Seseorang berdiri menatap keluar jendela istana yang terbuka ke luar. Memperhatikan pilar-pilar cahaya berbagai ukuran yang tersebar bebas di daratan–ujung-ujung pilar-pilar tersebut melebar seperti bibir botol tabung reaksi pada langit dan tanah. Ia menengadah, langitnya masih sama, hanya pusaran tiada akhir angin keras sekuat badai yang menutupi dan mengitari planetnya. Ia beruntung, sebuah pelindung tipis namun kokoh dirancang oleh buyut generasi mereka untuk menahan ganasnya angin beracun dan mematikan itu. Tangannya yang hanya terbagi dua jari berlubang hisap mencengkram erat kusen besi yang dingin. Matanya yang bulat, lebar dan berair terlihat tegas sekaligus lembut. Di atas kepalanya yang menyerupai kepala gurita bertengger tiara perak bertahtakan mutiara. Siluet tubuhnya yang langsing seperti manusia memanjang hingga ke dinding kamarnya yang berlapis marmer. Seorang pengawal dengan tingkat yang lebih tinggi mengetuk pintu kembar kamarnya yang berbahan dasar kayu ek. “Masuklah, Panglima Fierre.” Suara gadis tersebut terdengar dalam, berwibawa sekaligus anggun.
Pintu terbuka ke dalam, sosok makhluk yang sama melangkah masuk. Ia mengenakan pelindung baja; lempengan pelindung dada, siku, lutut, helm. Di pinggangnya melilit sabuk kulit dengan sebilah pedang bersarung di sebelah kiri. Ia duduk bersimpuh dengan sebelah kaki kanannya di depan, menundukkan wajahnya “Tuanku, Putri Chellar, Permaisuri Ratu memanggil anda ke ruangannya.”
“Saya mengerti, terima kasih. Kau boleh kembali.” Chellar mengambil jubah panjang kerajaan yang mewah; dihiasi bordiran benang emas, batu kristal, batu rubi, dan mutiara hitam. Chellar berjalan melintasi koridor dan undakan kecil dikawal oleh empat penjaga. Begitu sampai, dua orang penjaga lainnya yang telah berada di samping kanan-kiri pintu ruangan permaisuri ratu membukakan pintu, mempersilakan Chellar untuk masuk meninggalkan empat penjaga lainnya di belakang. Pintu tertutup, Chellar masih berdiri menanti perintah. “Kemarilah, sayangku.” Permaisuri mengizinkan Chellar mendekat tanpa berpaling dari kertas-kertas di atas meja.
Chellar berjalan perlahan tanpa suara menyeret ujung jubahnya yang menyapu lantai. “Sesuai, keinginan anda, Ratuku.”
“Duduklah, Putriku. Jadi apa jawabanmu? Apa kau menerima lamaran Pangeran dari daratan Cozadia?”
“Dengan segala hormatku padamu, Permaisuri Ratu. Tidak. Bukan. Tapi aku memohon sebagai anakmu ibunda,” –Chellar berjalan tergesa dan dalam detik berikutnya ia sudah bersimpuh di pangkuan ibunya–“dengarkanlah suara keturunanmu ini, bangsa mereka sudah terlalu lama menindas kaum kita dan kerajaan kecil lainnya wahai ibunda. Apakah kau dapat menerima ketika mereka menaikkan upeti, memperluas daratan kekuasaan mereka dan mengancam kita dengan kehancuran? Tidakkah dengan menerima lamaran itu hanya memberikan mereka kekuatan untuk berkuasa lebih besar lagi? Kita adalah salah satu dari lima kerajaan besar planet ini, ibunda. Kita memiliki sekutu yang tak kalah hebat, kekuatan kita bahkan setingkat lebih besar dari mereka. Lalu apakah yang membuatmu enggan menabuh genderang perang?”
“Mereka berkembang pesat dalam dua tahun terakhir ini, sayangku. Perlawanan kita hanya akan menciptakan pengorbanan sia-sia. Dua dari tiga kerajaan besar yang tersisa memilih mengikuti jejak mereka, Putriku. Kita tidak memiliki kesempatan untuk menang.”
“Ibunda, kemana keberanianmu, kemana taring dan cakarmu? Engkau yang membangun kerajaan ini harus tunduk pada kelaliman, ini sungguh menyesakkan dadaku.” Chellar berdiri angkuh, raut wajahnya berubah keras dan kasar. “Aku, Chellar Matura Eras Viner putri dari Rier Matura Eras Viner. Atas nama ibuku, aku menolak lamaran dan memilih mengibarkan bendera perang di Padang Tulang Hitam. Akan kutuliskan surat pada Kerajaan Cozadia untuk bersiap dalam waktu satu bulan. Dan perkataanku merupakan Sumpah Darah dihadapan anggota keluarga kerajaan.”
Permaisuri Ratu segera bangkit dari tempat duduknya, ekspresinya berubah marah bercampur gelisah. Ia menampar pipi putrinya. “Benar-benar lancang! Apa yang baru saja kau ucapkan! Atas nama raja sekaligus kakek-kakek buyutmu, aku menolak sumpahmu! Tarik kembali tiap kata yang telah kau ludahkan!” Dahinya yang lebar dibasahi keringat dingin, matanya yang basah berkaca-kaca, mulutnya tanpa garis bibir bergetar.
Chellar begitu terkejut atas penolakan ratu yang merupakan ibu kandungnya. Namun keterkejutannya itu tak berlangsung lama, ia segera mengontrol emosi dan mengatur nafas agar tetap tenang. “Ibunda, sumpahku adalah hukum yang mutlak. Atas kewenanganku, akan kulaksanakan sumpahku dan menjanjikan kemenangan serta kejayaan untukmu, Panjang Umur Permaisuri Ratu.” Chellar membungkuk hormat. “Jika tidak ada hal lain yang akan kita bicarakan, sebaiknya aku kembali mempersiapkan strategi yang akan membimbing kita pada kemakmuran. Maafkanlah kekurangajaranku, Ibunda. Permisi.”
Begitu pintu tertutup, suasana kamar berubah suram, tanpa suara, sehening cahaya pilar yang masuk melalui jendela. Langkah kaki Chellar teredam suara gesekan pelindung baja para pengawalnya. Ia melintasi koridor dengan perasaan kacau, “Dyierre Putra Mnyx, beritahu Perdana Menteri untuk menemuiku sekarang.”
Sambil berjalan si pengawal menundukkan kepalanya memberi hormat lalu bergegas menuju ruangan perdana menteri. Mata Chellar berkilat ambisius. Sorot mata tersebut menampakkan kemenangan dalam genggamannya.
***
Ketukan pada pintu kembar tengah aula di mana sang pangeran muda duduk penuh kuasa di atas singgasananya. Di atas kepalanya yang hampir transparan dan dipenuhi urat-urat biru tipis, bertengger mahkota raja. “Masuklah, Ath.” Seseorang setinggi dua meter, bertubuh kurus, mengenakan jubah hitam dengan tudung kepala melintasi ruangan, pintu di belakang punggungnya telah tertutup rapat.
“Tuanku,” si sosok misterius berubah wujud menjadi seekor rubah berbulu putih dengan garis jingga, sepasang tanduk rusa bertengger di kepalanya. “Dengan segala hormat, hamba sampaikan sepucuk surat dari Kerajaan Accas.” Tangan kecil halus pangeran berumur empat belas tahun itu mengambil lalu membacanya.
“Sumpah perang lainnya, Ath. Kali ini dari daratan Accas yang tersohor dengan penemuan genetik tumbuhannya. Selama ini kita menjalin hubungan baik dengan mereka, karena hanya merekalah ‘Raksasa Hijau’ di planet tandus ini. Kali ini, bagaimana kau mendapatkannya?”
“Surat itu berhasil hamba duplikat tanpa diketahui Perdana Menteri, Tuan. Kelihatannya, beliau berniat menjauhkan anda dari sekutu yang dapat mendukung kedudukan anda, Tuanku.”
“Buktinya masih belum cukup, Ath. Tanpa bukti yang kuat, aku tidak bisa menyingkirkannya. Ditambah ia menguasai hampir setengah suara yang seharusnya berada di tanganku. Jika bertindak gegabah, sama saja dengan menggali lubang kubur sendiri.”
Ath menengadahkan wajahnya. “Tapi jika anda biarkan terus menerus, paman anda akan menggulingkan anda dalam waktu singkat dengan mengadu domba seluruh kerajaan.” Si rubah bertanduk menunduk. “Ah, maafkan kelancangan hamba, Tuanku.”
“Tidak, kau benar Ath. Kita terlalu lama berdiam diri dalam bayangannya. Sudah saatnya kita mengambil langkah tegas dan menunjukkan pemimpin yang sebenarnya, serta meluruskan segala kesalahpahaman ini.” Sang pangeran belia berdiri dari singgasananya memberi aba-aba agar si rubah mutan kembali merubah wujudnya dan mengikuti jejaknya.
***
Pupil mata berair berwarna gelap itu melebar mengamati tiap barisan kalimat dalam secarik surat. Sedetik kemudian kertas tersebut diletakkan di atas meja di hadapannya. “Perdana Menteri Sath, katakan padaku, apakah sebaiknya kita menerimanya?” Tanya pemimpin Kerajaan Coart.
“Hamba tidak dapat memutuskan hal tersebut, Tuanku. Segala keputusan berada di tangan Anda.” Sang perdana menteri masih menundukkan wajahnya.
“Aku sudah bersumpah untuk tidak ikut berperang dengan memihak kerajaan lain. Tapi kita sudah banyak dibantu saat musim paceklik. Mungkinkah ini jalan terbaik untuk membalas budi mereka, Wahai Abdiku yang Setia?”
“Jika memang itu keputusan Anda, Tuanku, hamba akan segera mengatur segalanya sesuai perintah Anda.”
***
Sang putri congkak berdiri di atas kendaraannya yang melayang di udara–bantuan senjata perang dari Kerajaan Coart. Sebanyak 2.500 pasukan berdiri berjajar jauh di bawah–di barisan depan berdiri tegak hewan-hewan mutan hasil rekayasa genetika yang dilengkapi senjata, menanti perintah. Si gadis mencari-cari kehadiran raja yang akan diperanginya dalam barisan depan lawan yang tak kalah banyaknya. Sang perdana menteri kembali dari inspeksinya dengan kendaraan yang sama, lalu melaporkan hasilnya.
“Dia tidak hadir?! Lancang! Dia telah meremehkan dan merendahkan kita! Apa dia pikir hanya dengan mengandalkan perdana menterinya saja ia dapat mengalahkan kita?! Bawakan aku kemenangan Ferth!”
Sang perdana menteri meniup terompet. Tanda dimulainya peperangan besar.
***
Dalam waktu berhari-hari sang raja muda daratan Cozadia bernegosiasi dengan para sekutu pamannya, mencoba segala cara untuk mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan mereka. Namun rupanya satu bulan masihlah belum cukup untuk menghentikan peperangan. Raja belia tersebut masih belum meluruskan permasalahan dengan Kerajaan Accas. Yang dapat ia lakukan hanya berusaha untuk hadir sebelum peperangan dan menjelaskan segalanya. Namun sayangnya ia terlambat.
Sang raja belia menghentikan ular separuh kuda terbang itu di atas perbukitan berjarak satu kilometer dari Padang Tulang Hitam. “Ath, mulai dari sini aku akan melakukan perjalananku sendiri. Dari jarak sejauh ini kita sudah mendengar gemuruh peperangan, aku berpikir, situasi ini akan bertambah buruk.”
Ath, mencengkram tangan tuannya, wajahnya berubah kecewa, “Tuanku, aku sudah bersumpah untuk selalu bersamamu. Apapun yang terjadi, aku ingin tetap di sampingmu. Mendampingimu hingga tetes darah terakhirku.”
“Ath, begitu mulia dan tulus permintaanmu, tapi–”
“Tuanku, meski engkau meninggalkanku, aku akan menyusulmu. Meski engkau mematahkan kakiku, aku akan merayap mencapaimu. Meski engkau menghunuskan pedangmu di jantungku, rohku akan selalu di sisimu.”
Si anak lelaki menghembuskan nafas, ia menyerah melawan budaknya yang keras kepala. “Baiklah Ath, jika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan kita. Bersiaplah untuk melarikan diri.”
Kini mereka berada di tengah kecamuk perang mengerikan, dengan sekuat tenaga, Ath menyingkirkan penghalang yang muncul di hadapan mereka tidak peduli lawan atau kawan, asalkan tuannya selamat. Sang raja muda bertanya nyaris berteriak, “apa kau melihatnya, Ath?”
Tentakel panjang Ath menunjuk ke sebelah tenggara, makhluk yang sama dengan majikannya. Mengenakan pakaian perang kerajaan, membantai musuh-musuhnya tanpa ampun. “Sebelah sana, Tuan!”
Begitu mereka hendak berkelok, sebuah tombak panjang berlumur darah melesat ke arah si raja belia tanpa diketahui oleh Ath. Begitu menembus tubuh tuannya hingga setengah panjang tombak, Ath tercengang tanpa suara. Ia begitu terkejut. Nafasnya tersentak, jantungnya berdegup cepat tak terkontrol, mereka limbung di udara, kehilangan keseimbangan lalu dengan kecepatan konstan menukik daratan yang dipenuhi gerombolan makhluk tak bernyawa.
Ia tidak peduli jika tubuhnya terluka ketika menghunjam tanah. Dipeluknya erat-erat tubuh majikannya yang terdiam kaku. Sedikit demi sedikit Ath berusaha bangkit dengan mendudukkan tubuh majikan kesayangannya di atas pangkuan yang lusuh. Dipandangnya wajah tenang seakan tanpa rasa sakit. Dalam sekejap kelebatan ingatan tentang sosok majikannya menumpuk di matanya. Bagi Ath, majikannya tidak hanya sekedar raja muda yang bijak, teman atau bahkan sahabat. Majikannya telah menganggap hewan mutan hina seperti dirinya sebagai saudara.
Kemarahan, kekesalan, kekecewaan, dan kesedihan Ath menumpuk. Pipinya telah dibanjiri darah hitam. Ia mengendus tombak tersebut untuk menangkap pelakunya. Ath tersentak diam, ia mengangkat wajahnya ke langit-langit lalu meraung buas. Pada detik itu peperangan terhenti tiba-tiba. Setiap individu dapat mendengar jeritan mengerikan itu dengan radius berkilo-kilometer. Tanpa mereka sadari peperangan ini telah membangkitkan makhluk liar dari jurang kegelapan.
Tubuh Ath membengkak tak berupa. Dua kaki besar menopang tubuhnya yang proposional. Ekor tebal nan panjang tumbuh bebas. Di kepalanya terdapat delapan mata dengan sepuluh tentakel yang mencuat dari leher. Tanduk kecil muncul di atas hidungnya diikuti dua tanduk melingkar yang lebih besar di atas kepalanya.
Beberapa prajurit yang ketakukan langsung meninggalkan arena pertarungan, menyelamatkan diri dengan mengambil paksa kendaraan yang awalnya berfungsi sebagai senjata perang. Namun sebagian besar masih bertahan, berharap monster itu adalah bantuan untuk mengalahkan musuh di hadapan mereka.
Si monster mengerikan membuka mulutnya yang lebar, di sana terkumpul cahaya panas, sedetik kemudian ia melontarkan cahaya tersebut. Dalam sekejap jajaran pilar energi planet mereka musnah hingga ribuan meter. Merusak keseimbangan pelindung tipis hingga muncul retakan yang membahayakan. Seluruh makhluk yang berkumpul dari kerajaan-kerajaan berbeda itu tahu, mereka harus menunda perang di hadapan mereka dan menghadapi makhluk buas tersebut sebelum menyatakan kemenangan atas pihak yang lain.
Sayangnya Ath terlalu kuat. Ia mengibaskan ekornya ke sana-kemari, menghancurkan barisan makhluk yang ikut bertanggung jawab pada kematian tuannya, tidak peduli siapa yang dihadapi. Ratusan anak panah bersiap dilontarkan, namun hal itu tidak membuat Ath gentar. Hatinya jauh lebih sakit daripada tusukan kecil mainan yang menyedihkan menyedihkan. Ath menarik salah satu tentakel dari tubuhnya lalu, melontarkannya ke arah jajaran pemanah, ratusan lintah gigi tajam muncul melumat mangsanya yang tak berdaya.
Prajurit perang yang masih belum menyerah, melontarkan detonasi-detonasi dengan daya ledak kuat. Asap kelabu tebal mengepul di sekitarnya, Ath terdiam, nafasnya tersengal-sengal. Monster itu agak limbung dari pijakannya. Para prajurit bersorak sorai mengira akan membunuh makhluk itu. Ath menengadahkan wajahnya. Hidungnya mendengus keras, Ath mengumpulkan cahaya panas di mulutnya, para prajurit ketakutan. Mereka semakin gencar melakukan perlawanan, namun hal itu segera berakhir, si monster menembakkan sinar yang sama dengan kekuatan penuh. Pelindung tipis kokoh planet tersebut hancur total. Angin keras melesak masuk, memporak-porakan makhluk hidup di dalamnya. Menghancurkan apapun tanpa menyisakan celah. Meski demikian, beberapa prajurit yang berhasil kabur pada perang tersebut menyelamatkan diri keluar planet dengan kapal induk kerajaan. Meninggalkan ledakan hebat di belakang, bersiap menginvasi planet lain yang dapat dihuni.
fin
NB: dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1292185
Tidak ada komentar:
Posting Komentar