“Kelak aku akan bisa mewujudkan keinginanku!”
“Iya, iya. Sekarang duduk dan habiskan makananmu, sebelum kita kepergok si manusia tua hina itu.” Tyrh menurut dengan patuh, ia kembali duduk dan melahap makanan hasil kerja keras kami berdua siang ini. Tidak masalah meski harus makan di tempat kumuh yang dilingkupi aroma semerbak gundukan sampah yang tak mengenakkan, yang penting kami tidak mati kelaparan.
“Keinginanmu yang itu maksudnya?” Aku memastikan tanpa berhenti menjejalkan makanan ke dalam mulut.
“Iya, ketika Aleihm dan manusia bisa hidup berdampingan.”
“Sudah kubilang kan? Itu tidak mungkin.” Aku masih melahap santai tanpa memerhatikan raut wajahnya yang berubah keras.
“Ingat Zarft,” ia menggenggam erat tanganku. “Tidak ada yang tidak mungkin.” Ia menatapku tegas dan yakin.
“Apaan sih?! Lepaskan! Sakit!” Aku menepis tangannya.
“Ah, maaf.” Tyrh menunduk, ia menggigit makanannya perlahan.