Semilir angin lembut menapaki tebing curam. Sesekali debu
beterbangan terbawa arus keras angin yang terlihat lembut. Jubah yang kupakai
berkibar, di seberang terdapat sebuah desa yang dulu kutinggali bersama
keluargaku. Tapi itu dulu, lain halnya sekarang. Dengan membawa kobaran dendam
yang tertanam dalam dada, akan kuhancurkan tiap jengkalnya tanpa tersisa.
Kilas balik ingatan memenuhi kepala, rasanya sesak dan
membuatku mual. Mereka tidak akan pernah kuampuni. Akan kubawakan neraka pada
kalian sebagaimana yang pernah kalian lakukan padaku dan keluargaku.
Dengan langkah mantap aku mendekati tempat terkutuk itu.
Beberapa penjaga menyadari kehadiranku, mereka mengambil sikap siap siaga
dengan kedatanganku.
“Pergilah. Tempat ini bukanlah tempat yang bisa dimasuki
secara sembarangan oleh domba sepertimu.” Si penjaga dengan tampilan urakan itu
terkekeh diikuti oleh temannya yang
lain.
“Anjing hina, aku adalah utusan dari divisi Timur, beraninya
kau mengusirku.” Aku mengeluarkan sebuah gulungan dengan stempel lilin warna
hitam. Sebuah gambar terukir di lapisan lilin dingin.
“Tuan Jackal!” wajahnya berubah pucat. Dia bergegas bersujud
di kakiku. “Kumohon ampunilah nyawaku.” Si penjaga yang ketakutan itu memberi
isyarat untuk membuka gerbang pada kawannya.
“Baguslah, kalau kau sadar. Tadinya aku ingin memenggal
kepalamu. Bersyukurlah, aku masih mengampunimu.” Aku mendengus dan berlalu
meninggalkannya sambil meninggalkan satu buah injakan sepatu bot di kepalanya
yang tertunduk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar