
Foto: cnnindonesia
Hanya ingin sharing *HWEHEHEHEHE
Jadi, akhir-akhir ini aku sering banget kena ban bocor; kena paku, tambalan lepas, sampai kemarin pentil udaranya lepas #entahlah apa namanya
Kalau sudah begitu, entah kenapa aku suka ber-feeling kalau itu bentuk teguran Allah bahwa aku sudah mulai lupa akhirat dan lebih berat ke duniawi wkwk. Soalnya, ban-ku selalu dibuat bocor sekitar beberapa meter dari tukang tambal ban, *walau memang mesti ngedorong dulu, tapi pasti ketemu sih haha
Alkisah, kemarin, sepulang kerja, di bawah rintik manis gerimis, pulang lewat stasiun Bandung. Niat awalnya sih mau beli lauk dulu untuk yang di rumah. Ya, qadarullah, stand motor oyag-oyagan, saatnya menepi. *tadinya kukira kecubles paku
Tadinya mau ku bawa balik ke paskal, tapi mengingat jalur jalan minim penerangan, jadilah maju terus ke arah Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Beberapa kali pengendara motor yang peduli menepi. Menawarkan bantuan, kalau-kalau aku habis bensin. Tapi, bensin saya full akang-akang, angin ban saya yang kabur tanpa permisi.
Hingga akhirnya ada seorang Ojol Gr*b yang menyapa, kami mengobrol singkat soal tukang ban. Disitulah, Allah mempertemukan saya dengan bapak tambal ban di gang dekat GIM. Setelah mengucap terima kasih dan pamit, kembali motor saya dorong ke tempat bapak mencari nafkah.
Tidak seperti bengkel lainnya, pompa anginnya ada di atas gerobak kayu dengan tudung plastik. Karena hujan tak kunjung reda, sang bapak pun menawarkan saya untuk berteduh di sepetak ruang singgahnya. *tau ruang singgah soalnya cuman ada lemari display minuman, kulkas sedang, kursi 2, kabel-kabek untuk jasa service menggantung di langit-langit ruangan yang rendah dan sisa peralatannya berserak di atas meja paten menempel ke dinding. *kebayang dong sempitnya kayak apa?
Di bawah lampu sorot gang, si bapak mulai mengerjakan ban motor saya. Mengganti dengan yang baru setelah menunjukkan pentil udara yang rusak. Seperti biasa, waktu menunggu seperti itu, saya gunakan untuk main game. Tapi gak lama sih, soalnnya baterai juga udah merah dan jerit-jerit di layar.
Sambil menunggu selesai, saya perhatikan ruangan singgah beliau yang kecil dan orangnya yang sedang berjibaku di tengah hujan. Betapa saya sering kali lupa bersyukur dengan nikmat yang diberikan.
Lupa kalau di sebagian penghasilan yang saya terima, ada harta mereka yang seharusnya saya keluarkan setiap bulan. Dan lupa, ketika saya mendongakkan kepala melihat mereka yang berpunya, ternyata masih banyak orang yang menjadikan kripik pedas sebagai makan malamnya..
Astaghfirullah..
Entah kenapa, malam itu tebersit dalam pikiran, soal pernikahan *mungkin karena ada kajian penuh baper juga tadi haha. Alangkah indahnya, kalau Allah memberikan saya kesempatan untuk mengarungi biduk rumah tangga kelak, kami bisa berbagi juga ke kalangan tak berpunya.
Tak perlu menggelar panggung, mengundang banjidoran, atau debus di gedung besar, cukup memotong 2-3 kambing. Sebagian untuk menjamu tamu untuk tasyakur bin nikmah, sebagian dikemas dalam dus untuk ditebar kepada mereka.
Berharap, kelak, bisa bertemu dengan orang dan keluarga yang punya visi dan misi yang sama seperti ini. Jangan sampai, calon misua sudah oke dengan cara membumi, eh keluarga besarnya berakhlak borjuis. Kan repot haha
Malam itu pun berakhir. Sang bapak memberi kode kalau pengerjaannya sudah selesai *kukira kaum cewek aja yang pandai meng-kode pasangannya #plak
Sembari berterima kasih, saya pun melebihkah sedikit bayaran yang seharusnya si bapak terima. Dan betapa terenyuh saya menerima ucapan syukur dan terima kasih yang begitu tulus dari hati. Raut wajahnya seketika mengademkan kekalutan pikiran saya.
Sambil mengarungi jalanan yang basah, saya pun pulang ke rumah. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari pengalaman ini, terutama bagi diri saya sendiri..
Nulis sambil menyeruput air putih
Narita Amalia, 09/11/2018
Jadi, akhir-akhir ini aku sering banget kena ban bocor; kena paku, tambalan lepas, sampai kemarin pentil udaranya lepas #entahlah apa namanya
Kalau sudah begitu, entah kenapa aku suka ber-feeling kalau itu bentuk teguran Allah bahwa aku sudah mulai lupa akhirat dan lebih berat ke duniawi wkwk. Soalnya, ban-ku selalu dibuat bocor sekitar beberapa meter dari tukang tambal ban, *walau memang mesti ngedorong dulu, tapi pasti ketemu sih haha
Alkisah, kemarin, sepulang kerja, di bawah rintik manis gerimis, pulang lewat stasiun Bandung. Niat awalnya sih mau beli lauk dulu untuk yang di rumah. Ya, qadarullah, stand motor oyag-oyagan, saatnya menepi. *tadinya kukira kecubles paku
Tadinya mau ku bawa balik ke paskal, tapi mengingat jalur jalan minim penerangan, jadilah maju terus ke arah Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Beberapa kali pengendara motor yang peduli menepi. Menawarkan bantuan, kalau-kalau aku habis bensin. Tapi, bensin saya full akang-akang, angin ban saya yang kabur tanpa permisi.
Hingga akhirnya ada seorang Ojol Gr*b yang menyapa, kami mengobrol singkat soal tukang ban. Disitulah, Allah mempertemukan saya dengan bapak tambal ban di gang dekat GIM. Setelah mengucap terima kasih dan pamit, kembali motor saya dorong ke tempat bapak mencari nafkah.
Tidak seperti bengkel lainnya, pompa anginnya ada di atas gerobak kayu dengan tudung plastik. Karena hujan tak kunjung reda, sang bapak pun menawarkan saya untuk berteduh di sepetak ruang singgahnya. *tau ruang singgah soalnya cuman ada lemari display minuman, kulkas sedang, kursi 2, kabel-kabek untuk jasa service menggantung di langit-langit ruangan yang rendah dan sisa peralatannya berserak di atas meja paten menempel ke dinding. *kebayang dong sempitnya kayak apa?
Di bawah lampu sorot gang, si bapak mulai mengerjakan ban motor saya. Mengganti dengan yang baru setelah menunjukkan pentil udara yang rusak. Seperti biasa, waktu menunggu seperti itu, saya gunakan untuk main game. Tapi gak lama sih, soalnnya baterai juga udah merah dan jerit-jerit di layar.
Sambil menunggu selesai, saya perhatikan ruangan singgah beliau yang kecil dan orangnya yang sedang berjibaku di tengah hujan. Betapa saya sering kali lupa bersyukur dengan nikmat yang diberikan.
Lupa kalau di sebagian penghasilan yang saya terima, ada harta mereka yang seharusnya saya keluarkan setiap bulan. Dan lupa, ketika saya mendongakkan kepala melihat mereka yang berpunya, ternyata masih banyak orang yang menjadikan kripik pedas sebagai makan malamnya..
Astaghfirullah..
Entah kenapa, malam itu tebersit dalam pikiran, soal pernikahan *mungkin karena ada kajian penuh baper juga tadi haha. Alangkah indahnya, kalau Allah memberikan saya kesempatan untuk mengarungi biduk rumah tangga kelak, kami bisa berbagi juga ke kalangan tak berpunya.
Tak perlu menggelar panggung, mengundang banjidoran, atau debus di gedung besar, cukup memotong 2-3 kambing. Sebagian untuk menjamu tamu untuk tasyakur bin nikmah, sebagian dikemas dalam dus untuk ditebar kepada mereka.
Berharap, kelak, bisa bertemu dengan orang dan keluarga yang punya visi dan misi yang sama seperti ini. Jangan sampai, calon misua sudah oke dengan cara membumi, eh keluarga besarnya berakhlak borjuis. Kan repot haha
Malam itu pun berakhir. Sang bapak memberi kode kalau pengerjaannya sudah selesai *kukira kaum cewek aja yang pandai meng-kode pasangannya #plak
Sembari berterima kasih, saya pun melebihkah sedikit bayaran yang seharusnya si bapak terima. Dan betapa terenyuh saya menerima ucapan syukur dan terima kasih yang begitu tulus dari hati. Raut wajahnya seketika mengademkan kekalutan pikiran saya.
Sambil mengarungi jalanan yang basah, saya pun pulang ke rumah. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari pengalaman ini, terutama bagi diri saya sendiri..
Nulis sambil menyeruput air putih
Narita Amalia, 09/11/2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar