Tinggal berdua dengan seorang ibu asuh–err.. sebutan itu sedikit netral dengan keadaan yang kini sedang dibayangkan–dalam sebuah kastil tua terpencil dalam hutan belantara bukanlah sebuah pilihan yang diberikan untukku. Kebetulan, aku memang harus tinggal di sana–mengingat statusku juga. Terisolasi dari hiruk pikuk sosial, jauh dari teman atau sanak keluarga–atau memang aku tidak memilikinya ketika lahir, entahlah. Tapi yang jelas di sini cukup membosankan–udara dingin yang menusuk, bangunan tua, buku dari berbagai macam bahasa kuno yang belum dialihbahasakan, serta perisai yang menghalangiku untuk keluar (perisai itu hanya aktif padaku saja, untuk manusia lainnya seperti ibu asuhku, well, sama sekali tidak berpengaruh) ; percayalah, aku sudah mencoba berbagai cara untuk keluar dari sini.
Semua berawal ketika mereka terlalu menggembar-gemborkan masalah kelainan genetik–itulah istilah yang kubaca dari buku, entah yang meributkan hal itu pernah membacanya atau tidak dan lagipula aku juga tidak tahu siapa ‘mereka’ yang ikut campur masalah sepele ini–pada warna mataku : kanan berwarna merah dan lainnya berwarna putih. Lalu, akhirnya, aku diasingkan sejak lahir tanpa merasakan air susu dari ibu kandungku–menyedihkan bukan?
Kudengar, kelainan ini diturunkan dari salah seorang kakek buyut dari generasi keluarga kami–entah yang ke berapa. Berdasarkan cerita yang berkembang secara turun temurun, kami yang diberkahi kelainan tersebut lahir dengan kutukan. Aku sendiri tidak tahu kutukan apa yang menimpa kakek buyutku, tapi aku dapat membuka gerbang dimensi lain dan memanggil salah satu makhluk dari sana serta dapat kujadikan budak di bawah kekuasaan telapak kakiku. Hal itu kupelajari pada usia 4 tahun ketika tengah bermain sendiri di salah satu kamar mewah di kastil ini–cukup mewah jika dibandingkan dengan kamar tidur penduduk yang tinggal dalam pemukiman terdekat yang terletak di kaki gunung, jika penasaran mengapa aku bisa tahu, jawabannya mudah, aku dapat melihatnya dari atas menara.
***
Cahaya matahari masuk dengan segan dari balik tirai tipis kelabu berdebu yang berjuang menggantungkan hidupnya di tiang penyangga usang. Aku duduk dengan manis–dilengkapi mantel hangat berwarna hijau tua–di salah satu bangku panjang dalam perpustakaan kelam berhadapan dengan seorang pria. Enam buku yang bahkan lebih tebal dari kamus menumpuk di samping kirinya, sesekali jarinya membenarkan letak kacamata yang merosot. Aku hanya menatapnya sambil memainkan pena bulu.
“Bukankah kertas di hadapanmu masih bersih dari tinta, Bocah?”
“Kuberi kau sebuah saran, manusia yang berkedudukan sebagai ‘ibu asuh’ sekaligus merangkap sebagai pelayan di sini, sebaiknya menjaga ucapannya sebelum majikannya memutuskan untuk menjatuhkan hukuman pada lidahmu yang kurang ajar itu, Albert.”
Pria yang duduk di hadapanku menutup buku, dengan nafas berat ia meletakkan kacamata berbentuk persegi di atasnya. “Rupanya kau sudah mulai berani melawan perkataanku ya, sepertinya makan siang hari ini hanya roti isi sayur dan susu dari binatang yang kau benci.” Si pria tersenyum kesal dengan wajah sedingin udara musim salju.
Inilah sulitnya mengatur pelayan jika mereka sudah mengenalmu sejak kau masih bayi. Meski begitu, ia adalah teman mengobrol yang nyaman–karena memang, aku tidak memiliki kenalan lainnya. Si anak lelaki mencelupkan ujung pena bulu ke dalam tinta hitam pekat, ia menengadahkan wajahnya ke langit-langit perpustakaan yang suram–terdapat noda hitam akibat asap pekat pembakaran lilin puluhan tahun. Beberapa makhluk tak kasat mata berdiri tegap seakan menginjak permukaan tembus pandang. Menanti perintah dibalut keringat dingin. “Tidak adakah diantara kalian yang dapat menyelesaikan ini untukku?” Anak lelaki itu menatap dengan tatapan nyalang.
Salah seorang dari mereka perlahan turun lalu bersimpuh dengan satu kaki di hadapan sang anak. Si makhluk menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah si anak yang terlihat pongah. “Tuanku, hamba yang hina ini bersedia menuliskannya untuk anda jika anda mengizinkannya.”
“Seperti biasanya ya, Fa’kcrhyt. Cepat selesaikan sebelum gema suara langkah kakinya terdengar.” Fa’kcrhyt merupakan salah satu dari budak-budak kesayanganku. Tentu saja karena kerapihannya dalam mengerjakan tulisan atau membantu menerjemahkan tulisan yang tidak kumengerti.
Suara roda troli makanan berderak menggaung di lorong menuju perpustakaan. Aku sudah siap dengan sikap sempurna seorang pelajar patuh. Tentu saja, mimik wajahnya dibuat sedemikian rupa agar terlihat angkuh. Pintu setinggi enam kaki berdecit terdorong ke dalam diikuti troli. “Dari sikapmu dapat kutebak kau sudah menyelesaikannya, eh?”
“Tentu saja, aku ini satu-satunya muridmu yang jenius di sini.” Tangan si pria meraih tumpukan kertas yang telah dipenuhi coretan halus.
“Sepertinya kau memanfaatkan mata kirimu lagi, benar?”
Si anak berdiri tegak, mengacungkan jari telunjuknya. “Jangan menuduh sembarangan, Manusia Hina!”
Pria itu mengambil sesuatu dari balik jas hitam yang dikenakannya. “Well? Ada penjelasan? Terlihat sekali perbedaannya tulisanmu ketika kau kuawasi dan tidak. Sejak dulu aku selalu curiga akan hal itu, hanya ada satu kesimpulan untuk menjelaskan semuanya, eh?” Ia mencondongkan tubuhnya menatap lurus pada mataku.
***
Semua tindakan yang dilakukan pasti terdapat konsekuensi baik berupa penghargaan atau sanksi. Dalam situasiku sekarang? Sudah sangat jelas. Hukuman. Sebagai seorang bangsawan–dibandingkan alasan kehormatan, sebenarnya lebih condong pada rasa takut–harus menjunjung nilai etika dan moral. Itulah yang diajarkan Albert padaku.
Sejujurnya, Albert menyerupai kakak bagiku. Pria lajang sekitar umur 25 tahunan, wajah tampan, berbakat dalam sihir–inilah yang membuatku takut–dan cerdas. Untuk keahliannya dalam bidang sihir, hal itu kuketahui saat berusia 7 tahun. Mata kiriku pernah berulah tak terkontrol sehingga membuka lebih lebar jalan menuju dimensi lain–yang kuketahui dari buku disebut Abyss. Lalu makhluk-makhluk yang menakutkan dan berkekuatan lebih besar mulai keluar satu per satu bersimpuh di hadapanku. Dan yang dapat kulakukan saat itu hanya berteriak ketakutan sambil berusaha menutup mata kiriku yang terus terbuka dengan tangan. Ia merapalkan mantera dalam bahasa kuno yang tak kumengerti lalu sebuah segel muncul dan mengunci kekuatan mataku untuk sementara hingga aku dapat mengendalikannya.
Yak, kembali lagi ke hukumanku. Kali ini, aku hanya ditugaskan untuk menyusun buku sesuai abjad. Tentu ini masalah. Aku tidak diperbolehkan–sebenarnya tidak bisa–memanfaatkan kekuatan para budakku. Alasannya mudah, Albert mengaktifkan segel mataku.
Bayangkan, bagaimana sulitnya seorang bocah berumur 11 tahun dengan tinggi pas-pasan mengangkat lalu memindahkan tumpukan buku dari satu rak menuju rak yang lain, dan hanya dibantu tangga beroda. Belum lagi jika terjadi hal yang tak diinginkan seperti menjatuhkan rak berisi ratusan buku akibat terlalu menyandarkan bobot tubuhmu hanya untuk memasukan sebuah buku. Seperti yang kualami saat ini.
Sial.
Pekerjaanku bertambah, harus mendirikan rak buku tua berat yang terbuat dari Pohon Ek, buku-buku yang berceceran semakin–
Apa itu? Salah satu diantara ratusan buku yang berceceran terdapat satu yang berbeda–selain terlontar cukup jauh dibanding yang lain. Si bocah lelaki mendekat, mengangkat, lalu mengamati dengan seksama. Tidak terdapat judul pada sampul yang sepertinya terbuat dari kulit lembu muda. Hanya sebuah nama, ‘Sir Arthen Coivick Muntchein’.
‘Coivick Muntchein’? Itu nama keluargaku! Aku membukanya secara acak, rupanya sebuah jurnal tua milik kakek buyutku. Aku mencari posisi enak untuk membaca, sampai beberapa prajurit berjumlah lusinan mendobrak dan melemparkan tubuh seorang lelaki muda yang penuh luka lebam dan sayatan benda tajam ke arahku.
“Rupanya, kau sembunyikan di sini majikan kesayanganmu itu.” Seorang komandan pemimpin pasukan berseru girang. Aku berdiri kebingungan, tanganku masih menggenggam erat catatan yang dibiarkan menjuntai tak berdaya.
Albert mengerahkan kekuatan yang tersisa dalam tubuhnya untuk berbalik padaku. Dari gerakan bibirnya, aku tahu ia melepaskan segel mataku. Lalu membisikkan sebuah kata tanpa suara. Tubuhku langsung bereaksi merespon bahaya. Para budakku berlomba ke arahku, dan dalam sekejap aku dilindungi kekuatan tak kasat mata. Sayangnya aku tak bisa keluar dengan mendobrak dinding kastil, mereka membawaku ke dasar lantai dan menggali, menciptakan sebuah terowongan sempit serta dalam. Si komandan melemparkan bola api biru dari tangannya sambil memuntahkan sumpah serapah, lalu memerintahkan anak buahnya untuk turun dan mengejar. Kecepatan mereka tidak sebanding, sehingga tertinggal jauh di belakang.
Dalam waktu 75 detik, aku sudah menghirup udara bebas. Aku tidak tahu lokasi tepatnya kami berada–tentu saja karena aku tidak pernah kemana-mana selama 11 tahun ini–yang penting untuk sementara waktu kami aman. Meskipun begitu, aku cukup menyesal tidak sempat menolong Albert. Tapi kembali ke sana sama saja bunuh diri. Satu-satunya petunjuk yang dapat kupegang hanya jurnal tua ini.
***
Selama berhari-hari kami–aku dan budak-budakku tentunya–melakukan perjalanan ke suatu tempat. Well, sejak hari itu aku terus membaca dan mencari kebenaran tentang mataku ini. Aku sangat berterimakasih pada kakek buyutku yang mengabadikan pengalamannya ke dalam tulisan yang mudah dipahami. Saat ini aku menuju ke sebuah pulau terpencil di daratan asia dengan mengendarai salah seorang budakku yang kupanggil, Yasrr. Ia dapat mengubah wujudnya menjadi gumpalan awan untuk menyembunyikanku dari penglihatan musuh–saat ini aku telah menjadi manusia yang paling dicari dengan imbalan tak seberapa, bahkan pemburuku tidak tahu alasan pengejaranku yang mereka pedulikan hanya hadiah bodoh itu.
Pepohonan rimbun berselimut aura mistis menyambut kehadiranku–diantaranya masih diselimuti kabut tipis. Kawanan burung liar; berkaki panjang seperti ranting, tubuh berbentuk oval dengan dua sayap berwarna putih, leher panjang dengan paruh bengkok, bertemperasan menyadari kedatanganku. Kuperintahkan Yassr untuk mempercepat gerakannya menuju sebuah pondok kecil yang terletak di atas pohon berukuran cukup besar dan terlihat tua.
Untaian rotan bergantung tidak terawat. Lantai kayu dipenuhi dedaunan coklat yang lembab. Tirai lusuh yang menutupi sebuah ruangan yang lain. Apa mungkin ‘ia’ sudah mati?
Sebuah suara dengan nada terkejut terdengar dari punggungku. Seorang.. err.. seekor tepatnya, seekor cerpelai; memakai bunga liar yang dibentuk melingkar di atas kepalanya, rok dari dedaunan segar, sambil membawa tumpukan sayuran. “Kakek!!” Si cerpelai betina berteriak, membuatku tercengang.
“Ohh.. Youn, kau sudah pulang.” Cerpelai yang lebih tua dan uzur muncul dari balik tirai. Memanfaatkan tongkat untuk menahan bobot tubuhnya yang tak lagi tegap.
“Ada manusia! Ada manusia!” Si cerpelai betina siap menerkam bocah lelaki yang masih belum sepenuhnya tersadar dari rasa syok.
“Tenang Youn, tenang..” Mata tua yang lelah berusaha mengamati dan mengenali tiap detil manusia di hadapannya. “Oh.. warna matamu.. apa kau keturunan Muntchein? Rasanya seperti baru kemarin ia datang dan belajar di sini. Waktu sudah berlalu terlalu cepat rupanya.” Si Cerpelai tua itu terkekeh, bagiku terdengar seperti orang tersedak potongan apel.
“Apa mungkin kau–”
“Ya, ya, aku Kim Yeo Sshul. Dia cucuku, Kim Youn Sshul, kukira mungkin kau seumuran dengannya, Nak. Apa kau mendengar diriku dari cerita yang disampaikan kakekmu, Nak?”
Yang benar saja cerpelai betina itu berusia sama denganku?! Kalian ini makhluk apa?!
“Err, tidak. Aku mengetahui anda dari buku ini.” Buku lusuh itu kini berpindah tangan. Yeo Sshul mengamati tulisan nama pada sampul depan.
“Benar, ini tulisan tangannya. Dia sudah meninggal, eh?”
“Aku tidak tahu, err.. Tikus. Sejak dilahirkan aku sudah ditinggalkan dalam kastil itu.”
“Sepertinya darah arogan miliknya mengalir dalam dirimu, eh?” Dia kembali terkekeh. “Dengan seorang pengasuh kurasa?”
“Err.. ya.”
“Baiklah waktunya tidak banyak lagi, mari kita segera memulai latihan.”
Aku masih kebingungan, “untuk apa? Lagipula aku baru sampai di sini, aku lelah!”
“Kau belum membaca semuanya, eh? Apa saja yang kaulakukan selama perjalananmu? Terlelap dengan nyaman dalam kereta bayi?”
“Jaga lidahmu, Tikus Got!” Si cerpelai tua merapalkan sebuah mantera, mengunci mulutku.
“Kaulah yang harus menjaga lidahmu, Nak, jika ingin kuterima di sini.”
Aku hanya terdiam menatapnya kesal. Sebuah penghinaan yang tak sepadan.
Tikus sialan.
***
Selama enam tahun aku berjuang dalam neraka si Tikus Hina itu. Tidak peduli pagi, siang, atau malam, aku terus dipaksa berlatih; mengangkat air melalui bukit, melatih seni pedang dan bela diri, push up, sit up, berdiri terbalik, menghapal dan merapal mantera, pernapasan, kecepatan, kesabaran, bahkan etika.
Sekarang aku sudah siap, “Master, sudah waktunya bagiku untuk memperjuangkan hakku sebagai calon pemegang tahta.”
“Ingat, jangan sampai kau kehilangan kendali atas ‘mereka’.”
“Saya mengerti.”
“Gaya bicaramu semakin baik rupanya.”
“Tentu saja, didikanmu sangat keras, Tikus Sial.” Si cerpelai tua merapalkan sebuah mantera kuno, namun dengan mudah kutangkis. “Haha, aku ini murid terbaik yang akan melampauimu. Lihat saja.” Aku berbalik sambil mengibaskan jubahku agar terlihat keren.
“Tentu, tentu..” Yeo Sshul menutup mata sambil tersenyum. “Kau tidak mau mengucapkan ‘selamat tinggal’, Youn?” Si cerpelai betina bersembunyi malu-malu di balik tirai.
“Tenang saja, kita pasti akan bertemu lagi.” Aku mencoba tersenyum ramah, meski terasa canggung.
***
Aku berjalan menuju kota yang terletak di pulau terpencil di balik sebuah bukit dan berpapasan dengan laut yang tenang. Dari kejauhan bangunan-bangunan berjajar rapi dengan tata wilayah terencana. Dengan langkah mantap dan tegas aku menelusuri jalan setapak yang sering dilalui orang-orang.
Patung-patung berdesain dewa dewi yunani tersebar di penjuru kota. Model bangunan bernuansa eropa klasik. Terdapat beberapa kanal air yang disambungkan dengan jembatan-jembatan kokoh. Aku berdiri di tengah lapangan luas dekat tugu menjulang setinggi 30 kaki. Menarik nafas panjang dan dalam lalu berseru sekuat-kuatnya.
“Aku! Dourcher Coivick Muntchein, kembali ke kota ini untuk merebut kembali hakku sebagai penerus tahta kerajaan! Dan aku telah siap berperang hingga tetes darah terakhir dalam tubuhku! Kalian adalah saksi dari sumpah yang kuucapkan ini!”
Aku segera menjadi bahan perbincangan petang itu. Inilah yang kuharapkan, tantanganku akan segera sampai hingga ke telinga kerajaan. Sebenarnya bisa saja aku langsung melemparkan surat tantangan di altar istana, tapi hal itu akan berdampak buruk. Sebab akan ada permainan politik hitam yang berusaha memusnahkanku dari belakang. Tapi jika surat tantangan dilakukan di hadapan publik seperti ini, mereka akan dua kali berpikir untuk melenyapkanku dengan cara yang licik. Lagipula berdasarkan etika, pemegang kekuasaan tidak dapat membiarkan tantangan yang diberikan oleh keturunan berdarah biru. Mau tidak mau ia harus mengambilnya untuk mempertahankan kedudukannya di hadapan rakyat. Tidak ada rakyat yang ingin dipimpin oleh pemimpin yang lemah.
***
Seorang prajurit berlari tergesa-gesa dalam istana mewah. Ia terlihat enggan namun sekaligus harus menyampaikan sebuah pesan penting kepada tuannya. Ia berhenti di pintu kayu setinggi 12 kaki yang dijaga oleh dua orang lelaki bersenjata tombak yang berzirah besi seperti dirinya. Si prajurit membisikkan sesuatu di telinga penjaga sebelah kanan. Penjaga sebelah kanan terkejut bukan kepalang, ia melambaikan tangannya mengusir si prajurit, lalu mengetuk dan meminta izin untuk masuk. Suara berdeham terdengar dari dalam. Sang penjaga meminta maaf atas gangguan yang ia lakukan pada jam makan malam tuannya, kemudian mendekatkan mulutnya di telinga tuannya yang tipis.
“Cerdik, sangat cerdik. Beritahukan pada rakyat kita, bahwa aku menerima tantangannya. Dan lusa, temui aku lengkap dengan pasukan perang di Padang Hitam.” Si putra mahkota muda menyeringai memperlihatkan giginya yang menggigit daging ayam.
Waktu berlalu sangat cepat, aku sudah berdiri sendirian lengkap dengan sebilah pedang. Yang selanjutnya kulakukan hanya tinggal memanggil pasukan orang mati dari Abyss. Dari kejauhan seorang pria muda mendekat dengan menaiki seekor kuda jantan warna kelabu. Aku menggosokkan mataku tak percaya, Albert! Ia masih hidup! Dan ini bukanlah pertanda yang bagus.
“Sudah kuduga, kau mampu hingga kemari saudaraku.. atau lebih cocok kupanggil adik?”
Huh?
“Semua sesuai dengan rencanaku, penyerangan tiba-tiba di kastil, buku, berguru di Master Yeo Sshul, dan tantangan ini. Aku tidak bisa menduduki tahta jika tidak mengalahkanmu secara adil di sini. Oh, dan apa kau tahu, mengapa padang ini disebut Padang Hitam? Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun perang berlalu namun bekasnya masih membekas di sini. Karena yang berperang di sini bukan manusia, tetapi zat makhluk yang berasal dari Abyss dan kekuatan Mana.” Kepalaku terasa pening seperti dihantam godam. Perlu beberapa detik bagiku untuk mencerna perkataannya meskipun aku jenius.
“Terlihat dari wajahmu yang tolol itu kau masih kebingungan rupanya.” Albert menutup mata, mulutnya merapalkan sebuah mantera. “Warna mataku sama denganmu, itu sebabnya salah satu dari kita harus mati untuk duduk di kursi kerajaan atau hidup dalam pengasingan.”
“.. perisai dalam kastil itu..”
“Aku bisa memanfaatkan tenaga Mana untuk bangkit dan memberikan kita stok makanan dari luar, jadi aku tidak perlu repot-repot menyakiti tubuhku. Jika kau tidak memiliki pertanyaan dan pernyataan lainnya, nah, mari kita mulai peperangan ini.” Albert memacu langkah tunggangannya dengan sekali hentakan keras.
Jika aku mundur dan memilih pengasingan, maka latihan selama enam tahun itu akan sia-sia. Aku memantapkan hatiku, lalu membuka pintu Abyss. Berbagai zat makhluk mengerikan keluar satu per satu ditambah serombongan pasukan kematian yang hanya aku yang dapat memerintah mereka. Albert pun melakukan hal yang sama, ia memanggil pasukan dari Abyssdan juga membangkitkan pepohonan dari hutan sekitar Padang Hitam. Ah.. aku tidak yakin bisa bertahan jika keadaannya seperti ini tapi–
Peperangan telah dimulai…
fin
NB; dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1170454-lomba-cerbul-kasfan—edisi-epik-januari-13#comment_67374079
Tidak ada komentar:
Posting Komentar