Kamis, 10 Maret 2022

Fisabilillah Jalanan

Tulisan ini sebenarnya sudah lama juga, tapi lumayan good pengalamannya he

Jadi ceritanya, waktu itu berangkat kerja lewat jalan Soekarno-Hatta. Setelah perjalanan panjang yang bikin lelah batin (macet, ya lampu merahnya lama, dan angkot ngetem), lalu kembali terjebak macet di perempatan Cibinong, tiba-tiba saja perhatian teralihkan ke suara seorang pengamen jalanan.

Bukan lagunya yang bikin saya terpukau, tapi dakwah yang beliau sampaikan saat mencari nafkah. Setelah selesai memainkan kecrekan dan menyanyikan satu - dua bait lagu, pria berusia 30 tahunan itu berhenti lalu mengkhutbahkan petikan ceramah. Entah ia dengar darimana.

Hmm.. menarik. Saya pun melipir ke pinggir lalu menunggu beliau untuk istirahat.

Rabu, 09 Februari 2022

Mengilhami Kehidupan Berbisnis dari Makna Al-Qur’an

Hobi jika ditekuni secara serius, dapat berpeluang menjadi bisnis yang menjanjikan. Kecintaan Sherly Azzahra pada bidang fashion membawanya menjadi Owner Shezza Hijab. Meski begitu, jalannya selama merintis usaha bisa dikatakan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dia pun harus melalui proses panjang dan jatuh bangun dalam membangun usahanya seperti sekarang ini.

Awalnya, Sherly merupakan pegawai dari sebuah perusahaan swasta. Di sela-sela waktunya, dia masih sempat untuk menjahit dan berkreasi membuat desain pakaian yang kekinian. Sherly mengelola grup di media sosial facebook, tidak jarang, hasil jahitannya dia unggah. Tak disangka, pembaca setianya menaruh minat pada setiap model buatannya.

Kamis, 29 November 2018

Kala Hujan Menyapa




Foto: cnnindonesia


Hanya ingin sharing *HWEHEHEHEHE

Jadi, akhir-akhir ini aku sering banget kena ban bocor; kena paku, tambalan lepas, sampai kemarin pentil udaranya lepas #entahlah apa namanya

Kalau sudah begitu, entah kenapa aku suka ber-feeling kalau itu bentuk teguran Allah bahwa aku sudah mulai lupa akhirat dan lebih berat ke duniawi wkwk. Soalnya, ban-ku selalu dibuat bocor sekitar beberapa meter dari tukang tambal ban, *walau memang mesti ngedorong dulu, tapi pasti ketemu sih haha

Alkisah, kemarin, sepulang kerja, di bawah rintik manis gerimis, pulang lewat stasiun Bandung. Niat awalnya sih mau beli lauk dulu untuk yang di rumah. Ya, qadarullah, stand motor oyag-oyagan, saatnya menepi. *tadinya kukira kecubles paku

Jumat, 13 Juli 2018

A Danger Tour

Sebuah perumahan kecil bernama Fantasy Cluster, terletak di Negara Indonesia, Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung. Di dalam perumahan tersebut terdapat sebuah lahan kosong yang tidak terpakai, terkadang dimanfaatkan sebagai tempat olahraga atau tempat bermain anak-anak di kala Raja Surya tengah bersiap kembali ke peraduannya.

Suatu hari, ketika seluruh penghuni Fantasy Cluster tengah terlelap dibuai sejuknya udara malam, sebuah kastil berwarna hitam kelam tiba-tiba muncul secara misterius di lahan kosong tersebut.

Suara seruling terdengar merdu dari dalam kastil, menghipnotis seluruh manusia yang mendengarnya. Mereka berjalan berbondong-bondong keluar dari dalam rumahnya yang terkunci rapat, mengikuti alunan merdu sang Peniup Seruling Harlet. Begitu tersadar mereka tengah berdiri di depan gerbang sebuah karnaval, lengkap dengan piyama yang mereka kenakan.

Seorang pria bertubuh tinggi dengan postur tubuh tidak gemuk. Ia mengenakan jas bewarna ungu dan pita besar warna kuning di lehernya. Celana hitam sepanjang lutut dilengkapi kaos kaki putih dan sepatu pantofel hitam, menyempurnakan penampilannya. Rambutnya yang di cat kuning menarik perhatian pengunjung. Topi tinggi bewarna hitam menutupi sebagian rambutnya yang bewarna nyentrik. Pria itu berjalan mendekati gerbang utama, lalu ia mempromosikan karnaval yang dipimpinnya dengan suara lantang. “Selamat datang di Blue Pearl! Nikmatilah, hiburan-hiburan yang kami sajikan!” Tangannya terbuka lebar menyambut tamu yang masuk.

Jumat, 29 Juni 2018

Sepenggal Kisah di Kelam Malam

Langit malam yang terang
Bulan menyingsing jernih di antara awan tipis
Tapi aku malah menyumpah
Berserapah sambil menanggalkan kutukan

Sakit yang dulu kau torehkan
Hingga kini pun masih kurasakan

Sunyi
Senyap
Suramnya hidupku
Tak pernah bisa kurelakan segala perih ini

Berusahalah meraih tawa, wahai pujangga
Tapi asamu hanya akan menjadi buih di lautan nun jauh

Bagaimana mungkin kubiarkan kau rengkuh kebahagiaan
Sementara kehidupan suram menantiku di depan

Tapi jangan berputus asa, wahai Pujangga..
Berusahalah,
Berusahalah,
Berusahalah, hingga kau akhirnya jatuh dalam kesengsaraan
Sama sengsara dan menderitanya dengan diriku kini

Tak akan pernah bisa kurelakan kau merengkuh asa
Selamanya, hiduplah dalam kehampaan, wahai Pujangga