Udara dingin. Salju. Dan selalu berwarna putih. Itulah tempat tinggalku, memangnya aku tinggal dimana lagi, hah? Udara tropis tidak cocok untuk kulit kami, yah, sebenarnya hanya kulitku saja yang sensitif di keluarga kami. Karena biasanya pada hari libur, seluruh keluargaku berkunjung ke negara-negara tropis seperti Bali atau Hawai untuk berjemur dan berselancar. Tapi berbeda denganku, aku harus tinggal di Kutub Utara. Kutekankan, jangan berharap pada elf setengah kurcaci itu. Mereka juga menuntut liburan sebelum mulai bekerja lagi pada awal Januari. Tapi tidak masalah bagiku, sebab aku sama sekali tidak mau pulang dengan kulit penuh benjolan warna merah muda.
Waktu bergulir seperti biasa di Kutub Utara, dan ayahku terlalu renta untuk membagi-bagikan hadiah setiap tahunnya. Sudah waktunya untuk pensiun dan mencari pengganti. Di kutub utara terdapat empat kandidat utama sebagai pewaris selanjutnya, keluargaku–manusia, keluarga bangsawan elf setengah kurcaci, keluarga yeti, dan–yang terakhir dan teraneh–keluarga beruang kutub–aku tidak tahu bagaimana membayangkan seekor beruang putih besar, berbulu, dan pemakan segala, berkunjung di tiap rumah membagikan hadiah sambil menikmati daging segar penerima hadiah itu sendiri. Hei, jangan bilang itu mustahil terjadi. Di sini Kutub Utara bung, bahkan pada periode sebelumnya seekor yeti tua pernah terpilih dan terpaksa mengenakan riasan gadis penghibur untuk mengelabui mata anak-anak. Percayalah, itu benar-benar terjadi dan mungkin pernah ditemui secara tak sadar.