Tinggal berdua dengan seorang ibu asuh–err.. sebutan itu sedikit netral dengan keadaan yang kini sedang dibayangkan–dalam sebuah kastil tua terpencil dalam hutan belantara bukanlah sebuah pilihan yang diberikan untukku. Kebetulan, aku memang harus tinggal di sana–mengingat statusku juga. Terisolasi dari hiruk pikuk sosial, jauh dari teman atau sanak keluarga–atau memang aku tidak memilikinya ketika lahir, entahlah. Tapi yang jelas di sini cukup membosankan–udara dingin yang menusuk, bangunan tua, buku dari berbagai macam bahasa kuno yang belum dialihbahasakan, serta perisai yang menghalangiku untuk keluar (perisai itu hanya aktif padaku saja, untuk manusia lainnya seperti ibu asuhku, well, sama sekali tidak berpengaruh) ; percayalah, aku sudah mencoba berbagai cara untuk keluar dari sini.
Semua berawal ketika mereka terlalu menggembar-gemborkan masalah kelainan genetik–itulah istilah yang kubaca dari buku, entah yang meributkan hal itu pernah membacanya atau tidak dan lagipula aku juga tidak tahu siapa ‘mereka’ yang ikut campur masalah sepele ini–pada warna mataku : kanan berwarna merah dan lainnya berwarna putih. Lalu, akhirnya, aku diasingkan sejak lahir tanpa merasakan air susu dari ibu kandungku–menyedihkan bukan?