Senin, 09 Oktober 2017

The Last Standing

Seseorang berdiri menatap keluar jendela istana yang terbuka ke luar. Memperhatikan pilar-pilar cahaya berbagai ukuran yang tersebar bebas di daratan–ujung-ujung pilar-pilar tersebut melebar seperti bibir botol tabung reaksi pada langit dan tanah. Ia menengadah, langitnya masih sama, hanya pusaran tiada akhir angin keras sekuat badai yang menutupi dan mengitari planetnya. Ia beruntung, sebuah pelindung tipis namun kokoh dirancang oleh buyut generasi mereka untuk menahan ganasnya angin beracun dan mematikan itu. Tangannya yang hanya terbagi dua jari berlubang hisap mencengkram erat kusen besi yang dingin. Matanya yang bulat, lebar dan berair terlihat tegas sekaligus lembut. Di atas kepalanya yang menyerupai kepala gurita bertengger tiara perak bertahtakan mutiara. Siluet tubuhnya yang langsing seperti manusia memanjang hingga ke dinding kamarnya yang berlapis marmer. Seorang pengawal dengan tingkat yang lebih tinggi mengetuk pintu kembar kamarnya yang berbahan dasar kayu ek. “Masuklah, Panglima Fierre.” Suara gadis tersebut terdengar dalam, berwibawa sekaligus anggun.

Pintu terbuka ke dalam, sosok makhluk yang sama melangkah masuk. Ia mengenakan pelindung baja; lempengan pelindung dada, siku, lutut, helm. Di pinggangnya melilit sabuk kulit dengan sebilah pedang bersarung di sebelah kiri. Ia duduk bersimpuh dengan sebelah kaki kanannya di depan, menundukkan wajahnya “Tuanku, Putri Chellar, Permaisuri Ratu memanggil anda ke ruangannya.”