Senin, 24 Oktober 2016

Myohyang



Aku membuka pintu, melirik ke kanan dan kiriku. Khawatir, kalau-kalau ada pelayan yang datang memergokiku. Aku berjalan perlahan menyeret rok tipis seringan gula kapas. Lalu duduk di tepi serambi kecil. Membuka kaos kakiku dan mencelupkan ujung jariku yang terasa perih ke dalam danau. Dinginnya air terasa begitu segar membawa semangat baru dalam diriku untuk berlatih lagi. Memandangi daun gugur yang hanyut. Aku menengadah memandangi dedaunan pepohonan yang berubah warna menjadi oranye. Tanah yang ditutupi rerumputan hijau kini berubah menguning. Aroma musim gugur yang menenangkan. Hingga suara yang akrab membuyarkan segalanya.

“Nona Myohyang! Apa yang sedang anda lakukan di luar sana?!” Seru kepala pelayan wanita dengan rambut kepang yang dililitkan sekitar kepalanya. Wajahnya menunjukkan rasa khawatir bercampur panik. Ia berlari tergesa melalui jalan setapak yang sempit mendekatiku, roknya yang lebar berkibar membelah angin.

Aku menyambutnya dengan cemberut. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Aku bahkan tidak menyentuh apapun jika kau ingin tahu.” Bukan tanpa alasan aku mempertegas hal itu. Menyentuh jiwa elemen alam secara sembarangan akan mempengaruhi jenis keahlian Myohyang dalam memanipulasi kekuatan Majeong. Itu sebabnya, sejak diumumkan secara rahasia calon Myohyang berikutnya, aku harus ditempatkan di ruangan terpencil ini dengan pengawasan ketat.

Si kepala pelayan menggeleng kesal. “Sudah sekian kali saya ingatkan untuk membuka jendela jika anda memang ingin mencari udara. Tidak perlu keluar ruangan. Apakah anda sudah lupa? Anda sama sekali belum diizinkan untuk melakukan kegiatan di luar. Masuklah kembali.”

Aku menatapnya nanar, mencoba untuk merayu dengan menggelitik sisi terlembut seorang wanita paruh baya. “Hanya sebentar saja, kumohon. Lagipula seminggu ini aku telah berlatih keras dan menjadi gadis yang baik. Beri kelonggaran untuk satu hari ini, ya? Tidak akan ada yang tahu jika kita merahasiakannya.”

Si kepala pelayan merasa bimbang untuk sesaat sebelum wajahnya kembali terlihat tegas. “Kembalilah ke ruangan anda nona, saya akan segera menyiapkan sarapan.”

“Baiklah.” Aku mengalah. Aku berjalan masuk dengan lesu menuruti perintahnya. Pintu kembali tertutup.

Aku berbaring di tengah kamarku yang minimalis; kasur tipis, selimut tebal, lampu tempel, beberapa gulungan dan buku kuno, sebuah meja kecil serta dua buah jendela tertutup. Tidak ada yang menarik. Tapi ini lebih baik daripada tempat tinggalku dulu. Aku harus ikut membanting tulang dan berjuang di tengah kemiskinan. Hingga suatu hari, orang-orang berpakaian putih dengan penutup wajah mendatangi keluargaku untuk mengadopsiku. Menurut peramal di keluarga Park, akulah Myohyang selanjutnya. Mereka tidak mengambilku tanpa imbalan, sebagai gantinya keluargaku mendapat sekotak emas serta pekerjaan terhormat.

Myohyang merupakan sebutan bagi dukun wanita yang mampu mengendalikan dan memanipulasi inti roh elemen alam, Majeong. Musim semi tahun depan, tepat saat aku menginjak umur tiga belas, aku harus memimpin upacara pemanggilan Majeong yang akan menjadi abdi setiaku. Itu sebabnya, tidak ada lagi waktu untuk bermain-main dan bersantai karena aku harus mencari roh terkuat yang bisa kudapatkan. Meski begitu, aku ini masih anak kecil. Butuh hiburan.

“Samsin…” Panggilku lirih.

Sebuah bola cahaya turun perlahan dari langit-langit, berputar lalu menggeliat cepat berubah bentuk. Empat kaki menyembul, diikuti ekor dan kumis pendek. Seekor kucing setinggi satu meter dibalut api menyala kemerahan bersujud di sisi kananku.

“Tuanku..” Si kucing masih menunduk taat. Aku melirik puas. Samsin merupakan Majeong pertama milikku yang berhasil kupanggil tanpa diketahui. Sebenarnya aku hanya iseng menguji coba kemahiranku merapal mantra pada api lilin. Lalu sebuah letupan bersuara keras disertai asap tebal mengejutkanku–serta penghuni lainnya saat tengah malam. Dalam beberapa saat yang hening tidak terdapat tanda-tanda Majeong, aku bernapas lega. Setidaknya aku dapat berkelit saat diomeli. Namun setelah jeda panjang yang menegangkan dalam kamar, Samsin muncul di waktu yang tepat; ketika orang-orang telah kembali ke ruangan mereka masing-masing. Awalnya Samsin berwujud anak kucing kecil manis nan imut dengan balutan api muda kebiruan. Dalam setahun terakhir ia banyak berubah warna dan menjadi seperti yang sekarang ini.

Kami saling berpandangan, tidak ada yang bersuara. Jantungku berdetak keras, khawatir akan konsekuensi tidak menyenangkan yang sering disampaikan guruku. Meskipun pada dasarnya Majeong merupakan roh yang bangkit karena upacara pemanggilan, jika Myohyang bersangkutan lebih lemah dari Majeong yang dipanggilnya, maka yang terjadi adalah kebalikannya. Majeong dapat memanipulasi tubuh majikannya.

Aku memandang cemas. Si Majeong berlutut, menundukkan wajah yang dipenuhi bulu. “Kau, Majeong api?”

“Sesuai dengan tebakan anda.”

Tubuh kucing yang tadinya padat entah mengapa berangsur transparan. Terdapat sebuah nama di tengah bola sebesar kepalan tanganku. “Sam..sin?”

Si kucing mengeong dalam. “Tuanku, aku terikat dengan kehidupanmu. Penyebutan nama tersembunyi merupakan kontrak dan sumpah antara Majeong dan Myohyang. Mulai detik ini aku abdimu.”

“Baiklah Samsin, apa kau roh dari segala api?”

Si kucing menengadah, ia menggeleng sopan. Matanya yang berwarna kuning menyala menatapku. “Majeong merupakan inti jiwa penghuni elemen di sebuah tempat. Jika wadahnya berbeda maka penghuninya pun tak sama.”

“Begitukah…” Aku merenung sebentar. “Dengar, aku belum mendapatkan izin untuk pemanggilan. Dan yang terjadi padamu merupakan sebuah kecelakaan yang tak disengaja. Jadi dapatkah kau, yah, bersembunyi namun tetap waspada. Sewaktu-waktu aku mungkin akan membutuhkanmu.”

“Sesuai keinginan Tuanku.” Si kucing menggeliat, memuntir dan berubah menjadi nyala api lilin yang lembut namun tidak membakar minyak beku di sekitarnya. Jika siang hari aku tidak memerlukan nyala lilin, maka Samsin akan kembali ke bentuk lingkaran dan menanti tersembunyi di langit-langit kamarku. Selama satu tahun ini hal itu terus berulang tanpa diiketahui siapapun kecuali aku.

Aku bangkit dan duduk bersila. “Samsin, apa kau pernah melayani Myohyang sebelum aku?”

“Pernah, Myohyang Han Geum. Beliau seorang tabib yang ahli. Aku sama sekali tidak berpikir akan dipanggil lagi karena selama aku bersama tuanku yang dulu tidak ada Majeong yang sama bangkit dua kali. Begitu pula dengan sejarah Myohyang lainnya. Majeong memiliki satu kali kehidupan begitu terikat sumpah dengan Myohyang. Begitu Myohyang bersangkutan meninggal maka Majeongnya pun ikut mati.”

“Kudengar setiap Myohyang memiliki bakat alami yang akan menentukan masa depannya.” Aku melirik Samsin. “Aku pribadi tidak begitu mahir dalam bidang pengobatan, tidak memiliki pengetahuan luas, dan tidak dapat melihat masa depan seperti pada kebanyakan Myohyang sebelumnya.” Aku menyentuh tumpukan rendah buku sejarah yang berjajar rapi.

“Tidak adakah informasi yang lainnya?” Tanyaku penasaran.

“Pengetahuanku terbatas, Tuanku.” Si kucing menunduk menyesal.

Tentu saja pengetahuannya terbatas. Toh, kehidupan Samsin terbatas. Inti Majeong baru akan memiliki kesadaran saat ia dibangkitkan dari wadah yang membelenggunya. Lalu tumbuh dan mengalami perkembangan kemampuan saat bersama Myohyang pemanggilnya. Dan segalanya akan berakhir sia-sia begitu si Myohyang mati. Kekuatan, ilmu pengetahuan, kemampuan serta kehidupan Majeong menghilang saat sumpah yang mengikat melebur.

Aku terperanjat senang mengingat sesuatu yang penting terbesit di kepalaku. “Di rumah utama terdapat ruangan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan berkas. Di sana terdapat beberapa buku yang dilarang untuk kubaca. Guru Han Seong pernah memarahiku sewaktu secara tak sengaja aku melihat-lihat rak dengan tumpukan perkamen tua serta buku-buku bersampul hitam yang disegel. Dapatkah kau mengambilkan beberapa buku di sana? Mungkin terdapat catatan penting tentang keahlianku.”

“Sesuai keinginan anda, Tuanku.”

Aku merapal jampi. “Dengan begini, tidak akan ada yang akan melihatmu.”

“Terima kasih, Tuanku.” Samsin menghilang dari kamarku tepat saat ketukan lembut pada pintu.

“Nona Myohyang, saya membawakan sarapan anda.”

“Masuklah.” Aku merapikan pakaianku yang kusut dan berusaha duduk dengan berwibawa sambil berpura-pura membaca buku.

Tiga pelayan masuk, dua diantaranya membawa dua nampan makanan. Si kepala pelayan, Geum Jeong, menyiapkan meja kecil di hadapanku. “Tadi saya sempat mendengar anda berbicara.”

“Aku hanya menghapal mantra, tidak perlu dihiraukan.”

“Guru Han pasti bangga pada anda.”

“Terima kasih.” Begitu selesai menyiapkan makanan, para pelayan ke luar. Membiarkanku menikmati sarapan tanpa terganggu. Tidak lama berselang, terjadi keributan yang terdengar sayup di kejauhan. Mungkinkah…?

Gawat! Apa mungkin ruangan itu diberi Mantra Perlindungan? Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Aku meletakkan mangkuk dan sumpit di meja dan bergegas mengintip dari jendela. Semoga saja aku dapat melihatnya.

Sesuatu melompat dari dahan pohon ke pohon. Ia melemparkan sesuatu untuk mengecohkan perhatian. Di bawahnya para prajurit mengepung sambil mengacungkan pedang. Syukurlah aku tidak melihat Guru Han dan seseorang dengan bakat khusus. Tapi cepat atau lambat masalah ini akan sampai padanya. Aku harus memikirkan alasan yang tepat. Menuduh Myohyang lain akan memicu peperangan, baiklah itu urusan nanti. Saat ini aku harus menyelamatkan Samsin dan tidak membiarkan siapapun melacaknya.

Aku segera mengacak-acak mencari buku bersampul kulit yang telah terkelupas. Membukanya, lalu melakukan ritual kecil dengan mengambil sedikit kemenyan di balik lengan bajuku yang lebar, sepotong daun herbal yang bisa kutemukan sebagai hiasan hidangan. Lalu menggebrak dengan kuat lantai kayu kamarku. Di balik telapak tanganku mengapung bulatan kecil inti jiwa Samsin. Tapi itu belum selesai, aku harus mengacaukan jejak Samsin dengan membuat jejak pelarian palsu ke luar. Hal itu lebih merepotkan lagi, karena membutuhkan syarat yang rumit. Aku mencongkel salah satu lantai kayu. Mengambil beberapa botol berisi serbuk kasar berwarna hijau gelap, sebatang dupa serta akar lalu mengendalikan tubuh kosong Samsin ke selatan.

Setelah perjuangan panjang yang berbahaya dan tanpa hasil, aku juga harus meminum pil pahit. Seperti yang dapat kuduga Guru Han dan beberapa lainnya mencurigaiku. Tapi mereka tak memiliki cukup bukti. Untuk sementara aku menidurkan Samsin hingga keadaan kembali aman. Syukurlah, setiap wilayah memiliki Myohyang, hal itu bisa kumanfaatkan untuk mengelak dari tuduhan. Pada akhirnya yang dapat kulakukan untuk mengisi sisa-sisa hariku sebagai gadis biasa berusia dua belas tahun, hanya berlatih hingga musim semi itu tiba.

***

Udara pagi bercampur aroma dupa berbau menyengat. Aku berjalan perlahan dengan pakaian upacara tebal dan berat ke tengah alun-alun terbuka Seongyojang di pusat Gangwon-do. Sepuluh gendang berukuran raksasa berdiri di sekitar lapangan dipukul penuh khidmat menambah mistis suasana sakral yang jarang terjadi.

Aku berdiri di tengah lingkaran luas. Empat cawan tembaga raksasa diletakkan sesuai dengan arah mata angin utama. Tiga diantaranya berisi kobaran api, air, dan tanah. Satu cawan lagi dibiarkan kosong. Aku menggigit ujung jempolku hingga darah menetes yang menandakan aku telah siap memimpin upacara suci itu. Suasana berubah hening. Meski kegiatan tersebut hanya dihadiri beberapa orang, tapi kedudukan mereka membuatku tegang. Aku mulai merapal jampi yang telah kuhapal sejak lama dengan fasih. Dan berusaha menarik napas dengan teratur untuk menjagaku agar tetap fokus. Aku memanggil Samsin untuk menstabilkan staminaku yang mulai berkurang; ini karena aku juga dibebani pakaian serta ornamen hiasan kepala yang tidak diketahui fungsinya. Ia berdiri di sisiku dengan patuh, menyalurkan energinya padaku.

Duh, leherku pegal, tapi aku harus tetap berputar perlahan dan anggun untuk menggenapi prosesi yang melelahkan ini. Segalanya baik-baik saja begitu kusadari ekspresi mereka berubah. Raut wajah mereka menandakan aku telah melakukan sesuatu yang fatal.

“Hentikan upacaranya!!” Si kepala pendeta berteriak.

Terlambat.

Tanah yang kupijak bergetar hebat, gendang-gendang besar terlempar dari kayu penyangganya, empat cawan tembaga terhempas menumpahkan isinya. Si kepala pendeta memberikan instruksi. “Amankan Myohyang terkutuk itu!! Gagalkan pemanggilan. Bakatnya hanya akan membangkitkan Majeong dari kematian. Ia telah melanggar aturan!!”

“Tidak, bukan. Aku tidak sengaja melakukannya!! Samsin tidak berbahaya!” Angin kencang mulai berputar di sekelilingku, air danau di samping lapangan bergejolak, tanah retak membuka jurang dalam yang tak terlihat dasarnya. Dan yang paling mengerikan, Samsin. Ia berkobar dalam balutan api berwarna hitam pekat.

Tangan besar muncul dari dalam jurang, angin memuntir membentuk tubuh manusia, air danau meluap hingga setinggi pinggangku. Empat raksasa majeong dengan bentuk tak lazim hadir di depanku dengan tatapan murka. Mungkinkah, ini akhir dunia?

NB; dilombakan di https://www.goodreads.com/topic/show/1573660-lomba-cerbul-kasfan-november-2013#comment_88349434

Tidak ada komentar:

Posting Komentar