Jumat, 13 Juli 2018

A Danger Tour

Sebuah perumahan kecil bernama Fantasy Cluster, terletak di Negara Indonesia, Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung. Di dalam perumahan tersebut terdapat sebuah lahan kosong yang tidak terpakai, terkadang dimanfaatkan sebagai tempat olahraga atau tempat bermain anak-anak di kala Raja Surya tengah bersiap kembali ke peraduannya.

Suatu hari, ketika seluruh penghuni Fantasy Cluster tengah terlelap dibuai sejuknya udara malam, sebuah kastil berwarna hitam kelam tiba-tiba muncul secara misterius di lahan kosong tersebut.

Suara seruling terdengar merdu dari dalam kastil, menghipnotis seluruh manusia yang mendengarnya. Mereka berjalan berbondong-bondong keluar dari dalam rumahnya yang terkunci rapat, mengikuti alunan merdu sang Peniup Seruling Harlet. Begitu tersadar mereka tengah berdiri di depan gerbang sebuah karnaval, lengkap dengan piyama yang mereka kenakan.

Seorang pria bertubuh tinggi dengan postur tubuh tidak gemuk. Ia mengenakan jas bewarna ungu dan pita besar warna kuning di lehernya. Celana hitam sepanjang lutut dilengkapi kaos kaki putih dan sepatu pantofel hitam, menyempurnakan penampilannya. Rambutnya yang di cat kuning menarik perhatian pengunjung. Topi tinggi bewarna hitam menutupi sebagian rambutnya yang bewarna nyentrik. Pria itu berjalan mendekati gerbang utama, lalu ia mempromosikan karnaval yang dipimpinnya dengan suara lantang. “Selamat datang di Blue Pearl! Nikmatilah, hiburan-hiburan yang kami sajikan!” Tangannya terbuka lebar menyambut tamu yang masuk.

Jiwa yang haus akan hiburan terpancar dari wajah mereka yang diliputi nafsu. Keinginan yang dibimbing rasa ingin tahu melupakan realitas sesungguhnya. Dibalik nikmatnya canda dan tawa tidak ada yang sadar akan kejanggalan yang terjadi. Rasa manisnya racun menutup kedua bola mata dan hati mereka, tidak terkecuali seorang pemuda remaja tanggung, Asep.

Asep berjalan menikmati keramaian yang dipenuhi tawa dan canda. Telapak kakinya terlihat kotor, ia tidak memakai alas kaki saat keluar tadi. Ujung celana piyamanya terlihat lusuh terkena tanah yang ia lewati. Dari sekian banyak warna dan kesenangan yang disuguhkan, kedua bola mata Asep tertuju pada sebuah kastil berwarna hitam dengan beberapa cahaya terlihat menembus jendela. Ia berjalan menjauhi hiruk pikuk manusia, mengikuti jeratan benang iblis.

Kastil itu terletak dalam sunyi dan keheningan malam. Jalan yang berkelok dan terjal terlihat sulit untuk dilewati. Namun ternyata hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai di depan pintu masuk. Asep mendorong pintu masuk kastil tersebut, walaupun pintu itu terlihat baru tetapi suara yang dihasilkan dari gesekannya terdengar mengerikan layaknya dalam rumah hantu. Dilihatnya sebuah ruangan yang dipenuhi cermin. Ia melihat banyak pantulan bayangan dirinya dengan wajah bingung bercampur rasa penasaran. Asep menutup pintu kastil kemudian menelusuri labirin cermin yang membingungkan.

Sudah hampir satu jam Asep berputar-putar di ruangan yang sama. Rasa lelah memaksanya untuk berhenti di hadapan cermin yang memantulkan bayangannya dengan sempurna. Tiba-tiba muncul sebuah suara yang mirip dengannya. “Tidak kah, kamu merasa kesal?” Asep memandang sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa di sana. “Aku adalah dirimu.” Betapa kagetnya Asep, ia melihat bayangannya tersenyum sinis padanya. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tetapi yang pasti seluruh tubuhnya merinding, warna wajahnya memudar menjadi putih pucat, dan keringat mengalir membasahi seluruh tubuhnya.

Remaja yang memiliki warna kulit sawo matang itu berteriak, kemudian berlari. “Kenapa? Apa kamu merasa takut?” Bayangan dirinya yang berwajah dingin terus bermunculan. Ia mengepalkan jari-jarinya, lalu meninju satu per satu cermin yang menghalangi langkahnya. Darah menetes meninggalkan jejak rasa perih, tetapi Asep tidak peduli. Suara tawa menemani langkahnya yang ketakutan. Ia terus berlari ke depan, tidak ada jaminan ia dapat kembali bila mengambil jalur yang sama.

Sebuah pintu kayu muncul pada pecahan cermin terakhir, Asep segera memutar daun pintu dan mendorong dengan sekuat tenaga. Ia ingin segera keluar dari kastil itu, tapi Asep tidak melihat jalan keluar melainkan seorang butler yang berpakaian serba putih menyambut kedatangannya. “Selamat datang Tuan Asep.” Rambut pendek seleher berwarna putih keperakan terlihat lembut. Bunga mawar merah menghiasi dadanya yang bidang.

“Ah, uh, iya.” Asep terlihat canggung. Rasanya baru kali ini ia melihat seorang yang begitu tampan dan sopan. “Bagaimana kamu bisa tahu namaku?”

“Majikan saya yang memberitahukannya. Kata beliau, kastil ini akan kedatangan seorang tamu, jadi saya harus bersiap menyambutnya. Perkenalkan nama saya Charles. Saya menawarkan tour singkat untuk mengenal kastil ini. Apa Anda tertarik?” Tanyanya sopan.

“Iya boleh, lagipula aku sudah terlanjur masuk.” Jawab Asep sambil memperhatikan ruangan utama di kastil itu.

“Ah, ya. Jika boleh saya ingin tahu nama majikanmu.”

“Di akhir tour ini, Anda dapat bertemu dengannya, silakan ikuti saya.” Charles berjalan di depan memimpin, namun ia segera memberhentikan langkahnya. Matanya yang berwarna merah memandang langsung kedua bola mata Asep. “Tapi Anda jangan sampai kehilangan diri Anda sendiri. Bisa-bisa Anda terjebak selamanya di dalam kastil ini.” Jelasnya singkat, ia kembali meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.

Karpet panjang berwarna merah dengan hiasan benang emas pada kedua sisinya terlihat sangat mewah di atas lantai marmer. Asep memperhatikan lukisan-lukisan yang digantung di kedua sisi lorong yang mereka lewati, menggambarkan sejuknya pemandangan di pagi hari. Daun telinganya menangkap penjelasan Charles dengan baik, walaupun ia tengah berkonsentrasi mengamati keadaan kastil yang sedikit modern itu. Bohlam-bohlam lampu menyala menyinari lorong dan setiap ruangan yang mereka lewati. Tidak terdapat lilin pijar yang biasa terdapat dalam cerita yang sering ia dengar.

Samar namun terasa jelas, sebuah suara Organ yang dimainkan dengan lembut dari ruangan yang terletak beberapa langkah di depannya. Charles terus berjalan meninggalkan Asep yang terpaku di depan pintu kayu yang terbuat dari potongan Pohon Mahoni. Urat kayu yang hanya dilapisi plitur terlihat begitu anggun. Asep membuka perlahan, jantungnya berdegup keras seolah ia akan bertemu dengan seseorang yang didambakan hatinya.

Sorot matanya menyapu seluruh ruangan itu, ternyata di dalam sana hanya ada seekor anak bebek yang tengah berlatih balet, diiringi denting Organ yang mengalun secara otomatis. Asep terpesona dengan gerakan balet anak bebek tersebut. Tanpa sadar, tubuhnya bergerak masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di atas lantai kayu. Ia mengamati dengan tenang, gerakan-gerakan balet anak bebek itu. Walaupun terlihat kaku tetapi anak bebek itu melakukannya dengan sepenuh hati.

Anak bebek kecil itu menghentikan gerak tarian baletnya. Sepertinya ia menyadari kehadiran Asep di ruang latihan tersebut. Kemudian ia berjalan mendekati Asep, ia menyentuh punggung tangan Asep yang dipenuhi luka. “Ah, ini. Tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Asep tersenyum lembut. “Silakan teruskan latihanmu.”

Anak bebek itu tidak mengatakan apapun, tetapi ia paham apa yang dikatakan oleh Asep kepadanya. Anak bebek itu menari di sekitar Asep, keelokannya terasa hingga ke lubuk hati, begitu tenang. Benang-benang tipis berusaha merekatkan goresan-goresan luka yang tertoreh di punggung tangannya.

Asep menundukkan pandangannya, memperhatikan tarian iblis yang dilakukan oleh salah satu pion bidak permainan. Ia tidak tahu, tarian itu membawa kesadarannya jauh ke dalam kegelapan. Bagi Asep tarian itu sudah seperti candu, kedua bola matanya yang berwarna coklat tidak ingin lepas dari bayang anak bebek tersebut. Ia terhanyut dalam aliran sungai kematian yang bermuara pada keabadian semu.

Fin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar