murung begitu.” Thomas mengecup bibir dari mulut beraroma busuk itu. “Sebagai salam perpisahan, aku akan menjadi milikmu malam ini. Bagaimana?”
Barney menyadari ada yang berbeda, tapi ia terlalu takut untuk mengungkapkannya, “tenanglah Barney sayang, aku bukanlah anak ayam yang tak tahu berterima kasih.” Ia memeluk tubuh gempal berbau masam. Lalu melirik sisi lain ruangan, senyum tipis tersungging di bibirnya.
***
Sebulan berlalu begitu lambat di kediaman Baron Blackwood. Bagi Thomas, ia telah mengenal lebih dari cukup sosok Michelle. Gadis yang manis, polos, dan tidak mengenal kerasnya dunia. Belum pernah hatinya tersentuh sedalam ini selama 12 tahun terakhir. Wajah Thomas melembut, ia memperlakukan Michelle dengan perlakuan seorang pria terhormat. Tidak menyentuhnya seperti ia menyentuh Barney. Tidak berbicara manis seperti yang ia katakan pada Barney, semuanya tidak sama. Apa yang Thomas lakukan untuk gadis itu, semua berasal dari sisi kebaikan dalam dirinya. Namun lama kelamaan ia sadar, betapa kotor dirinya jika bersanding dengan makhluk sesuci itu. Thomas hanya bisa memujanya dalam mimpi, seperti seekor iblis yang berharap tidur bersama seorang bidadari dalam surga. Dan hal tersebut diperparah dengan meninggalnya Baron Blackwood. Pria tua itu memercayakan seluruh harta benda serta putrinya pada Thomas. Sayangnya, Thomas kembali teringat dengan ambisi dan tujuannya. Ia memaksa Michelle untuk mempelajari bisnis ayahnya serta berencana menghilang setelah gadis itu dapat berdiri tegap di atas kedua kakinya.
“Lihat Thomas, aku membuat strategi perdagangan.” Ia berlari kecil dengan antusias menuju si pria yang tengah membaca buku sambil membawa beberapa helai kertas, dan pena dalam ruang kerja. “Jika meluaskannya ke sini, kita pasti akan mendapat untung besar.”
Thomas mengusap lembut kepala Michelle, “saya tahu, anda pasti dapat melakukannya.” Ia tersenyum simpul.
“Hei! Sudah kubilang untuk tidak berbicara formal seperti itu. Ya ampun, sudah berapa kali kau melanggarnya.”
“Sering, seingat saya.” Thomas beranjak dari sova.
“Ada apa? Kenapa wajahmu murung begitu?”
“Sebenarnya, kemarin saya mendapat surat dari sebuah perguruan tinggi. Mereka menerima saya menjadi murid di sana. Dan mulai besok, saya tidak akan berada di sini. Saya berencana menyewa rumah agar tidak terlalu jauh.” Michelle mengerutkan keningnya. Thomas memalingkan wajahnya dari ekspresi itu. Hatinya sakit.
“Tidak bisakah kau–”
“Keputusanku sudah bulat.” Thomas menjawab tegas tanpa berpaling. Gadis itu kecewa, ia berlari menuju koridor.
Mereka mendiskusikan hal tersebut selama berhari-hari. Thomas berusaha membuat Michelle mengerti, semakin keras ia mencoba, semakin dadanya terasa sesak. Ia harus segera keluar dari rumah itu. Hingga akhirnya tiba waktunya bagi Thomas untuk mengucapkan selamat tinggal.
“Kau harus mengirimkan surat padaku.” Mereka berjalan beriringan melewati pekarangan bunga.
“Tentu, saya sudah berjanji.” Thomas mengecup tangan Michelle sebelum menaiki kereta kuda.
Decitan suara sepatu, pintu tertutup, dan lambaian tangan. Thomas berlalu menutup tirai jendela rapat-rapat seolah ia menutup kisah hidupnya bersama Michelle.
Surat pertama datang, mengingatkannya kembali. Ia mengacuhkan surat itu, berharap Michelle bertemu orang yang tepat. Tapi surat berikutnya terus berdatangan, menggelitiknya untuk membalas.
“Thomas, surat dari siapa?” Suara wanita yang terdengar dalam sekaligus anggun.
“Dari Baron Blackwood, beliau bertanya mengenai keadaan saya.”
“Oh, bukankah Blackwood sudah mati?”
“Ini putrinya, dulu kami begitu dekat seperti saudara.”
“Tidakkah kau ingin membalasnya?”
“Tidak,” –Thomas memasukkannya dalam laci–“tidak sama sekali, Viscountess.”
Sebulan setelah surat terakhir yang diterima Thomas, datanglah surat lainnya. Ia membacanya dengan tergesa, meremas hingga kusut. Tepat hari ini pada tengah malam, gadis itu menuntut untuk bertemu di Jembatan London.
Matahari terbenam. Jarum jam sudah menunjukkan angka 11 lewat. Tanpa diketahui majikannya yang baru, Thomas bergegas menuju jembatan. Gadis itu berdiri, mencengkram pagar besi sedingin es, ia menatap alur air yang tenang. “Michelle!” Thomas berlari, nafasnya tidak beraturan. Ia menarik lengan gadis itu. “Apa yang kau pikirkan?! Kembali dan hiduplah dengan pria yang lebih baik! Berhenti mencariku!”
Penolakan tersebut membuat Michelle tercengang. Ia tidak menduga orang yang dicintainya akan bersikap ketus. “Aku mohon..” Tangan Thomas bergetar, matanya yang biru berkaca-kaca. “Jangan menuliskan hal yang mengerikan seperti itu. Kau tidak tahu siapa aku sebenarnya. Akan lebih baik jika kau terus melanjutkan hidupmu, melupakan aku.” Thomas menengadah. “Pulanglah.” Malam itu Thomas menemui Michelle sebagai dirinya sendiri. Mengungkapkan apa yang dirasakan hatinya.
Michelle mengangguk perlahan, ia kehabisan kata-kata. Kepalanya terasa kosong. Ia menundukkan wajahnya, berjalan perlahan meninggalkan Thomas. Setelah sosok gadis yang dicintainya dirasa cukup jauh, Thomas kembali dengan perasaan yang lebih hancur. Gadis itu menengadah, sorot kehidupan di matanya meredup. Ia melepaskan sepatunya, berlari menuju jembatan lalu melompat. Sedetik kemudian, suara kecipak air yang cukup keras terdengar. Wajah Thomas berubah pucat. Ia berlari ke sumber suara, namun tidak menemukan apa pun selain gelombang riak air. Si pria menjerit sekuat tenaga, mengepalkan tangannya, memukul pagar, menangis, tapi gadis itu tidak muncul ke permukaan.
Esok paginya, suara penjual surat kabar sibuk berlomba menjajakan berita terhangat. Thomas berkonsentrasi membaca tiap baris kata pada berita halaman utama. Ia menghempaskan surat kabar itu dengan wajah lesu.
“Oh, sayang,” seorang wanita paruh baya yang sama mendekap tubuh Thomas dari belakang. “Kau pasti merasa sedih dengan kabar ini.”
Nada suaranya terdengar lesu, “tidak kusangka ia akan pergi dengan cara setragis itu.” Thomas menyentuh tangan si wanita dengan lembut.
“Biarkan aku menghibur hatimu, Thomas.”
“Terima kasih, Viscountess Sarah.” Thomas beranjak dari sofa menuju tempat tidur.
***
Thomas terbangun dari lamunannya, ia melirik gadis berambut ikal warna coklat muda yang tertidur pulas bersandar pada bahunya yang lebar. Ia mengelus rambutnya dengan punggung telunjuknya lalu mencium beberapa helai rambutnya yang tebal. Ia berbisik pelan, “sayang sekali. Harumnya sudah memudar. Sudah saatnya mencari bunga dengan aroma yang lebih kuat, eh?” Thomas tersenyum picik.
Lambaian anggun tangan seorang istri Earl menarik perhatian Thomas. Ia mengangguk hormat menyambut kelinci kesepian lainnya.
Fin
NB; dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1251663-lomba-cerbul-kasfan-maret-13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar