Aku turun dari mobil dan berjalan sedikit menuju tempat tujuanku, kasino termegah yang berdiri di daerah ini. Lampu-lampunya tersusun rapi membentuk tulisan besar-besar: KING’S CASINO.
Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata ataupun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?).
Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku, namun sambutan meriah itu bukanlah untukku tapi untuk tuanku. Bisa dikatakan aku hanyalah seorang pelayan biasa dari rumah mewah yang berusaha untuk membalas budi atas kebaikan tuannya selama ini. Aku mengenakan jas buntut hitam dengan celana sepanjang mata kaki.
Rabu, 29 Maret 2017
Rabu, 22 Maret 2017
Fang
Aku turun dari mobil dan berjalan sedikit menuju tempat tujuanku, kasino termegah yang berdiri di daerah ini. Lampu-lampunya tersusun rapi membentuk tulisan besar-besar: KING’S CASINO.
Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata ataupun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?).
Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku. Sebuah aroma kematian menarik minatku untuk berjalan lebih dalam. Menelusuri kerumunan manusia yang tengah tenggelam dalam keserakahan. Mempertaruhkan apapun yang mereka miliki untuk memperoleh kesenangan semu. Tak jarang nyawa pun dilemparkan ke atas meja judi.
Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata ataupun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?).
Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku. Sebuah aroma kematian menarik minatku untuk berjalan lebih dalam. Menelusuri kerumunan manusia yang tengah tenggelam dalam keserakahan. Mempertaruhkan apapun yang mereka miliki untuk memperoleh kesenangan semu. Tak jarang nyawa pun dilemparkan ke atas meja judi.
Langganan:
Komentar (Atom)