Senin, 11 Desember 2017

Hanya Cerita Sinterklas

Udara dingin. Salju. Dan selalu berwarna putih. Itulah tempat tinggalku, memangnya aku tinggal dimana lagi, hah? Udara tropis tidak cocok untuk kulit kami, yah, sebenarnya hanya kulitku saja yang sensitif di keluarga kami. Karena biasanya pada hari libur, seluruh keluargaku berkunjung ke negara-negara tropis seperti Bali atau Hawai untuk berjemur dan berselancar. Tapi berbeda denganku, aku harus tinggal di Kutub Utara. Kutekankan, jangan berharap pada elf setengah kurcaci itu. Mereka juga menuntut liburan sebelum mulai bekerja lagi pada awal Januari. Tapi tidak masalah bagiku, sebab aku sama sekali tidak mau pulang dengan kulit penuh benjolan warna merah muda.

Waktu bergulir seperti biasa di Kutub Utara, dan ayahku terlalu renta untuk membagi-bagikan hadiah setiap tahunnya. Sudah waktunya untuk pensiun dan mencari pengganti. Di kutub utara terdapat empat kandidat utama sebagai pewaris selanjutnya, keluargaku–manusia, keluarga bangsawan elf setengah kurcaci, keluarga yeti, dan–yang terakhir dan teraneh–keluarga beruang kutub–aku tidak tahu bagaimana membayangkan seekor beruang putih besar, berbulu, dan pemakan segala, berkunjung di tiap rumah membagikan hadiah sambil menikmati daging segar penerima hadiah itu sendiri. Hei, jangan bilang itu mustahil terjadi. Di sini Kutub Utara bung, bahkan pada periode sebelumnya seekor yeti tua pernah terpilih dan terpaksa mengenakan riasan gadis penghibur untuk mengelabui mata anak-anak. Percayalah, itu benar-benar terjadi dan mungkin pernah ditemui secara tak sadar.

Baiklah, dua orang kakak lelakiku, aku dan–yah yang ini tidak akan banyak berharap untuk menang tapi bolehlah–adik lelakiku yang masih berumur tiga atau empat bulan ikut mengajukan diri (ibuku sebenarnya yang melakukan hal tersebut). Menjadi Sinterklas tidak mendapatkan penghargaan khusus seperti kekuasaan atau kekuatan untuk menggulingkan seorang raja di Praha, hanya berkeliling dunia sambil beramal–dengan gaji yang lumayan kurasa. Jujur, kakak-kakakku dan aku sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti sayembara ini. Kami justru ingin melanjutkan kuliah di universitas ternama, tapi selalu saja ibu dan adik perempuanku berisik soal melanjutkan tradisi–aku bahkan tidak tahu sejak kapan kegiatan amal ini berlangsung. Tapi, jika dipikirkan matang-matang, siapapun yang terpilih–atau apapun–tentu saja akan ikut berpartisipasi dalam pembungkusan hadiah. Hei, jangan percaya dengan film-film yang menggambarkan Sinterklas memiliki pabrik mainan sendiri. Tentu saja kami memiliki pemegang modal yang mensponsori kegiatan amal besar-besaran ini. Itu sebabnya mainan-mainan yang dibagikan terdapat stiker nama perusahaan yang bersangkutan.

Pemilihan berlangsung selama tiga bulan, antara bulan Maret hingga Mei. Itu sudah cukup singkat menurutku, sebab, para penguasa cuaca akan mengadakan rapat direksi dengan pemegang saham dan berbagai direktur perusahaan lainnya di auditorium balok es yang terletak di tengah Samudra Antartika. Akhirnya, seperti yang sudah ditebak–narator selalu menjadi tokoh utama dalam cerita–padahal aku berharap salah seorang kakakku, elf setengah kurcaci itu, yeti atau bahkan beruang yang terpilih. Jangan pernah sekalipun berpikir, hanya dengan mengenakan janggut putih dan pakaian konyol itu dalam sekejap dapat merubah bentuk tubuhmu secara ajaib. Dan ketika melepas semuanya, kau akan kembali ke tubuhmu semula dan menjalani kehidupan harem dipenuhi wanita cantik, itu semua benar-benar film imajinasi yang menarik bung. Kenyataan? Well, tidak seindah itu. Alasannya sudah jelas bukan? Butuh bertahun-tahun bagiku untuk membentuk otot perut dan dada agar dapat menarik perhatian para gadis–bukan di kutub tentunya. Aku tidak mau usahaku sia-sia dengan metode penggemukan, penggembulan atau apalah namanya itu, merusak semua impianku untuk pergi dari sini dan menjalani kehidupan manusia normal pada umumnya–seperti yang kulihat di drama picisan. Pekerjaan ini benar-benar tidak pantas untukku.

Keputusan adalah keputusan, mau tidak mau aku harus melakukannya, atau denda bernilai jutaan hingga triliunan dari berbagai mata uang akan membelit keluargaku. Sebelumnya kuucapkan selamat untuk kakak-kakakku dan adik lelakiku yang selamat dari–bagaimana menyebutnya dengan sopan ya–penumbalan ini. Setidaknya mereka dapat menikmati hidup hingga beberapa tahun ke depan. Saatnya aku menjalani metode perusakan tubuh dengan mengisi lemak-lemak di tiap celah daging dalam tubuhku. Bayangkan setiap hari aku harus mengkonsumsi hampir dua kilo bermacam lemak yang tidak kuketahui asalnya–kuharap tidak membacanya sambil makan. Yah.. ini cukup membuat mual. Tapi, sudah jadi kebiasaan bagiku untuk berolahraga secara diam-diam. Dan akhirnya bukan penggembulan yang kudapatkan, melainkan tubuh kekar dan perkasa seperti tentara jagoan dari negara adidaya yang menghalau berbagai musuh sendirian. Tapi mereka tidak kehabisan ide, tubuhku disumpal kapas-kapas empuk dan beberapa bantal untuk membentuk kesan hangat–lebih pantas disebut panas di sini–di mata anak-anak.

Sudah memasuki bulan November, waktunya aku melakukan latihan untuk mengantar dan memberikan hadiah dalam waktu satu malam saja–sadarlah, ini bukan pekerjaan mudah. Hal ini membuatku berpikir, mengapa hadiah-hadian harus dikirim dalam waktu satu malam saja? Apa tidak bisa dicicil beberapa hari vis jasa pengiriman kilat? Jawabannya mudah, karena tukang surat pun butuh liburan. Dan hadiah akan datang sekitar satu minggu kemudian–itu juga kalau kau masih menyimpan pohon natalmu saat menyambut tahun baru.

Matahari tidak muncul seperti biasanya, angin berhembus tidak terlalu keras ataupun lembut, hari yang cocok untuk menaiki kereta. Ini merupakan hari pertama aku memulai latihan dengan kereta rusa dan seorang elf setengah kurcaci. Kurasa umurnya sudah lebih dari 150 tahun–wajah penuh kerutan seperti kain kusut, jari-jari tangannya yang kurus seperti ranting kelabu di cerita seorang putri yang melarikan diri, lingkaran hitam bawah mata, dan pakaian lengkap dengan topi kerucut kusam serta sepatu berujung runcing yang telah ketinggalan jaman seabad yang lalu, meski ia bangga mengenakannya.

“Nah, Nak.” Ia menepuk kedua lututnya. “Coba kau kendarai kereta ini, kau sudah membaca buku panduannya, eh? Belum? Baiklah, tak apa. Tidak tunggu, jangan tekan tombol it–” Kami meluncur dengan kecepatan konstan di udara, mendorong rusa-rusa kutub yang malang–bagiku terlihat kereta inilah yang menarik mereka. Ia segera menarik rem tangan di sebelah kananku. Ia memaki pelan hampir tak terdengar. Rusa-rusa di depan bertabrakan satu sama lain seperti parade gagal. Si kakek menarik napas dalam lalu mengacungkan jari telunjuknya yang kering di depan hidungku. “Dengar Nak, ini bukan mobil Ferari yang kau idam-idamkan itu. Ikuti instruksiku, maka kita akan selamat.” Dia mencengkram tanganku cukup kuat. “Bukan, bukan, yang kau butuhkan adalah tali kekang ini untuk mengendalikan rusa-rusamu. Tombol-tombol itu dapat kau tekan pada saatnya, bukan sekarang.” Selama enam jam ke depan aku menunjukkan peningkatan yang cukup drastis untuk membuat pak tua di sebelahku terkesan, meski aku tahu ia tidak menunjukkannya karena malu–atau mungkin aku salah membaca ekspresi kesal bercampur sembelit dan mual. Kami hanya berputar-putar di sekitar padang tandus salju putih, terkadang menukik ke atas, melakukan gerakan spiral atau melesat memecah hamparan padang es yang dingin menusuk hidung–kurasa itu janggut palsuku yang memaksa masuk.

Kami mendarat dengan mulus di halaman depan rumahku, tentu setelah gagal beberapa kali–terjungkal, terlempar atau terperosok–saat menarik tali kekang mereka. “Bagus Nak, setelah beristirahat tiga jam temui aku di sini untuk berlatih kembali.” Aku mendengus kesal. “Ingat nak, waktu kita tak banyak.”

“Baiklah, saya mengerti.” Aku menarik kasar janggut putih bergelombang dari wajahku. Berjalan dengan berat. Begitu aku membuka pintu, kehadiranku disambut wangi sup kentang dengan potongan ikan sarden. Aku segera menutup pintu rapat-rapat di belakang punggungku.

“Dean, kau sudah pulang? Mana Tuan Schreiter?” Tanya ibuku sambil membawa pai daging berukuran besar ke atas meja makan.

“Kami berpisah di halaman rumah.” Aku duduk tanpa mengganti pakaianku. Butuh waktu berjam-jam untuk mengenakannya kembali.

“Oh, anakku, kenapa kau tidak mengajaknya untuk makan bersama kita? Ibu memasak banyak hari ini.” Yah, aku bisa melihatnya. Tidak mungkin kami berempat dapat menghabiskannya. Oh ya, kakak-kakakku langsung menyingkir dari rumah setelah menjadikanku tumbal.

“Baiklah, kurasa ia masih di dekat sini. Aku akan segera memanggilnya.” Aku bergegas keluar dan terkejut mendapati ia melepas jeratan tali kekang dan menarik rusa-rusa kutub itu ke dalam kandang.

“Halo Nak, apa kau melupakan sesuatu?” Ia terlihat menikmati semua itu, seolah rusa-rusa itu adalah sahabat lamanya yang kembali reuni.

“Umm, yah, ibuku memasak banyak hari ini. Jika tidak keberatan, maukah Anda bergabung bersama kami?”

“Dengan senang hati, tapi biarkan aku mengurus mereka sebentar.”

“Bolehkah saya membantu, Tuan?” Pria tua itu berkedip dan mengangguk secara bersamaan. Aku berlari kecil mendekatinya. “Kau harus memperlakukan mereka dengan baik Nak, agar kau juga diperlakukan dengan baik. Mereka juga punya perasaan seperti kita.”

“Saya mengerti Tuan.” Aku berjalan ke arah tumpukan jerami kering dan memberikan satu ikat besar tiap ekor. “Waktunya bagi kita untuk mengisi tenaga, Pak Tua.” Ia tergelak tertawa sambil menginjak kakiku. Hei, itu benar-benar sakit! Meski terbalut sepatu kulit, aku masih bisa merasakan tulangnya yang lancip menghantam kakiku! Tapi aku tidak dapat menunjukkan rasa perih itu, terlalu gengsi. Aku berjalan sedikit terseok-seok di belakangnya.

“Kenapa Nak? Apa kakimu baru digigit seekor piranha?” Aku hanya meringis menahan sakit dengan wajah kesal.

Duduk melingkari meja makan, bersenda gurau dekat tungku hangat. Jangan pernah membayangkan kami tinggal dalam kubah yang terbuat dari balok es. Ayolah, rumahku berdiri permanen di atas sebidang tanah tengah perkampungan kecil yang terlindungi mantra sihir kuno yang menjadikannya kasat mata. Hanya penyihir atau apapun yang menguasai ilmu gaib yang dapat melihat menembusnya. Dan rencananya, aku akan belajar beberapa mantra sihir untuk melancarkan aksi amal ini. Jangan kira Sinterklas periode sebelumnya tidak memiliki perisai ketika melakukan pekerjaan itu. Kutekankan amat sangat berbahaya.

***

Latihan selama seminggu menjadikanku semakin andal dalam mengendalikan gerakan rusa-rusa kutub. Pria tua itu memperhatikan dari bawah dengan sorot mata puas melihat perkembangan anak didiknya. Aku menukik turun dengan gerakan elegan yang lembut dan halus, lalu berhenti di hadapannya dengan rasa bangga.

Dia bertepuk tangan sedikit, “bagus Nak, sepertinya kau sudah siap untuk latihan melintasi sebuah kota padat.” Si pria tua menaiki kereta dengan langkah hati-hati, lalu duduk di samping lelaki berpakaian warna merah menyala yang bertubuh lebih tinggi dan gempal dengan kapas dan bantal. “Sudah siap untuk perjalanan pertamamu, Nak?”

“Diam dan perhatikan baik-baik, Pak Tua,” aku memacu dengan semangat menggebu. Si pria tua menunjukkan arah yang harus kutempuh. Kami melesat melintasi lautan biru tak berujung. Udara segar menerpa wajah dan paru-paruku, entah apa kakek renta yang duduk di sampingku juga merasakan hal yang sama denganku atau tidak.

“Bagus Nak, sekarang arahkan sebanyak 18 derajat ke barat. Benar seperti itu, sebentar lagi kita akan sampai. Kau harus berhati-hati menghindari bangunan. Tingkatkan kewaspadaanmu!”

“Tentu saja, Pak Tua.” Dadaku dipenuhi rasa antusias dan senang. Semua berjalan lancar begitu memasuki kota kecil yang lelap–perbedaan waktu hingga 12 jam cukup menguntungkanku.

“Oh Nak, aku hampir lupa.” Si pria tua merapalkan sebuah mantra. “Dengan begini, tidak akan ada yang dapat melihat kita. Ketika kita sampai di rumah nanti, aku akan mengajarkanmu beberapa mantra penting.”Pernyataan itu membuatku semakin bersemangat. Kami menelusuri setiap sudut kota dengan santai tanpa perlu merasa khawatir akan ada yang memergoki kami–itulah tujuan perisai dibuat ‘kan?

Semua berjalan sesuai rencana, aku dapat melintasi dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya tanpa menimbulkan suara yang berarti, hingga di sudut mataku terlihat sesuatu berdiri menghadapkan tubuhnya langsung menuju wajah bulan. Entah mengapa, jantungku berdebar kencang, darahku mengalir lebih deras dari sebelumnya, dan memaku mataku pada dirinya. Ini kesalahan fatal bung, entah disengaja atau tidak, mengapa keluarganya membiarkan ia berdiri sendirian di beranda pada malam yang dingin dan kaku begini. Hatiku terenyuh ingin menyentuhnya, membelainya, atau mungkin yang paling vulgar menciumnya. Ah.. celana dalam yang cantik. Tapi tentu saja aku tak dapat melakukannya dalam pengawasan pak tua ini.

“Nak? Kau baik-baik saja?” Wajahku tak dapat menyembunyikan perasaan kecewa yang mengganjal dalam hati.

“Tidak, Tuan. Tentu saja tidak. Sebaiknya kita segera menyelesaikan latihan ini, aku mulai merasa lelah.” Kami kembali menelusuri langit melintasi awan tipis berwarna kelabu.

***

Inilah saat yang kutunggu-tunggu, membuat daftar anak-anak yang akan menerima hadiah. Hal ini harus dilakukan dengan observasi yang tepat dengan mengunjungi mereka satu persatu. Oh ya! Saat ini aku sudah menguasai beberapa mantra yang berguna jadi tidak perlu takut untuk terpergok. Ini sangat menguntungkan, dengan bepergian sendiri memberiku keleluasaan untuk menyalurkan hobiku. Baiklah, ini memang bukan hobi yang menyenangkan. Hobi yang merugikan malah, yakni: meminjam tanpa izin–lebih tepatnya mencuri–pakaian dalam perempuan saat mereka tidak berada di sekitar tempat kejadian. Ini semua berawal saat dua anak laki-laki yang lebih dewasa mengajak bocah umur lima tahun untuk menonton hal yang seharusnya tidak mereka tonton, dan voila! Kini si bocah ingusan itu tumbuh menjadi seorang pencuri mesum. Maka kuanjurkan bagi yang memiliki anak lelaki–apalagi jumlahnya lebih dari satu–untuk mengawasi mereka lebih ketat. Sebab, selama ada kesempatan mereka akan memanfaatkannya untuk menjerumuskan adik lelaki mereka yang kecil dan polos untuk masuk ke dalam lembah kenistaan, percayalah pada kata-kataku, bung.

Tuan Schreiter mengijinkanku untuk berkeliling dunia sambil menilai anak-anak yang pantas untuk mendapatkan hadiah. Ia melihat hal tersebut sebagai latihan untuk meningkatkan kecepatanku dalam membagi-bagikan hadiah kurang dari tiga minggu lagi.

Latihan kali ini sangat mudah dan menyenangkan, rasanya sejak tadi bibirku tak henti menyengir seperti orang tolol. Dan rasa aneh yang terpuaskan tiba-tiba memenuhi seluruh tubuhku, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi jika kulakukan itu, sama saja dengan bunuh diri. Akan lebih bijaksana jika aku mengontrol diri sedikit saat membayangkan berlembar-lembar benda lembut dan imut di tanganku nanti. Yak, tugas ini dapat kuselesaikan dalam waktu seminggu dan Tuan Schreiter sama sekali tidak senang akan hal itu.

“Nak..” Ia mendesah kecewa dan menarik nafas cukup dalam serta berat. Lalu menatap wajahku dengan tatapan nyalang seekor elang kelaparan. “Kau harus berlatih untuk menggunakan waktumu lebih efisien. Waktunya sudah tidak banyak lagi, kau harus membiasakan dirimu untuk mengelilingi dunia dalam delapan jam saja. Seluruh hadiah harus diantarkan tanpa sisa, bagaimana pun caranya. Maka kutekankan, dalam tiga hari berikutnya kau harus sudah menguasainya atau bersiaplah menerima akibatnya.” Itu adalah ancaman terhalus yang pernah kudengar hingga membuat tubuhku gemetar. Dia tidak main-main dengan perkataannya, aku harus berusaha lebih keras lagi. Dan sementara waktu melupakan tentang gunungan celana dalam yang akan kukoleksi. Agak sedih memang.

Setelah selesai makan malam, aku mengenakan jaket tebal dan sepatu bot tinggi lalu berjalan santai menuju kandang rusa sambil membawa lampu minyak, peta, dan sebuah spidol. Kubuka pintu kandang yang hanya dikunci sebuah engsel lalu masuk menginjak jerami yang berserakan di sana sini. Kulempar peta dan spidol kemudian menggantungkan lampu minyak di salah satu tiang berpaku. Kuambil seikat besar jerami dan memberikannya di tiap sekat rusa. Setelah selesai, aku duduk bersandar dekat cahaya remang lampu minyak lalu menggambarkan rute perjalanan untuk menyesuaikan waktu di negara-negara yang bersangkutan juga untuk menghindari kemungkinan tersasar. Kualihkan pandanganku pada rusa-rusa yang rakus memakan jerami tanpa terganggu. “Besok kita akan memulai hari yang berat. Makan dan beristirahatlah kawan.” Aku berdiri, mengambil lampu minyak lalu berjalan keluar dan menguncinya kembali.

***

Jam alarm berbunyi membangunkanku dari tidur lelap. Hari ini matahari belum muncul, kemungkinan sekitar pukul dua atau tiga sore baru akan menampakkan wajahnya selama beberapa jam, tak lama. Kuintip sedikit cuaca di luar tirai kelabu, angin tampak tak bersahabat hari ini. Kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah badai salju yang dapat membekukan hingga ke tulang. Entah mengapa, baru kali ini aku sedikit bersyukur akan mengenakan pakaian tebal dan panas itu nanti. Tapi bagaimana dengan rusa-rusa yang akan menarik keretaku? Apa mereka tidak akan merasa kedinginan?

Aku berjalan keluar dari pintu rumahku dengan pakaian lengkap warna merah dan janggut palsu. Angin bergemuruh menyambut kedatanganku, terdengar seperti suara kereta api yang berpacu menuju stasiun berikutnya. Mendorongku cukup kuat dan hampir menerbangkanku seperti selembar tisu. Aku berusaha mencengkram tujuh buah syal beraneka warna agar tidak terbawa. Kondisi di depanku lebih parah, rusa-rusa itu terlihat gelisah, bahkan diantaranya sempat menghentakkan kaki sambil berdiri dan nyaris mengenai Tuan Schreiter yang berusaha mengikatkan tali kekang. Aku berbicara–hampir berteriak, sebab suaraku akan kalah keras dengan suara deru angin. “Tuan! Akan lebih bijak jika hari ini Anda meliburkan latihan! Anginnya terlalu keras!”

Tuan Schreiter menatapku tajam sambil memegangi topi kerucutnya. “Dengar, Nak! Jika kau kalah karena badai ini, Demi Roh-Roh Leluhurku, kau dan keturunanmu tak pantas untuk menaiki kereta ini selamanya!”

Dia meremehkanku! Betapa marahnya aku mendengar ucapannya itu. Rasanya darahku mendidih karena kesal. “Dengar Tuan, akan kubuktikan ucapanmu salah!” Aku menggeram sambil mengambil alih apa yang ia lakukan. Aku tidak peduli jika sikapku ini dinilai kurang ajar. Aku berusaha membuat simpul sederhana yang kuat tapi memang agak sulit mengikatkan talinya, beberapa kali tanganku terselip dan tali itu berkibar menampar tubuhku. Ternyata butuh waktu yang lebih lama dari perkiraanku hanya untuk mengikatkan tali kulit di tubuh rusa-rusa itu, belum lagi menenangkan mereka benar-benar menguras tenagaku. Tapi aku tidak akan menunjukkan kelemahan itu di depannya. Aku segera mengikatkan syal-syal hangat di seluruh leher rusa. Mereka tampak kedinginan. Pada satu syal terakhir aku mengikatkannya di leher rusa yang paling depan. Menegakkan lehernya agar kami dapat berhadapan. Si pria tua masih menatap dengan tajam. “Dengar, aku sama sekali tidak berpengalaman dan masih baru. Tapi aku percaya padamu, aku yakin dengan seluruh pengalamanmu yang lebih lama dariku. Itu sebabnya, mari kita lakukan dan buktikan padanya.”

Suara tawa memecah konsentrasiku. “Benar Nak, itulah yang seharusnya kau lakukan! Memercayakan dirimu kepada para rusa.” Mulut Tua Schreiter merapalkan sebuah kalimat. Lalu dari telunjuknya yang diarahkan pada kami, keluar sinar terang berwarna ungu. Perlahan angin terasa lembut di tubuhku, padahal pada penglihatanku tidak ada yang berubah. “Aku ini guru kalian, bukan malaikat kematian. Aku tidak akan melepaskanmu di tengah badai seperti ini tanpa pertahanan apapun. Nah, sekarang pergilah. Ikuti tali bersinar ini.” Aku menerimanya dengan perasaan lega. “Ingat, waktu kalian hanya 8 jam. Jangan kecewakan aku.”

Kami tidak bisa melakukannya dalam satu hari tapi dengan latihan selama tiga hari, itu sudah cukup. Hari selanjutnya, kami berlatih dengan beban yang sama seperti tumpukan hadiah. Jauh lebih sulit. Tapi dengan bantuan tombol pendorong–akhirnya aku tahu fungsinya dan dapat menggunakannya–semua berjalan lancar.

***

Kereta dipoles hingga mengilat. Rusa-rusa terbangku dilengkapi lonceng perak bersinar. Dan hadiah menumpuk banyak dalam kereta rusaku, itu sebabnya aku harus berangkat lebih cepat. Maka akan lebih bijaksana jika meminta bantuan dari peri-peri penjaga tidur untuk melelapkan para manusia itu lebih cepat–lebih pantas jika kusebut memberi suap daripada meminta bantuan. Sebagai tanda terima kasih kau harus memberikan benda-benda murni seperti emas, batu rubi, zamrud atau safir–ini benar-benar merepotkan, barang-barang seperti itu sama sekali tidak murah dan dapat menguras tabunganmu hingga tersisa setengah dari setengahnya setengah jumlah yang ada di dalamnya ditambah lagi aku perlu menyewa mereka dalam angka yang tidak sedikit. Meski memaki karena mendapatkan jumlah rata yang sedikit, mereka tak dapat menolaknya. Itulah gunanya sogokan.

Kami pun memulai perjalanan pendek yang melelahkan. Dalam empat jam, aku menyelesaikan tiga per empat tumpukan hadiah yang kubawa hingga aku bertemu sebuah toko pakaian dalam yang memberikan potongan harga besar-besaran. Ini kesempatan berharga untuk mendapatkan koleksi langka.

Kuarahkan keretaku ke atap toko. Segera turun dan merapalkan mantra ilusi. Melompat ke bawah. Kini dalam penglihatan para manusia, aku hanyalah seorang gadis hedonis muda. Memilih dan memilah pakaian dalam yang kusukai, lalu membayarnya. Begitu selesai kutumpuk di samping hadiah dalam karung warna merah terikat longgar. Aku pun mengulangi hal yang sama pada beberapa toko berikutnya. Tak sadar, waktu yang tersisa hanya tinggal dua jam. Aku bergegas kembali ke keretaku. Segunung pakaian dalam menyambut kedatanganku dengan antusias. Kudekati rusa pemimpin mereka. “Dengar, di bawah sana masih ada beberapa toko yang akan kudatangi. Itu sebabnya bantu aku untuk membagikan hadiah tersisa. Setelah selasai kembalilah kemari.” Si rusa hanya mengdengus kesal. “Hei, ini tidak terjadi setiap hari ‘kan? Kumohon bantu aku kali ini.” Rusa itu memutar bola matanya 180 derajat. “Kau hanya perlu menyenggolnya untuk mengeluarkan hadiah ini.” Kulonggarkan ikatan tali tambang dan kuperluas lubang di tengahnya. Mereka pun terbang melaksanakan tugas yang kuperintahkan.

Tak berapa lama aku kembali ke atap menuju jemputanku dengan pakaian-pakaian dalam yang terbungkus rapi. Tapi apa yang kulihat? Hadiah itu masih menumpuk manis dalam kereta tapi sebaliknya, pakaian dalam yang susah payah kudapatkan menghilang. “Apa yang kalian lakukan?!”

“Maaf bos, hanya itu yang bisa kami lakukan.” Aku tercengang mendengar suara rusa terdepan. Dia dapat berbicara!

“Ka, kau, bagaimana bisa?”

“Bos, kami adalah keturunan rusa legendaris. Kami hanya berbicara padamu. Nah jadi sekarang bagaimana?”

Uh, baiklah ini kondisi yang tak terduga. Aku meninggalkan belanjaanku dan segera menaiki kereta merah itu. “Carikan aku yayasan yatim piatu! Ayo cepat!”

Untunglah kurang dari satu jam seluruh hadiah habis tak tersisa. Begitu pun koleksi berhargaku. Dan yang lebih menyebalkan lagi, si pak tua meluncur turun entah dimana sejak tadi. “Nak, aku melihat semua yang telah kaulakukan hari ini. Ada pembelaan?” Aku hanya diam terpaku dengan tampang konyol. “Tidak kurasa, eh?”

“Tuan, aku.. umm..” Dia merobek laporannya. Lalu menepuk pundakku.

“Bagus Nak, kau telah banyak belajar. Setidaknya malam ini tidak menjadi Lost Crishmast seperti yang kulakukan dulu. Kau terlihat kaget sekali.” Si pria tua tersenyum lebar. “Begitu sampai di rumah nanti, aku akan menceritakan lebih banyak. Sekarang arahkan ke Kutub Utara, kita pulang. Oh ya ngomong-ngomong, aku memiliki koleksi yang lebih baik darimu. Mainlah ke rumahku, akan kutunjukkan nanti. Hampir saja aku lupa, ini barang belanjaanmu yang tertinggal.”

fin

NB; dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1132740-lomba-cerbul-kasfan-desember-12?type=topic#comment_64746038

Tidak ada komentar:

Posting Komentar