Hobi jika ditekuni secara serius, dapat berpeluang menjadi bisnis yang menjanjikan. Kecintaan Sherly Azzahra pada bidang fashion membawanya menjadi Owner Shezza Hijab. Meski begitu, jalannya selama merintis usaha bisa dikatakan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dia pun harus melalui proses panjang dan jatuh bangun dalam membangun usahanya seperti sekarang ini.
Awalnya, Sherly merupakan pegawai dari sebuah perusahaan swasta. Di sela-sela waktunya, dia masih sempat untuk menjahit dan berkreasi membuat desain pakaian yang kekinian. Sherly mengelola grup di media sosial facebook, tidak jarang, hasil jahitannya dia unggah. Tak disangka, pembaca setianya menaruh minat pada setiap model buatannya.
“Banyak yang bertanya saya membelinya dimana. Begitu saya menjelaskan jika saya membuatnya sendiri, Alhamdulillah pesanan berdatangan.” Jelas Sherly yang ditemui tim alHikmah di kegiatan workshop.
Ketika itu, Sherly hanya mengeluarkan modal awal sebanyak satu juta lima ratus ribu rupiah untuk memenuhi pesanan pakaian dari teman-teman virtualnya. Untuk mengakali karena belum memiliki rumah jahit sendiri, dia pun menyewa jasa penjahit lain agar dapat selesai tepat waktu. Sherly masih belum menaruh perhatian secara penuh untuk bisnis pakaian buatannya. Dia masih mengerjakannya sebagai sambilan. Namun, passion berkreasi dan berbisnis dalam dirinya mendorong Sherly untuk berhenti menjadi seorang pegawai.
“Akhirnya saya berpikir, kenapa tidak saya geluti saja secara serius?” Ujarnya sambil tersenyum.
Sherly pun memikirkan brand menarik dan mudah diingat untuk label pakaian yang diproduksinya. Setelah berpikir lama dan menimbang bermacam opsi, dia pun memilih Shezza Hijab. Diambil dari singkatan namanya sendiri yakni SHErly AZZAhra.
Sherly memanfaatkan sosial media berupa facebook dan BBM untuk mempromosikan produknya. Dalam perkembangannya merambah ke komunitas, instagram facebook ads, instagram ads, serta distributor-distributor yang telah terdaftar.
Keuntungan bisnisnya belum begitu besar karena masih diputar menjadi modal. Hingga ujian datang menghampirinya. Sherly berusaha melebarkan sayap bisnisnya dengan memesan bahan kepada seorang kenalannya yang dia percaya. Tak dinyana, dia justru tertipu dan menderita kerugian.
“Kain yang saya pesan berkualitas kurang baik dan saya mendapatkannya dengan harga yang sangat mahal. Meski demikian, Insya Allah, saya menanggapinya sebagai salah satu fase dalam kehidupan saya untuk meraih kesuksesan.”
Kejadian itu, Sherly pun belajar untuk menilai orang-orang yang pantas menjadi mitra usahanya di masa depan. Hal tersebut tidak lantas menyurutkan semangatnya. Sherly justru tertantang untuk bangkit dan memulai lagi usahanya ini. Dia sama sekali tidak memiliki tabungan yang dapat dimanfaatkan sebagai modal meneruskan bisnisnya. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam mengedit foto yang dia ambil dari penjual kain, Sherly mengganti sistem penjualannya dengan pre-order. Dimana, pembeli yang ingin memesan produknya harus mentransfer sejumlah dana dulu sebelum masuk proses produksi. Di bulan pertama, angka 30 juta rupiah berhasil dia peroleh dari berjualan kerudung segi empat bermotif.
Kemampuannya dalam berbisnis ini, Sherly pelajari dari perusahaan tempat bekerja sebelumnya. Di perusahaan tersebut, dirinya menempati posisi sebagai marketing. Dia banyak mendapat pelatihan dan mempelajari kondisi lapangan ketika terjun langsung. Kemampuannya semakin bertambah seiring pengalaman yang dia dapatkan.
Bagi Sherly, bisnis adalah belahan jiwanya. Dari berbisnis, dia mempelajari makna kehidupan, perjuangan untuk memupuk kekuatan mental, berbicara di depan umum, bahkan mempelajari karakteristik orang-orang yang ditemuinya.
Sosok Sherly Azzahra amat menyukai kesibukan, itu sebabnya, meski dia telah memiliki bisnis fashion tidak membuatnya lantas berdiam diri. Dia bahkan pernah bekerja di bagian farmasi sebuah rumah sakit. Selama bekerja, tidak jarang pesanan baju seragam datang padanya. Selama dua tahun kurang tiga bulan dia kembali menjadikan bisnisnya sebagai sambilan. Selama bekerja, kian memantapkan hatinya untuk terjun secara penuh ke dalam bisnis.
Bisnis fashion miliknya ini pernah vakum beberapa waktu. Setelah pernikahannya dengan seorang teman dari lembaga training motivasi di Bandung, Sherly dan suaminya membuka sekolah informal di Jalan Sulanjana yang mengajarkan soft skill; writing, public speaking, dan entrepreneur, dengan tenaga pengajar yang mumpuni. Begitu pindah ke Jalan Pelajar Pejuang, Sherly dan suami kembali melirik usaha fashion yang dulu pernah dibangun.
“Setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita pasti ada rencana Allah yang baik.”
Seorang kenalan dari suaminya menawarkan kerjasama untuk melanjutkan kembali sepak terjang bisnis Shezza Hijab yang sempat terhenti. Jika dulu Shezza Hijab merupakan usaha independen, saat ini, Shezza Hijab berada di bawah naungan perusahaan. Semenjak kerjasama itu, Shezza Hijab berkembang amat pesat. Dimulai dari produksi khimr segi empat yang bisa mencapai 1000 potong. Pada bulan pertama, dia kembali mendapat keuntungan hingga 30 juta rupiah. Selain itu, banyak juga retail yang menaruh minat dan akhirnya bekerja sama dengannya. Dengan kisaran harga jual dari 150 ribu rupiah sampai satu juta rupiah.
Langkah Shezza Hijab kembali terjegal dengan bermacam rintangan. Adakalanya kondisi Shezza Hijab bagai makan buah simalakama. Hal tersebut disebabkan kurang efektifnya promosi yang dilakukan, karena Sherly tengah mengandung anak pertama.
“Yang memegang bagian promo, saya dan suami. Itu sebabnya, pamor Shezza Hijab agak melempem kala itu.”
Namun, diakhir tahun 2015, pihaknya berusaha menaikkan kembali citra Shezza Hijab. Dengan memproduksi pakaian jenis dress. Tentu ada hambatan-hambatan yang harus dihadapi Shezza Hijab untuk lepas dari keterpurukan, diantaranya rumah jahit, quality control, butik, dan desain. Untuk menyelesaikan masalah itu, Sherly menutup kekurangannya dengan belajar Fashion Desainer di Jalan Banda.
“Insya Allah, tanggal 6-9 April 2017, saya akan melakukan fashion show di Jakarta Convention Center, pada acara Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2017.”
Shezza Hijab amat menjaga kualitas, baik bahan maupun hasil akhir. Itu sebabnya, Sherly tidak segan-segan untuk turun ke lapangan saat mencari bahan yang akan digunakan untuk produk buatannya. Dan melakukan pengecekan sendiri sebelum membeli dalam jumlah besar.
“Ini juga tips bagi pemula yang tertarik ikut bergerak di bidang fashion. Untuk pemilihan kain yang akan digunakan sebagai bahan dasar, jangan sungkan untuk memegang kain dan merasakannya di kulit. Hal tersebut bertujuan untuk memutuskan, apakah kain tersebut nyaman atau tidak.” Jelas Sherly ramah.
Saat ini, Shezza hijab telah diekspor hingga ke luar negeri. Diantaranya negara Hongkong, Singapore, Malaysia, dan Arab. Untuk butik, Shezza Hijab masih memiliki satu, di Bandung. Sedangkan distributor, Sherly mengatakan, telah memiliki 10 yang tersebar di Hongkong, Singapore, Malaysia, Arab, dan seluruh Indonesia.
Selain konsen di bidang ekonomi, Sherly juga memiliki kepedulian terhadap sesama. Dia mendirikan sebuah Madrasah Diniyah, Riyadhul Jannah di Ciwidey dan berencana membuat Rumah Tahfidz.
“Saya berharap, Shezza Hijab ini dapat menjadi jembatan bagi para muslimah untuk bertumbuh, berkarya, dan berinspirasi. Dan semoga Shezza Hijab dapat berkembang menjadi lebih baik juga dapat mendakwahkan kebaikan.”
Membaca Al-Qur’an dan artinya
Hambatan dan rintangan merupakan proses yang perlu dijalani untuk berkembang, baik pribadi maupun perusahaan. Shezza Hijab pun tidak terkecuali. Dalam jenjang karirnya, terdapat dinding yang perlu dihadapi untuk menjadi Shezza Hijab seperti sekarang ini.
Sherly pernah mengalami kesulitan mencari konveksi yang bersedia memproduksi secara missal. Seorang teman memperkenalkannya dengan sebuah konveksi yang diketahuinya. Sample yang diberikan usaha konveksi itu, amatlah terjamin kualitasnya. Dan Sherly sangat puas dengan sample yang diterimanya. Dijalinlah kerjasama.
Sayangnya, sample hanyalah sample. Sherly harus menelan pil pahit. Hasil produksi usaha konveksi itu mengecewakannya. Dimulai dari waktu yang selesai diluar perjanjian awal dan kualitas produk yang rendah. Namun, Sherly kembali melihatnya sebagai motivasi. Dia pun menabung untuk memiliki rumah jahit sendiri.
“Alhamdulillah, Januari awal kemarin, sudah memiliki rumah jahit sendiri.”
Sikap, pemikiran, bahkan motivasi positif yang ditunjukkan Sherly selama berjuang mempertahankan Shezza Hijab tidak lepas dari dukungan keluarga dan kesukaannya membaca Al-Quran serta terjemahannya. Untuk memaknai isi Al-Qur’an tersebut, Sherly mengakui, dirinya sampai beberapa mengulang artinya hingga ia paham maksudnya. Dari hal itu perasaan tenang, nyaman, dan aware terhadap petunjuk yang Allah berikan, perlahan masuk dan menenangkan hati.
Setiap kejadian apapun pasti ada rencana Allah yang baik, prinsip inilah yang selalu diterapkan Sherly ke dalam kehidupannya. Dan hal ini terbukti dari produksi yang awalnya telah Sherly anggap gagal, justru memberinya berkah dan membuat nama Shezza Hijab semakin dikenal.
“Kita harus selalu yakin dan berpikiran positif. Allah pasti akan memberikan yang terbaik pada kita dengan jalan yang tidak bisa diduga.” (nar)
(Published at Majalah Al Hikmah edisi 134, Rubrik Muslimpreneur)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar