Selasa, 25 Oktober 2016

Bunmar Pokboi



Aku berdiri diam di balik batang pohon. Menanti dengan sabar sembari menggenggam tongkat kayu yang ujungnya telah kutajamkan. Gemerisik suara dalam cahaya redup matahari yang berusaha menembus rindangnya atap pepohonan. Itu tandanya.

Aku melompat, melesat, melemparkan tongkat sepanjang satu setengah meter. Aku mendarat di antara jelujur akar pohon beringin, tanpa buang waktu aku mengambil potongan tongkat yang lain dan melemparkannya sekuat tenaga. Dadaku yang kecil berdetak kencang, rasanya sangat sulit bernapas. Aku menyeka peluh dari keningku. Kupalingkan wajahku ke arah buruan yang bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.

“Ternyata memang masih belum cukup.” Tubuh yang kecil agak menyulitkanku untuk mengembangkan kekuatan dan kecepatan. Aku berjalan sekitar lima puluh kaki lalu mengambil sepasang kayu yang kulempar. Jarak ini bahkan tidak ada setengahnya dari pohon yang telah kutandai.

Aku benar-benar kesal! Tinggal seminggu lagi aku akan genap menjadi bocah lelaki berusia delapan tahun. Aku kehabisan waktu!


Koakan burung berekor lidah api menyadarkanku. Sudah saatnya aku pulang, meski aku ingin lari menghindari tradisi kolot tujuh desa yang dibangun hanya untuk kesenangan fana. Namun tak ada jaminan dapat keluar hidup-hidup dari Benteng Magis Kuno di sekitar dusun yang aku tinggali, Desa Reaqs–desa dengan segala ketradisionalannya.

Segalanya diawali dengan manusia yang tinggal dalam perlindungan Roh Pohon. Hingga suatu hari sekelompok manusia yang begitu haus akan kekayaan dan dikuasai keserakahan mengganggu perayaan para roh itu, perayaan yang biasa disebut Mamar atau Bunmar Pokboi. Kera-kera bodoh itu melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan yakni, mencuri Kristal Merah keramat ketika para roh lengah. Hal itu membuat makhluk suci tersebut mengamuk dan mengutuk tujuh desa yang bertanggung jawab atas terganggunya ritual sakral mereka.

Hanya saja kali ini berbeda. Jika dulu para orang tua merasa khawatir kehilangan anak mereka, saat ini mereka justru berharap para roh dapat menerima anak yang kini berubah menjadi persembahan. Itu semua terjadi bukan tanpa imbalan. Bagi persembahan yang diterima, maka keluarga yang bersangkutan akan menikmati sebuah peti berisi butiran emas serta makanan mewah selama satu musim–yang berlangsung dalam jangka waktu delapan bulan ke depan. Kenikmatan yang diperoleh tanpa bekerja dan usaha, cukup mengorbankan darah daging mereka. Namun tak jarang, anak mereka sendiri yang dengan sukarela menyerahkan dirinya untuk kehormatan dan kemuliaan keluarganya.

Meski terdengar sederhana dan mudah, sayangnya tidak demikian dengan kenyataannya. Sebab pada saat kutukan itu turun, hanya mengenai anak yang lahir pada urutan ganjil. Aku banyak mendengar rumor bagaimana para roh menerima dan menolak persembahan yang diberikan. Jika keesokan paginya anggota keluarga mereka menemukan topeng anaknya di depan pintu rumah, artinya di atas ranjang anaknya telah tersedia imbalan yang dijanjikan. Namun jika potongan anggota tubuh, artinya orang tua yang bersangkutan hanya dapat tersenyum kecut mendapatkan segenggam butiran perak.

Aku menjepit bagian bawah bibirku dengan dua jari, menyahut panggilan si burung berekor lidah api. Burung merah yang hanya sebesar gagak itu berputar-putar di udara diantara cabang dan dahan pohon yang menjulang tinggi sebelum bertengger di bahuku yang kurus. Aku melirik topeng yang dibuat dari untaian rotan yang menyerupai wajah Roh Pohon–topeng itu disebut manimar. Dengan napas berat, aku mengambilnya lesu lalu memasangkannya di wajahku. Tepat sekali, akulah anak kelima persembahan berikutnya.

***

Pernah satu kali aku mengutarakan niatku pada kakak, adik serta kedua orang tua untuk berjuang melawan Roh Pohon itu pada Masa Persembahan–yang memakan waktu satu bulan. Namun apa yang kudapatkan? Bukan sebuah persetujuan, tetapi penolakan keras. Mereka justru meyakinkanku mati-matian untuk mengikuti jejak kakak pertamaku yang bahkan aku sendiri belum pernah bertemu dengannya. Berbagai alasan mereka utarakan untuk mengubah cara berpikir dan pandangku. Sayangnya aku masih ingin menikmati hidup, dan secara diam-diam aku menemui nenekku yang tinggal di sebelah barat ujung Desa Reaqs. Beliau seorang yang diasingkan di dusun ini. Pakaiannya memang sedikit eksentrik; baju dari kulit sepanjang lutut, di lehernya dikalungi tulang binatang serta bulu elang, di telinganya bergantung anting-anting dari bebatuan berunsur magis. Kurasa ia hanya menyesuaikan penampilan dengan bidang yang mahir dikuasainya; pengobatan dan ilmu magis.

Aku menceritakan keinginanku dan tanpa kuduga ia bersedia membantu. Ne–aku sering memanggilnya begitu–beranjak dari posisi sila lalu masuk ke dalam kamar pribadinya. Tidak berapa lama ia keluar sembari menggenggam sesuatu. “Kymli, pakai selalu kalung ini untuk mengasah ketajaman pancaindramu. Latih fisikmu untuk menghadapi mereka dan selalu mantrai senjata yang akan kau gunakan.” Ia mengajarkan beberapa mantra yang bisa digunakan untuk melukai makhluk yang dianggap suci itu. “Hanya ini yang bisa Ne lakukan untuk membantumu. Dan ingat, jangan meremehkan mereka sedetik pun jika kau masih ingin hidup.” Aku mengangguk patuh.

Bagiku, Ne merupakan orang yang istimewa. Jika aku kesal di rumah, maka aku akan lari kemari. Ini bukan berarti orang tuaku dan Ne akrab–mengingat statusnya di dusun. Ne merupakan anak yang lahir pada urutan ketujuh. Ia berhasil melawan para roh dan kembali hidup-hidup setelah genap satu bulan berlalu. Anak yang berhasil lolos akan bebas selamanya, karena faktor usia yang tidak lagi dalam lingkaran umur delapan tahun. Meski begitu, hanya Ne saja yang berani menentang dan akhirnya harus menanggung konsekuensi berat karena dianggap berkhianat. Ia dikucilkan keluarganya serta penduduk desa. Ne yang tegar pun hidup sendirian. Di mataku, ia sangat menikmati hidupnya yang bebas dan tenang.

Sepertinya, masa depanku pun tak akan jauh berbeda. Itu pun jika aku berhasil mengelabui kematian.

Awal pertemuanku dengan Ne, terjadi pada saat aku menginjak umur lima tahun. Saat sedang asyik bermain di sungai bersama kawan-kawanku, terjadi hal yang hampir merenggut nyawaku. Aku tergelincir dari batu besar–yang biasa digunakan untuk melompat terjun dengan berbagai gaya ke dalam arus lembut aliran air sungai–dan jatuh terantuk batu tidak sadarkan diri. Teman-temanku segera menghampiri dan menggotongku ke sisi sungai. Darah mengalir dari pelipisku. Teman-temanku yang takut dituduh dan disalahkan akhirnya tidak berani mengadukan kondisiku pada keluargaku. Mereka pun memilih untuk meninggalkanku sendiri di sana. Syukurlah, Ne yang hendak mencuci pakaian melihatku. Ia menghampiriku dan mengenali tato keluarga di lengan kananku yang sama dengan miliknya. Ia bergegas pulang dan merawat lukaku.

Tidak berapa lama, aku tersadar dan mendapati terbaring di tempat asing bersama orang yang tidak kukenal. Di wajahnya yang keriput terdapat simbol yang dicacah permanen. Detik itu aku ingin bergegas pergi dari sana. Aku teringat dengan peringatan orang tua serta kakak-kakakku tentang dukun gila yang suka memangsa anak kecil. Aku mulai menangis ngeri, tapi ia justru berusaha menenangkanku dengan lembut dan memberikan manisan. Detik itu pandanganku–tentang kekejamannya, kasar serta tidak mungkin memberi manisan–berubah. Ia pun banyak bercerita tentang dirinya dan menguatkan kebenaran dengan menunjukkan tato yang sama di lengannya, serta memintaku untuk merahasiakan keberadaannya. Sejak hari itu, kami semakin akrab. Tidak hanya sebagai keluarga juga sebagai guru dan teman mengobrol.

***

Tanganku meraba dasar tempat tidur yang berubah keras, padat, dan kasar. Cahaya matahari yang silau masuk terlalu terang membangunkanku dalam kondisi tanpa selembar pakaian–sebenarnya aku menggunakan cawat dan topeng–di sebuah area kosong dipagari susunan batu kapur berlumut seluas satu setengah lapangan basket. Ini sungguh kacau.

Aku sama sekali tidak membawa perbekalan apapun yang berguna untuk melindungi dari serangan makhluk-makhluk magis kelaparan. Bahkan tas kulit kecil yang Ne berikan dua hari lalu, tertinggal sia-sia. Aku menyelipkan jemariku di sisi cawat yang kupakai, mencari gulungan rambut putih. Rasanya kuselipkan di sekitar si–tidak ada! Aku menjerit kesal. Tidak peduli jika menjadi pusat perhatian bocah-bocah kebingungan yang berpasrah diri. Mereka sama sekali tidak tahu, apa yang akan dihadapi nanti. Dan segalanya akan bertambah buruk jika malam datang.

Jawaban dari semua keteledoran ini adalah makanan semalam. Sama sekali tak ada yang istimewa baik bahan yang dimasak atau rasanya. Hanya saja setelah mengunyah habis bagianku, entah mengapa kepalaku terasa berat dan mataku menutup begitu saja ketika menyandarkan punggungku yang tiba-tiba terasa pegal. Keluargaku benar-benar telah gelap mata.

Yah.. mengeluh tidak akan membawaku maju. Saatnya bergerak. Aku beranjak dari lantai batu. Berjalan gontai keluar lapangan.

“Percuma!” Seru seorang anak yang mengenakan manimar yang sama denganku. Dari suaranya, aku dapat menebak ia hanya gadis cilik berotak udang. “Di sekeliling lapangan ini dipagari Mantra Jampi!”

“Yah, aku tahu. Tentu saja.” Ne sudah menceritakan segala hal yang perlu kuketahui. Perisai ini dibuat bukan untuk menghalangi gangguan magis dari luar tetapi mencegah manusia di dalamnya untuk keluyuran. Aku menggigit ujung ibu jariku, lalu menuliskan huruf kuno mantra Mollusk dengan darah di telapak tangan kiriku. Dengan hentakan keras gerakan maju tanganku menyentuh perisai tak kasat mata, disusul dengan hasil penolakan yang melontarkanku sejauh tiga meter. Aku menghela napas. Tidak ada yang selalu berhasil pada percobaan pertama.

Beberapa anak tertawa geli. Mencibir dan mencemooh perbuatanku yang tak masuk akal. Tapi aku tidak patah semangat. Matahari belum terlalu tinggi. Aku bisa memanfaatkan waktu panjang ini untuk memperpanjang umurku dan melakukan beberapa persiapan yang diperlukan. Begitu hari ini terlewati, serangan tidak hanya akan terjadi pada malam hari, bahkan di siang hari pun aku tidak akan merasa aman. Aku kembali menuliskan mantra yang sama dengan tiga ikatan kuat pada bekas darah yang menguap kering. Dan lihatlah, apa kubilang? Lontaran kedua lebih keras dan jauh. Bahkan ketika terpental aku dapat merasakan tajamnya lantai batu yang hangat menggores punggungku. Duh, seandainya aku menyelipkan tas kulit itu di bokongku. Aku tidak perlu bersusah payah seperti ini.

Aku berkeliling di sekitar tempat persembahan. Terdapat beberapa cipratan darah yang menghitam, pesta malam ini pun sepertinya akan jauh lebih meriah. Kedua bola mataku menyusuri celah-celah sempit mencari tumbuhan herbal yang dapat kumanfaatkan. Aku mengambil segenggam lumut, jamur berbentuk spiral dan satu helai daun lebar dengan duri tipis–hingga kini aku agak kesulitan menghapal nama tetumbuhan yang kumanfaatkan, terutama jika mereka memiliki nama yang panjang. Aku duduk, lalu mencongkel sebuah batu berukuran sedang. Aku gerus bahan-bahan yang kutemukan hingga halus. Tak lupa kuteteskan beberapa titik darah sembari menggumamkan mantra. Menumpuknya di atas batu. Dan bersiap dengan percobaan berikutnya.

Ledakan. Tidak begitu keras, tapi cukup membuat kaget beberapa penghuni hutan terutama yang bersuara berisik atau memiliki sayap. Saatnya pergi.

“Perisai ini akan kembali menutup, pulang dan selamatkan diri kalian!” Aku berlari keluar dengan semangat.

Aku memerhatikan beberapa diantara belasan anak yang berkumpul; ada yang ragu-ragu untuk melangkah, ada yang duduk menatap keluar namun adapula yang berusaha menularkan pikiran sesatnya agar tidak satu pun dari mereka beranjak pergi. Well, tanggung sendiri akibatnya bung.

***

Luka lebam dan garis tipis kuku magis menggores kulit lenganku yang berwarna cokelat tua. Aku menyandarkan punggungku di balik batang pohon yang tebal, menyembunyikan tubuhku setelah pertarungan kecil yang belum mebuahkan hasil. Menggenggam erat tombak terakhir dengan perasaan cemas, rasanya perutku melilit karena tegang. Aku menarik napas perlahan, mencoba menyamarkan hawa keberadaanku. Aku melirik ke kanan, mengawasinya dari sudut mataku. Erangan memecah udara disertai napas berat tersengal berjalan perlahan. Di tubuh si makhluk terdapat lubang-lubang yang menguapkan asap putih. Makhluk itu berjalan mendekati aroma tajam manusia di antara semak. Aku bergeming, masih menanti kesempatan emas untuk bergerak.

Aku menyelipkan tangan ke dalam tas anyaman rotan sambil menahan perih, lalu mengambil serat kering daun dan sejumput bubuk hijau dari kantong kulit yang lebih kecil. Mataku tetap mengawasi makhluk kelaparan yang meraung kesal. Makhluk itu bergerak menjauh sesuai dengan harapanku. Dengan sigap aku mengikatkan serat daun itu lalu mengusapkan bubuknya pada ujung batang kayu yang lancip.

Aku muncul dari balik pohon, bersiul keras menyergah si makhluk. Sosok hitam itu membuka mulutnya yang berair. Makhluk itu melesat siap menerkam, namun ia kalah cepat. Aku menombak batu berpendar hijau kebiruan di keningnya. Si makhluk melolong dalam sunyi. Tubuhnya yang pekat perlahan memudar lalu sirna meninggalkan topengnya yang terjatuh ke atas tanah lembap hutan. Api kuning keemasan meletup dari kening topeng tanpa pemilik itu, membakarnya habis menyisakan cairan yang langsung diserap akar besar dan tebal pepohonan.

Aku bernapas lega. Untuk memusnahkan makhluk itu cukup mudah, Ne selalu mengingatkanku untuk menghancurkan batu berpendar yang digunakan Roh Pohon sebagai energi kehidupan. Saatnya mengumpulkan empat batang kayu yang kugunakan untuk menyerang musuh keenamku. Dengan hati-hati aku menyelinap diantara semak dan pepohonan. Memastikan tidak ada yang melihatku. Aku hanya perlu bertahan empat hari lagi untuk bisa keluar dari sini. Pagi ini aku sedikit ceroboh ketika berlari sambil membawa potongan ikan dari sungai. Ini akibat semalam aku berjaga cukup lama hingga kurang tidur. Akhirnya aku terantuk batang pohon membusuk dan terjatuh menarik perhatian.

Aku mengambil bungkusan daun berisi potongan ikan bercampur tanah dan daun kering dari sebuah lubang tupai. Lalu berjalan mengendap-endap menuju tempat tinggal sementara yang kubangun di bawah tanah. Oh ya, aku kehilangan sebatang tombak di sebuah jurang saat mendorong jatuh makhluk yang memojokkanku. Ketika itu matahari berada di ufuk barat bersiap tengge–uh oh! Hampir saja aku melupakan manimar yang kusangkutkan di dalam semak belukar untuk mengecoh perhatian.

Aku mengambil tumpukan dedaunan yang kumanfaatkan sebagai samaran. Merayap di atas dedaunan kering lalu mengangkat susunan kayu berbentuk persegi yang diikat kuat dengan tali rotan. Aku menyusup masuk ke sebuah lubang di dalam tanah setinggi dua meter dengan luas lima meter. Aku mengunci pintu kecil itu dengan mengaitkan rotan pada patok, merayap turun dari tangga lalu duduk menyandarkan punggungku ke dinding tanah yang kokoh, meletakkan senjata, sarapan sekaligus makan siangku dan manimar.

Ah.. luka-luka ini harus segera diobati. Aku membuka tas anyaman rotan kecil, mengambil salep yang terbungkus kulit kerang dan mengoleskannya tipis sembari menahan nyeri. Goresan, sayatan dan tusukan benda kasat mata mungkin hanya akan membuatmu merasakan panas dingin akibat infeksi. Tapi sentuhan tipis kuku tajam Roh Pohon, dapat membuat tubuh menggigil kesakitan disertai nanah beraroma busuk yang terus mengalir dari luka yang menganga.

Aku melirik wajah kosong tanpa ekspresi dengan mata hitam menatap suram–aku mengambil tiga potong daun aska kering lalu menutupi topeng itu. Saat anak yang akan dipersembahkan menginjak umur tujuh tahun, mereka diwajibkan mengenakan manimar ini sebagai tanda untuk memudahkan Roh Pohon menemukan anak tersebut. Aku mengusap tato yang sama seperti milik Ne. Jika memang manimar ini berfungsi sebagai tanda, mengapa wajahku pun harus ditandai dengan menahan sakit jarum tajam yang menanamkan tinta dikulitku?

Aku tidak akan ambil pusing untuk masalah itu sekarang. Perutku sudah memprotes. Aku mengorek batu yang sejak tadi kubiarkan memanas ditumpukan bara kayu karet di ujung ruangan yang terasa semakin hangat. Kubersihkan ikan di tadah air yang kubuat dari batang kayu lalu meletakkan ikan di atasnya. Asap mengepul. Tapi aku tidak khawatir. Aku menggali tempat tinggalku di bawah pepohonan aska. Pepohonan yang bahkan mampu menyerap bau busuk bangkai sekali pun. Dan sebagai pelengkap, aku pun melumasi tubuhku dengan tumbukan daun aska untuk menyamarkan aroma tubuhku–meski aku mandi, mereka tetap dapat mengenali bau tubuhku.

Minyak perlahan keluar dari sela-sela daging ikan. Sudah waktunya mengisi perut. Oh dan tentu saja, aku mengambil batu kapur lalu menorehkan garis kecil di sisi dinding. Beginilah caraku menghitung hari.

***

Setelah berimprovisasi dalam mempertahankan kehidupan, akhirnya tiba saat yang paling kunantikan. Pulang. Hanya saja aku tidak akan kembali ke rumah tempat keluargaku berada. Aku akan tinggal bersama Ne dan mempelajari berbagai keahlian yang dapat kumanfaatkan untuk mengisi waktu luang.

Memperingatkan penduduk desa dengan makhluk buas yang dihadapi anak-anak mereka? Oh, ayolah, mereka akan lebih bahagia mendapatkan kesenangan tanpa usaha yang merepotkan. Memangnya kau pikir aku siapa? Sukarelawan sosial? Orangtuaku saja tidak peduli, apalagi dengan skala yang lebih besar.

Tidak banyak barang yang kubawa; tas anyaman berisi pecahan batu yang kugunakan sebagai pisau, salep obat, dan manimar–untuk kenang-kenangan di masa tua. Aku berjalan santai melewati barisan pepohonan dan menyadari terdapat pergerakan mencurigakan dari dalam bayangan.

Seketika tubuhku membeku. Ah… sepertinya aku salah perhitungan. Setiap bulan memiliki jumlah hari yang berbeda–kau bahkan dapat menemukan bulan dengan jumlah hari sebanyak dua puluh hari saja. Aku terlalu bersemangat hingga melupakan sebuah hal yang penting. Bulan ini merupakan bulan ketiga belas tahun Feourh, terdapat tiga puluh enam hari.

Aku membalikkan tubuh, aroma busuk menguar dari mulut yang terbuka lebar. Aih.. seandainya aku juga membawa pulang tombakku.

NB; dilombakan di https://www.goodreads.com/topic/show/1534535-lomba-cerbul-kasfan-oktober-13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar