Rabu, 23 Mei 2018

My Hero

“Kelak aku akan bisa mewujudkan keinginanku!”

“Iya, iya. Sekarang duduk dan habiskan makananmu, sebelum kita kepergok si manusia tua hina itu.” Tyrh menurut dengan patuh, ia kembali duduk dan melahap makanan hasil kerja keras kami berdua siang ini. Tidak masalah meski harus makan di tempat kumuh yang dilingkupi aroma semerbak gundukan sampah yang tak mengenakkan, yang penting kami tidak mati kelaparan.

“Keinginanmu yang itu maksudnya?” Aku memastikan tanpa berhenti menjejalkan makanan ke dalam mulut.

“Iya, ketika Aleihm dan manusia bisa hidup berdampingan.”

“Sudah kubilang kan? Itu tidak mungkin.” Aku masih melahap santai tanpa memerhatikan raut wajahnya yang berubah keras.

“Ingat Zarft,” ia menggenggam erat tanganku. “Tidak ada yang tidak mungkin.” Ia menatapku tegas dan yakin.

“Apaan sih?! Lepaskan! Sakit!” Aku menepis tangannya.

“Ah, maaf.” Tyrh menunduk, ia menggigit makanannya perlahan.

Entah mengapa perasaanku jadi tidak enak dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba. Aku hapal betul keperibadian Tryh, hanya saja ketika suasananya jadi seperti ini, itu benar-benar menyesakkan. “Yah.. menyetarakan kedudukan memang tidak mungkin. Melihat kembali sejarah nenek moyang kita yang kalah telak akibat kesombongan dan kecongkakkannya sendiri, merasa dirinya lebih baik daripada manusia. Hanya saja si bodoh itu tidak mempertimbangkan jika manusia dapat mengeluarkan kekuatan yang luar biasa jika terdesak dan dilingkupi rasa khawatir jika kebebasan mereka terenggut ketika kalah saat itu. Dan di sinilah kita, menderita akibat kesalahan yang bahkan belum kita perbuat.” Meskipun aku meracau tak karuan, aku yakin Tyrh mendengarkan dengan baik. Mungkin sebentar lagi perasaannya membaik dan mulai menanggapi lagi omelanku yang tajam.

Aku mendengar helaan napas Tyrh. “Seandainya aku memiliki kesempatan untuk merubah semua ini, aku dapat menjamin hidupmu Zarft.”

“Keinginanmu itu terlalu muluk Tyrh. Menyerahlah. Lagipula kau tidak akan tega.” Suasana menjadi hening, hanya terdengar mulutku yang belum berhenti mengunyah makanan.

“Maksudmu?”

“Masih bertanya?” Aku menengadah. “Revolusi akan memakan korban jiwa entah dari pihak Aleihm atau manusia. Sedangkan kau, berpikir terlalu idealis. Kedamaian mutlak itu tidak diraih tanpa pertumpahan darah, mengerti kan?”

Tyrh menghembuskan napas. “Ah…” Dia melanjutkan lesu. “Memangnya apa perbedaan bangsa kita dengan manusia, Zarft? Mereka memiliki perasaan, kita juga. Mereka hidup dengan satu jiwa, kita pun demikian. Mereka memiliki akal, juga kita.”

“Hanya fisik Tyrh. Bagi mereka, kita itu makhluk asing dari luar bumi. Tidak memiliki daun telinga, tapi pendengaran kita lebih tajam daripada anjing. Meski tanpa kacamata, kita dapat melihat setajam elang. Dan meski manusia ingin menjadi makhluk abadi, usia mereka terbatas. Berbeda dengan kita. Meski kita tidak menginginkan ini, kehidupan kita jauh lebih panjang dan berat.” Aku menelan potongan terakhir daging bakar jatahku.

“Jika memang ingin berevolusi, aku hanya dapat mengatakan satu hal.” Tyrh menatapku berbinar penuh semangat. Mungkin perkataanku hanya akan menjatuhkan harapannya yang terlalu tinggi itu. “Balikkan keadaan.” Jawabku tegas menghancurkan sorot matanya yang hidup.

“Tidakkah kau pikir hal itu juga akan menciptakan manusia-manusia lain yang berpikir untuk memperjuangkan haknya seperti kita? Sejarah akan terulang Zarft, atau mungkin lebih parah.”

“Yaah… ” Aku bangkit dari posisi dudukku, berdiri membuang muka. “Di mana peradaban di dunia ini yang terus bertahan, Tyrh? Semuanya hancur meninggalkan sisa-sisa harapan kekayaan bagi pencari atau pencuri harta makam tanpa khawatir terkena kutukan. Pada setiap peradaban itu, muncul makhluk-makhluk bersifat seperti kita yang telah muak dengan ketidakadilan hukum pemerintah atau sikap masyarakat yang mengucilkan kaum kecil terasing seperti kita.”

Tyrh tertunduk lemas, ia tidak lagi membalas perkataanku. Aku memang selalu menang jika berdebat masalah itu, tapi hal ini sama sekali tidak membuatku senang. “Tyrh, ayo pulang. Setidaknya kita harus mengenakan pakaian hangat jika tidak ingin kelaparan nanti malam.”

Tyrh menengadah, ia tersenyum hampa. “Baiklah.”

Kami berjalan melintasi lorong kecil yang dihimpit apartemen-apartemen murahan bobrok. Menyusuri jalan setapak yang becek dan berbau tak menyenangkan serumit teka-teki silang yang dapat ditemukan di surat kabar. Aku melirik Tyrh, wajahnya masih cemberut. Mungkin sebentar lagi perasaannya akan membaik jika menemukan sesuatu yang membuat semangatnya berkobar lagi. Tapi jika omonganku sudah keterlaluan, aku harus meminta maaf untuk meredakan amarahnya. Meskipun begitu, bagiku keberadaan Tyrh sangat penting. Sejak otakku dapat menyimpan memori, aku telah banyak menghabiskan waktu untuk berjuang seorang diri. Itu sebabnya, saat bertemu dengan Tyrh–ketika ia berusaha menyelamatkan diri dari kejaran petugas keamanan, kupikir aku telah mendapat anugerah yang luar biasa. Sebab sendirian itu menyakitkan.

Setelah lima belas tahun kami berjuang dalam keterpurukan, ajakan itu datang. Tyrh memang memiliki kepribadian yang mudah bergaul dengan siapa saja, namun tidak kusangka ia mengenal seseorang dari organisasi yang hanya berisikan sekumpulan pemberontak dungu.

“Apa tujuanmu menyampaikan hal bodoh seperti itu?” Aku melempar mantel usangku di atas sofa dekil yang kutemukan di tempat pembuangan sampah.

“Bukankah ini kesempatan yang bagus untuk berjuang demi ras kita, Zarft?”

“Lihat sekelilingmu, idiot. Seharusnya kau bersyukur dengan segala hal yang kita miliki saat ini. Apartemen bobrok, pekerjaan yang cukup menjanjikan, dan setidaknya saat ini kita tidak akan mati kelaparan juga kedinginan.” Ujarku ketus. “Dan sekarang kau ingin aku membuang segala ketenangan ini demi kelompok Aleihm kurang kerjaan?”

“Pekerjaan menjanjikan? Kita hanya pembantu Zarft, kuli! Bahkan bukan hanya kita saja, bangsa kita pun direndahkan! Tidakkah kau marah dengan semua itu?”

“Asal aku tidak menderita, aku sama sekali tidak keberatan.”

Aku mengawasinya disudut mataku, ia mengenakan mantel dan melempar secarik kertas ke meja. “Itu nomor kontakku, kalau-kalau pendirianmu berubah.” Tyrh keluar, langkah kakinya bergema semakin jauh, membuat perasaanku tak enak.

Sunyi. Dia tak kembali.

“Brengsek!” Aku menendang meja hingga terlempar menghantam dinding. Aku mengambil mantelku, mencari kertas itu dan bergegas keluar. Berjalan menyusuri koridor suram dan menuruni tangga permanen tak terawat. Mengapa ia melakukan hal ini padaku? Padahal aku sudah menganggapnya seperti keluargaku sendiri. Tapi mengapa ia mau meninggalkanku seperti ini?! Aku tidak mau hidup sendirian, bagiku…

“Sudah kuduga kau akan ikut, Zarft.” Aku tersentak hampir tergelincir dari pijakanku. Tyrh berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding lantai dasar.

“Aku hanya khawatir, kau tidak akan bisa melakukan apapun tanpaku.” Aku mungkin akan menyesal karena hidupku kembali terombang-ambing tak jelas, tapi aku akan lebih menyesal jika sampai kehilangan Tyrh.

***

Di sinilah aku sekarang, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mencekokiku dengan ajaran dan kepercayaan mereka tentang dewa-dewi yang melindungi kaum Aleihm. Kalau memang dewa itu ada, mengapa mereka membiarkan para pengikutnya semenderita ini?

Awalnya aku berpikir semua ini hanya omong kosong, membuang waktuku yang berharga. Hingga aku menemukan hal menarik.

Seorang pria tua menaiki undakan menuju altar sempit dengan lima obor di tiap sisinya untuk menerangi seluruh ruangan. “Inilah yang membuat kaum kita tertindas, saudara-saudaraku.” Si pria tua menunjukkan sebuah gulungan perkamen. “Nenek moyang kita merupakan kaum yang menemukan dan menggunakan sihir. Manusia-manusia itu menganggap peradaban kita sebagai ancaman dan berusaha menutupi kenyataan ini dengan memutarbalikkan sejarah.” Aku berdiri dengan tenang. Tyrh terperanjat dengan sikapku yang menurutnya tidak sopan. Ia berusaha menarik tanganku agar kembali duduk, tapi kutepis tangannya dengan angkuh.

“Sihir dan hal-hal magis yang kalian sembah itu tidak ada.” Auditorium bawah tanah itu riuh dengan protes dan bisikan tanpa nyali. Aku mengacungkan telunjukku ke arahnya. “Buktikan padaku jika ucapanmu benar.” Aku melipat tanganku di dada. “Atau kau hanya membual agar kami mau mengorbankan diri kami demi kepentingan pribadimu saja?” Ujarku mengejek.

Aku memerhatikan sekelilingku, bagus. Sebagian besar terpengaruh dengan perkataanku. Nah, sekarang apa yang akan kau la…

Sekejap, mataku menangkap bulatan cahaya meluncur secepat petir. Aku terpental hingga menghantam dinding lembap, lalu jatuh menghunjam bumi. Rasanya sekujur tubuhku kram, aku bahkan dapat merasakan sengatan aliran listrik menjalar di kulitku. Apa ini?!

Ruangan yang tadinya seramai pasar, kini sunyi senyap layaknya upacara pemakaman. Aku berusaha bangkit, tapi tak kuat menahan bobot tubuhku sendiri. Rasanya tanganku bergetar nyeri. Sayup-sayup telingaku menangkap suara langkah kaki tanpa alas mendekatiku. Aku tidak dapat menebak makhluk apa yang mendekat, mataku kehilangan fokus penglihatan. Segalanya nampak abstrak.

Telingaku masih berdengung, tapi kupaksakan berfungsi. Dia menepuk pundakku pelan, tapi rasanya seperti dipukul dengan balok kayu. “Itulah yang namanya sihir, Nak. Memanipulasi inti kehidupan sekelilingmu lalu menggabungkannya dengan bakat lahir yang kau miliki. Inilah kelebihan kaum kita yang dikhawatirkan manusia, mereka takut kemampuan kita disalahgunakan. Padahal yang kita inginkan sama, kedamaian. Tidak akan ada asap jika tidak ada api…” Itu kata-kata terakhir yang dapat kutangkap dalam keadaan sadar.

***

Hari demi hari dihabiskan untuk berlatih dan mengambangkan bakat masing-masing; penyerang, penyembuh, telekinesis, telepati, teleportasi, pengguna perisai. Aku sendiri memiliki bakat teleportasi dan penyerang, meski begitu aku tidak suka terlibat dengan hal rumit jika tidak terpaksa. Sedangkan Tyrh, ia pengguna perisai dan ahli meramu peledak dengan mencampur inti mana dan memicunya dengan sentuhan.

Persiapan semakin matang dan sudah saatnya bagiku untuk membawa lari Tyrh dari kekacauan ini. Dengan keahlian luar biasa ini, setidaknya kami tidak akan kesulitan dimana pun kami berada. Tepat tengah malam, aku mengendap-endap masuk ke kamar Tyrh. “Tyrh, bangun. Kita pergi dari sini.”

“Apa maksudmu Zarft?” Ia mengusap-usap matanya.

“Sudah jelas bukan? Aku tidak mau terlibat hal gila macam begini. Mari kita mengungsi ke negara atau pulau yang lain dan hidup tenang di sana. Menikahi wanita dan menikmati hidup dengan keturunan-keturunan kita.”

“Kau yang sudah gila Zarft! Tinggal seminggu lagi sebelum penyerangan! Dan kau ingin lari menyelamatkan dirimu sendiri?!”

“Pelankan suaramu! Kau mau membangunkan yang lainnya dan tertangkap? Cepat bersiap. Kita keluar malam ini juga!”

“Pergilah sendiri, aku akan berjuang dengan yang lain.” Tyrh menarik selimutnya dan berbaring membelakangiku.

“Jangan keras kepala!” Aku menarik selimutnya hingga terjatuh di lantai yang hanya diplester. “Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi!” Aku bersimpuh sambil menggenggam erat tangannya. Ia menatapku heran. “Kaulah satu-satunya keluargaku, meski kita sama sekali tidak berhubungan darah. Jika sampai kau mati, aku tidak akan sanggup menjalani hidup sendirian. Pergilah bersamaku, wahai saudaraku.”

“Jika begitu, maka lindungiku aku dalam perang.” Aku terkejut mendengar pernyataannya. Dia sama sekali tidak sadar, betapa sulitnya aku mengatakan hal memalukan seperti itu dalam keadaan bersimpuh begini. “Meskipun kau tidak peduli dengan nasib kaum kita, tapi berperanglah demi diriku. Demi kebebasanku, Zarft.”

“Itukah jawaban terakhirmu, Tyrh?”

“Ya.”

Aku kembali berdiri, malu memenuhi perasaanku. “Apapun hasilnya kelak, setelah perang ini berakhir, kita pergi dari sini dan memulai kehidupan baru.”

“Tentu saja. Kau dapat memegang kata-kataku, Zarft.” Tyrh bangkit lalu mengambil selimutnya. “Ngomong-ngomong, kau tidak kembali ke kamarmu?”

“Sepertinya malam ini, aku akan tidur bersamamu. Sudah lama kita tidak tidur satu ruangan kan?”

***

Sudah saatnya memulai perang. Kami terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang disebar di seluruh lorong bawah tanah. Aku sekelompok dengan Tyrh dan lima orang lainnya. Bukan tanpa sebab atau hanya kebetulan, tapi karena aku ngotot ingin sekelompok dengannya jika berharap aku ikut berpartisipasi.

Tugas kami saat ini memasang peledak hingga tengah malam. Lalu menanti perintah berikutnya melalui telepati. Semua lokasi yang akan dipasangi peledak telah diberi tanda. Sebagian besar merupakan sarana dan prasarana milik pemerintah. Tyrh memasangnya begitu hati-hati. “Kau cukup melemparkan plasma untuk memicunya, kurasa waktunya cukup agar kau bisa berpindah ke tempat yang lain.”

“Aku mengerti, segera selesaikan ini. Waktunya tinggal sedikit.” Kami pun bergerak ke titik selanjutnya.

Tengah malam. Aba-aba diterima, ledakan pertama terdengar. Penyerangan dimulai. Dalam hitungan detik ratusan pasukan keamanan berkumpul menghadang. Disusul lusinan tank dan pesawat angkatan udara. Meski begitu mereka bukan tandingan kami. Aku dapat dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan menghancurkan mereka. Hanya saja, dalam perang apapun dapat terjadi tanpa terduga.

Aku sedikit lengah karena terlalu bersemangat. Tidak sadar jika sedari tadi seseorang telah membidikku. Tyrh menyadari hal itu dan berusaha memperingatkanku, namun terlambat. Letusan senjata bersamaan dengan Tyrh yang melompat, aku memeluk tubuhnya lalu bergegas berteleportasi. Berharap masih sempat menghindar.

“Apa kau bodoh?!” Aku membaringkannya di lantai apartemen terdekat yang dapat kujangkau. “Untuk apa melompat membiarkan dirimu tertembak?! Aku mengenakan anti peluru! Lagipula kau cukup memasangkan perisai padaku!” Tidak hanya kedua tanganku yang penuh dengan darah, baju, mantel bahkan celana yang kupakai pun tak luput. Ini membuatku bergidik ngeri. “Tunggu sebentar di sini, aku akan mencari si penyembuh.” Tyrh menarik mantelku.

“Tidak, diamlah di sisiku.” Ia terbatuk, darah menyembur, napasnya semakin pendek. “Harusnya waktu itu aku mendengarmu…” Tyrh melepas genggamannya. Tatapan matanya kosong tak bernyawa. Panik menyerangku, aku duduk di sebelahnya. Menggenggam tangannya yang dingin.

Oh, tidak! Tidak! Jangan seperti ini! Kembalilah! Kau bahkan belum menepati janjimu! Aku meraung marah, tidak peduli jika musuh mendengarnya dan bergegas menghampiriku saat ini.

Tyrh, kau adalah cahaya yang hangat bagi malamku yang dingin, pelipur lara ketika aku bersedih dan penyelamat duniaku yang telah hancur. Apa yang bisa kulakukan tanpamu? Sudah tidak ada harapan yang tersisa bagiku jika kau diam membisu di sini. Kumohon kembalilah!

Hening. Tyrh sama sekali tidak bernapas. Aku tidak bisa mendengar detak jantungnya. “Brengsek!” Aku meninju lantai dingin. Rasanya mataku meleleh, mulutku tidak mau berhenti menyumpah. Ini menyakitkan!

Beberapa tarikan napas dalam akhirnya berhasil menenangkanku. Menangis tidak akan membuat kemajuan, Tyrh pun akan marah jika ia melihatku seperti ini. Aku berdiri dengan kepala tertunduk. Daripada mengancam untuk bernegosiasi dengan manusia, lebih baik jika aku melakukan sesuatu yang nyata. Menghancurkan segalanya!

Aku berteleportasi untuk mengaktifkan peledak. Meremas peta yang dipenuhi tanda silang, melemparkan plasma, lalu berpindah ke tempat berikutnya. Akan kuhancurkan segalanya, lalu membangun ulang dunia ideal yang diidamkan pahlawanku.

Fin






NB; dilombakan di https://www.goodreads.com/topic/show/1658195-lomba-cerbul-kasfan—edisi-epik-januari-14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar