Tulisan ini sebenarnya sudah lama juga, tapi lumayan good pengalamannya he
Jadi ceritanya, waktu itu berangkat kerja lewat jalan Soekarno-Hatta. Setelah perjalanan panjang yang bikin lelah batin (macet, ya lampu merahnya lama, dan angkot ngetem), lalu kembali terjebak macet di perempatan Cibinong, tiba-tiba saja perhatian teralihkan ke suara seorang pengamen jalanan.
Bukan lagunya yang bikin saya terpukau, tapi dakwah yang beliau sampaikan saat mencari nafkah. Setelah selesai memainkan kecrekan dan menyanyikan satu - dua bait lagu, pria berusia 30 tahunan itu berhenti lalu mengkhutbahkan petikan ceramah. Entah ia dengar darimana.
Hmm.. menarik. Saya pun melipir ke pinggir lalu menunggu beliau untuk istirahat.
Hal pertama yang saya sadari, perawakan pengamen ini berbeda dengan pengamen yang bisa saya temui di jalan. Kucel, wajah penuh debu, dan seringkali memakai aksesoris ala anak punk. Penampilannya cenderung rapi dan wajahnya bersih.
Berbasis insting pencari berita yang senantiasa penasaran dengan kehidupan orang lain, saya pun mulai mengajak ngobrol. Bagaimana ia bisa menyampaikan petikan-petikan ceramah sambil mengamen di jalanan.
“Saya mendengarnya saat shalat Jum’at. Yang disampaikan oleh kyai atau ustaz itu memang benar. Di surah Al-Qari’ah digambarkan sebuah neraka, yaitu neraka Hawiyah. Dimana orang-orang yang berdosa dan tidak mau bertobat akan dibakar di sana,” jelas si pengamen dengan suara lantang dan tegas.
Menurutnya, berdakwah tidak harus selalu berada dalam majelis dan masjid. Tapi jalanan pun bisa menjadi tempat untuk menyampaikan kebaikan.
“Saya menyampaikan hal tersebut ridho lillahita’ala karena Allah saja. Karena di surah Al-Ashr, termasuk orang yang beruntung yang mengerjakan amal saleh dan menasehati dalam kebenaran. Saya melakukan hal ini fisabilillah saja,” jelasnya tulus.
Itulah obrolan singkat saya dengan beliau. Sayang sekali pada kesempatan tersebut, beliau tak memberitahu namanya. Terlebih upaya saya untuk mengajaknya berbincang sepertinya tidak dalam waktu yang tepat, jadilah percakapan siang itu harus diakhiri dengan singkat.
Padahal saya cukup penasaran, bagaimana awal mulanya hingga beliau memilih untuk menjadi fisabilillah jalanan?
Ya.. pertanyaan ini semoga suatu hari nanti bisa terjawab hehe
(Narita di Bulan Maret tahun 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar