Rabu, 01 November 2017
Wondering Angel
Aku pernah hidup menjadi sosok yang ditakuti, tapi itu dulu. Sangat lama sekali. Hingga kemudian aku mati tanpa diketahui siapapun. Hanya saja beberapa yang memiliki jabatan penting tahu, ratu memiliki anjing penjaganya yang setia. Dia bekerja keras mencari dan memusnahkanku hanya untuk melegakan hati yang mulia ratu. Tapi aku sama sekali tidak dendam, aku juga tidak marah, justru aku menikmati pekerjaanku yang sekarang.
Hal yang kukerjalan bukanlah hal yang menyenangkan bagi setiap orang. Kebanyakan dari mereka justru berharap aku tidak pernah datang. Karena aku hanya membawakan kesedihan dan kesengsaraan pada hati orang-orang yang ditinggalkan. Benar, makhluk sejenisku memanggilku Reaper, Jack the Reaper.
Entah apa yang membuatku hidup di dunia pertengahan antara manusia dan Tuhan. Yang jelas aku hanya mematuhi perintah yang diberikan Sang Maha Agung, meski tidak secara langsung kuterima. Dia akan menyampaikan pesannya melalui Gabriel sebelum sampai di tanganku. Dan aku sendiri tidak pernah ambil pusing dengan hal itu.
Kehidupan keduaku berjalan seperti biasa, mendatangi manusia, menunggu waktunya tiba, lalu memutus keterikatan raga dan ruh. Kemudian aku melihat ruh itu melesat ke atas, entah kemana. Aku hanya diberikan tugas monoton itu setiap waktu. Tapi aku tidak mengeluh juga tidak mempertanyakannya. Jika sudah selesai aku akan membaca daftar berikutnya dan melakukan hal serupa pada manusia berbeda.
Hingga kemudian aku bertemu dengan kandidat selanjutnya. Dia seorang gadis depresi yang terpojokkan di atas atap sebuah gedung yang kukenal. Yah, aku hapal semua tempat di bumi ini tanpa terkecuali. Sebab tak jarang aku berkunjung lebih dari satu kali di tempat yang sama, yang berbeda hanya penghuninya saja.
Gadis itu dikelilingi beberapa orang manusia yang tampak cemas dan khawatir. Dan mungkin mereka berharap si gadis tidak melakukan tindakan bodoh, seperti melukai dirinya sendiri atau orang lain –di tangannya terdapat sebilah pisau besar kurasa. Dia mengayun-ayunkan pisau itu seakan melarang orang lain mendekat, hanya tinggal waktu saja ia membunuh orang lain dengan sikapnya itu. Tapi aku hanya memperhatikannya saja, bukan tugasku untuk menyadarkannya. Yang kulakukan hanya melaksanakan tugas yang seharusnya kulakukan, itu saja.
Seperti biasa manusia depresi manapun akan mengocehkan hal yang tidak karuan, gadis ini pun sama. Aku hanya bersiap-siap sambil menggenggam erat schythe dengan kedua tanganku yang hanya kerangka tulang saja.
“Tuhan tidak ada! Dasar kalian bodoh!” Oh, ternyata seorang atheis rupanya. Bukan masalah bagiku, aku tidak begitu peduli dengan latar belakang, agama, suku atau ras mana dia berasal. Si gadis kembali mengacungkan pisau besar di tangannya, tentu saja manusia normal tidak akan mendekat. “Surga atau neraka yang selama ini kalian ributkan juga hanya ilusi permainan roh jahat yang kalian sebut Tuhan!”
Hmm, aku sedikit berpikir saat itu. Rasanya memang ada yang aneh dengan tugas yang kuemban selama ratusan tahun ini. Aku tidak pernah sekalipun menyinggung masalah itu. Padahal sewaktu hidup, aku juga seorang penganut agama yang taat hanya saja aku kecewa dengan kenyataan dan memilih jalan itu.
Seorang pendosa sepertiku seharusnya dijebloskan dalam neraka, bukan mendapatkan kesempatan kedua. Lagipula kesempatan ini bukanlah kesempatan biasa yang bisa didapat dengan tiket dosa. Meskipun malaikat kematian, tapi jabatan yang kudapatkan terlalu mulia hanya untuk sekedar melayani Sang Kuasa.
Banyak hal yang kupertimbangkan setelah mendengar perkataan gadis itu. Walaupun begitu, aku tetap menjalankan tugasku dengan baik. Dia terjatuh dari lantai lima akibat terpeleset dan meluncur dengan menghantamkan kepalanya terlebih dulu. Bukan cara mati yang baik tapi itulah yang tertulis. Dengan segera rohnya melesat dengan cepat, sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Justru yang berubah adalah pendirianku.
***
Aku duduk di bangku sebuah kafe kecil dengan menyandarkan schythe di sampingku. Yah, itu bukanlah sebuah kafe kecil dari sekian jumlah kafe yang dibangun. Justru itulah satu-satunya kafe yang ada. Tapi aku sendiri tidak tahu mengapa tempat ini tersedia di dunia seperti ini. Apa ini salah satu bentuk kasih sayang Sang Agung? Banyak hal yang janggal terjadi –aku meneguk cairan dari dalam gelas di tanganku, aku sendiri tidak yakin cairan jenis apa yang masuk mengalir ke tenggorokanku ini. Yang jelas setelah menelannya tubuhku terasa segar. Aku meletakkan gelas kosong itu di hadapanku lalu memainkan ujung bibirnya dengan memutar-mutar jariku yang panjang dan kering.
Seseorang menepuk punggungku, suaranya terdengar familiar. “Yo, Jack, ada tugas untukmu hari ini.”
“Gabriel, aku akan suruh bawahanku untuk menggantikanku, saat ini aku tidak ingin melakukan apapun.” Meski begitu aku menerimanya dan menarik salah satu benang tipis di jariku. Menarik siapapun untuk melakukan hal tersebut. Dalam kedipan mata, bawahanku datang dan segera menerima daftar kematian. Ia langsung pergi melaksanakan perintahku tanpa bantahan.
“Tidak biasanya kau memberikan tugasmu sendiri dan memberatkan bawahanmu, Jack.”
“Yah, banyak yang sedang kupikirkan, Gab.” Gelasku kembali terisi, entah bagaimana aku menyebut makhluk yang mengisinya. Hal tersebut cukup menggangguku, padahal biasanya aku tidak memikirkan hal kecil seperti itu sebelumnya. “Hei Gab, kau hidup lebih lama dariku. Atau bisa kukatakan kau bangkit setelah Tuhan menciptakan segalanya, seperti apa Tuhan sebenarnya?”
Pria atau wanita, hmm.. bagaimana aku menyebutnya ya. Malaikat bisa memilih wujud mereka sesuka hati bahkan menjadi protozoa sekalipun, kali ini Gabriel memilih untuk mengambil wujud seorang lelaki muda dengan rambut keriting sepanjang leher. Sedangkan aku, aku suka dengan wujudku saat ini. wujud yang membuat manusia menggeliat ketakutan hingga ke ujung bulu roma mereka. Aku akui terdapat setitik kepuasan di hatiku ketika melihat hal tersebut, aneh. Aku pun mendengar desahan Gabriel yang terasa putus asa sepertiku. Dia mulai membuka mulutnya, “kau tahu, meski aku lebih lama darimu. Aku tidak memiliki kemampuan setinggi itu. Ada mekanisme rumit yang membuatku tidak bisa menemui Sang Agung secara langsung. Aku pun hanya mendapatkan perintah melalui suara yang tidak menunjukkan identitas gender, tanpa bisa melihatnya. Kemudian aku menuliskannya dan, voila, jadilah kertas wahyu yang kalian dapatkan.”
Aku hanya bisa menggoyang-goyangkan gelas yang berisi cairan di tanganku tanpa bersuara. Terdengar beberapa dentingan es yang saling beradu lembut. Hmm, aku tidak tahu itu memang es atau bukan. Tapi terasa dingin, perasaan yang sama ketika aku hidup dulu. Aku melirik sendu tanpa merubah posisi wajahku, “lalu, kemana jiwa yang ku-eksekusi selama ini? Apa mereka diadili dan masuk ke surga atau neraka seperti dalam kitab yang kubaca ketika hidup?”
Gabriel hanya menggelengkan kepala, “Aku tidak tahu sobat, aku bahkan ragu di sini ada yang namanya surga atau neraka. Aku tidak pernah diizinkan untuk melihatnya atau mungkin lebih tepat aku tidak pernah melihatnya.”
Gabriel menyandarkan punggungnya di dekat meja yang sama denganku. Wajahnya menengadah ke langit-langit ruangan. “Kita hanyalah kepanjangan tangan dari Tuhan. Pengetahuan yang kita miliki pun terbatas sesuai dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai rasa penasaran seperti yang dimiliki manusia hinggap dalam hatimu, Jack. Hal itu hanya akan menghancurkanmu.”
Aku mendengus kecewa kemudian menelan habis cairan dalam gelas. Setelah penjelasan pasrah itu berakhir, justru semakin banyak hal yang aku pertanyakan. Akhirnya aku tersadar, bagaimana aku bisa mencerna cairan ini? Tubuhku hanya tulang belulang yang ditutupi jubah hitam dengan tudung yang menghalangi sedikit wajahku. Cairan itu tidak berjatuhan tapi justru menyebar dengan cepat ke seluruh tubuhku. Seakan terserap habis oleh tulang kering yang kelaparan.
Aku tidak pernah mendengar pengadilan Tuhan memutuskan tempat jiwa yang kukirim. Aku juga tidak tahu bagaimana Sang Mulia memperbarui energi kami dengan meminum ini. Aku bahkan tidak mengerti cara kerja semua ini. Akupun datang pada kesimpulan menggantung, mungkinkah jiwa-jiwa yang berasal dari boneka mainan yang disebut manusia itu justru menjadi penopang kehidupan kami?
fin
NB; dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1098804-lomba-cerbul-kasfan-november-12
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar