Jumat, 28 Oktober 2016

Inside Cave



Masih segar dalam ingatanku yang masih dalam proses tumbuh berkembang. Aku menaiki mobil keluaran tahun delapan puluhan bersama ayah, ibu, dan adik perempuan dengan selisih umur tiga tahun, menuju sebuah tempat asing yang belum pernah kukunjungi. Saat itu aku telah memasuki bangku taman kanak-kanak.

Seingatku, Bandung masih belum sepadat sekarang. Aku melaju kencang dengan bebas tanpa hambatan. Udaranya pun masih tergolong bersih dan sejuk. Tanpa menghidupkan pendingin pun kami dapat menikmati udara segar dengan membuka jendela pintu kendaraan.

Kami berlalu melintasi rindangnya bayangan pohon jati , toko-toko kecil yang dibangun dengan jarak berjauhan serta pilar-pilar besar sebagai pondasi jembatan yang dikenal dengan nama Surapati pada zaman sekarang. Ayah mengambil kelokan ke kawasan Dago di depan sambil mengobrol santai dengan ibu di sampingnya. Aku dan adikku, Euis, duduk di belakang. Ia tertidur di sebelahku ditemani selimut tipis dan boneka kesayangannya. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke luar.


Masih banyak bidang kosong yang tumbuhi tanaman liar sejauh mata memandang. Sesekali aku menangkap warung-warung sederhana yang dibuat dari bambu berjajar berjauhan. Mereka menjajakan hasil kebun yang entah didapat darimana. Kami masih melaju melintasi jalan aspal kecil yang muat untuk dua arah berlawanan. Ayah melambatkan laju kendaraan yang kami tumpangi.

Aku berdiri di tengah sambil mencengkram lembut sandaran kulit dua kursi di depanku. “Kok pelan sih, Yah?”

“Tuh, liat di pinggir.” Jawabnya singkat.

Ah, ada perbaikan jalan berlubang di depan. Asap putih susu mengepul dari pembakaran kayu dan didihan aspal dalam drum hitam besar. Hanya ada beberapa pekerja yang bertugas dengan alat seadanya.

“Mau gorengan, Dang?” Kertas bungkus ukuran besar dengan rembesan minyak menghalangi pandanganku.

“Nanti aja deh, Bu.” Sahutku mencondongkan tubuh ke belakang.

“Ada bala-bala sama lontong lho. Yakin gak mau?” Tanyanya menggoda.

Aku melirik tertarik. “Yaudah deh.” Tanganku menyambut sepasang panganan tradisional yang kami beli di depan perumahan tempat kami tinggal. Aku mengambil posisi duduk yang nyaman untuk menikmati tiap gigitannya. Sejak aku mengenalnya, aku paling suka bala-bala dan lontong. Begitu pas terpadu saat keduanya bercampur aduk di dalam mulutku.

“Mau, Yah?”

“Ya boleh. Cirengnya aja deh, suapin ya.”

“Sip.” Jawab ibuku mantap.

Aku hanya memerhatikan tiap sobekan kecil cireng di suapkan ke dalam mulut ayahku. Begitu bosan dengan cemilan berbahan dasar aci itu, ayahku meminta potongan kecil pisang goreng. Seperti biasa, ibu selalu mengomel dengan kebiasaan buruk ayah yang selalu tidak menghabiskan makanannya. Dan pada akhirnya, perdebatan konyol itu juga selalu dimenangkan ibu.

***

Kami berdiri di pintu masuk gua jepang, empat lubang berbeda berjajar menyambut kehadiran keluargaku. Dindingnya ditutupi lumut hijau yang mengerak, dipayungi pepohonan yang rimbun. Beberapa akar pohon bahkan merambat hidup pada dindingnya. Aku mengintip ke dalam, tidak ada apapun yang tertangkap indra penglihatanku. Gelap pekat sehitam malam.

Ayahku mengeluarkan kamera, kami berfoto riang sebelum memutuskan untuk masuk menyusuri gua yang belum diketahui ujungnya. Ayah memberi aba-aba sebelum menekan tombol hitam yang akan mengabadikan pengalaman berharga ini.

Setelah puas berfoto, ayah dan ibu berunding untuk memutuskan jadi atau tidaknya masuk ke dalam gua. Kegiatan itu rupanya mengundang minat seorang pria paruh baya mengenakan kaos warna hitam dengan gambar tokoh penyanyi rock nyentrik dan celana berbahan denim. Ia menawarkan jasa penyewaan senter atau pemandu. Bagiku, tawarannya sama sekali tidak menarik. Justru terkesan memaksa. Tapi gerakan mulutnya yang dilebati kumis serta janggut panjang miliknya jauh lebih atraktif dibandingkan penjelasannya.

Ketika pria itu berbicara, kumisnya naik-turun seperti sapu yang biasa ibu gunakan untuk membersihkan lantai. Belum lagi ketika si pria mendengus kesal karena tarif yang disepakati tidak sesuai dengan keinginannya, kumisnya terangkat naik sebelum meluncur turun menyetujui.

Kami berjalan masuk. Bau apak, lembap, dan pengap merasuk dalam hidungku. Berbeda sekali dengan keadaan di luar yang segar tanpa polusi. Si pria berkumis berjalan di depan dengan senter sambil memandu dan menjelaskan sejarah pembangunan gua yang kami masuki. Ayah dan ibu, masing-masing memegang satu senter. Mengarahkannya pada dinding, lantai, dan langit-langit gua sambil melontarkan pertanyaan. Sedangkan aku hanya mendengar dan memerhatikan.

Kami menyusuri jalur panjang dan memusingkan. Entah telah berapa banyak kelokan yang kami ambil. Hingga kemudian angin keras menghajar wajahku. Aku begitu terkejut hingga berteriak dan bersembunyi di balik tubuh ibuku. Rombongan kecil itu terhenti lalu menatapku heran.

“Ada apa, Dang?” Tanya ibu khawatir.

“Nggak, tadi ada angin gede banget, Bu.” Jawabku ketakutan.

“Angin?” Ibu menatap ayah.

“Cuma perasaan kamu aja kali.” Ayah menyahut bimbang.

“Beneran, Yah! Tadi keras banget! Sampai kedengaran bunyinya! ‘Wusssshh!!’ gitu.” Aku berusaha meyakinkan mereka jika aku sama sekali tidak bercanda. Dan hal itu pun menyadarkanku, bahwa kedua orang tuaku sama sekali tidak merasakan tekanan angin yang baru saja melewatiku. Padahal, hamper-hampir aku terhempas dan jatuh tersungkur jika tidak ibuku tidak menggenggam tanganku.

Seketika keringat dingin membasahi tubuhku. Keringat mengalir membasahi kening dan pelipisku. Detik itu bulu kudukku meremang. Kepalaku dipenuhi imaji makhluk mistis yang biasa diceritakan nenekku agar aku rajin beribadah.

“Kenapa, Dang? Wajahmu pucat.” Ibu mengelap keringat dari keningku dengan punggung tangannya yang hangat. “Mau udahan aja?”

Lidahku terasa kelu. Aku bahkan kesulitan menyuarakan jawabanku. Yang kulakukan hanya menggeleng lemah. Meskipun takut menyelimuti perasaanku, namun rasa penasaran jauh lebih kuat bergejolak di dalam dadaku. Aku ingin mengetahui ujung dari gua ini.

“Mau digendong gak?” Tanya ayah sambil menyerahkan Euis dalam dekapan ibu.

“Nggak, Yah. Aku ‘kan udah gede.” Jawabku berusaha terlihat tegar. “Lagian aku ini laki-laki. Malu sama Euis, ah. Masa kakaknya ikutan digendong.”

Ayah tergelak. “Iya, iya. Tapi kalau gak kuat bilang ya.”

“Sip, Yah.” Aku menjawab mantap.

Sepuluh detik kemudian, tanah berguncang hebat. Langit-langit dan dinding gua berderak keras. Aku berteriak keras, meminta agar mereka segera keluar. Namun kepanikanku berbalas kebingungan dan kecemasan. Ayah berjongkok memeluk tubuhku yang bergetar hebat. Aku mendorongnya sekuat tenaga, lalu berlari meninggalkan mereka di belakang punggungku. Mengacuhkan teriakan yang memanggil namaku dengan lantang.

Sesaat yang lalu aku masih bersyukur memiliki keluarga yang menyayangiku dan berharap mereka diberkahi umur panjang. Namun detik berikutnya, di sinilah aku, berusaha menyelamatkan diriku sendiri. Entah sudah berapa lama rasanya aku berputar-putar di tempat yang sama. Tidak ada cahaya, tidak ada tanda-tanda jalan keluar, dan tidak ada pertolongan. Aku hanya menangis sambil terisak meminta bantuan sepanjang usaha penyelamatan diriku. Hingga akhirnya aku menemukan retakan di dinding gua. Semburan cahaya dari sana memberiku harapan. Lapisan dinding di sekitar retakan itu begitu tipis hingga dapat hancur hanya dengan satu tendangan dari anak kecil sepertiku.

Aku melangkah keluar melalui lubang yang kubuat. Dan kudapati hamparan pepohonan beralaskan rerumputan rimbun. Ini.. dimana?

Suara burung serta serangga hutan memenuhi udara. Dedaunan pepohonan tinggi menghalangi cahaya matahari masuk. Entah mengapa aku tidak merasa takut, justru sebaliknya, hati ini terasa tenang. Aku berjalan menerobos rimbunnya rerumputan jangkung dan bertemu rombongan kereta. Salah seorang berlari tergesa-gesa menghampiriku. Ia mengenakan pakaian–yang di mataku terlihat norak seperti penari tradisional. Wajahnya ditutupi topeng pewayangan warna biru dengan ukiran-ukiran halus seperti salah satu koleksi milik kakekku.

“Adipati Wirayaksa, darimana saja anda?”

Adipati? Aku? “Maaf saya..” lho? Hanya perasaanku saja atau imajinasiku? Rasanya tadi tinggi badanku tidak ada setengahnya dari lelaki di hadapanku. Entah mengapa saat ini jarak pandangku sejajar atau bahkan melebihinya. Orang dihadapanku ini yang menciut atau aku yang..?

Dan kelebatan ingatan apa ini? Rasanya aku mengenal dekat orang ini. Dan lagi, aku juga tahu tempat tujuan iring-iringan kereta kuda ini. Mengapa aku sama sekali tidak merasa gugup atau pun takut di dekatnya? Seolah, inilah ‘kehidupan’ normal yang kujalani.

“Saya hanya mengambil air di sungai dekat sini.” Aku berbalik memastikan. Tidak ada gua yang tadi kulewati, yang berada di balik punggungku sesuai dengan jawabanku. Aku kembali melihat orang bertopeng ini. Lalu menundukkan pandanganku. Di tanganku terdapat kantong air dari kulit yang terisi penuh. Ingatanku terasa bercampur aduk. Hal itu membuatku kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan.

“Baguslah jika begitu. Mari kita kembali dan segera selesaikan tugas ini.” Ajaknya ramah.

“Ya, tentu.” Aku menyentuh pelipis kananku yang terasa berkedut. Keras seperti.. seperti topeng kayu! Apakah ini berarti aku juga mengenakan topeng dan berpakaian sama seperti orang tadi? Sejenak aku tidak memerhatikan alas kaki serta celana yang kukenakan karena terfokus pada kantong air di tanganku, tapi sekarang..

“Adipati Wirayaksa?” Panggilnya khawatir.

“Ah, maaf. Saya segera menyusul.” Aku berlari kecil mengejar ketertinggalanku.

Benda ini bukan sekedar topeng yang menempel di wajah. Tapi dapat kupastikan, inilah wajah. Itu sebabnya aku tidak kesulitan memerhatikan lingkungan di sekitarku. Meski begitu orang tadi berbicara tanpa menggerakkan mulut dan berekspresi, seakan ada wajah lain dibalik ‘wajah’ yang ia hadapkan padaku. Aku sendiri pun merasa ‘mengenakan’ sesuatu pada wajahku, namun di saat yang sama inilah wajahku. Tempat apa ini sebenarnya?

Akan kucari tahu jawabannya dengan mengikuti mereka.

“Adipati, sudah saatnya kita bergerak. Akan sangat berbahaya jika kita berlama-lama di sini.” Seseorang bertubuh tambun mengenakan topeng warna hijau, mengingatkanku dengan bijak.

“Mengapa?” Tanyaku penasaran. Meski aku tidak tahu nama makhluk itu, tapi rasanya aku juga mengenal dengan baik sosoknya.

“Lupakah anda dengan bandit yang selalu mencelakai rombongan yang melewati hutan ini.”

Kelebatan ingatan lainnya. “Anda benar, sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan.” Tiba-tiba saja di kepalaku tergambar peta hutan ini. Seakan aku mempelajarinya jauh-jauh hari.

Benar, tugasku mengantarkan peti harta yang berada di dalam kereta kuda ini. Aku telah bersumpah pada pangeran pemimpin Kerajaan Sriwedari untuk mengantarkannya kepada calon permaisuri beliau di Kerajaan Kamulyaan dengan selamat tanpa kurang satu keping koin pun. Tugas ini diberikan pada pengawal kepercayaannya, yakni aku. Itu sebabnya aku tidak boleh membuang banyak waktu lagi.

Kami berjalan melewati rindangnya pepohonan dan berhenti dekat sungai. Aku berjalan lebih dulu untuk memastikan kedalaman sungai. Setelah menentukan jalur yang aman untuk dilalui, aku memberi aba-aba.

“Perhatikan langkah kaki kalian! Jangan sampai terperosok!”

Aku berkonsentrasi menjaga anggota kelompok, hingga aku melihat bayangan hitam di langit melesat turun. Aku menarik sebilah pedang dari sisi kanan tubuhku. “Bersiaga semuanya, jaga harta pangeran!”

Para prajurit yang mendengar perintahku segera mengacungkan tombak mereka. Sedangkan pria bertopeng tambung memapah kusir serta keretanya ke tempat yang aman. Serangan mendadak seperti inilah yang kutakutkan terjadi. Tapi tidak kusangka akan kuhadapi hari ini. Apakah ada pengkhianat di antara rombongan kami?

Makhluk bersayap itu menyemburkan api berwarna hijau. Empat orang prajuritku terbakar hingga melumerkan tulang mereka. Aku bergidik ngeri. “Makhluk bersayap terkutuk! Turun dan hadapi aku dengan jantan!”

Ia terhenti sebentar di udara, tepat pada arah cahaya matahari datang. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas sosok macam apa itu. Yang pasti ia menggelengkan kepala meremehkan kemampuanku. Aku begitu geram dengan sikapnya yang kurang ajar.

“Turun dan hadapi aku!” Seruku kesal.

Ia menyambut tantanganku dengan menukik turun, berputar, lalu menikung. Aku memasang kuda-kuda. Di tanganku terhunus pedang ke arahnya. Sebelum ia melesat ke arahku, aku sempat melihat wajahnya. Dia pun mengenakan topeng dengan paruh burung garuda. Aku mengayunkan pedangku, sayangnya ia lebih gesit dariku. Ia menepis tanganku, melempar pedang dari genggamanku, lalu menyambar tubuhku dan membawaku masuk kembali ke dalam hutan.

Aku meronta kalut. Melakukan segala jenis gerakan perlawanan yang dapat kuingat untuk melepaskan diri dari bandit kelas teri seperti makhluk ini. “Lepaskan aku, Makhluk Hina!” Bentakku kasar.

“Kau! Bocah sepertimu berani sekali memanggilku dengan sebutan seperti it—Hei! Hentikan! Atau kita akan jatuh!”

“Bocah?! Siapa yang kau panggil bocah?! Aku adalah Adipati Wirayaksa. Pengawal Keraja—”

“Ya, ya, simpan gelarmu. Sepertinya kita harus menepi sebentar untuk meluruskan segala hal yang menyimpang di kepalamu, Nak.”

“Jaga mulutmu, pencuri.”

“Oh, baiklah. Ini sudah agak mengganggu.” Kami berhenti di sebuah pohon bercabang tebal.

“Cepat kembalikan aku! Aku harus segera melaksanakan perintah pangeran untuk mengantarkan hadiah berupa perhiasan kepada putri Kerajaan Kamulyaan.” Jawabku berwibawa.

Si pria berambut gondrong dengan sayap ini melepas topeng dari wajahnya. Kedua matanya yang berwarna kuning keemasan menatap konyol. “Perintah pangeran?” Dia mencemoohku dengan nada bertanya yang dibuat-buat itu.

“Benar. Pangeran Kerajaan Sriwedari.” Begitu mendengar jawabanku, pria asing itu tertawa terbahak.

“Apa? Memangnya ada yang lucu? Bandit murahan sepertimu mana mengerti tugas penting seperti ini.”

Setelah puas menertawaiku, ia menarik napas panjang sebelum berbicara denganku. “Lihat tanganmu.”

“Memangnya ada ap–” aku terperanjat kaget. Tanganku setengah transparan. “Apa yang kaulakukan padaku?!”

Si pria merogoh tas kulit kecil yang terikat di pinggangnya. Lalu mengeluarkan sejenis buah berwarna cokelat kehitaman. “Sudah kuduga, kau memang sangat polos. Dapat kutebak, hanya dalam beberapa menit mereka telah berhasil memanipulasi ingatanmu. Tangkap.” Ia melempar pelan. “Makanlah jika kau masih ingin hidup dan pulang, Nak.”

Tanpa pikir panjang, aku melahapnya. Terasa getir dengan masam yang menggigit di lidah. Namun ketika menelannya, sensasi segar, dingin dan manis mengalir di tenggorokanku yang terasa kering. Ini pertama kalinya bagiku merasakan sensasi rasa buah berbeda yang biasa disajikan ibu. Eh, ibu?

“Aku penjaga di tempat ini. Kau dapat memanggilku Manuk Dadali. Orang-orang yang kau temui tadi merupakan roh-roh ‘buangan’ karena tidak dapat ke surga maupun ke neraka. Jadi di sinilah mereka, menangkap anak kecil polos sepertimu untuk diperdaya lalu dikonsumsi untuk kebutuhan energi mereka.” Aku mengernyitkan kening. Entah mengapa rasanya aku tidak begitu mengerti kata-kata yang digunakannya tapi setidaknya aku paham maksudnya.

“Seandainya, kau tadi tidak menyahut ketika salah satu dari mereka berbicara padamu, saat ini kau pasti tidak akan mengenakan topeng itu. Benda antik di wajahmu itu merupakan media yang mengubah struktur tubuh dan rohmu menjadi bentuk atom untuk memudahkan mereka ‘makan’ tanpa kau sadari. Tahu-tahu hilang tak berbekas.” Aku tertunduk diam mendengarkan penjelasannya yang memusingkan. Ia menghela napas. “Intinya kau akan mati diperdaya.” Aku terbelalak kaget menatapnya.

Ia mengusap kepalaku dengan jari-jari panjangnya yang menyerupai cakar burung. “Seharusnya kau lebih waspada lagi dengan ingatan palsu yang disuntikkan dalam kepalamu, Nak. Kerajaan Sriwedari dan Kamulyaan, dari namanya saja dapat ditebak, jaraknya sejauh melintasi pulau. Kurang baca ya?”

“Aku ‘kan masih berumur lima tahun!” Jawabku sebal.

“Syukurlah, mantra ilusi mereka semakin menipis. Sebentar lagi kau akan dapat kembali ke tubuh asalmu, gunakan kesempatanmu untuk pulang. Aku akan berjaga melindungimu.”

“Tidak! Aku pasti akan kembali!”

“Dasar bocah bodoh. Rasa penasaran bisa membunuh manusia sepertimu.” Dia menyentil kepalaku. “Oh, lihat. Sudah waktunya.” Kami melayang turun. “Ikuti saja jalur gua di sana. Kau bisa melakukannya sendiri ‘kan?”

Aku mengangguk semangat. “Kelak aku akan kembali.”

“Aku tidak yakin. Semoga beruntung, Nak.” Ia kembali menutupi wajahnya dengan topeng.

Aku berjalan masuk, sebelum menyusuri gua tanpa penerangan itu lebih jauh, aku membalikkan tubuhku untuk terakhir kalinya. Dan bersumpah pada diriku sendiri, kelak aku akan kembali untuk memuaskan rasa penasaranku. Aku memalingkan wajahku, melangkah dengan mantap menerjang gelapnya lorong panjang yang berliku. Sesekali aku terantuk tembok sebelum mendapati kelokan tunggal. Entah berapa lama aku telah menghabiskan waktu untuk menemukan jalan keluar, akhirnya pintu masuk gua yang sama. Kudapati ibuku berurai air mata sambil bertanya khawatir, sedangkan ayah memarahiku habis-habisan. Meski begitu, aku membela diri dengan menceritakan hal yang kualami. Sayangnya mereka tak percaya dan memilih untuk menganggapnya sebagai imajinasi anak-anak.

Kini aku telah menginjak semester akhir kuliah dan masih mengejar janjiku sendiri untuk kembali ke sana. Tidak kusangka, memang itulah pertemuan pertama dan terakhirku dengannya. Meski aku telah berulang kali memeriksa gua untuk menemukan ‘gerbang’ menuju tempat jiwa yang terbuang untuk referensi tugas akhir kuliahku, namun gayung tak kunjung bersambut. Tidak ada tanda-tanda ganjil seperti yang kurasakan dulu.

Hal itu bisa jadi dikarenakan jiwaku saat ini telah ternoda.

fin

NB; dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1493919-lomba-cerbul-kasfan-september-13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar