Kamis, 29 November 2018

Kala Hujan Menyapa




Foto: cnnindonesia


Hanya ingin sharing *HWEHEHEHEHE

Jadi, akhir-akhir ini aku sering banget kena ban bocor; kena paku, tambalan lepas, sampai kemarin pentil udaranya lepas #entahlah apa namanya

Kalau sudah begitu, entah kenapa aku suka ber-feeling kalau itu bentuk teguran Allah bahwa aku sudah mulai lupa akhirat dan lebih berat ke duniawi wkwk. Soalnya, ban-ku selalu dibuat bocor sekitar beberapa meter dari tukang tambal ban, *walau memang mesti ngedorong dulu, tapi pasti ketemu sih haha

Alkisah, kemarin, sepulang kerja, di bawah rintik manis gerimis, pulang lewat stasiun Bandung. Niat awalnya sih mau beli lauk dulu untuk yang di rumah. Ya, qadarullah, stand motor oyag-oyagan, saatnya menepi. *tadinya kukira kecubles paku

Jumat, 13 Juli 2018

A Danger Tour

Sebuah perumahan kecil bernama Fantasy Cluster, terletak di Negara Indonesia, Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung. Di dalam perumahan tersebut terdapat sebuah lahan kosong yang tidak terpakai, terkadang dimanfaatkan sebagai tempat olahraga atau tempat bermain anak-anak di kala Raja Surya tengah bersiap kembali ke peraduannya.

Suatu hari, ketika seluruh penghuni Fantasy Cluster tengah terlelap dibuai sejuknya udara malam, sebuah kastil berwarna hitam kelam tiba-tiba muncul secara misterius di lahan kosong tersebut.

Suara seruling terdengar merdu dari dalam kastil, menghipnotis seluruh manusia yang mendengarnya. Mereka berjalan berbondong-bondong keluar dari dalam rumahnya yang terkunci rapat, mengikuti alunan merdu sang Peniup Seruling Harlet. Begitu tersadar mereka tengah berdiri di depan gerbang sebuah karnaval, lengkap dengan piyama yang mereka kenakan.

Seorang pria bertubuh tinggi dengan postur tubuh tidak gemuk. Ia mengenakan jas bewarna ungu dan pita besar warna kuning di lehernya. Celana hitam sepanjang lutut dilengkapi kaos kaki putih dan sepatu pantofel hitam, menyempurnakan penampilannya. Rambutnya yang di cat kuning menarik perhatian pengunjung. Topi tinggi bewarna hitam menutupi sebagian rambutnya yang bewarna nyentrik. Pria itu berjalan mendekati gerbang utama, lalu ia mempromosikan karnaval yang dipimpinnya dengan suara lantang. “Selamat datang di Blue Pearl! Nikmatilah, hiburan-hiburan yang kami sajikan!” Tangannya terbuka lebar menyambut tamu yang masuk.

Jumat, 29 Juni 2018

Sepenggal Kisah di Kelam Malam

Langit malam yang terang
Bulan menyingsing jernih di antara awan tipis
Tapi aku malah menyumpah
Berserapah sambil menanggalkan kutukan

Sakit yang dulu kau torehkan
Hingga kini pun masih kurasakan

Sunyi
Senyap
Suramnya hidupku
Tak pernah bisa kurelakan segala perih ini

Berusahalah meraih tawa, wahai pujangga
Tapi asamu hanya akan menjadi buih di lautan nun jauh

Bagaimana mungkin kubiarkan kau rengkuh kebahagiaan
Sementara kehidupan suram menantiku di depan

Tapi jangan berputus asa, wahai Pujangga..
Berusahalah,
Berusahalah,
Berusahalah, hingga kau akhirnya jatuh dalam kesengsaraan
Sama sengsara dan menderitanya dengan diriku kini

Tak akan pernah bisa kurelakan kau merengkuh asa
Selamanya, hiduplah dalam kehampaan, wahai Pujangga

Rabu, 23 Mei 2018

My Hero

“Kelak aku akan bisa mewujudkan keinginanku!”

“Iya, iya. Sekarang duduk dan habiskan makananmu, sebelum kita kepergok si manusia tua hina itu.” Tyrh menurut dengan patuh, ia kembali duduk dan melahap makanan hasil kerja keras kami berdua siang ini. Tidak masalah meski harus makan di tempat kumuh yang dilingkupi aroma semerbak gundukan sampah yang tak mengenakkan, yang penting kami tidak mati kelaparan.

“Keinginanmu yang itu maksudnya?” Aku memastikan tanpa berhenti menjejalkan makanan ke dalam mulut.

“Iya, ketika Aleihm dan manusia bisa hidup berdampingan.”

“Sudah kubilang kan? Itu tidak mungkin.” Aku masih melahap santai tanpa memerhatikan raut wajahnya yang berubah keras.

“Ingat Zarft,” ia menggenggam erat tanganku. “Tidak ada yang tidak mungkin.” Ia menatapku tegas dan yakin.

“Apaan sih?! Lepaskan! Sakit!” Aku menepis tangannya.

“Ah, maaf.” Tyrh menunduk, ia menggigit makanannya perlahan.

Senin, 05 Maret 2018

Disability


Angin berhembus lembut menerpa wajahku. Hei, tentu saja aku harus senang. Hari ini merupakan hari pertama aku dapat merasakan hangatnya sinar matahari musim panas. Well, sebab tahun lalu aku menderita penyakit parah menyedihkan yang menyerang saluran pernapasan dan membuatku alergi total. Sehingga tidak bisa keluar rumah atau bahkan duduk santai dengan manis di gazebo dekat danau kecil di halaman belakang. Hanya dengan sedikit serbuk sari bunga di dekatku maka, voila! Aku akan bersin sampai mati. Percayalah, ini hampir terjadi.

“Selamat pagi Tuan Vin, Tuan Besar sudah menunggu di meja makan.”

“Oh ya, tentu, terima kasih. Sampaikan, saya akan segera ke sana.” Si pelayan wanita keturunan peri menunduk mengerti lalu menghilang dari pandanganku–dengan cara biasa tentu saja.

Hmm, apa aku sudah bilang jika aku keturunan bangsawan? Yah, tentu saja kalian bisa menebaknya dengan menyadari sedikitnya rumah biasa yang memiliki gazebo dan danau di halaman belakang. Maaf, tidak bermaksud sombong. Tapi itulah kenyataannya–aku berdiri, menepuk-nepuk bokongku yang proposional dan melenggang ke rumah utama.

Kamis, 04 Januari 2018

The Black Hallway

Sebuah lorong waktu hitam selalu muncul di atas lapisan bumi, mentransfer orang-orang secara acak ke dunia yang berbeda, jauh dari apa yang mereka bayangkan. Lorong waktu hitam itu kemudian disebut the black hallway.

***

Pada tahun 73. 567 SM, hidup kawanan Katpilounia di sebuah pulau bernama Gorgona. Katpilounia merupakan hewan yang memiliki kekuatan magis dan IQ yang cukup tinggi. Mereka bahkan dapat melakukan telepati pesan dalam jarak tak terhingga, asalkan keberadaan mereka masih dapat dirasakan di waktu yang sama. Adapula beberapa golongan saja yang dapat membaca dan mengontrol pikiran.

Bentuk tubuh Katpilounia mirip seekor kucing betina, hanya pemimpinnya saja yang memiliki wajah dan tubuh yang agak besar. Mereka berjalan tegap layaknya manusia, kaki depan mereka mengecil sehingga mereka terlihat seperti binatang kanguru. Katpilounia memiliki ekor sepanjang 80 cm, cukup untuk menyeimbangkan tubuh mereka ketika berjalan maupun berlari. Matanya terlihat bulat dan agak besar, warna lensa mata mereka bermacam-macam; ada yang berwarna orange, hijau, merah, hitam, ungu, merah muda, coklat, putih, biru, abu-abu, dan kuning. Sepasang telinga berukuran pendek dan kecil terlihat di atas kepala mereka.