Kamis, 04 Mei 2017

Eevs


Kota Eevs terletak di tengah Pegunungan Api Glokyous dan Laut Antraqia, beberapa penduduknya tersebar di kaki Gunung Glokyous. Mereka memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, petani, dan penambang. Hasil bumi yang melimpah ruah merupakan devisa yang diandalkan selama ini, maka dari itu hidup bersama alam adalah jalan yang dipilih untuk terus melestarikan lingkungan.
Kota tersebut berada di bawah kepemimpinan Kerajaan Raverst yang bijaksana dan arif dalam memimpin. Raja dan Ratu Kerajaan Raverst yang telah berusia lanjut diberkahi keturunan seorang pangeran yang berumur masih sangat muda. Walaupun tersiar kabar bahwa Raja dan Ratu Kerajaan Raverst memiliki tiga bahkan lima orang pangeran, tapi mungkin hal itu hanya berupa rumor belaka.

Rasa aman, nyaman, dan kehidupan harmonis yang telah dirasakan selama bertahun-tahun sirna ketika Valzaar, seorang kriminal yang haus akan kekuasaan dan harta datang bersama ribuan pasukannya menyerang Kota Eevs.
Demi memperoleh kemerdekaannya kembali penduduk Kota Eevs dari berbagai kalangan ikut berperang membantu pasukan kerajaan yang kian hari jumlahnya semakin menipis. Walaupun pasukan Kerajaan Raverst terdiri dari orang-orang terpilih yang kuat dan ahli dalam sihir, namun akhirnya dapat ditundukkan oleh kawanan kriminal yang bengis dan kasar serta pengguna black spell.
Akhirnya Kerajaan Raverst hancur, tidak ada yang tahu bagaimana nasib anggota keluarga kerajaan. Kota Eevs sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Valzaar. Kehidupan makmur berputar 180°, dalam sekejap keadaan kota berubah menjadi kawasan kumuh dan tempat prostitusi. Mereka berani melakukan apa saja demi mendapatkan uang dan bertahan hidup di jalan yang penuh penindasan.
Empat tahun berlalu setelah peristiwa tersebut, seorang pengelana berjalan di antara rumah penduduk yang tidak terawat. Pecahan kaca berserakan di tanah, cipratan darah yang menghitam menghiasi beberapa dinding rumah. Dua ekor burung Nazar sibuk mengorek tulang belulang seorang manusia yang tidak lagi utuh di sudut jalan yang sunyi, sisanya tengah bertengger di atap-atap rumah sambil mengamati sang pengelana. Angin menerbangkan debu mengotori kain lusuh yang menutupi sebagian wajah dan tubuhnya.
Dari sebuah lorong sempit seorang anak lelaki berumur tujuh tahun berlari keluar sambil membawa sebilah pisau. Ia mengacungkannya ke arah sang pengelana. Rambutnya yang berwarna biru dongker menarik perhatian sang pengelana. “Cepat berikan harta yang kau miliki!” Bentaknya kasar.
Sang pengelana tidak mengatakan apapun, matanya sibuk mengamati tubuh anak lelaki di depannya yang kurus dan tak terurus. Tangan yang menggenggam pisau itu terlihat bergetar. “Cepat berikan!” Bentaknya lagi.
Sang pengelana melemparkan sebuah koin emas dengan simbol kerajaan yang baru-baru ini hancur di tangan Valzaar. Anak lelaki itu memungutnya lalu diam terpaku memandang sang pengelana yang berjalan semakin menjauh darinya.
Dari dalam lorong yang sama, seorang anak lelaki dengan postur tubuh yang sama mendekati temannya yang terdiam memperhatikan sang pengelana. Rambutnya yang berwarna oranye kecoklatan terlihat lembut. “Orang itu memberimu apa, Zou?”
Zou menarik tangan temannya lalu menyerahkan koin berdiameter 5 cm tersebut. “Jaga yang lain, gunakan ini untuk bertahan selama aku tidak ada, Cails.” Ia berlari mengejar sang pengelana.
“Zou!! Mau kemana?!” Cails tidak bisa berlari mengejar Zou dengan kakinya yang masih terasa sakit akibat terkilir, selain itu ia juga tidak tega meninggalkan anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Zou tidak menjawab pertanyaan Cails, ia hanya mengangkat tangan kanannya yang dikepalkan. Cails tersenyum, ia memahami pesan nonverbal yang disampaikan Zou. Pesan yang memiliki arti bahwa ia akan kembali dalam keadaan selamat.
Seorang anak lelaki yang berusia lebih muda mengendap-endap dari balik tembok. “Kak Cails? Kak Zou mau kemana?” Tanyanya.
“Jangan khawatir, dia pasti akan segera kembali.” Cails mengusap-usap kepala Lene. “Semoga saja dia kembali dengan selamat.” Senyuman di wajah Cails menghilang digantikan rasa cemas.
***
Zou berlari mengikuti jejak yang tertinggal di atas tanah hingga menghilang di balik rimbunnya Hutan Terlarang Ire. Ia berjalan di antara pepohonan yang rindang, sinar matahari menyusup masuk diantara dedaunan. Suara angin yang berhembus lembut diiringi kicauan burung terdengar jelas. Zou memperhatikan sekelilingnya, ia tidak menemukan sosok yang dicarinya.
Dari kejauhan terdengar suara tentara Valzaar yang tengah melakukan patrol di sekitar hutan. Sang pengelana turun dari sebuah pohon di belakang Zou. Ia langsung memeluk tubuh Zou dengan tangan kiri lalu menutup mulutnya dengan tangan kanan. Kemudian membawa Zou ke atas pohon yang sama. “Jangan bersuara.” Bisiknya pelan di telinga Zou. Mereka menunggu di balik bayangan, diam dalam suara hutan.
***
Zou dan sang pengelana duduk di sebuah padang rumput. Ia melepaskan sarung tangan hitam, sepasang pedang sepanjang 70 cm berbentuk cekung, tas pinggang kecil dan kain lusuh yang selama ini dipakai untuk menutupi tubuhnya. Kulitnya yang berwarna kecoklatan terlihat jelas. “Udara di sini memang segar.” Ia mengangkat sedikit wajahnya ke langit biru yang luas. Angin membelai lembut rambutnya yang berwarna putih keperak-perakan sependek leher. Ia mengenakan baju warna merah dengan lengan pendek dan celana hitam sepanjang mata kaki.
“Bagaimana kamu tahu tempat ini?” Tanya Zou.
Ia menatap Zou sambil tersenyum. “Aku pernah tinggal sebentar di sini. Ternyata begitu aku kembali semua telah berubah sejauh ini.” Ia mengusap kepala bocah berumur tujuh tahun itu dengan lembut.
Zou melihat sepintas sebuah lingkaran kecil berdiameter 6 cm dengan tulisan seperti sansekerta di telapak tangan Reant. “Itu kan simbol pengguna sihir Aleith. Bagaimana bisa kamu memilikinya?” Ia tidak percaya dengan apa yang dilihat kedua bola matanya.
“Oh ini.” Pengelana mengangkat tangannya setinggi pundak. “Wah, kamu tahu banyak juga ya. Memang sangat sulit untuk masuk Organisasi Sihir Aleith, hanya orang yang memiliki kemampuan tertentu saja yang diterima. Kebetulan, aku pun memilikinya.” Pengelana itu tertawa menyembunyikan sebuah rahasia. “Oya, sejak tadi memanggil ‘kamu’ terus, aku juga punya nama, Reant. Panggil aku Reant. Kalau kamu?”
“Zou.” Jawabnya singkat.
Atmosfer yang semula terasa santai berubah menjadi penuh tekanan. “Lalu Zou, apa tujuanmu mengikutiku?”
“Aku ingin menjadi kuat dan membuat Kota Eevs layak untuk dihuni, walaupun tak sama dengan sebelumnya. Tapi saat itu pasti lebih baik daripada sekarang dan aku pikir, kamu adalah orang yang tepat.” Zou menjawab penuh dengan keyakinan.
Reant tersenyum nakal. “Bagaimana jika aku menolak?”
Zou berdiri, ia mengepalkan tangan kananya. “Tidak ada cara lain selain menundukkanmu di kakiku.”
Reant tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Zou. “Baiklah bocah sombong, coba tundukkan aku.” Ia berdiri menantang Zou.
Kedua jari telunjuk dan jempol Zou membentuk segitiga dengan jari tengah melipat di belakangnya. Ia menarik nafas lalu meniupkan udara di tengah lubang segitiga, lalu udara yang ia tiupkan berubah menjadi bola-bola api yang berukuran cukup besar. Reant melompat tinggi menghindari serangan Zou. “Aku tidak menyangka, kau juga bisa menggunakan sihir api Red Canon.” Ia tersenyum.
“Aku belajar sedikit!” Zou terus meniupkan bola api ke arah Reant, tetapi ia dapat menghindarinya dengan luwes walaupun berada di udara.
Tidak berapa lama Zou kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh. Air keringat membasahi tubuhnya yang kecil, nafasnya tidak beraturan. “Sial.”
“Nah bocah, sekarang giliranku.” Reant tersenyum sinis, kemenangan telak berada di pihaknya. “Bodoh sekali, sihir yang membutuhkan banyak energi seperti itu seharusnya tidak kamu gunakan di awal serangan.” Ia mendekatkan tangannya secara perlahan ke atas kepala Zou, lingkaran Aleith mengeluarkan cahaya terang.
Zou menutup rapat kedua matanya. “Jangan-jangan kepalaku mau diledakkan.” Ucapnya dalam batin.
Reant mengusap-usap kepala Zou dengan lembut. “Besok pagi persiapkan dirimu, untuk sementara waktu kita tidak akan melihat Kota Eevs.” Ia berjalan menuju Hutan Terlarang Ire mencari sesuatu yang dapat mengisi perut mereka, meninggalkan Zou dalam mantera pelindung.
***
Reant dan Zou memulai perjalanan mereka di pagi buta menuju sebuah pulau tak berpenghuni di tengah Laut Bielgh. Kondisi alamnya masih asri belum terjamah tangan-tangan manusia. Hewan liar bebas berkeliaran tanpa kekang, pepohonan tumbuh dengan leluasa dan udara terasa sangat menyegarkan pernafasan. Di pulau tersebut terdapat sebuah sungai yang tak begitu besar, airnya terlihat jernih dan bening. Mereka memutuskan untuk tinggal selama beberapa waktu di dekat sungai tersebut.
Zou berlatih keras mempelajari bela diri dengan tangan kosong, tongkat dan pedang cekung milik Reant. Adakalanya latihan terasa menyenangkan dan tak jarang begitu pahit. Ini adalah proses yang harus dilalui Zou untuk mencapai hal yang ia inginkan. Zou sadar, musuh yang akan ia hadapi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat teringat hal itu, Zou semakin memacu dirinya lebih keras bahkan waktu istrirahat ia gunakan untuk berlatih di dalam hutan secara diam-diam. Reant mengetahui hal itu tetapi ia menutup mata dan telinganya, yang dapat dilakukannya hanya mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam pola hidup.
Enam tahun telah berlalu, Zou tumbuh menjadi seorang anak yang bermental baja. Ia telah menguasai teknik dasar bela diri dan terus mengembangkannya di bawah bimbingan Reant. Kemampuan sihir Zou pun terus meningkat, karena ia cepat menangkap ilmu yang diajarkan Reant.
***
Tanpa terasa delapan tahun terlewati seperti sebuah kedipan mata, semenjak Zou meninggalkan Kota Eevs. Kini ia kembali membawa bekal yang mantap. Ia mengenakan baju berwarna hijau kusam dengan lengan pendek yang telah terkoyak dan celana sependek lutut. Kedua tangan dan kaki Zou ditutupi perban usang. Ia mengenakan sepatu dari kulit binatang untuk memudahkannya bergerak di atas kerikil. Sebagian wajahnya tertutup syal panjang dari potongan kain kusam. Tak lupa pisau belati sepanjang 50 cm dan lebar 8 cm terpasang di belakang pinggang. Tidak ada keragu-raguan dalam hatinya untuk menghancurkan kekuasaan tirani Valzaar.
Begitu kakinya menginjak Kota Eevs, ia disambut oleh lima penjaga bertubuh besar tanpa pakaian kerajaan. Sebilah pedang terpasang di setiap pinggang dengan tubuh penuh luka.
“Bocah, kalau mau masuk kau harus membayar upe..” Salah seorang dari mereka tidak melanjutkan ucapannya. Ia jatuh ke tanah seakan nyawanya telah dicabut oleh seorang malaikat kematian.
“Jika ingin hidup, segera menyingkir dari jalanku.” Zou memandang dengan tatapan dingin.
“Jangan macam-macam bocah!!” Mereka segera menyerang Zou bersama-sama tetapi gerakan mereka tehenti dan jatuh tanpa perlawanan di atas tanah. Zou berjalan melewati tumpukan tubuh tak bernyawa dengan wajah tanpa ekspresi.
Beribu-ribu pasukan Valzaar telah siap menghadang Zou, namun kemampuan mereka jauh di bawahnya. Sementara itu di dalam istana yang tidak terawat dan dipenuhi semak belukar, seorang lelaki bersimpuh di hadapan Valzaar. “Tuanku, seorang penyusup berhasil menembus barikade kita. Apa sebaiknya saya turun tangan sendiri?” Valzaar tidak mengatakan apapun, ia hanya memberikan sebuah isyarat jari. “Saya mengerti tuanku.” Lelaki yang mengenakan robe berwarna coklat bergegas keluar, di punggungnya terdapat sebilah kapak berwarna perak yang berukuran lima kali lebih besar dari ukuran normal dengan berat 275 kg.
***
Zou berdiri dengan angkuh, ia menginjak kepala salah seorang anak buah Valzaar. “Aku Tanya sekali lagi, dimana dia?” Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Zou, yang dilakukannya hanya mengerang kesakitan.
“Percuma saja jika kamu bertanya sambil menginjak kepalanya seperti itu.” Lelaki yang mengenakan robe itu berdiri di atas atap yang rapuh.
Zou membalikkan tubuhnya, wajahnya yang semula dingin berubah penuh ekspresi terkejut. “Cails..”
“Halo, Zou.. kamu datang terlalu telat!” Cails melompat lalu menarik kapak dari balik punggungnya, ia segera menghantamkan kapaknya pada Zou tetapi ia dapat menghindarinya.
“Apa yang kau lakukan Cails?!”
Cails mencabut kapaknya yang menancap dalam lalu menopanganya dengan pundak. “Baru sekarang muncul, apa kau tidak memikirkan kami?! Seandainya kamu datang lebih cepat.. Lene pasti masih bisa diselamatkan.. Walaupun kami tidak tahu asal usul masing-masing, tapi ia sudah kuanggap adikku sendiri!!” Ia melemparkan kapaknya. Zou melompat, tapi dari atas Cails telah bersiap memukulnya. “Matilah!” Cails menghantamkan tinjunya di wajah Zou. Ia langsung menghantam tanah, debu beterbangan di sekitar Zou.
“Cih, sial..” Zou meludahkan darah, pipi kirinya terlihat memar. Belum sempat ia membalas, Cails sudah mengangkat kapak perak miliknya bersiap membelah Zou.
Cails tersenyum sinis, ia menghantamkan kapak di tangannya. Butiran debu menghalangi pandangan Cails. “Melihat kemana? Cails..” Suara Zou terdengar dari belakang tubuh Cails. Ia langsung mengayunkan kapaknya.
“Lambat!” Zou menendang wajah Cails, ia terpelanting cukup jauh lalu berhenti setelah mendarat di potongan dinding sebuah rumah. “Sebenarnya aku tidak ingin melawanmu. Tapi karena sudah begini apa boleh buat.” Zou mengunci gerakan tubuh Cails dengan mantera lock lalu menembakkan Red Canon. Jerit kesakitan Cails terdengar bersamaan dengan suara ledakan yang membelah kesunyian Kota Eevs.
Asap putih mengepul dari tubuh Cails, ia terlihat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. “Ugh..”
Zou mendekati Cails lalu menarik kerah robe yang dikenakannya. “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku datang bukan untuk membunuhmu. Aku datang untuk memenuhi janjiku saat itu. Sekarang, selamatkan orang-orang yang tersisa. Bawa mereka sejauh mungkin dari sini, sepertinya situasi akan berkembang menjadi lebih buruk.” Zou melepaskan genggamannya tetapi Cails langsung mencengkram tangan Zou.
“Maaf, aku..” Cails menundukkan wajahnya, ia telah melupakan sosok seorang teman yang telah menopangnya ketika ia kehilangan seluruh hal berharga dari hidupnya. Keluarga, kebun, dan hewan ternak musnah tak bersisa saat Valzaar datang menyerang kota mereka. Tapi Zou hadir menyelamatkannya dari jurang keputus asaan yang hampir merenggut nyawanya di tepi jurang Veich. Ia dan anak-anak yang bernasib sama berjuang dari seleksi alam yang kejam, menempuh hidup di bawah gencetan tentara Valzaar yang sangat mereka benci. Entah ada dimana pikirannya saat ini, ia justru menjadi salah satu tentara yang paling ia benci saat masih kecil dulu.
“Nanti saja penjelasannya saat aku kembali.” Zou tersenyum, ia menepuk pundak Cails. Memberinya sebuah semangat baru. Zou beranjak dari sisi Cails.
“Dia ada di istana, berhati-hatilah.” Zou tidak mengatakan apapun ia langsung berjalan menuju istana, setelah beberapa langkah Zou mengangkat tangan kanannya yang dikepalkan. Cails hanya tersenyum lega.
***
Zou menendang pintu masuk istana yang telah rapuh, sepasang pintu itu terbang diantara tubuh Valzaar yang duduk miring menumpukan dagunya di tangan kanan lalu menghancurkan tembok di belakangnya. Valzaar terlihat tenang, ia tidak bergeser 1 cm pun dari tempatnya. Zou berdiri di hadapan seorang pria berambut putih keperakan yang panjang diikat dengan sehelai kain tipis. Ia mengenakan robe tanpa lengan yang menutupi punggungnya yang lebar. Dadanya yang bidang dan perutnya yang berbentuk six packs dibiarkan terbuka, sebuah luka goresan sebilah pedang memanjang dari perut hingga bahu kanan. Di samping singgasananya terdapat sebilah pedang dengan sebuah ukiran mantera sihir.
Zou mengarahkan mantera lock pada Valzaar tetapi dalam sekejap mata Valzaar sudah menghilang. “Menarik.” Valzaar muncul di belakang tubuh Zou lalu mencengkram kepala Zou kemudian membenamkannya dalam lantai istana dalam sekali hentakan. Hidungnya patah dan dahinya terluka, darah segar mengalir membasahi wajah Zou. Ia berusaha bangkit tetapi kepalanya terasa begitu pening. Valzaar membalikkan tubuh Zou dengan kaki kanannya lalu menginjak tubuh Zou tanpa rasa iba.
“Kak, tidak baik memperlakukan adik sendiri seperti itu, walaupun berasal dari lain ibu.” Suara Reant terdengar dari punggung Valzaar.
“Hoo, Reant lama tidak jumpa.” Valzaar membalikkan tubuhnya, melupakan Zou yang tidak dapat melakukan apapun selain mendengarkan pembicaraan mereka.
“Apa maksud semua ini Reant?” Tanya Zou lemah.
“Valzaar dan aku lahir dari rahim Putri Kerajaan Airst, tapi ibu meninggal tidak lama setelah melahirkanku. Lalu ayah menikahi Putri Kerajaan Aneyst dan melahirkan tiga orang putra, kamu, Cails dan Lene.” Zou sangat terkejut, ternyata mereka berlima memiliki hubungan darah dan merupakan keturunan Kerajaan Raverst.
“Ta, tapi mengapa aku sama sekali tidak ingat apapun tentang hal ini?” Tanya Zou gagap.
“Aku tidak begitu memahami pikiran orang tua, mungkin hal ini berkaitan dengan pembagian kekuasaan saat kita dewasa nanti. Walaupun aku tidak peduli takhta itu akan jatuh pada tangan siapa nanti tapi inilah kehidupan yang aku pilih.” Jelas Reant.
“Jadi selama ini kau sudah tahu jika kita memiliki hubungan keluarga?” Tanya Zou memastikan.
“Benar, sudah lama aku tidak melihat keluargaku. Makanya aku kembali untuk menengok kalian semua. Ternyata malah jadi begini, tapi aku sedikit kagum padamu yang dapat menguasai Red Canon
“Benar, sudah lama aku tidak melihat keluargaku. Makanya aku kembali untuk menengok kalian semua. Ternyata malah jadi begini, tapi aku sedikit kagum padamu yang dapat menguasai Red Canon setingkat dengan sihir yang dimiliki Perdana Menteri Lyoufh. Pada usia tujuh tahun aku hanya menguasai sihir-sihir skala lemah. Walaupun sikapku begitu saat bertemu, tapi sebenarnya aku senang masih ada keluargaku yang hidup. Waktu itu aku hanya iseng saja ingin melihat sudah seberapa jauh kemampuan yang kau miliki, ternyata kau pun memiliki bakat.” Reant tersenyum kaku, kedua pipinya merona merah.
Reant mengalihkan pandangannya pada Valzaar, ia menatap dengan sinis. “Ayah memang memberikan kebebasan pada kita untuk menentukan jalan hidup masing-masing. Tapi tidak kusangka, kau memilih menjadi sampah. Aku tidak dapat menerimanya!” Ucap Reant ketus.
Varzaal mencengkram kerah pakaian Reant. “Jika kau tidak tahu apapun tentangku, jangan banyak bicara!” Ia melempar Reant seperti potongan kain lap, namun Reant dapat mengendalikan tubuhnya. Ia mendarat di atas kakinya tanpa terluka sedikit pun.
Valzaar memanggil pedang yang berdiri di samping singgasana kolot. Mantera sihir di badan pedang menyala terang lalu dalam sekejap berpindah ke tangannya. “Kamu tidak tahu, neraka seperti apa yang telah disiapkan ibu untuk membentukku selama ini agar dapat duduk di atas singgasana kosong itu.” Ia memalingkan wajahnya ke arah Reant. “Karena itulah, aku akan menghancurkan segalanya hingga tidak bernilai sama sekali. Dengan begini, kekuasaan yang selama ini diagungkan wanita itu sudah tidak berarti apapun lagi! Wanita itu pasti menangis di dasar neraka sana!” Valzaar tertawa dengan puas.
Reant mencabut kedua pedang kembarnya, ia melompat mengarahkannya pada leher Valzaar. Mata yang haus akan darah itu terfokus pada sebuah tujuan, melenyapkan Valzaar. Tapi itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, kekuatan mereka hampir berimbang. Valzaar menangkis serangan Reant menggunakan pedang, lalu memotong tubuhnya menjadi dua bagian. Tapi itu bukanlah tubuh Reant yang sebenarnya, ia muncul menorehkan sayatan kedua pedang cekungnya di punggung Valzaar.
“Kali ini aku tidak akan membiarkanmu hidup.” Valzaar menyeringai.
“Seharusnya aku yang berkata begitu, kak. Akan kubayar kekalahanku waktu itu beserta bunganya.” Mereka kembali mengadu kekuatan, tidak hanya dengan pedang tetapi juga ilmu sihir yang mereka kuasai. Goresan luka dan memar mulai nampak di tubuh mereka. Zou berusaha untuk masuk dalam pertempuran sengit itu, namun tubuhnya belum bisa digerakkan.  Tengkorak kepala retak dan beberapa rusuknya patah akibat serangan yang baru ia alami. Zou sedikit kesulitan saat bernafas, dadanya terasa menyempit.
Reant sedikit lengah saat menghindari lemparan stalagnit, kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Valzaar untuk memotong lengan kanan Reant. Tangan yang masih menggenggam sebilah pedang itu terlempar ke udara, darah segar mengalir membasahi dada hingga pinggang. “Hahaha, aku sedikit ceroboh.” Reant meringis kesakitan.
“Akan kuhilangkan rasa sakit dari wajahmu, Reant.” Valzaar mengangkat tinggi pedang kesayangannya. Gerakannya terhenti sebelum menyentuh tubuh Reant. Ia melirik ke arah Zou. “Seharusnya aku melenyapkanmu dulu, bocah.” Mantera lock milik Zou mengunci gerakan Valzaar.
“Syukurlah, tadi aku sempat kebingungan memikirkan cara melawan dan bertahan hanya dengan sebelah tangan.” Reant mendekati tubuh Valzaar yang diam membatu.
Zou sedikit memiringkan tubuhnya. “Cepatlah, aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.” Ia berusaha mengatur nafasnya yang saling berkejaran.
Reant melemparkan pedang dari tangan kirinya lalu menyentuh tubuh Valzaar. “Kalau dengan cara biasa, kau tidak akan mati. Tidak ada cara selain meledakkan semuanya.” Cahaya terang muncul dari telapak tangan Reant.
Valzaar menutup kedua matanya, ia tersenyum dengan penuh kelembutan. “Ibu, dengan begini aku sudah menjadi kakak yang baik kan? Setidaknya kerajaan kita tidak akan lagi menjadi anjing suruhan Organisasi Sihir Aleith brengsek itu lagi. Walaupun cara yang aku ambil salah tapi inilah satu-satunya jalan membebaskan keluarga kita.” Lambat laun cahaya itu membesar menelan apapun di sekitarnya, merubah mereka dan Kota Eevs menjadi abu.
Sebuah kenangan pahit muncul ke permukaan jauh dari dasar ingatan Valzaar. Organisasi Sihir Aleith yang ia kagumi selama ini ternyata menusuk keluarganya dari belakang. Putri Kerajaan Airst telah mengetahui kudeta yang direncanakan oleh para tetua Aleith saat mengandung Reant. Demi mempertahankan kekuasaan mereka, sebuah skenario pembunuhan Putri Kerajaan Airst dibuat agar terlihat seperti takdir yang menyakitkan. Valzaar yang baru menginjak lima tahun mencuri informasi dibalik pintu kamar utama. Ia sangat syok dengan kenyataan yang ia ketahui, rasa marah dan dendam memenuhi hatinya.
Dua tahun berlalu setelah kejadian itu, sebuah intruksi gila diberikan kepada raja Kerajaan Raverst untuk memencar keturunan-keturunannya demi kebaikan yang bersifat abstrak. Ia tidak dapat menolak perintah yang diberikan, karena selama ini Organisasi Sihir Aleith telah banyak menyokong kerajaan dari belakang. Hal yang paling menyakitkan adalah saat adik kesayangannya, Reant dilatih dengan sebuah tujuan politik. Valzaar yang merasa muak dengan semua kenyataan itu membuang segalanya dan masuk dalam lembah hitam.
Sebuah rahasia besar terkubur bersamanya dalam kematian. Manusia yang tersisa hanya menyaksikan kehancuran dari sebuah gua di atas bukit yang cukup jauh dari Kota Eevs. Airmata Cails tumpah di kedua pipinya, kali ini Zou tidak akan kembali.
Matahari terbenam dalam warna merah, Cails berdiri di hadapan dua makam tanpa jasad. Ia meletakkan karangan bunga, lalu pergi menuju Kota Eevs yang telah rata dengan tanah. Penduduk yang tersisa bertekad untuk membangun semuanya dari awal, di bawah komando Cails.
Fin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar