Senin, 31 Oktober 2016

Bayangan Bulan di Atas Danau



“Selamat pagi, Kishimoto!” Seru seorang anak yang tengah berlari mendekati temannya berwajah campuran barat-asia. Ia mengenakan seragam sekolah yang terlihat elit. Dengan kemeja putih, celana dan sepatu pantofel berwarna hitam, dan tas ransel.

Ia berbalik dan tersenyum menunggunya. “Selamat pagi Heiji.”

“Bagaimana, tugas musim panas tahun ini sudah selesai?” Tanya Heiji penuh semangat.

“Iya, tahun ini kami sekeluarga berkunjung ke rumah nenek di Prefektur Hiroshima. Kalau tidak salah Pulau Mima.. hmm, apa ya, Jimamiya?” Jawab Kishimoto tidak yakin.

“Miyajima.. ya ampun, bahasa jepangmu masih payah. Padahal sudah tiga tahun menetap.” Heiji tertawa. “Apa kamu tidak malu dengan anak berusia lima tahun yang sudah mahir berbahasa jepang?” Ledek Heiji.

“Walaupun usiaku sudah 13 tahun, tetap saja aku butuh adaptasi di sini.” Kishimoto memonyongkan bibirnya.

Jumat, 28 Oktober 2016

Inside Cave



Masih segar dalam ingatanku yang masih dalam proses tumbuh berkembang. Aku menaiki mobil keluaran tahun delapan puluhan bersama ayah, ibu, dan adik perempuan dengan selisih umur tiga tahun, menuju sebuah tempat asing yang belum pernah kukunjungi. Saat itu aku telah memasuki bangku taman kanak-kanak.

Seingatku, Bandung masih belum sepadat sekarang. Aku melaju kencang dengan bebas tanpa hambatan. Udaranya pun masih tergolong bersih dan sejuk. Tanpa menghidupkan pendingin pun kami dapat menikmati udara segar dengan membuka jendela pintu kendaraan.

Kami berlalu melintasi rindangnya bayangan pohon jati , toko-toko kecil yang dibangun dengan jarak berjauhan serta pilar-pilar besar sebagai pondasi jembatan yang dikenal dengan nama Surapati pada zaman sekarang. Ayah mengambil kelokan ke kawasan Dago di depan sambil mengobrol santai dengan ibu di sampingnya. Aku dan adikku, Euis, duduk di belakang. Ia tertidur di sebelahku ditemani selimut tipis dan boneka kesayangannya. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke luar.

Rabu, 26 Oktober 2016

Lock



Udara dingin ditambah kabut tipis turun di jalanan yang dipenuhi makhluk mengaku abadi. Aku memerhatikan mereka bersosialisasi dengan topeng kepentingan masing-masing. Tidak ada yang spesial. Sudah ribuan tahun bahkan ratus ribuan tahun aku memerhatikan ketamakan mereka yang menjijikkan. Aku hapal betul wajah palsu mereka. Jadi percuma. Percuma saja mencoba untuk menipuku –lagi pula tidak ada satu pun dari makhluk hidup itu yang dapat melihatku. Hal itu karena perbedaan tingkat kami. Semakin tinggi kemampuan dan keahlian yang kau miliki, semakin sulit makhluk yang lebih rendah darimu dapat melihat wujudmu dengan mata telanjang.

Kau bertanya ini di mana? Akan kujawab pertanyaanmu dengan mudah. Dunia Iblis. Terletak diantara belahan dimensi surga dan neraka. Aku sendiri berkewajiban untuk mencatat makhluk-makhluk biadab penuh tipu muslihat ini. Serta mengawasi jika mereka memutuskan untuk menyeberang menuju dunia roh yang terkunci dengan fisik, tepat sekali kuduga kau akan mudah menebaknya, Dataran Gaia–begitulah aku menyebutnya. Ada banyak spesies makhluk hidup yang dapat dirayu, digoda, dan dikendalikan. Dari makhluk busuk, tak berakal dan penuh belatung, hingga strata makhluk suci yang mengagungkan monarki.

Selasa, 25 Oktober 2016

Bunmar Pokboi



Aku berdiri diam di balik batang pohon. Menanti dengan sabar sembari menggenggam tongkat kayu yang ujungnya telah kutajamkan. Gemerisik suara dalam cahaya redup matahari yang berusaha menembus rindangnya atap pepohonan. Itu tandanya.

Aku melompat, melesat, melemparkan tongkat sepanjang satu setengah meter. Aku mendarat di antara jelujur akar pohon beringin, tanpa buang waktu aku mengambil potongan tongkat yang lain dan melemparkannya sekuat tenaga. Dadaku yang kecil berdetak kencang, rasanya sangat sulit bernapas. Aku menyeka peluh dari keningku. Kupalingkan wajahku ke arah buruan yang bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.

“Ternyata memang masih belum cukup.” Tubuh yang kecil agak menyulitkanku untuk mengembangkan kekuatan dan kecepatan. Aku berjalan sekitar lima puluh kaki lalu mengambil sepasang kayu yang kulempar. Jarak ini bahkan tidak ada setengahnya dari pohon yang telah kutandai.

Aku benar-benar kesal! Tinggal seminggu lagi aku akan genap menjadi bocah lelaki berusia delapan tahun. Aku kehabisan waktu!

Senin, 24 Oktober 2016

Myohyang



Aku membuka pintu, melirik ke kanan dan kiriku. Khawatir, kalau-kalau ada pelayan yang datang memergokiku. Aku berjalan perlahan menyeret rok tipis seringan gula kapas. Lalu duduk di tepi serambi kecil. Membuka kaos kakiku dan mencelupkan ujung jariku yang terasa perih ke dalam danau. Dinginnya air terasa begitu segar membawa semangat baru dalam diriku untuk berlatih lagi. Memandangi daun gugur yang hanyut. Aku menengadah memandangi dedaunan pepohonan yang berubah warna menjadi oranye. Tanah yang ditutupi rerumputan hijau kini berubah menguning. Aroma musim gugur yang menenangkan. Hingga suara yang akrab membuyarkan segalanya.

“Nona Myohyang! Apa yang sedang anda lakukan di luar sana?!” Seru kepala pelayan wanita dengan rambut kepang yang dililitkan sekitar kepalanya. Wajahnya menunjukkan rasa khawatir bercampur panik. Ia berlari tergesa melalui jalan setapak yang sempit mendekatiku, roknya yang lebar berkibar membelah angin.

Aku menyambutnya dengan cemberut. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Aku bahkan tidak menyentuh apapun jika kau ingin tahu.” Bukan tanpa alasan aku mempertegas hal itu. Menyentuh jiwa elemen alam secara sembarangan akan mempengaruhi jenis keahlian Myohyang dalam memanipulasi kekuatan Majeong. Itu sebabnya, sejak diumumkan secara rahasia calon Myohyang berikutnya, aku harus ditempatkan di ruangan terpencil ini dengan pengawasan ketat.

Minggu, 23 Oktober 2016

Makoto to Kotowari

Sakit…
Gelap…
Dingin..
Rasanya sesak, paru-paruku terasa terbakar…
Aku memerhatikan sekelilingku. Tidak ada siapa-siapa. Aku… dimana?
Aku melompat dengan ringan. Seakan tubuhku tak berbobot.
Kemudian… muncul cahaya di kejauhan. Cahaya kecil yang hangat. Aku bergegas mendekatinya penuh semangat. Sebuah api lilin tunggal kecil berpendar kebiruan yang menenangkan. Aku menengadahkan tanganku, menciduknya. Seketika aku dapat mendengar desiran darah mengalir ke seluruh tubuh dan detak lembut jantung yang kurindukan.
“Oi, yang di sana!”

Selasa, 18 Oktober 2016

Flute

“Lihat, lihat, itu anak haram penyihir!” Seorang bocah lelaki menunjuk bocah lelaki lainnya yang memiliki rambut putih keperakan dengan bola mata putih.

“Oh! Benar! Anak haram! Itu anak haram penyihir!” Seorang bocah perempuan ikut mengolok-olok. Ia berteriak memanggil teman-teman yang lain untuk ikut memeriahkan pesta kecil sederhana menyakitkan itu.

Black Ceremony



“Tuanku,” seorang pria bertelinga berujung lancip, berkulit putih sepucat salju dengan rambut terkepang rapi berlutut, ia meletakkan helm yang terbuat dari titanium dan campuran sisik naga perak di hadapannya. Si pria melirik pada buku yang kubaca lalu menghela napas–aku dapat melihat ia cukup kecewa mengingat situasi saat ini sangat genting. “Persiapannya sudah selesai, kami hanya tinggal memperbarui pasak perlindungan.”

“Terima kasih, Aleiner.” Aku menanggapinya dengan posisi masih duduk penuh wibawa di kursi megahku dan menutup dengan anggun buku yang bercerita tentang cinta kalangan muda Elf Putih. Aku cukup menyukai tema-tema demikian. “ Kau boleh pergi, oh, dan ingatkan pada pasukanmu untuk waspada.”

Senin, 17 Oktober 2016

Ice Breaking



Selamat datang di Blog milik saya :D


Ini merupakan media untuk mengasah kemampuan saya. Maka dari itu jika ada kritik dan saran, saya akan sangat senang menerimanya untuk memperbaiki karya tulisan saya menjadi lebih baik :D


Selain itu, tahun 2016 ini saya sedang menikmati beberapa produk skin care dan kosmetik baik dari Korea maupun Thailand. Berhubung saya sedang pasif menulis fiksi, kemungkinan saya akan mengisinya dengan review produk dan manfaat yang saya rasakan dari produk tersebut.

Insanity



Deru langkah kaki, gang sempit dengan penerangan lampu apartemen murahan, cipakan air berbau busuk, dan tak lupa pengejaran. Benar, saat ini aku sedang berlari menyelamatkan nyawaku dan tentu saja hal yang lebih penting daripada berlian. Notasi nada. Silakan tertawa, tapi benda ini setara dengan nyawa seorang Irct.

Irct–yaitu aku pun termasuk, sangat membutuhkan notasi-notasi seni ini untuk sekedar memperkuat sihir atau memperpanjang umur–terutama yang kelebihan harta dan tidak berkeinginan buru-buru mati. Hanya saja–ah, sial! Aku menginjak kotoran anjing! Notasi blok yang salah akan merenggut segalanya dari si pengguna yang ceroboh dan meninggalkan jejak kehidupan di belakang.

Anugerah sekaligus kutukan ini tidak dimiliki oleh seluruh ras Irct. Kebetulan aku dan beberapa Irctian–panggilan ini semacam sebutan kebangsaan jadi tak perlu ambil pusing memikirkannya–yang memilikinya. Bahkan Beethoven pun akan menangis saat mengetahui kemampuan unikku ini–sayangnya dia sudah lama mati. Segala prosesi pinjam-meminjam ini diawali dengan berjejalan di tengah gedung orkestra mewah dalam samaran penikmat musik kaya raya. Lalu dengan diam-diam aku memilah dan memilih nada inti dari nada pendukung lainnya. Tidak hanya telinga yang berperan dalam kegiatan yang hampir merenggut nyawa jika ketahuan, tetapi juga kejelian mata.