Rabu, 16 Agustus 2017

Akai



Seorang wanita memakai kimono berwarna putih duduk di tengah padang rumput yang luas. Di sekitarnya berserakan lampion kertas berwarna merah. Sekitar 1000 lampion mengitari sekitar tubuhnya. Tangan kirinya memegang kayu panjang yang pada ujungnya terdapat lidah api yang tak bisa padam jika ia tidak menghendakinya. Ia pun mulai menyalakan satu per satu lampion.

Setiap lampion merah yang dinyalakannya terbang menghiasi langit malam, sebuah ingatan muncul bergantian mengungkap masa lalunya yang menyedihkan.


Aku kembali teringat, saat pertama bertemu denganmu hari itu. Pakaian yang kugunakan tidak berbeda dengan apa yang kupakai saat ini. Warna putih, pada hari kematian seluruh keluargaku. Aku benci warna hitam yang kelam itu, biarkan semua sirna seperti warna putih yang kupakai saat ini.

Matahari mulai terbenam, cahaya berwarna merah bercampur dengan potongan daun tua di musim gugur. Matanya memandang kosong ke langit petang itu. “Warna merah pekat yang berbau amis.. mengapa hanya aku yang selamat? Ini tidak adil.. aku belum bisa mengurus semuanya sendirian.” Dia berjongkok lalu bersandar pada batang pohon di dekatnya sambil memeluk erat kedua lututnya.


Keluargaku merupakan bangsawan yang masih termasuk dalam lingkaran naga penjaga kaisar. Banyak pihak yang tidak menyukai kami karena kami memiliki kekuasaan mencakup hampir setengah kota Jyuuryu. Namun tidak kusangka akan berakhir tragis seperti ini.

Malam itu begitu cerah, aku bahkan dapat melihat gugusan bintang dengan mata telanjang. Angin menerpa dengan lembut, tak ada tanda-tanda musuh akan menyerang. Tapi justru saat tenang itulah, badai tengah menanti untuk menerpa kami..

Sebuah suara menarikku kembali ke dunia nyata. “Nona Kaguya, sudah saatnya anda kembali ke rumah utama. Para tetua menanti anda..”


Kaguya masih membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang kurus. “Seharusnya kau biarkan saja aku di sana..”


“Nona..”


“Kemana mereka saat aku membutuhkan.. bukan.. saat keluargaku membutuhkan mereka..?” Tanyanya dengan suara berat.


Kaguya mengangkat wajahnya yang telah basah dengan airmata. “Kemana mereka semua?! Kenapa baru saat ini?! Dimana kesetiaan mereka?! Tunjukkan padaku!!” Bentak Hitsu histeris.


“Nona Kaguya Hitsu, bukan, Hitsu chan.. sebagai teman masa kecilmu aku dapat mengerti apa yang kau rasakan. Tapi tetua kolot itu tidak akan mempedulikan perasaanmu saat ini. mereka menanti pemimpin baru pemegang kunci keluarga Kaguya. Makanya.. ”


Kaguya mengusap airmata yang membasahi wajahnya. Ia terlihat lebih tegar dari sebelumnya. “Hiroshi, jika mereka menginginkan pemimpin, akan kuberikan!” Rambut panjang Kaguya yang terurai mengalun mengikuti hembusan angin.


***


“Nona Kaguya, anda memiliki 2 pilihan. Menjadi pemimpin yang baru atau mati mengorbankan dirimu sendiri..”


“Nenek Koga.. itu terlalu..” Hiroshi menyela perkataan Nenek Koga begitu mendengar ucapannya yang ketus.


Wajah Kaguya berubah dingin. “Tidak apa, saya akan menerima jabatan tersebut. Atas nama kaisar, mulai saat ini sayalah kepala keluarga Kaguya yang baru.” Kaguya berdiri, pandangan matanya meruncing. “Akan kucari pengkhianat yang melawan keluargaku, aku tidak peduli dari klan mana dia berasal. Ganjaran bagi pengkhianat hanyalah kematian!” Kaguya berlalu dari ruang utama, sambil menyeret sebuah jubah bergambar naga berwarna putih di punggung.


Para tetua hanya berbisik-bisik dari telinga yang satu ke telinga yang lain. Isi pembicaraan mereka ada yang melecehkan kemampuan Kaguya, mengarapkan kematiannya bahkan sebuah kutukan. Klan lain tidak menyukai kehadiran keluarga Kaguya, bahkan mereka berharap keturunan terakhir keluarga itu pun ikut mati. Sebab jika mereka telah lenyap, kekuasaan dan kekayaan material yang dimiliki keluarga Kaguya tentu akan kembali ke kaisar. Dengan begitu, kaisar akan memilih kembali pemimpin berikutnya yang akan menguasai wilayah lahan tambang emas itu.


***


Kaguya sadar, jiwanya semakin terancam dengan mengambil keputusan untuk mengemban kewajiban keluarganya. Ditambah, ia belum memiliki cukup pengaruh dimana pun termasuk di kalangan tetua. Malam itu, waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. ia sendirian bersandar di salah satu pohon yang tumbuh di halaman rumahnya. Tentu saja dengan pengwasan Hiroshi dari tempat yang tidak begitu jauh darinya. Hanya Hiroshi yang merupakan pelayan setia di rumah itu, makanya Kaguya harus segera membangun kembali pondasi kekuasaan milik keluarganya secepat mungkin.


"Hanya dengan kekuatanmu saja, kamu tidak akan sanggup melakukan apapun.”

Suara meisterius itu menyadarkan Kaguya dari lamunannya. “Siapa? Siapa di sana?” Kaguya segera bengkit dari sandarannya dan memeriksa sekelilingnya. “Hiroshi! Hiroshi!”


Makhluk itu pun menampakkan dirinya. Seekor iblis bersayap kelelawar dan berekor duduk di atas ranting pohon tempat Kaguya bersandar. “Percuma, dia sudah kubuat tidur agar kita dapat berbincang-bincang seperti ini.”


“Apa maumu?” Tanya Kaguya tegas.


“Nona, aku dapat mengabulkan semua keinginanmu hanya dengan 1 syarat..” Iblis itu tersenyum picik.


“Aku tidak peduli dengan syarat yang kau pinta jika kamu dapat mengabulkan apapun keinginanku!” Bentak Kaguya.


“Jiwamu yang dipenuhi kegelapan, itu saja kuinginkan. Tidak sulit kan? Lalu apa yang kau inginkan?”


“Kekuatan, kekuasaan, dan hukuman bagi pengkhianat yang merusak hidupku!” Kaguya menjawab tanpa ada keraguan sedikit pun.


“Kontrak perjanjian telah disepakati. Anda dapat memanggil saya Belphegor, nona muda..”


***


Sejak hari itu, Kaguya berubah menjadi manusia yang ambisius terhadap kekuasaan dan kekuatan. Ia menggunakan segala cara demi meraih keinginannya. Dan anehnya Kaguya selalu selamat dalam tiap percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Akhirnya banyak klan yang takut dan ikut merapat ke dalam barisan sekutu di bawah pimpinan tangan besi Kaguya. Sosok Kaguya menjadi begitu ditakuti dengan cara tersebut.


Satu per satu pengkhianat yang bersembunyi di balik jubah kaisar terkuak. Mereka mati mengenaskan tanpa diketahui pelaku pembunuhnya. Namun yang jelas, sebuah dokumen yang mencatat kebusukan mereka selalu berada di lokasi kejadian seakan menunjukkan kebenaran yang terpendam.


Kasus pembunuhan itu kemudian disebut dewa kematian merah, sebab ruangan tempat korban berada dipenuhi dengan darah. Banyak yang beranggapan kejadian tersebut merupakan perbuatan Kaguya, namun tidak ada yang dapat menunjukkan bukti apapun untuk menjatuhkan Kaguya.


Nama Kaguya semakin terbang, karena di bawah kekuasaannya, tindak kriminalitas semakin menurun dan kesejahteraan masyarakat di zaman itu semakin membaik. Hal itu lantas memperluas pengaruh Kaguya di berbagai aspek.


Hiroshi sendiri merasa ada yang tidak beres dengan semua kesuksesan Kaguya yang terkesan instan. Ia pun memberanikan diri untuk berbicara dengan Kaguya. “Saya.. ingin berbicara sebagai seorang teman bukan bawahan anda, Nona Kaguya..”


“Silakan Hiroshi kun,” Kaguya tersenyum menyambut keinginan Hiroshi.


“Sudah cukup, hentikan semua kegilaan ini, Hitsu chan.” Kaguya terperanjat kaget mendengar omongan Hiroshi.

“Apa maksudmu berkata seperti itu Hiroshi?! Seharusnya kamu ikut mendukungku menghancurkan orang-orang yang menindas dan memporak-porakkan keluargaku! Kenapa kamu malah berbalik melawanku?!” Bentak Kaguya tida percaya.


“Dengan sikapmu yang seperti ini, justru pertumpahan darah akan semakin banyak. Aku mengerti perasaanmu, karena aku pun telah menganggap mereka seperti orang tuaku sendiri. Tapi ini sudah keterlaluan, Hitsu chan..” Hiroshi berusaha untuk membujuk Kaguya.


“Ini bukan salahku! Mereka yang memulai duluan perang ini! ini semua kesalahan mereka!” Airmata mulai membasahi kedua pipi Kaguya. “Merekalah yang menodai kesucian naga putih! Pengkhianat pantas mati untuk membayar dosa mereka!”


“Seharusnya dari awal aku tidak menaruh harapan padamu Hitsu chan..” Hiroshi menarik samurai dari dalam sarungnya.


Raut wajah Kaguya berubah. “Apa maksudmu Hiroshi kun?”


“Ayahmu pun mengatakan hal yang sama. Seharusnya kamu dapat terlepas dari belenggu dendam yang selama ini mengikat kalian. Bukankah menatap masa depan lebih baik daripada mengorek luka lama..?”


“Apa maksudmu Hiroshi?!”


“Pembunuhan itu, akulah yang merencanakannya. Keluargamu sudah melewati batas Hitsu chan. Tadinya aku menaruh harapan padamu untuk membangun ulang semuanya dengan harapan dan kasih sayang. Tapi sepertinya aku salah.” Hiroshi berdiri. “Bersiaplah Kaguya!!” Dia segera berlari sambil mengacungkan pedangnya ke arah Kaguya.


“Hiroshi, tunggu sebentar!! Jangan mendekat!! Hentikaaan!!!!” Kaguya berusah menghentikan Hiroshi, namun ia telah terlambat. Belphegor terlebih dulu membunuhnya dengan cara yang sama ia lakukan pada korban yang sebelumnya. Ruangan itu pun berlumuran darah segar tak terkecuali Kaguya.


Kaguya berjalan mendekati Hiroshi yang sekarat, ia duduk bersimpu lalu meletakkan kepala Hiroshi di atas pangkuannya. “Hitsu chan.. maaf.. seandainya waktu itu.. aku bilang yang sebenarnya.. mungkin tidak akan jadi begini..”


“Aku.. tidak tahu harus mengatakan apa, Hiroshi kun.. semuanya bercampur aduk, membuatku bingung.. tapi saat ini hanya kamu yang paling berarti dalam hidupku. Jangan mati..” Kaguya menundukkan kepalanya.


“Maaf ya.. Hitsu chan..” Itulah kata terakhir yang diucapkan Hiroshi. Wajahnya justru membuat Kaguya bersalah dengan apa yang dilakukannya. Dia tidak tahu harus melakukan apa, entah mengapa semua terasa salah.


“Belphegor!” Sosok itupun muncul sesuai dengan panggilan tuannya yang tengah dalam kondisi labil.


“Apa yang kau lakukan?!”


“Itu merupakan hukuman bagi pengkianat yang menghancurkan hidup anda, Nona Muda..”


“Kau! Jangan-jangan sejak awal kau sudah tahu!”


Belphegor hanya tersenyum menjawab pertanyaan sang pemegang kontrak. “Sesuai perjanjian, saya telah memberikan anda kekuatan, kekuasaan dan memusnahkan para pengkhianat. Sekarang waktunya mengakhiri semua ini, Nona Muda..”


“Tidak, bukan seperti ini!! Bukaaaann!!” Kaguya mengambil samurai di tangan Hiroshi lalu menghunuskannya ke dada kiri.


“Cih! Sial! Makananku!” Belphegor berjongkok memperhatikan tubuh Kaguya yang telah kaku. “Aku tidak bisa menikmati jiwanya.. sangat sial sekali kali ini. Yah.. walaupun kau bunuh diri, jiwamu hanya akan berkeliaran di padang hampa.” Belphegor tertawa kesal. Ia lalu menjentikkan jarinya. Dan ruangan itu pun kini terbakar dalam lautan api kemarahan Belphegor.


***


Wanita berkimono putih itu terus menyalakan lampion yang ada di sekitarnya, hingga langit malam itu dipenuhi oleh 1000 lampion merah. Ia sangat menyesali tindakannya yang bodoh hingga akhirnya terdampar di padang hampa tanpa siapapun. Ia hanya dapat membakar lampion-lampion ingatan yang tersisa dalam benaknya hingga waktu benar-benar berhenti dan berharap dapat membawanya ke tempat yang berbeda.


Fin


Nb; dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/994759-lomba-cerbul-kasfan-agustus-12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar