Dari atas bukit rumput aku dapat melihatnya dengan jelas. Langit
terbelah dan sebuah tangan raksasa seputih
tulang muncul perlahan menjadikan sisi lubang sebagai penopang. Dia menampakkan
ujung hidungnya sebelum akhirnya aku melihat seluruh rupa makhluk itu. 8 mata
berderet di keningnya.
Satu per satu lengannya keluar dari dalam lubang yang nampak
kecil baginya. Makhluk itu menatap lapar pada jajaran rumah yang berderet di
bawahnya. Dengan satu hentakan, dia melompat tinggi sebelum akhirnya mendarat. Tanah
berguncang keras, menghempaskanku.