Jumat, 23 Juni 2017

Chaos

Dari atas bukit rumput aku dapat melihatnya dengan jelas. Langit terbelah dan sebuah tangan raksasa  seputih tulang muncul perlahan menjadikan sisi lubang sebagai penopang. Dia menampakkan ujung hidungnya sebelum akhirnya aku melihat seluruh rupa makhluk itu. 8 mata berderet di keningnya.

Satu per satu lengannya keluar dari dalam lubang yang nampak kecil baginya. Makhluk itu menatap lapar pada jajaran rumah yang berderet di bawahnya. Dengan satu hentakan, dia melompat tinggi sebelum akhirnya mendarat. Tanah berguncang keras, menghempaskanku.

Tak hanya satu, ada beberapa makhluk berukuran sama terjun menjejak rumah-rumah penduduk tanpa belas kasih. Oh, tidak! Aku harus memperingatkan bibi Carlyle! Bergegas aku berlari menuruni landasan bukit yang landai, tidak memedulikan kawanan domba peliharaanku yang berlari entah kemana. Aku menerobos semak-semak hutan, berlari sepenuh tenaga hingga seseorang menjegal kakiku. Aku tersandung dan jatuh terguling di atas dedaunan lembab yang membusuk.

“Dasar bodoh!” Anak lelaki itu menjerit. Dia mendekatiku lalu menarik kerah bajuku. “Kau mau kemana, Marchen?!” bentaknya kasar.

“Keith? Tidak, tidak, aku harus menyelamatkan bibi dan pamanku. Lepaskan aku!”

Dia menamparku keras. “Tidak ada yang bisa kau lakukan! Semua orang mati! Pergi ke sana hanya akan membunuhmu!”

Tamparan itu seolah menyadarkanku. “Keith?” Aku dapat melihat wajahnya yang pucat dan matanya yang tak berhenti mengeluarkan airmata.

“Banyak orang yang mati di sana.” Isaknya.

“Bagaimana, bagaimana dengan bibi dan pamanku? Kau melihat mereka?”

Keith menggeleng. Aku mencoba melonggarkan cengkeraman tangannya yang gemetar. “Aku perlu melihat keadaannya.”

“Jangan mendekati tempat itu!”

“Aku hanya akan melihatnya dari jauh. Kau boleh mengikutiku jika ingin.” Bocah itu mengangguk.


Bukannya aku tidak takut, tapi aku sudah pernah melihat mereka sebelumnya dalam ramalan ibuku. Aku mengepalkan tangan, menarik napas perlahan, dan berusaha menenangkan diriku sendiri. Benar, aku pernah melihat kejadian yang sama 5 tahun yang lalu. Kedua orangtuaku tewas dan sebagai penerus Pelindung Tanah Gaia, aku perlu melindungi dunia ini dari serangan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar