Senin, 05 Maret 2018

Disability


Angin berhembus lembut menerpa wajahku. Hei, tentu saja aku harus senang. Hari ini merupakan hari pertama aku dapat merasakan hangatnya sinar matahari musim panas. Well, sebab tahun lalu aku menderita penyakit parah menyedihkan yang menyerang saluran pernapasan dan membuatku alergi total. Sehingga tidak bisa keluar rumah atau bahkan duduk santai dengan manis di gazebo dekat danau kecil di halaman belakang. Hanya dengan sedikit serbuk sari bunga di dekatku maka, voila! Aku akan bersin sampai mati. Percayalah, ini hampir terjadi.

“Selamat pagi Tuan Vin, Tuan Besar sudah menunggu di meja makan.”

“Oh ya, tentu, terima kasih. Sampaikan, saya akan segera ke sana.” Si pelayan wanita keturunan peri menunduk mengerti lalu menghilang dari pandanganku–dengan cara biasa tentu saja.

Hmm, apa aku sudah bilang jika aku keturunan bangsawan? Yah, tentu saja kalian bisa menebaknya dengan menyadari sedikitnya rumah biasa yang memiliki gazebo dan danau di halaman belakang. Maaf, tidak bermaksud sombong. Tapi itulah kenyataannya–aku berdiri, menepuk-nepuk bokongku yang proposional dan melenggang ke rumah utama.

Suram, tegang, dan formal. Itulah hal yang selalu kurasakan saat makan bersama di meja kayu ek mengkilat, lebar, panjang dan cukup luas ini. Asal tahu saja, ruang makan pun terasa sempit dengan segala properti yang ada; kursi-kursi penuh ornament, lemari kecil yang dilengkapi barang-barang kuno bersejarah, lampu gantung kristal berlapis emas lengkap dengan 10 lilin, jendela-jendela besar beserta gorden mewah tebal berwarna merah tua tak lupa dengan sentuhan benang emas. Memuakkan.

Ayahku duduk di ujung, di sebelah kirinya duduk diriku dengan kedua kakak lelaki dan ibuku. Sedangkan empat adik perempuanku duduk di hadapanku. Hening sekali, aku bertaruh, kuburan di Dataran Hieert pasti lebih meriah dan hidup daripada di sini.

“Vin,” –ayahku mengaduk sup labu dan apel yang dihidangkan–“apa yang kaulakukan tadi?”

“Saya hanya menikmati minuman herbal dan membaca beberapa buku sejarah.”

“Jangan melakukan hal yang tak berguna, masih belum terlambat untuk mempelajari mantera sihir. Tubuhmu yang lemah sudah cukup menjadi aib bagi keluarga ini.”

Aku hanya tersenyum, “saya mengerti ayah.” Dibandingkan dengan saudaraku yang lain–juga seluruh keturunan peri yang tinggal di Puncak Nire–aku memang lebih lemah (sebenarnya paling lemah). Jika pedang menyayat tubuhku, aku butuh tiga minggu sampai satu bulan untuk sembuh total. Sedangkan saudaraku, well, tanpa kujelaskan pun kalian pasti sudah paham. Jika aku sakit, aku harus mengkonsumsi ramuan-ramuan herbal, tidak ada mantera penyembuh yang berhasil menyelamatkanku.

Kemudian, tentang keahlian. Aku tidak bisa memanggil mana seperti si bungsu. Aku juga tidak bisa memanipulasi kekuatan alam sekitar seperti si kembar tiga. Tidak bisa telekinesis seperti kakak laki-lakiku yang kedua, dan aku juga tidak bisa membaca hati seperti kakak laki-lakiku yang pertama. Aku hanya makhluk buangan. Yang bisa kulakukan hanya sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, dan jika bisa, tidak direpotkan oleh orang lain. Ngomong-ngomong, tidak perlu merasa iba begitu, aku masih bisa menggunakan senjata untuk melindungi diri jadi jangan khawatir.

Aku memerhatikan sekitarku. Mereka benar-benar makan dengan anggun–tak ada suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk, tidak ada cipratan sup dan juga tidak mengeluarkan suara saat sup itu mengalir masuk melewati kerongkongan. Kalau aku? Hampir sama kok, tidak perlu berwajah menjijikkan seperti itu. Meski aku lemah dan tidak begitu berguna, aku masih memahami etika.

Seorang pelayan mengetuk pintu, meminta izin untuk masuk. Ayahku memberinya izin tanpa terganggu. Pintu terbuka ke dalam, pelayan pria itu masuk dan mendekati meja makan. “Tuan, kereta kudanya telah siap.”

***

Aku bersama keluargaku duduk di hadapan seluruh penduduk Puncak Nire. Keluargaku merupakan salah satu dari tujuh keluarga yang dihormati, tidak aneh jika kami berada sejajar dengan Ratu Aria. Sang ratu berdiri memberi aba-aba untuk memulai Festival Lafth, yang merupakan bentuk penyambutan bagi matahari pertama musim panas.

“Sebagai penghormatan kami mempersilakan Keluarga Clasta untuk memberi pemberkatan pada batu Vhelestie.” Si menteri mengumumkan dengan suara lantang.

Well, setiap festival di Puncak Nire selalu ada acara pemberkatan atau semacamnya pada sebongkah batu hitam yang diletakkan di tengah lapangan–tentu saja tidak setiap hari batu itu berada di sana. Setiap keluarga mendapatkan jatah untuk melakukan hal tersebut, kali ini giliran keluargaku.

Aku hanya duduk terpaku di kursi, memanipulasi sedemikian rupa wajahku sehingga memberi kesan aura karismatik mempesona yang memikat, hingga akhirnya aku sadar bahwa seluruh anggota keluargaku menatapku. Aku berbisik tanpa suara, “apa?”

Ayahku menghela nafas, dari wajahnya dapat kutebak ia sedikit jengkel atas ketidakpahamanku. “Ratu, sebagai tanda syukur keluarga kami atas beranjak dewasanya Putra Ketiga kami, Vin Heilla Clasta, maka kami meminta izin kesediaan anda untuk membolehkannya memimpin pemberkatan Vhelestie.”

“Tentu Lord Clasta.” Sang ratu tersenyum.

Ayahku kembali duduk, ia berbicara tanpa melirik ke arahku. “Vin, sudah waktunya. Dua festival terakhir, kedua kakakmu telah maju dan mempersembahkan kehormatan bagi keluarga kita. Sekarang giliranmu, Nak.”

“Ayah, ini semua salah. Ayah pasti mengerti tentang kelemahanku, kan? Saya, saya tidak yakin jika ini ak–”

“Kau masih mengingat mantera sederhana yang pernah kau pelajari bukan?”

“Uh, iya, tapi saya tidak ya–”

“Hanya itu yang perlu kau lakukan, Nak. Kau hanya perlu berdiri di sana selama lima menit dan semua akan selesai.”

“Ta, tapi ayah,”

“Pergilah. Jangan buat aku malu.” Nada suaranya terdengar tegas.

“Baik, ayah.” Aku bangkit, berjalan menuruni undakan panjang. lalu melewati karpet merah panjang menuju batu hitam penuh segi yang berbentuk nyaris seperti kristal, hanya lebih gendut sedikit di bagian tengahnya. Batu itu dibiarkan berdiri tenang di atas bantal kecil dengan hiasan benang emas menanti mantera pemberkatan dariku. Akan kuceritakan sedikit tentang pengalamanku merapal mantera, selagi aku berjalan melewati lautan keturunan peri yang terbelah karena karpet merah ini. Jadi, kejadiannya sekitar 314 tahun yang lalu–keturunan peri adalah makhluk abadi, ingat?–saat perapalan mantera pertamaku. Aku merapal sebuah mantera pemberkatan bagi anak-anak kucing yang baru lahir, dan yang terjadi setelahnya, err.. sepertinya tidak perlu dilanjutkan. Aku sudah berada tepat di hadapan batu itu.

Aku menarik nafas dalam, membiarkannya mengisi penuh paru-paruku. Aku menutup kedua mataku mencari ketenangan mutlak yang dapat menentramkan jiwaku. Sebuah kalimat mantera kuno muncul di kepalaku, bersiap kukeluarkan dalam untaian nada yang familier di telingaku. Mulutku mengucapkannya dengan lancar, lalu kusadari setiap huruf bergaung di dalam diriku. Ah, mungkin efek dari ketenangan yang kudapatkan. Hanya saja, efek itu semakin mengganggu, akhirnya kubuka mataku dan kudapatkan sebuah ledakan plasma warna hijau. Wajah dan tanganku terasa panas seakan terbakar. Aku juga sempat melihat pakaian yang kugunakan agak terkoyak. Ini buruk.

Aku terlempar ke belakang, melakukan sedikit manuver yang tidak bisa kukendalikan. Tubuhku menghantam undakan, aku jatuh terguling menuruni tiap undakan. Dan akhirnya aku berhenti tiga kaki setelah undakan terakhir. Kesadaranku pun menghilang bersamaan dengan riuhnya jerit panik seluruh keturunan peri yang hadir.

Begitu terbangun, yang kulihat adalah langit-langit kamarku. Kualihkan pandanganku ke jendela di sebelah kiri, lalu dengan susah payah kuusahakan untuk duduk bersandar. Tubuhku sakit luar biasa, rasanya seperti baru tertimpa gajah. Dibandingkan hal itu, ada sesuatu yang ingin kupastikan. Aku melirik ke sebuah cermin di seberang jendela. Meski aku penuh dengan kekurangan, setidaknya wajahku bisa menjadi daya jual. Tapi jika wajahku hancur, musnah sudah segalanya.

Aku berusaha berdiri, memaksakan keinginanku pada tubuhku yang memberontak untuk melakukannya. Kuturunkan kedua kakiku, lalu berdiri limbung, aku berjalan sembari bertumpu pada dinding. Kuseret kakiku perlahan, tidak kusangka jarak antara kasur dan cermin bisa sejauh ini. Jarakku tinggal satu kaki, kututup mataku dan berdiri di depan cermin, kedua tanganku kutempelkan dinding. Kini aku berhadapan langsung. Rasa takut menyerang, tubuhku bergetar, keringat mengalir deras pada punggungku. Yang terjadi, biarlah terjadi! Aku segera membuka kedua mataku, menatap tajam pada bayangan wajahku yang terpantul. Mengamati tiap inci sudutnya. Tidak ada yang berubah! Hanya memar di beberapa bagian, tapi masih selamat! Aku tidak perlu menderita karena luka permanen. Hoh, syukurlah.

Seketika tubuhku melemas, aku melorot terduduk. Masih tidak percaya dengan apa yang kualami. Pintu berderit, seorang pelayan masuk. “Tuan! Anda tidak apa-apa?” Ia bergegas menghampiriku.

“Saya tidak apa, jangan khawatir. Bisa kau panggilkan kakakku? Saya butuh seseorang untuk memapahku kembali ke atas kasur.”

“Tentu Tuan Vin.” Si pelayan bergegas melaksanakan apa yang kukatakan.

Aku tertunduk diam, memikirkan ulang hal yang tak terduga itu. Jika memang terjadi kesalahan dalam perapalan mantera dan akhirnya justru menciptakan ledakan plasma, bukanlah hanya faktor keberuntungan jika aku masih bisa hidup. Sejak awal memang ada yang salah dengan diriku. Aku harus segera menemukan jawabannya. Namun sementara ini, akan kumanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk pemulihan. Ingat, aku keturunan peri yang agak lebih ‘normal’ jadi segala sesuatunya butuh proses.

***

Ah, kepalaku. Benar-benar terasa sakit. Seminggu berlalu tanpa hasil apa pun. Sudah tiga per empat dari ribuan buku yang kubaca, namun tak ada satu pun keterangan tentang kelainan yang kualami. Padahal Perpustakaan Golleth satu-satunya tempat yang memiliki miliaran ilmu pengetahuan dalam bentuk tulisan baik berupa perkamen, gulungan bahkan prasasti–aku belum baca yang itu, tapi mungkin kelak akan kulakukan dan pastinya harus disentuh dengan sangat begitu ekstra hati-hati.

Aku masih duduk di kursiku, dengan tumpukan puluhan buku pada kiri kanan di meja yang kugunakan. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia duduk tepat di seberang kursi yang kugunakan, kami saling berpandangan.

“Ya?” Aku melongo heran.

“Anda sedang mencari jawaban atas diri anda bukan, Lord Clasta?” ia bertanya dengan anggun dan berwibawa, seakan menunjukkan dari strata mana ia berasal.

“Um.. itu bukan urusanmu, apa yang kucari tidak ada kaitannya de–”

“Saya dapat membaca hati anda dengan mudah. Jika memang hal itu yang ingin anda ketahui, saya memiliki jawabannya.”

Baiklah, dia manis, cantik, tubuhnya pun ideal, dan jelas sekali ia adalah tipeku. Tapi bukan itu hal penting yang harus dibahas sekarang. Siapa gadis ini? seperti yang kukatakan tadi, aku belum pernah melihatnya di Puncak Nire. Ia jelas berbeda, gadis ini memiliki aura yang tak sama. Tentu saja aku dapat mengatakannya sebab aku sudah hapal betul seluruh penduduk di sini–ingat berapa umurku kan? Perumpamaannya seperti jerawat dalam hidung, begitu sakit, perih, menonjol menghalangi pernapasan, dan setidaknya kau begitu mengenalinya–bukan berarti aku pernah mengalaminya, err, aku hanya membayangkannya saja.

“Jadi… apa yang kau ketahui?” Aku mencondongkan tubuh.

“Anda adalah penetral sihir.”

Aku agak tercengang, aku belum pernah mendengar atau membacanya. “Hah? Maaf?”

“Raja Daratan Durc memiliki kemampuan yang sama denganmu. Saya melihatnya sewaktu perayaan Festival Lafth, perapalan mantera yang tepat hanya akan menimbulkan efek yang kurang menyenangkan.”

“Ya, dapat kulihat dan kurasakan waktu itu. Jadi, apa kepentinganmu mengatakan hal ini, Nona… um,”

“Dierra Curdian Durc.”

“Baiklah, putri raja ya? Apa yang dapat saya bantu?”

“Ikutlah bersama kami, Lord Clasta. Bantulah bangsaku untuk meraih kemenangan. Ayahku adalah raja bijaksana yang mendapat pemberontakan dari saudara sedarah yang berkhianat. Kini, kekuatan sihir hitam mengusai Daratan Durc.”

“Tidak, tunggu. Aku lemah.”

“Saya tahu.”

“Aku tidak bisa sihir.”

“Saya tahu.”

“Aku hanya menguasai sedikit ilmu pedang.”

“Baiklah, itu agak menyedihkan.”

“Dan aku bisa mati.”

“Err..”

“Oke, aku menolak. Tak ada jaminan aku bisa kembali dengan selamat, bukan?” Aku melangkah menjauhi, namun dari samping telah ada seorang ksatria menodongkan pedangnya dekat leherku.

“Saya telah memberi anda jawaban atas ketidaktahuan anda tentang diri anda sendiri, inikah balasan anda atas kebaikan saya?”

“Hei! Itu tidak sebanding!” Hardikanku rupanya dianggap ancaman, si ksatria menempelkan pedangnya lebih dekat lagi dengan leherku yang menawan. “Lagipula, kau melakukannya dengan tujuan tertentu!” Aku tidak bisa bergerak dengan leluasa dalam keadaan begini, bahkan menuding telunjuk pun susah.

“Anda, menyetujui atau tidak, kami akan membawa anda.”

Keputusan sepihak yang sewenang-wenang. Lagipula, mengapa mereka tidak meminta bantuan pada Ratu Aria? Beliau pasti akan menyiapkan pasukan bantuan. Memangnya gadis ini tidak mengerti tentang sekutu politik keluarganya yang dapat ia minta pertolongan? Mengapa ia justru datang padaku dengan serombongan pasukan yang mengkudeta perpustakaan? Aku heran, kemana pula penjaga perpustakaan? Tidak ada keributan apa pun. Jelas sekali, ini telah direncanakan jauh-jauh hari dengan mengamati kebiasaanku. Ini benar-benar buruk. Aku tidak pernah berpikir akan direpotkan oleh orang-orang dengan masalah serumit ini. Apa yang membuat gadis ini bertindak sendirian?

Aku masih belum paham dengan masalah yang berada tepat di depan hidungku. Yang jelas, dalam keadaan seperti ini tak ada hal lain dapat terpikir olehku selain menyerah. Satu atau dua musuh masih bisa kuhalau, kalau sekampung lengkap dengan senjata? Err.. kusarankan untuk segera merubah pikiranmu dan ikuti kemauan mereka.

Awalnya kupikir, aku akan dimasukkan ke dalam karung lalu dibawa kabur dengan penjagaan di sekitarku. Itu bisa saja dilakukan di tengah malam, kalau tengah hari? Inilah luar biasanya mereka. Beberapa prajurit segera menyingkirkan kursi, bangku serta buku yang sempat kubaca, di atas karpet–kuminta agar mereka melakukannya dengan lembut, buku-buku ini sangat berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan–lalu menyingkapkan rahasia yang terukir di lantai. Sebuah lingkaran mantera teleportasi! Niatku untuk diculik dengan heboh pun memudar. Aku menghilang dari ruangan dalam sekejap mata bersama para penjahat yang beretika, berwibawa dan terhormat.

***

Hamparan padang rumput hijau sejauh mata memandang. Angin berderap melewati itu semua layaknya parade. “Jadi, bagaimana kalian dapat menemukanku?” Aku berdiri bertolak pinggang, dengan kuda-kuda kaki terbuka. Jujur, kepalaku sedikit pusing. Tapi aku tidak mau memperlihatkannya, terlalu merendahkan diri. Sebab, tidak ada satu pun yang pingsan, muntah, atau berwajah kebiruan karena mual.

“Kami mengetahuinya dari Sang Pembaca Air. Hanya anda satu-satunya keturunan peri yang berbeda. Itu sebabnya, kami sangat berharap kesediaan anda. Seharusnya, kami tidak melakukannya dengan cara kasar seperti ini, mohon maafkanlah kami.”

Seharusnya kalian menyesal sejak awal! “Ya, ya, simpan kalimat panjang dan sok formal itu, mungkin nanti akan kubutuhkan.”

“Kau!–” Sang putri merentangkan sebelah tangannya, menahan gerak salah seorang ksatrianya yang terganggu dengan ucapanku.

“Baiklah, kita akan bersembunyi di gua sekitar sini. Kita akan menyerang begitu malam tiba.” Sang putri melanjutkan tanpa terusik.

Ak! Cepatnya.. aku sama sekali tidak berharap penyerangan secepat ini. Dalam setiap buku cerita yang kubaca, selalu ada jeda waktu, misalnya untuk mengasah kemampuan, pesta kecil-kecilan, mengumpulkan bala bantuan, serta percintaan. Tapi ini.. aih, jika kalian begitu sangat ingin mati, jangan mengajakku dong!

Beristirahat selama beberapa jam sebelum perang sangat tidak nyaman. Kepalamu akan dipenuhi kemungkinan-kemungkinan terburuk. Tiap menit aku mengganti posisi tidurku hingga kemudian perutku berbunyi akibat kelelahan bergerak.

“Ganjal perutmu dengan ini.” Dierra melempar sepotong umbi-umbian yang telah dibakar, lalu aku melemparnya lagi entah kemana. Seharusnya ia memberiku peringatan terlebih dulu, rasanya tanganku melepuh.

“Sebentar lagi kita akan memulai penyerangan, jika kau menghilangkannya, aku tidak akan memberimu yang lain. Itu jatahmu.”

Yang benar saja. Apa dia tidak tahu ruangan lambungku berlapis-lapis? Umbi kecil, jelek, gosong, dan kelihatannya tidak enak itu, tidak akan memuaskan rasa laparku. Yah, tapi lebih baik ada daripada tidak sama sekali. Jika tidak salah kulempar ke sebelah si–

Nah ketemu!

“Makanlah dengan kulitnya, tidak perlu dikupas.” Prajurit yang lain melahapnya. Mereka tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Artinya ini aman dan kemungkinan memiliki rasa standar.

“Baik, baik,” aku meniupnya, lalu melahapnya. Wah, ini, rasanya. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Pahang. Padahal tidak mengeluarkan aroma apa pun, tapi begitu masuk mulut dan dikunyah, akh, menusuk lidah. Aku memuntahkannya, tidak tahan. “Kau! Memberiku makanan tak layak seperti ini!” Aku melemparkannya dengan segenap kekuasaan yang kumiliki.

Dierra memakan umbi bagiannya, wajahnya menahan rasa memuakkan itu, lalu ‘gulp’ tertelan. “Ini umbi bunga Werth. Rasanya memang tidak enak, tapi bisa membuatmu kenyang dan penuh energi seharian penuh. Tidakkah kau mengetahuinya?” Ia menatapku.

“Aku jarang membaca buku tentang botani.”

“Ini pengetahuan dasar dari ayahku.” Raut wajahnya berubah lembut. Kedua matanya berkaca-kaca. Pikiran si gadis melayang melalui waktu, terlempar ke masa lalu yang menghanyutkannya. Dan aku sempat berempati untuknya.

Ia berdiri. “Sudah waktunya kita bergerak.” Ia melahap habis makanannya lalu menyiapkan sebilah pisau di pinggang sebelah kiri. “Habiskan makananmu, Tuan Bangsawan. Kita akan berperang.”

Salah seorang prajurit melemparkan pedang dan zirah pelindung–untuk tangan, dada, dan kaki–padaku. Pasukannya bukan hanya orang-orang yang ia bawa sewaktu menjemputku. Tetapi masih ada beberapa yang berjaga di gua. Jumlah keseluruhannya sekitar 50 orang, dan aku agak ragu penyerbuan ini akan berhasil.

“Ayo kita mulai!” Teriakan penuh semangat bergaung, menggema, dan memekakkan telingaku, menjawab seruan sang putri. Aku hanya terfokus untuk memasang helm di kepalaku dengan benar. Malam ini mereka bertempur untuk keberlangsungan kehidupan mereka. Well, tak ada salahnya ikut terlibat dan menjadi sebuah sejarah, meski kemungkinan gagal ada.

Kami bergerak secara gerilya. Pasukan terbagi menjadi lima kelompok. Mereka memasuki pintu rahasia yang telah disepakati. Kelompokku? Jelas bersama sang putri, melewati saluran pembuangan kotor penuh kuman dan berbau busuk. Jelas tadi ada bangkai hewan pengerat yang mengambang. Tapi ini trik jitu untuk mengelabui penjaga di benteng. Setelah berjalan selama tiga puluh menit, akhirnya aku bisa keluar dan menghirup udara bersih nan segar. Tapi bukan berarti bisa berjalan penuh kemenangan. Kami muncul di tengah distrik pasar yang sepi, butuh beberapa menit lagi untuk sampai di istana. Berjalan mengendap-endap dengan memanfaatkan celah untuk bersembunyi dari penjaga yang tengah berpatroli membuat jantungku berdegup tegang.

Akhirnya kami sampai dekat gerbang istana. Dierra merapal sebuah mantra yang membuat para penjaga gerbang terlelap tanpa suara. Inilah kesempatan menyusup masuk. Dari dalam, seseorang membuka pintu perlahan. Rupanya prajurit yang lain telah mendahului kami. Begitu masuk, aku tidak melihat pasukan lawan yang terbaring berserakan. Mereka merapikannya dengan sangat teliti. Orang-orang yang mendukung putri mereka, bukanlah orang sembarangan.

Semua berjalan lancar, hingga bunyi terompet peringatan ditiup. Aku bergerak kalut, bingung. Namun Dierra menggenggam tanganku dan mengajakku masuk ke sebuah menara, sementara pasukannya bersiap menghalau serangan.

Aku berlari melewati ratusan anak tangga. “Kita mau kemana?” Tanyaku terengah.

“Diamlah dan terus bergerak!” Aku menurut. Denting benda tajam terdengar disertai gemuruh suara pasukan yang saling beradu. Hal itu membuat nyaliku semakin menciut. Aku semakin takut, penyerangan ini hanya akan berakhir sia-sia. Hingga kemudian kami berhenti di depan sebuah pintu. Dierra merapal mantra lainnya, lingkaran magis muncul lalu bersinar terang, terasa seakan membutakan mata. Tapi bukan itu masalahnya. Bola-bola api ditembakkan dari lingkaran dan mengenaiku.

Poof!

Semua hilang saat bersentuhan denganku. Aku melongo bingung. Inikah kekuatan penetral sihir? Luar biasa. Sedetik kemudian suara kunci pintu terdengar dan pintu terbuka ke dalam. Ada seseorang yang terbaring di sana. Pria tua keturunan peri. Aku berjalan masuk tapi tidak diikuti sang putri. Berbagai jebakan sihir muncul; lontaran listrik, bola-bola cahaya yang tidak kupahami fungsinya, suara bising yang terdengar seperti sendawa, pita-pita tipis yang sangat rapuh. Tidak ada satu pun dari semua itu yang melukaiku, sampai terdengar desingan panah. Dierra berteriak memperingatkan. Aku kurang cepat, sebuah anak panah menancap di perutku. Dan seketika itu, tubuhku terasa lemas. Hampir mati rasa.

Samar-samar terdengar derap langkah Dierra mendekatiku, wajahnya berubah pucat. “Panah beracun! Seharusnya dapat kuperkirakan! Dengar, bertahanlah sejenak. Yang dapat menyembuhkanmu hanya ayahku. Mantraku tidak akan berfungsi, itu sebabnya kau harus menghancurkan kutukan Sebelas Hutan Hitam. Kau tidak perlu merapal apa pun, kau hanya perlu menyentuhnya.”

Aku mengangguk. Tak ada kata-kata yang keluar, rasanya rahangku lebih berat dari biasanya. Dierra memapahku mendekati ranjang. Aku melakukan apa yang dikatakannya padaku. Begitu tubuh pria tua itu kusentuh, rasanya rohku terhisap entah kemana. Di dalam kepalaku terngiang jeritan, sumpah serapah, dan mantra kuno. Aku tidak dapat melihat apa-apa seakan dibutakan. Kelihatannya inilah akhir hidupku. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, aku juga tidak peduli jika ruangan ini dipenuhi prajurit musuh. Yang kuinginkan hanya berbaring di kamar dan membaca buku tanpa terlibat sihir atau perang. Tidak apa jika cuma mimpi, tidak apa..

***

Aroma manis yang kurindukan memenuhi tiap celah rongga dadaku. Aku mengamati sekelilingku yang tampak familier. Seluruh keluargaku berkumpul di sisi kasur. Rasanya yang mati hanya aku, mengapa seluruh keluargaku berkumpul?

“Vin! Kau baik-baik saja?” Ibuku mengelus wajahku. Tangannya terasa hangat.

“Aku pulang bu.” Aku berkata lirih. Adik-adikku menangis, kakak-kakakku tersenyum lega. Ayahku, meski tidak menampakkannya, aku tahu ia merasa tenang.

“Kami sudah mendengarnya dari Lady Curd. Syukurlah kau selamat. Ibu dengar hanya sesama penetral yang dapat menyelamatkan satu sama lain, ibu bangga padamu, Nak. Rupanya kutukan Sebelas Hutan Hitam terlalu kuat untuk diredam, itu sebabnya mereka meminta bantuanmu. Sekarang kerajaan mereka tengah membangun ulang kekuasaan dan menjatuhkan hukuman pada yang berhak menerimanya.”

“Meski begitu bu, tidakkah aneh, mengapa tidak membunuh sang raja secara langsung? Mengapa justru mengutuknya?”

“Tentu saja karena ayahku adalah raja yang kuat sebab tidak ada akan ada orang lemah yang dapat mengemban tanggung jawab sebesar itu. Dan jalan satu-satunya untuk menumbangkannya hanya melalui kutukan. Lagipula, jika orang yang telah dikutuk dibunuh, maka kutukannya akan menyebar. Kau tidak tahu? Bukankah itu menghancurkan segalanya, apalagi bagi orang yang justru mengincar kekuasaan?” Seorang gadis menyahut dengan nada jengkel. Ia bersandar di ambang pintu kamarku.

“Dierra?”

Ia tersenyum, berjalan ke arahku dengan wajah masam. Di tangannya terdapat sekeranjang umbi bunga Werth. Ah sial.

Fin

NB; dilombakan di https://www.goodreads.com/topic/show/1371683-lomba-cerbul-kasfan-juni-13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar