Senin, 07 Agustus 2017

Coretan

Semilir angin lembut menapaki tebing curam. Sesekali debu beterbangan terbawa arus keras angin yang terlihat lembut. Jubah yang kupakai berkibar, di seberang terdapat sebuah desa yang dulu kutinggali bersama keluargaku. Tapi itu dulu, lain halnya sekarang. Dengan membawa kobaran dendam yang tertanam dalam dada, akan kuhancurkan tiap jengkalnya tanpa tersisa.

Kilas balik ingatan memenuhi kepala, rasanya sesak dan membuatku mual. Mereka tidak akan pernah kuampuni. Akan kubawakan neraka pada kalian sebagaimana yang pernah kalian lakukan padaku dan keluargaku.

Dengan langkah mantap aku mendekati tempat terkutuk itu. Beberapa penjaga menyadari kehadiranku, mereka mengambil sikap siap siaga dengan kedatanganku.

“Pergilah. Tempat ini bukanlah tempat yang bisa dimasuki secara sembarangan oleh domba sepertimu.” Si penjaga dengan tampilan urakan itu terkekeh diikuti  oleh temannya yang lain.

“Anjing hina, aku adalah utusan dari divisi Timur, beraninya kau mengusirku.” Aku mengeluarkan sebuah gulungan dengan stempel lilin warna hitam. Sebuah gambar terukir di lapisan lilin dingin.

“Tuan Jackal!” wajahnya berubah pucat. Dia bergegas bersujud di kakiku. “Kumohon ampunilah nyawaku.” Si penjaga yang ketakutan itu memberi isyarat untuk membuka gerbang pada kawannya.

“Baguslah, kalau kau sadar. Tadinya aku ingin memenggal kepalamu. Bersyukurlah, aku masih mengampunimu.” Aku mendengus dan berlalu meninggalkannya sambil meninggalkan satu buah injakan sepatu bot di kepalanya yang tertunduk.

Gumaman dan sumpah serapah terdengar dari balik punggungku. Oh, well, aku sama sekali tidak peduli. Toh, semuanya akan kubunuh tanpa terkecuali. Aku akan bersabar sampai kesempatan itu tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar