Udara dingin. Salju. Dan selalu berwarna putih. Itulah tempat tinggalku, memangnya aku tinggal dimana lagi, hah? Udara tropis tidak cocok untuk kulit kami, yah, sebenarnya hanya kulitku saja yang sensitif di keluarga kami. Karena biasanya pada hari libur, seluruh keluargaku berkunjung ke negara-negara tropis seperti Bali atau Hawai untuk berjemur dan berselancar. Tapi berbeda denganku, aku harus tinggal di Kutub Utara. Kutekankan, jangan berharap pada elf setengah kurcaci itu. Mereka juga menuntut liburan sebelum mulai bekerja lagi pada awal Januari. Tapi tidak masalah bagiku, sebab aku sama sekali tidak mau pulang dengan kulit penuh benjolan warna merah muda.
Waktu bergulir seperti biasa di Kutub Utara, dan ayahku terlalu renta untuk membagi-bagikan hadiah setiap tahunnya. Sudah waktunya untuk pensiun dan mencari pengganti. Di kutub utara terdapat empat kandidat utama sebagai pewaris selanjutnya, keluargaku–manusia, keluarga bangsawan elf setengah kurcaci, keluarga yeti, dan–yang terakhir dan teraneh–keluarga beruang kutub–aku tidak tahu bagaimana membayangkan seekor beruang putih besar, berbulu, dan pemakan segala, berkunjung di tiap rumah membagikan hadiah sambil menikmati daging segar penerima hadiah itu sendiri. Hei, jangan bilang itu mustahil terjadi. Di sini Kutub Utara bung, bahkan pada periode sebelumnya seekor yeti tua pernah terpilih dan terpaksa mengenakan riasan gadis penghibur untuk mengelabui mata anak-anak. Percayalah, itu benar-benar terjadi dan mungkin pernah ditemui secara tak sadar.
Senin, 11 Desember 2017
Rabu, 01 November 2017
Wondering Angel
Aku pernah hidup menjadi sosok yang ditakuti, tapi itu dulu. Sangat lama sekali. Hingga kemudian aku mati tanpa diketahui siapapun. Hanya saja beberapa yang memiliki jabatan penting tahu, ratu memiliki anjing penjaganya yang setia. Dia bekerja keras mencari dan memusnahkanku hanya untuk melegakan hati yang mulia ratu. Tapi aku sama sekali tidak dendam, aku juga tidak marah, justru aku menikmati pekerjaanku yang sekarang.
Hal yang kukerjalan bukanlah hal yang menyenangkan bagi setiap orang. Kebanyakan dari mereka justru berharap aku tidak pernah datang. Karena aku hanya membawakan kesedihan dan kesengsaraan pada hati orang-orang yang ditinggalkan. Benar, makhluk sejenisku memanggilku Reaper, Jack the Reaper.
Entah apa yang membuatku hidup di dunia pertengahan antara manusia dan Tuhan. Yang jelas aku hanya mematuhi perintah yang diberikan Sang Maha Agung, meski tidak secara langsung kuterima. Dia akan menyampaikan pesannya melalui Gabriel sebelum sampai di tanganku. Dan aku sendiri tidak pernah ambil pusing dengan hal itu.
Senin, 09 Oktober 2017
The Last Standing
Seseorang berdiri menatap keluar jendela istana yang terbuka ke luar. Memperhatikan pilar-pilar cahaya berbagai ukuran yang tersebar bebas di daratan–ujung-ujung pilar-pilar tersebut melebar seperti bibir botol tabung reaksi pada langit dan tanah. Ia menengadah, langitnya masih sama, hanya pusaran tiada akhir angin keras sekuat badai yang menutupi dan mengitari planetnya. Ia beruntung, sebuah pelindung tipis namun kokoh dirancang oleh buyut generasi mereka untuk menahan ganasnya angin beracun dan mematikan itu. Tangannya yang hanya terbagi dua jari berlubang hisap mencengkram erat kusen besi yang dingin. Matanya yang bulat, lebar dan berair terlihat tegas sekaligus lembut. Di atas kepalanya yang menyerupai kepala gurita bertengger tiara perak bertahtakan mutiara. Siluet tubuhnya yang langsing seperti manusia memanjang hingga ke dinding kamarnya yang berlapis marmer. Seorang pengawal dengan tingkat yang lebih tinggi mengetuk pintu kembar kamarnya yang berbahan dasar kayu ek. “Masuklah, Panglima Fierre.” Suara gadis tersebut terdengar dalam, berwibawa sekaligus anggun.
Pintu terbuka ke dalam, sosok makhluk yang sama melangkah masuk. Ia mengenakan pelindung baja; lempengan pelindung dada, siku, lutut, helm. Di pinggangnya melilit sabuk kulit dengan sebilah pedang bersarung di sebelah kiri. Ia duduk bersimpuh dengan sebelah kaki kanannya di depan, menundukkan wajahnya “Tuanku, Putri Chellar, Permaisuri Ratu memanggil anda ke ruangannya.”
Pintu terbuka ke dalam, sosok makhluk yang sama melangkah masuk. Ia mengenakan pelindung baja; lempengan pelindung dada, siku, lutut, helm. Di pinggangnya melilit sabuk kulit dengan sebilah pedang bersarung di sebelah kiri. Ia duduk bersimpuh dengan sebelah kaki kanannya di depan, menundukkan wajahnya “Tuanku, Putri Chellar, Permaisuri Ratu memanggil anda ke ruangannya.”
Selasa, 19 September 2017
Desires
Sore temaram di London. Matahari bersembunyi di balik awan mendung. Musim hujan baru saja dimulai. Anak-anak gelandangan dan pengemis berebut posisi strategis di atas jembatan Sungai Thames menguji keahlian untuk melempar batu. Meski tidak akan terlihat jelas akibat suram dan derasnya air sungai kala itu.
Seorang gadis cilik berpakaian compang camping tidak melewatkan kesempatan tersebut. Ia bersandar dekat teman-teman yang senasib dengannya sambil melantunkan sebuah lagu bermelodi sederhana. Suara-suara lainnya–gemerisik jas hujan, ketukan langkah sepatu, suara kendaraan yang melintas, bahkan celotehan-celotehan tak berarti–ikut memeriahkan senandung sederhana yang terdengar sumbang.
Sebuah kereta kuda berjalan perlahan memecah genangan air. Berlalu tanpa mempedulikan sekitar. Di dalamnya terdapat seorang bangsawan muda dan seorang gadis berkedudukan sama. Sesekali si lelaki muda merapikan rambutnya yang berwarna kuning keemasan.
“Kulihat kau menikmati perjalanan singkat ini, Thomas?”
“Ya, tentu saja. Ini semua karena kau ikut, Margaret.” Si pria mencium tangannya dengan lembut. “Pelayanan yang memuaskan.” Ia tersenyum nakal.
Seorang gadis cilik berpakaian compang camping tidak melewatkan kesempatan tersebut. Ia bersandar dekat teman-teman yang senasib dengannya sambil melantunkan sebuah lagu bermelodi sederhana. Suara-suara lainnya–gemerisik jas hujan, ketukan langkah sepatu, suara kendaraan yang melintas, bahkan celotehan-celotehan tak berarti–ikut memeriahkan senandung sederhana yang terdengar sumbang.
Sebuah kereta kuda berjalan perlahan memecah genangan air. Berlalu tanpa mempedulikan sekitar. Di dalamnya terdapat seorang bangsawan muda dan seorang gadis berkedudukan sama. Sesekali si lelaki muda merapikan rambutnya yang berwarna kuning keemasan.
“Kulihat kau menikmati perjalanan singkat ini, Thomas?”
“Ya, tentu saja. Ini semua karena kau ikut, Margaret.” Si pria mencium tangannya dengan lembut. “Pelayanan yang memuaskan.” Ia tersenyum nakal.
Rabu, 16 Agustus 2017
Akai
Seorang wanita memakai kimono berwarna putih duduk di tengah padang rumput yang luas. Di sekitarnya berserakan lampion kertas berwarna merah. Sekitar 1000 lampion mengitari sekitar tubuhnya. Tangan kirinya memegang kayu panjang yang pada ujungnya terdapat lidah api yang tak bisa padam jika ia tidak menghendakinya. Ia pun mulai menyalakan satu per satu lampion.
Senin, 07 Agustus 2017
Coretan
Semilir angin lembut menapaki tebing curam. Sesekali debu
beterbangan terbawa arus keras angin yang terlihat lembut. Jubah yang kupakai
berkibar, di seberang terdapat sebuah desa yang dulu kutinggali bersama
keluargaku. Tapi itu dulu, lain halnya sekarang. Dengan membawa kobaran dendam
yang tertanam dalam dada, akan kuhancurkan tiap jengkalnya tanpa tersisa.
Kilas balik ingatan memenuhi kepala, rasanya sesak dan
membuatku mual. Mereka tidak akan pernah kuampuni. Akan kubawakan neraka pada
kalian sebagaimana yang pernah kalian lakukan padaku dan keluargaku.
Dengan langkah mantap aku mendekati tempat terkutuk itu.
Beberapa penjaga menyadari kehadiranku, mereka mengambil sikap siap siaga
dengan kedatanganku.
“Pergilah. Tempat ini bukanlah tempat yang bisa dimasuki
secara sembarangan oleh domba sepertimu.” Si penjaga dengan tampilan urakan itu
terkekeh diikuti oleh temannya yang
lain.
Kamis, 27 Juli 2017
Last War
Tinggal berdua dengan seorang ibu asuh–err.. sebutan itu sedikit netral dengan keadaan yang kini sedang dibayangkan–dalam sebuah kastil tua terpencil dalam hutan belantara bukanlah sebuah pilihan yang diberikan untukku. Kebetulan, aku memang harus tinggal di sana–mengingat statusku juga. Terisolasi dari hiruk pikuk sosial, jauh dari teman atau sanak keluarga–atau memang aku tidak memilikinya ketika lahir, entahlah. Tapi yang jelas di sini cukup membosankan–udara dingin yang menusuk, bangunan tua, buku dari berbagai macam bahasa kuno yang belum dialihbahasakan, serta perisai yang menghalangiku untuk keluar (perisai itu hanya aktif padaku saja, untuk manusia lainnya seperti ibu asuhku, well, sama sekali tidak berpengaruh) ; percayalah, aku sudah mencoba berbagai cara untuk keluar dari sini.
Semua berawal ketika mereka terlalu menggembar-gemborkan masalah kelainan genetik–itulah istilah yang kubaca dari buku, entah yang meributkan hal itu pernah membacanya atau tidak dan lagipula aku juga tidak tahu siapa ‘mereka’ yang ikut campur masalah sepele ini–pada warna mataku : kanan berwarna merah dan lainnya berwarna putih. Lalu, akhirnya, aku diasingkan sejak lahir tanpa merasakan air susu dari ibu kandungku–menyedihkan bukan?
Jumat, 23 Juni 2017
Chaos
Dari atas bukit rumput aku dapat melihatnya dengan jelas. Langit
terbelah dan sebuah tangan raksasa seputih
tulang muncul perlahan menjadikan sisi lubang sebagai penopang. Dia menampakkan
ujung hidungnya sebelum akhirnya aku melihat seluruh rupa makhluk itu. 8 mata
berderet di keningnya.
Satu per satu lengannya keluar dari dalam lubang yang nampak
kecil baginya. Makhluk itu menatap lapar pada jajaran rumah yang berderet di
bawahnya. Dengan satu hentakan, dia melompat tinggi sebelum akhirnya mendarat. Tanah
berguncang keras, menghempaskanku.
Kamis, 04 Mei 2017
Eevs
Kota Eevs terletak di tengah Pegunungan Api Glokyous dan Laut Antraqia, beberapa penduduknya tersebar di kaki Gunung Glokyous. Mereka memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, petani, dan penambang. Hasil bumi yang melimpah ruah merupakan devisa yang diandalkan selama ini, maka dari itu hidup bersama alam adalah jalan yang dipilih untuk terus melestarikan lingkungan.
Kota tersebut berada di bawah kepemimpinan Kerajaan Raverst yang bijaksana dan arif dalam memimpin. Raja dan Ratu Kerajaan Raverst yang telah berusia lanjut diberkahi keturunan seorang pangeran yang berumur masih sangat muda. Walaupun tersiar kabar bahwa Raja dan Ratu Kerajaan Raverst memiliki tiga bahkan lima orang pangeran, tapi mungkin hal itu hanya berupa rumor belaka.
Selasa, 25 April 2017
Lady
Asap mengepul tipis di tengah hutan. Seorang pria bersandar pada pohon. Gemerisik daun dan racauan serangga malam yang mengganggu. Aku tengah menikmati santap malam yang luar biasa mewah; sepotong roti gandum yang telah kusimpan lebih dari lima hari dan air sungai. Sesekali aku ingin menyantap daging. Tapi setidaknya, aku masih memiliki makanan yang kudapatkan dari merampok manusia.
Sayangnya aku tidak terbiasa memakan mereka, meskipun banyak pilihan cara yang dapat digunakan untuk mengolah daging dan tulang mereka dengan bumbu tradisional bangsaku, Jörmungandr. Sewaktu kecil ayahku pernah membawa beberapa potong bagian tubuh mereka. Dan dengan cekatan ibuku mengolahnya menjadi masakan penuh gizi yang menghilangkan seleraku.
Rabu, 29 Maret 2017
Gam(e)bler
Aku turun dari mobil dan berjalan sedikit menuju tempat tujuanku, kasino termegah yang berdiri di daerah ini. Lampu-lampunya tersusun rapi membentuk tulisan besar-besar: KING’S CASINO.
Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata ataupun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?).
Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku, namun sambutan meriah itu bukanlah untukku tapi untuk tuanku. Bisa dikatakan aku hanyalah seorang pelayan biasa dari rumah mewah yang berusaha untuk membalas budi atas kebaikan tuannya selama ini. Aku mengenakan jas buntut hitam dengan celana sepanjang mata kaki.
Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata ataupun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?).
Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku, namun sambutan meriah itu bukanlah untukku tapi untuk tuanku. Bisa dikatakan aku hanyalah seorang pelayan biasa dari rumah mewah yang berusaha untuk membalas budi atas kebaikan tuannya selama ini. Aku mengenakan jas buntut hitam dengan celana sepanjang mata kaki.
Rabu, 22 Maret 2017
Fang
Aku turun dari mobil dan berjalan sedikit menuju tempat tujuanku, kasino termegah yang berdiri di daerah ini. Lampu-lampunya tersusun rapi membentuk tulisan besar-besar: KING’S CASINO.
Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata ataupun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?).
Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku. Sebuah aroma kematian menarik minatku untuk berjalan lebih dalam. Menelusuri kerumunan manusia yang tengah tenggelam dalam keserakahan. Mempertaruhkan apapun yang mereka miliki untuk memperoleh kesenangan semu. Tak jarang nyawa pun dilemparkan ke atas meja judi.
Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata ataupun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?).
Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku. Sebuah aroma kematian menarik minatku untuk berjalan lebih dalam. Menelusuri kerumunan manusia yang tengah tenggelam dalam keserakahan. Mempertaruhkan apapun yang mereka miliki untuk memperoleh kesenangan semu. Tak jarang nyawa pun dilemparkan ke atas meja judi.
Selasa, 21 Februari 2017
The Book of Seal
Grearz membuka matanya yang masih terasa berat. “Ah, hari ini umurku tepat 15 tahun.” Ia mengalihkan pandangannya ke sebuah meja kecil di samping tempat tidur. “Buku itu..” Grearz mengambil lalu membawanya keluar kamar.
“Selamat pagi, rupanya si anak merah sudah bangun.” Sapa salah satu anggota keluarganya yang telah berusia lanjut.
“Jangan membuat nama panggilan seenaknya Kek, hanya karena rambutku yang berwarna merah.” Grearz mengamati sekelilingnya. “Mana ibu?” Tanyanya singkat.
“Sedang berbelanja untuk pesta ulang tahunmu.” Kakek membuka lembaran surat kabar di tangannya.
“Lalu kek, maksud memberiku buku ini apa?” Grearz mengangkat buku bersampul warna hitam tersebut setinggi telinga.
Kamis, 26 Januari 2017
Sweets
Aroma manis menyeruak memenuhi sebuah ruangan di setiap rumah. Membangunkan perut-perut mungil berpiyama yang kelaparan di tengah malam. Tanpa disadari, setiap lahapan dapat mengurangi kesadaran dan membimbing mereka untuk melangkah di jalan sepi mengikuti alunan melodi seruling logam. Suara langkah kaki yang terdengar lebih lembut daripada hembusan angin malam tidak mengganggu tidur orang dewasa yang terlalu lelah untuk terjaga.
Tanpa rasa takut, anak-anak yang berbaris rapi mulai meninggalkan kota kecil berpenduduk padat menuju jalan setapak dalam hutan gelap yang dipenuhi orkestra serangga dan makhluk malam. Mata-mata tajam yang tersembunyi dalam rerimbunan daun tidak berani mengganggu alunan nada hipnotis seruling logam meski lapar menusuk perut. Para makhluk itu mengetahui konsekuensi berat yang menanti walau hanya berupa intuisi.
Kamis, 12 Januari 2017
God's Play
“Dari semua divisi yang ada, kenapa juga aku harus berada di bagian ini..”
“Hoi, anak baru! kerja yang betul!”
“Maaf tuan Vrill, saya juga saat ini tengah melakukan apa yang anda perintahkan. Dan terus.. saya juga punya nama, Cliey, Cliey Cexalliss. Anda tidak bisa terus menerus memanggil saya anak baru.” Anak lelaki berumur 17 tahun itu tengah membereskan ruangan berantakan tempatnya bertugas saat ini. Ia mengenakan kacamata dan jubah warna abu-abu sesuai dengan seragam divisi yang menaunginya.
“Aiih, jangan panggil tuan donk. Berasa formal banget, panggil ketua aja deh.. Dan terus, bagiku kamu tetap anak baru di sini.. ahahahahhaa”
“Baik ketua..” Ia kembali melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya yang sempat terganggu.“Siiiaaaaal!! Padahal aku adalah lulusan terbaik yang lolos ujian dewa! Kenapa malah ditempatkan di divisi peringkat terendah?!!”
Selasa, 03 Januari 2017
Silent Teror
Sekitar abad ke-15, terdapat sebuah pulau kecil di sekitar Samudera Atlantik dekat daratan Eropa. Kebanyakan orang menyebutnya Pulau Antilia. Pulau tersebut terdiri dari 7 kota besar yakni Aira, Antuab, Ansalli, Anseselli, Ansod, Ansolli dan Cod. Pemerintah setempat menjadikan Kota Anseseli sebagai ibukota dan pusat pemerintahan, dimana gedung Dewan Perwakilan berdiri.
Tata wilayah kota dikonsep sedemikian rupa sehingga terasa nyaman dan indah. Terdapat beberapa kanal air yang menyambungkan ketujuh kota Pulau Antilia. Beberapa diantaranya dapat dilalui perahu kecil, gondola dan sebuah kapal yang dapat menampung beberapa penumpang. Sebagian besar masyarakat memanfaatkannya sebagai sarana transportasi, berdagang, bahkan pariwisata.
Terdapat banyak bangunan kuno di Pulau Antilia. Bentuk arsitekturnya dipengaruhi Romano-Byzantium dengan sentuhan mosaik yang kaya akan pahatan marmer dan hiasan pada atapnya. Selain itu, terdapat 3.561 patung dengan beragam bentuk dengan sebuah cerita menawan dibaliknya, meskipun belum terbukti kebenarannya. Juga berdiri sebuah monumen sejarah berbentuk menara jam di pusat kota dengan hamparan halaman batako luas yang dapat menampung hingga 4.500 orang. Dibalik keindahan dan seribu pesona Pulau Antilia, terdapat sejuta misteri yang masih belum terungkap.
Langganan:
Komentar (Atom)
