***
Pada tahun 73. 567 SM, hidup kawanan Katpilounia di sebuah pulau bernama Gorgona. Katpilounia merupakan hewan yang memiliki kekuatan magis dan IQ yang cukup tinggi. Mereka bahkan dapat melakukan telepati pesan dalam jarak tak terhingga, asalkan keberadaan mereka masih dapat dirasakan di waktu yang sama. Adapula beberapa golongan saja yang dapat membaca dan mengontrol pikiran.
Bentuk tubuh Katpilounia mirip seekor kucing betina, hanya pemimpinnya saja yang memiliki wajah dan tubuh yang agak besar. Mereka berjalan tegap layaknya manusia, kaki depan mereka mengecil sehingga mereka terlihat seperti binatang kanguru. Katpilounia memiliki ekor sepanjang 80 cm, cukup untuk menyeimbangkan tubuh mereka ketika berjalan maupun berlari. Matanya terlihat bulat dan agak besar, warna lensa mata mereka bermacam-macam; ada yang berwarna orange, hijau, merah, hitam, ungu, merah muda, coklat, putih, biru, abu-abu, dan kuning. Sepasang telinga berukuran pendek dan kecil terlihat di atas kepala mereka.
Rata-rata seluruh tubuh Katpilounia diselimuti bulu yang pendek dan halus, hanya pada beberapa kasus saja terjadi kelainan pada keturunan mereka. Adakalanya keturunan Katpilounia yang lahir memiliki bulu yang panjang seperti kucing Persia, atau bahkan tidak memiliki bulu sehelai pun layaknya kucing Sphinx yang berasal dari Mesir.
***
Perayaan hasil panen yang melimpah dilakukan dengan mengadakan piknik di padang rumput terluas yang ada di Pulau Gorgona. Seekor Katpilounia berwarna merah muda dengan bagian perutnya berwarna putih merasa bosan. Ia berjalan menjauhi kawanannya.
“Sherly!” Seru seekor Katpilounia berwarna orange yang tengah duduk dalam keramaian. “Ingat, jangan jauh-jauh!” perintahnya tegas.
“Iya bu!” Jawab Sherly sambil tersenyum, kemudian melanjutkan langkah kakinya tanpa memiliki tujuan.
Pikirannya melayang, ia terlihat kosong dalam arti yang sebenarnya. Sherly tidak sadar, ia sudah berjalan jauh ke tengah hutan Pouruel.
Sherly menggaruk dagunya. “Sepertinya aku berjalan terlalu jauh.” Ia membalikkan tubuhnya, namun ada hal yang terasa tidak benar. Angin seakan tertarik begitu kuat ke belakang tubuhnya yang mungil. Dedaunan kering beterbangan melewati Sherly yang masih merasa bingung. Tapi, begitu ia membalikkan tubuhnya, semua terjawab dengan jelas.
Wajah Sherly seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. “Ini.. the black hallway..” Ia tidak sempat berlari bahkan terlalu panik untuk mengirim sebuah pesan kepada keluarganya.
Tetapi sebuah teriakan dalam batin Sherly, menyadarkan ibunya yang sedang menikmati kemeriahan yang disajikan. Dalam sekejap, rasa gelisah terlihat dari mimik wajahnya.
“Ada apa, Isabelle?” Tanya Katpilounia jantan warna merah. Ia menyentuh pundak istrinya dengan lembut.
“Sherly!” Seru seekor Katpilounia berwarna orange yang tengah duduk dalam keramaian. “Ingat, jangan jauh-jauh!” perintahnya tegas.
“Iya bu!” Jawab Sherly sambil tersenyum, kemudian melanjutkan langkah kakinya tanpa memiliki tujuan.
Pikirannya melayang, ia terlihat kosong dalam arti yang sebenarnya. Sherly tidak sadar, ia sudah berjalan jauh ke tengah hutan Pouruel.
Sherly menggaruk dagunya. “Sepertinya aku berjalan terlalu jauh.” Ia membalikkan tubuhnya, namun ada hal yang terasa tidak benar. Angin seakan tertarik begitu kuat ke belakang tubuhnya yang mungil. Dedaunan kering beterbangan melewati Sherly yang masih merasa bingung. Tapi, begitu ia membalikkan tubuhnya, semua terjawab dengan jelas.
Wajah Sherly seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. “Ini.. the black hallway..” Ia tidak sempat berlari bahkan terlalu panik untuk mengirim sebuah pesan kepada keluarganya.
Tetapi sebuah teriakan dalam batin Sherly, menyadarkan ibunya yang sedang menikmati kemeriahan yang disajikan. Dalam sekejap, rasa gelisah terlihat dari mimik wajahnya.
“Ada apa, Isabelle?” Tanya Katpilounia jantan warna merah. Ia menyentuh pundak istrinya dengan lembut.
“Entah mengapa, aku tidak bisa merasakan keberadaan Sherly, Rout.”
***
Tidak terhitung berapa kali Sherly terhempas di berbagai arah saat melewati the black hallway, sampai kesadarannya menghilang. Yah, tidak semua perjalanan waktu dilewati dengan mulus ‘kan? Mari teruskan kisah yang sempat terganggu ini.
Sinar matahari yang terang menyusup masuk di sela-sela kelopak mata Sherly, membangunkannya dari sebuah fantasi di luar akal sehat. Tubuhnya masih terasa pegal, tetapi ia memaksakan diri untuk berdiri. Ia mengusap-usap matanya yang terasa berat, kemudian memperhatikan situasi dan kondisi sekitarnya dengan cekatan, terasa begitu janggal baginya.
Rumah sederhana yang terletak di atas sebuah bukit kecil tersebut, mempermudah Sherly untuk melihat seluruh pelosok kota yang dilengkapi dengan struktur dan infrastruktur modern serta canggih. Jalan raya terlihat lengang dari kejauhan, tidak terjadi kemacetan yang signifikan. Mungkin banyak manusia yang kemudian berinovasi dengan memanfaatkan udara sebagai jalur lalu lintas. Karena sesekali pesawat mini dengan kapasitas 2 penumpang terbang cukup cepat di atas kepala Sherly. Pesawat mini tersebut berbentuk seperti bola hanya sedikit agak oval. Tidak terdapat sayap dan baling-baling. Terdapat 4 buah jendela kecil di sisi kanan dan kiri, sebuah kaca lebar terletak di depan serta dua pintu masuk.
Tiba-tiba sebuah suara ledakan terdengar dari ruangan di bawah atap tempatnya berdiri, asap berwarna kehitaman mengepul dari ruangan tersebut. Seorang anak lelaki berumur 9 tahun membuka pintu kemudian melangkah keluar. Ia terbatuk-batuk sambil mengayun-ayunkan tangannya yang kotor di depan wajahnya yang belepotan noda hitam. Tubuh dan pakaiannya pun menjadi korban, lebih banyak lagi noda yang menempel di sana. Ia mengenakan baju cukup besar dan celana sependek lutut yang tidak terlalu ketat. Terlihat memaksakan dengan tubuhnya yang setinggi 139 cm dan kurus. Rambut merahnya yang tebal dibiarkan berantakan seperti kulit buah durian.
Sherly melompat turun di hadapan anak lelaki yang masih mencari udara segar di luar ruangan. Ia melihat Sherly dengan perasaan aneh, itu pertama kalinya ia melihat seekor kucing yang berdiri layaknya kanguru. Memiliki bentuk dan warna tubuh yang tidak biasa.
Dengan sekali melihat ekspresi bocah lelaki itu, Sherly dapat memahami pikirannya. “Halo, namaku Sherly. Aku tidak tahu kenapa bisa sampai berada di sini dan muncul di hadapanmu. Tapi yang jelas, aku yakin jika kamu dapat membantuku untuk pulang.” Ucapnya jelas. Bocah lelaki itu terlihat begitu kaget, ia bahkan belum menyebutkan namanya tetapi hewan aneh dihadapannya dapat menebak dengan tepat.
Fabio mendekati Sherly kemudian jongkok di hadapannya. “Wah, kucing yang bisa berbicara dan berdiri seperti manusia.” Fabio terlihat antusias, sedangkan Sherly hanya memperhatikan gerak gerik Fabio.
"Aku bukan kucing, aku Katpilounia"
"EH?! Hewan purba dalam sejarah! bagaimana bisa muncul di sini?"
"Ceritanya cukup panjang.."
“ Begitu rupanya." Fabio merasa prihatin dengan apa yang menimpa Sherly. "Jadi darimana kamu berasal?”
“Pulau Gorgona.”
“Lalu apa yang dapat aku lakukan untukmu?”
“Kamu dapat membuat dimensi waktu untukku, Fabio.”
“Wow, kebetulan sekali. Tugas sekolah semester ini pun tentang dimensi waktu, aku harus membuat mesin yang dapat menjadi medianya. Tapi ini sudah waktunya untuk sarapan, apakah kamu merasa lapar? Aku punya sisa makanan Zuzu di dalam.” Fabio mengajak Sherly untuk masuk.
***
Tidak ada siapa-siapa di dalam rumah kecuali mereka berdua yang sedang duduk di ruang makan. Fabio menuangkan sereal ke dalam mangkuknya yang cukup besar, disusul dengan susu segar dan semangkuk makanan kucing untuk Sherly. “Apa kamu tidak merasa aneh?” Tanya Sherly singkat setelah menghabiskan makanan kucing di mulutnya.
“Maksudmu soal dimensi waktu?” Fabio memasukan setengah sendok makan sereal ke dalam mulutnya yang kosong. “Beberapa minggu yang lalu guru kami memberikan pengetahuan tentang the black hallway. Tidak peduli siapa, kapan, dan darimana seseorang atau sesuatu sepertimu berasal, pasti akan terhisap dan terlempar ke dunia yang berbeda. Lalu munculah tugas yang bertema mesin dimensi waktu.” Fabio memasukan satu sendok makan penuh sereal ke dalam mulutnya.
Kedua bola mata Sherly menyapu seluruh ruangan dalam rumah itu. “Terasa sepi.” Ucapnya singkat.
“Begitulah, di sini aku mengurusi diriku sendiri sejak aku dapat mandiri. Seluruh keluargaku terpencar ke berbagai belahan dunia yang belum aku ketahui.” Sherly melihat sebuah foto keluarga yang digantung di tengah ruang tamu. Ia melihat sepasang suami istri dan seorang perempuan yang berusia lebih tua dari Fabio.
Fabio membereskan mangkuk bekas makanan mereka dengan telaten. “Rumah ini cukup rapi hanya dengan seorang penghuni yang bertubuh kerdil.” Sherly turun dari kursi kemudian berjalan keluar.
“Hey, aku masih dalam masa pertumbuhan, belum pantas disebut kerdil.” Cibir Fabio kesal.
***
“Ahh, yang benar saja! Sudah 6 minggu berlalu, tetapi belum ada satu pun alat yang mendekati apa yang kita harapkan.” Fabio mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan mesin yang gagal. “Hmm, ditambah komponen-komponen yang kita butuhkan pun habis terpakai sia-sia.” Sherly tidak mengatakan apapun, ia hanya memperhatikan gerak gerik Fabio. Ia mengambil handphone di saku kanan celananya kemudian menghubungi seseorang. “Tenang saja, bala bantuan segera datang.” Fabio tersenyum hangat kepada Sherly.
Tidak berapa lama, sebuah pesawat mini warna hitam berpenumpang 4 orang berhenti di depan laboratorium mini milik Fabio. Seorang lelaki tinggi dengan tubuh proposional dibalut jas hitam keluar dari dalam mobil sambil membawa sekotak penuh komponen-komponen elektro yang dibutuhkan Fabio. Rambutnya berwarna putih keperakan di sisir rapi. Ia terlihat santun dan disiplin. Kulitnya yang putih menyempurnakan pesona dan karisma yang dimilikinya. Lelaki itu mengetuk pintu laboratorium mini tersebut. “Oh, Thomas! Terima kasih, ini lebih dari cukup.” Fabio menerima kotak tersebut dengan perasaan senang.
“Baiklah jika begitu, saya akan kembali ke pekerjaan saya. Semoga hari Anda menyenangkan, Tuan Muda Fabio.” Thomas membungkukkan tubuhnya kemudian bergegas kembali ke pusat kota dengan kendaraan yang membawanya.
Fabio berjalan mendekati sebuah meja kemudian menaruh kardus di atasnya. “Ah, dia.” Tangan dan matanya tengah sibuk memeriksa komponen-komponen elektro satu per satu. “Namanya Thomas, butler keluargaku. Ayah seorang pengusaha di bidang komponen elektro seperti ini, mudah untuk mendapatkannya bukan? Nah, ayo mulai lagi.” Ajak Fabio bersemangat.
Terlihat sebuah garis senyuman dari bibir Sherly. “Iya.” Ucap Sherly singkat.
***
Sudah 4 bulan berlalu sejak Fabio bertemu dengan Sherly. Di tangan Fabio terdapat sebuah bolpoin dengan 2 buah tombol di sisinya dan sebuah layar kecil. “Aku memang banyak berpikir tentang membuatnya menjadi ukuran yang kecil dan cukup ringan. Tetapi tidak kusangka akan sekecil dan seringan bolpoin biasa.” Fabio memperhatikan bolpoin tersebut dengan cermat.
“Tapi tidak ada salahnya mencoba, ya kan?” Tanya Sherly singkat.
“Iya, benar juga sih. Ini di luar perkiraanku, aku pikir dengan mengambil komponen penting dari berbagai alat yang gagal akan menciptakan bentuk yang cukup besar dan merepotkan tapi ternyata jadi seefisien ini.” Fabio mengarahkan layar bolpoin tersebut ke arah Sherly. Sensor pengatur waktu men-scan tubuh Sherly, kemudian muncul angka 73. 567 secara otomatis.
Sherly melihat tangannya yang sedikit demi sedikit berubah menjadi untaian angka-angka. “Terima kasih Fabio.” Ia tersenyum ramah, ini pertama kalinya Fabio melihat senyuman semanis itu dari wajah Sherly.
“Iya, sama-sama.” Fabio membalas senyuman Sherly dengan wajah menahan kesedihan.
Sebuah cahaya terang muncul menyilaukan kedua bola mata Fabio. Dalam sekejap Sherly menghilang tanpa meninggalkan bekas maupun asap. “Akhirnya tugas semester ini selesai sebelum deadline.” Fabio menggenggam erat bolpoin di tangannya. “Yang namanya perpisahan itu, selalu menyedihkan ya.” Fabio berjalan mendekati sebuah meja yang terletak di sudut ruangan. Meja itu terlihat begitu berantakan, terdapat berbagai komponen elektro yang dibiarkan berserakan. Fabio meletakan bolpoin tersebut di atasnya tanpa membereskannya terlebih dahulu. Ia berjalan keluar dari laboratoriumnya kemudian masuk ke dalam rumah.
Fabio menekan sebuah plastik pipih transparan berbentuk persegi panjang berukuran 5x10 cm yang berada di atas meja kecil dekat sofa panjang. Layar sepanjang 33 inchi muncul pada dinding seperti refleksi dari proyektor. Kegunaan plastik pipih transaparan itu terlihat seperti sebuah remote biasa tetapi tidak hanya berfungsi untuk menyalakan televisi, dapat juga digunakan untuk menyalakan AC, dan menghubungi seseorang dalam bentuk replika mini 3 dimensi.
Setelah itu Fabio mengambil sebungkus keripik kentang dari dapur. Ia melemparkan tubuhnya ke atas sofa panjang di depan layar televisi tersebut, tangannya meraih plastik pipih yang diletakkan di atas meja kecil. Fabio mencari acara televisi yang dianggapnya menarik, jarinya yang kecil berhenti pada sebuah kartun science anak-anak. Ia membuka keripik kentangnya lalu memasukan satu per satu ke dalam mulut sambil menikmati acara yang disuguhkan.
Tangan Fabio begitu sibuk mengambil keripik dan memasukannya ke mulut. “The black hallway.. sebenarnya terbentuk dari apa? Kenapa muncul secara acak? Mengapa tidak ada sekat waktu? Seperti apa ya rasanya..” Fabio mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan.
Tiba-tiba terasa tekanan angin dan suhu yang tidak normal di sekitar Fabio. “Eh?” Fabio segera duduk dan mengamati sekitarnya, tetapi tidak ada pintu dan jendela yang terbuka. “Ini aneh.” Gumam Fabio dengan wajah serius.
Angin bergerak tertarik ke langit-langit di atas sofa tempat Fabio duduk. “Jangan-jangan!” Fabio mengangkat wajahnya ke atas, ia melihat sebuah pusaran lubang hitam yang cukup besar. Wajahnya berubah pucat, tetapi Fabio tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Ia dan beberapa perabotan rumahnya terhisap ke dalam the black hallway. Suara teriakan terdengar menggema ke seluruh ruangan, lalu menghilang bersamaan dengan menutupnya pusaran the black hallway.
***
Fabio membuka matanya, warna wajahnya berubah menjadi putih pucat, tubuhnya dibasahi keringat. Jantungnya berdegup sangat cepat dan keras, nafasnya tidak beraturan. Samar-samar terdengar suara televisi yang semakin jelas. Ia masih berada di ruangan yang sama, ternyata itu hanyalah sebuah mimpi buruk di siang bolong.
Fabio segera duduk dan mengelap dahinya yang bercucuran keringat, ia terlihat sangat lemas. Kedua tangannya dibiarkan terkulai di antara kakinya yang diluruskan di atas sofa. Fabio mengambil plastik pipih tersebut dan mematikan televisi di hadapannya. Ketika ia menekan tombol “off”, jari-jari Fabio berubah menjadi untaian angka-angka seperti yang ia lihat pada Sherly. Ia membiarkan plastik itu jatuh dari tangannya ke atas sebuah karpet yang terbentang di tengah ruangan tersebut. “Bagaimana bisa? Apa ada kesalahan saat melakukan pengiriman?” Fabio terlihat begitu terkejut.
Sebuah cahaya terang muncul dan mengantarkan untaian-untaian angka tersebut menuju Pulau Gorgona, kediaman para Katpilounia.
***
Seorang anak manusia muncul di sebuah padang rumput Pulau Gorgona, menimpa seekor Katpilounia yang tengah berbincang-bincang dengan 3 ekor Katpilounia lainnya. “Ah, aduh! Ya ampun, sakit sekali.” Keluhnya.
“Sherly?”
“Huh? Suara ini, Fabio? Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Sherly bingung.
“Aku juga tidak tahu.” Jawab Fabio singkat.
“Umm, Sherly?” Seekor Katpilounia berwarna ungu merasa heran dengan keberadaan Fabio di hadapannya.
“Ah dia, nanti akan kuceritakan. Tapi sebelumnya, Fabio segera menyingkir dari tubuhku. Berat!” Bentak Sherly kesal.
“Ah ya, maaf. Aku masih sedikit lemas.” Fabio berusaha bangun dari atas tubuh Sherly.
“Sekarang, ikuti aku. Mungkin ketua dapat membantu.” Ajak Sherly.
“Iya.” Fabio berjalan mengikuti Sherly dan ketiga teman-temannya.
***
Tidak terhitung berapa kali Sherly terhempas di berbagai arah saat melewati the black hallway, sampai kesadarannya menghilang. Yah, tidak semua perjalanan waktu dilewati dengan mulus ‘kan? Mari teruskan kisah yang sempat terganggu ini.
Sinar matahari yang terang menyusup masuk di sela-sela kelopak mata Sherly, membangunkannya dari sebuah fantasi di luar akal sehat. Tubuhnya masih terasa pegal, tetapi ia memaksakan diri untuk berdiri. Ia mengusap-usap matanya yang terasa berat, kemudian memperhatikan situasi dan kondisi sekitarnya dengan cekatan, terasa begitu janggal baginya.
Rumah sederhana yang terletak di atas sebuah bukit kecil tersebut, mempermudah Sherly untuk melihat seluruh pelosok kota yang dilengkapi dengan struktur dan infrastruktur modern serta canggih. Jalan raya terlihat lengang dari kejauhan, tidak terjadi kemacetan yang signifikan. Mungkin banyak manusia yang kemudian berinovasi dengan memanfaatkan udara sebagai jalur lalu lintas. Karena sesekali pesawat mini dengan kapasitas 2 penumpang terbang cukup cepat di atas kepala Sherly. Pesawat mini tersebut berbentuk seperti bola hanya sedikit agak oval. Tidak terdapat sayap dan baling-baling. Terdapat 4 buah jendela kecil di sisi kanan dan kiri, sebuah kaca lebar terletak di depan serta dua pintu masuk.
Tiba-tiba sebuah suara ledakan terdengar dari ruangan di bawah atap tempatnya berdiri, asap berwarna kehitaman mengepul dari ruangan tersebut. Seorang anak lelaki berumur 9 tahun membuka pintu kemudian melangkah keluar. Ia terbatuk-batuk sambil mengayun-ayunkan tangannya yang kotor di depan wajahnya yang belepotan noda hitam. Tubuh dan pakaiannya pun menjadi korban, lebih banyak lagi noda yang menempel di sana. Ia mengenakan baju cukup besar dan celana sependek lutut yang tidak terlalu ketat. Terlihat memaksakan dengan tubuhnya yang setinggi 139 cm dan kurus. Rambut merahnya yang tebal dibiarkan berantakan seperti kulit buah durian.
Sherly melompat turun di hadapan anak lelaki yang masih mencari udara segar di luar ruangan. Ia melihat Sherly dengan perasaan aneh, itu pertama kalinya ia melihat seekor kucing yang berdiri layaknya kanguru. Memiliki bentuk dan warna tubuh yang tidak biasa.
Dengan sekali melihat ekspresi bocah lelaki itu, Sherly dapat memahami pikirannya. “Halo, namaku Sherly. Aku tidak tahu kenapa bisa sampai berada di sini dan muncul di hadapanmu. Tapi yang jelas, aku yakin jika kamu dapat membantuku untuk pulang.” Ucapnya jelas. Bocah lelaki itu terlihat begitu kaget, ia bahkan belum menyebutkan namanya tetapi hewan aneh dihadapannya dapat menebak dengan tepat.
Fabio mendekati Sherly kemudian jongkok di hadapannya. “Wah, kucing yang bisa berbicara dan berdiri seperti manusia.” Fabio terlihat antusias, sedangkan Sherly hanya memperhatikan gerak gerik Fabio.
"Aku bukan kucing, aku Katpilounia"
"EH?! Hewan purba dalam sejarah! bagaimana bisa muncul di sini?"
"Ceritanya cukup panjang.."
“ Begitu rupanya." Fabio merasa prihatin dengan apa yang menimpa Sherly. "Jadi darimana kamu berasal?”
“Pulau Gorgona.”
“Lalu apa yang dapat aku lakukan untukmu?”
“Kamu dapat membuat dimensi waktu untukku, Fabio.”
“Wow, kebetulan sekali. Tugas sekolah semester ini pun tentang dimensi waktu, aku harus membuat mesin yang dapat menjadi medianya. Tapi ini sudah waktunya untuk sarapan, apakah kamu merasa lapar? Aku punya sisa makanan Zuzu di dalam.” Fabio mengajak Sherly untuk masuk.
***
Tidak ada siapa-siapa di dalam rumah kecuali mereka berdua yang sedang duduk di ruang makan. Fabio menuangkan sereal ke dalam mangkuknya yang cukup besar, disusul dengan susu segar dan semangkuk makanan kucing untuk Sherly. “Apa kamu tidak merasa aneh?” Tanya Sherly singkat setelah menghabiskan makanan kucing di mulutnya.
“Maksudmu soal dimensi waktu?” Fabio memasukan setengah sendok makan sereal ke dalam mulutnya yang kosong. “Beberapa minggu yang lalu guru kami memberikan pengetahuan tentang the black hallway. Tidak peduli siapa, kapan, dan darimana seseorang atau sesuatu sepertimu berasal, pasti akan terhisap dan terlempar ke dunia yang berbeda. Lalu munculah tugas yang bertema mesin dimensi waktu.” Fabio memasukan satu sendok makan penuh sereal ke dalam mulutnya.
Kedua bola mata Sherly menyapu seluruh ruangan dalam rumah itu. “Terasa sepi.” Ucapnya singkat.
“Begitulah, di sini aku mengurusi diriku sendiri sejak aku dapat mandiri. Seluruh keluargaku terpencar ke berbagai belahan dunia yang belum aku ketahui.” Sherly melihat sebuah foto keluarga yang digantung di tengah ruang tamu. Ia melihat sepasang suami istri dan seorang perempuan yang berusia lebih tua dari Fabio.
Fabio membereskan mangkuk bekas makanan mereka dengan telaten. “Rumah ini cukup rapi hanya dengan seorang penghuni yang bertubuh kerdil.” Sherly turun dari kursi kemudian berjalan keluar.
“Hey, aku masih dalam masa pertumbuhan, belum pantas disebut kerdil.” Cibir Fabio kesal.
***
“Ahh, yang benar saja! Sudah 6 minggu berlalu, tetapi belum ada satu pun alat yang mendekati apa yang kita harapkan.” Fabio mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan mesin yang gagal. “Hmm, ditambah komponen-komponen yang kita butuhkan pun habis terpakai sia-sia.” Sherly tidak mengatakan apapun, ia hanya memperhatikan gerak gerik Fabio. Ia mengambil handphone di saku kanan celananya kemudian menghubungi seseorang. “Tenang saja, bala bantuan segera datang.” Fabio tersenyum hangat kepada Sherly.
Tidak berapa lama, sebuah pesawat mini warna hitam berpenumpang 4 orang berhenti di depan laboratorium mini milik Fabio. Seorang lelaki tinggi dengan tubuh proposional dibalut jas hitam keluar dari dalam mobil sambil membawa sekotak penuh komponen-komponen elektro yang dibutuhkan Fabio. Rambutnya berwarna putih keperakan di sisir rapi. Ia terlihat santun dan disiplin. Kulitnya yang putih menyempurnakan pesona dan karisma yang dimilikinya. Lelaki itu mengetuk pintu laboratorium mini tersebut. “Oh, Thomas! Terima kasih, ini lebih dari cukup.” Fabio menerima kotak tersebut dengan perasaan senang.
“Baiklah jika begitu, saya akan kembali ke pekerjaan saya. Semoga hari Anda menyenangkan, Tuan Muda Fabio.” Thomas membungkukkan tubuhnya kemudian bergegas kembali ke pusat kota dengan kendaraan yang membawanya.
Fabio berjalan mendekati sebuah meja kemudian menaruh kardus di atasnya. “Ah, dia.” Tangan dan matanya tengah sibuk memeriksa komponen-komponen elektro satu per satu. “Namanya Thomas, butler keluargaku. Ayah seorang pengusaha di bidang komponen elektro seperti ini, mudah untuk mendapatkannya bukan? Nah, ayo mulai lagi.” Ajak Fabio bersemangat.
Terlihat sebuah garis senyuman dari bibir Sherly. “Iya.” Ucap Sherly singkat.
***
Sudah 4 bulan berlalu sejak Fabio bertemu dengan Sherly. Di tangan Fabio terdapat sebuah bolpoin dengan 2 buah tombol di sisinya dan sebuah layar kecil. “Aku memang banyak berpikir tentang membuatnya menjadi ukuran yang kecil dan cukup ringan. Tetapi tidak kusangka akan sekecil dan seringan bolpoin biasa.” Fabio memperhatikan bolpoin tersebut dengan cermat.
“Tapi tidak ada salahnya mencoba, ya kan?” Tanya Sherly singkat.
“Iya, benar juga sih. Ini di luar perkiraanku, aku pikir dengan mengambil komponen penting dari berbagai alat yang gagal akan menciptakan bentuk yang cukup besar dan merepotkan tapi ternyata jadi seefisien ini.” Fabio mengarahkan layar bolpoin tersebut ke arah Sherly. Sensor pengatur waktu men-scan tubuh Sherly, kemudian muncul angka 73. 567 secara otomatis.
Sherly melihat tangannya yang sedikit demi sedikit berubah menjadi untaian angka-angka. “Terima kasih Fabio.” Ia tersenyum ramah, ini pertama kalinya Fabio melihat senyuman semanis itu dari wajah Sherly.
“Iya, sama-sama.” Fabio membalas senyuman Sherly dengan wajah menahan kesedihan.
Sebuah cahaya terang muncul menyilaukan kedua bola mata Fabio. Dalam sekejap Sherly menghilang tanpa meninggalkan bekas maupun asap. “Akhirnya tugas semester ini selesai sebelum deadline.” Fabio menggenggam erat bolpoin di tangannya. “Yang namanya perpisahan itu, selalu menyedihkan ya.” Fabio berjalan mendekati sebuah meja yang terletak di sudut ruangan. Meja itu terlihat begitu berantakan, terdapat berbagai komponen elektro yang dibiarkan berserakan. Fabio meletakan bolpoin tersebut di atasnya tanpa membereskannya terlebih dahulu. Ia berjalan keluar dari laboratoriumnya kemudian masuk ke dalam rumah.
Fabio menekan sebuah plastik pipih transparan berbentuk persegi panjang berukuran 5x10 cm yang berada di atas meja kecil dekat sofa panjang. Layar sepanjang 33 inchi muncul pada dinding seperti refleksi dari proyektor. Kegunaan plastik pipih transaparan itu terlihat seperti sebuah remote biasa tetapi tidak hanya berfungsi untuk menyalakan televisi, dapat juga digunakan untuk menyalakan AC, dan menghubungi seseorang dalam bentuk replika mini 3 dimensi.
Setelah itu Fabio mengambil sebungkus keripik kentang dari dapur. Ia melemparkan tubuhnya ke atas sofa panjang di depan layar televisi tersebut, tangannya meraih plastik pipih yang diletakkan di atas meja kecil. Fabio mencari acara televisi yang dianggapnya menarik, jarinya yang kecil berhenti pada sebuah kartun science anak-anak. Ia membuka keripik kentangnya lalu memasukan satu per satu ke dalam mulut sambil menikmati acara yang disuguhkan.
Tangan Fabio begitu sibuk mengambil keripik dan memasukannya ke mulut. “The black hallway.. sebenarnya terbentuk dari apa? Kenapa muncul secara acak? Mengapa tidak ada sekat waktu? Seperti apa ya rasanya..” Fabio mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan.
Tiba-tiba terasa tekanan angin dan suhu yang tidak normal di sekitar Fabio. “Eh?” Fabio segera duduk dan mengamati sekitarnya, tetapi tidak ada pintu dan jendela yang terbuka. “Ini aneh.” Gumam Fabio dengan wajah serius.
Angin bergerak tertarik ke langit-langit di atas sofa tempat Fabio duduk. “Jangan-jangan!” Fabio mengangkat wajahnya ke atas, ia melihat sebuah pusaran lubang hitam yang cukup besar. Wajahnya berubah pucat, tetapi Fabio tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Ia dan beberapa perabotan rumahnya terhisap ke dalam the black hallway. Suara teriakan terdengar menggema ke seluruh ruangan, lalu menghilang bersamaan dengan menutupnya pusaran the black hallway.
***
Fabio membuka matanya, warna wajahnya berubah menjadi putih pucat, tubuhnya dibasahi keringat. Jantungnya berdegup sangat cepat dan keras, nafasnya tidak beraturan. Samar-samar terdengar suara televisi yang semakin jelas. Ia masih berada di ruangan yang sama, ternyata itu hanyalah sebuah mimpi buruk di siang bolong.
Fabio segera duduk dan mengelap dahinya yang bercucuran keringat, ia terlihat sangat lemas. Kedua tangannya dibiarkan terkulai di antara kakinya yang diluruskan di atas sofa. Fabio mengambil plastik pipih tersebut dan mematikan televisi di hadapannya. Ketika ia menekan tombol “off”, jari-jari Fabio berubah menjadi untaian angka-angka seperti yang ia lihat pada Sherly. Ia membiarkan plastik itu jatuh dari tangannya ke atas sebuah karpet yang terbentang di tengah ruangan tersebut. “Bagaimana bisa? Apa ada kesalahan saat melakukan pengiriman?” Fabio terlihat begitu terkejut.
Sebuah cahaya terang muncul dan mengantarkan untaian-untaian angka tersebut menuju Pulau Gorgona, kediaman para Katpilounia.
***
Seorang anak manusia muncul di sebuah padang rumput Pulau Gorgona, menimpa seekor Katpilounia yang tengah berbincang-bincang dengan 3 ekor Katpilounia lainnya. “Ah, aduh! Ya ampun, sakit sekali.” Keluhnya.
“Sherly?”
“Huh? Suara ini, Fabio? Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Sherly bingung.
“Aku juga tidak tahu.” Jawab Fabio singkat.
“Umm, Sherly?” Seekor Katpilounia berwarna ungu merasa heran dengan keberadaan Fabio di hadapannya.
“Ah dia, nanti akan kuceritakan. Tapi sebelumnya, Fabio segera menyingkir dari tubuhku. Berat!” Bentak Sherly kesal.
“Ah ya, maaf. Aku masih sedikit lemas.” Fabio berusaha bangun dari atas tubuh Sherly.
“Sekarang, ikuti aku. Mungkin ketua dapat membantu.” Ajak Sherly.
“Iya.” Fabio berjalan mengikuti Sherly dan ketiga teman-temannya.
***
Ratusan Katpilounia hadir mengisi lahan padang rumput Pulau Gorgona. Mereka menerima undangan telepati yang disampaikan ketua kelompok mereka. Kemudian Sherly menceritakan apa yang ia alami setelah terlempar ke dunia Fabio.
“Jadi manusia, apa yang membuatmu datang kemari?” Tanya ketua kelompok Katpilounia, Bourserk.
“Aku juga tidak tahu, sepertinya terjadi kerusakan program atau salah satu komponen saat mengirim Sherly. Jadi, apakah kalian dapat memulangkan aku?” Tanya Fabio penuh harap.
“Jadi manusia, apa yang membuatmu datang kemari?” Tanya ketua kelompok Katpilounia, Bourserk.
“Aku juga tidak tahu, sepertinya terjadi kerusakan program atau salah satu komponen saat mengirim Sherly. Jadi, apakah kalian dapat memulangkan aku?” Tanya Fabio penuh harap.
“Itu tidak mungkin. Dengan menggunakan seluruh kekuatan magis Katpilounia yang hadir di sini bisa saja mengirimmu kembali tetapi itu sama saja dengan membunuh kami secara masal.” Tolak Sherly tegas.
“Benar, apa yang dikatakan Sherly. Mau tidak mau kamu harus mengusahakannya sendiri.” Tegas Bourserk.
“Oh, begitu.” Fabio terlihat kecewa.
“Tenang saja, di sini ada banyak sumber daya alam yang dapat kamu manfaatkan. Jika ada yang kamu butuhkan, kami akan membantu sesuai dengan kemampuan kami.” Jelas Bourserk.
“Baiklah, terima kasih.” Fabio tersenyum kecut.
Kawanan Katpilounia itu pun kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, menyisakan Fabio yang tengah duduk dan Sherly. “Tidak usah semuram itu. Aku bisa menemanimu mencari dan membuatnya.” Sherly menepuk-nepuk punggung Fabio.
“Yep!” Fabio langsung berdiri dengan penuh semangat. “Tidak ada waktu untuk bersantai, ayo mulai mencari, Sherly!” Ajak Fabio.
“Iya! Ayo lewat sini!” Sherly memimpin di depan sebagai navigator.
Fin
https://www.goodreads.com/story/show/296427-the-black-hallway
“Benar, apa yang dikatakan Sherly. Mau tidak mau kamu harus mengusahakannya sendiri.” Tegas Bourserk.
“Oh, begitu.” Fabio terlihat kecewa.
“Tenang saja, di sini ada banyak sumber daya alam yang dapat kamu manfaatkan. Jika ada yang kamu butuhkan, kami akan membantu sesuai dengan kemampuan kami.” Jelas Bourserk.
“Baiklah, terima kasih.” Fabio tersenyum kecut.
Kawanan Katpilounia itu pun kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, menyisakan Fabio yang tengah duduk dan Sherly. “Tidak usah semuram itu. Aku bisa menemanimu mencari dan membuatnya.” Sherly menepuk-nepuk punggung Fabio.
“Yep!” Fabio langsung berdiri dengan penuh semangat. “Tidak ada waktu untuk bersantai, ayo mulai mencari, Sherly!” Ajak Fabio.
“Iya! Ayo lewat sini!” Sherly memimpin di depan sebagai navigator.
Fin
https://www.goodreads.com/story/show/296427-the-black-hallway
Tidak ada komentar:
Posting Komentar