Selasa, 25 April 2017

Lady

Asap mengepul tipis di tengah hutan. Seorang pria bersandar pada pohon. Gemerisik daun dan racauan serangga malam yang mengganggu. Aku tengah menikmati santap malam yang luar biasa mewah; sepotong roti gandum yang telah kusimpan lebih dari lima hari dan air sungai. Sesekali aku ingin menyantap daging. Tapi setidaknya, aku masih memiliki makanan yang kudapatkan dari merampok manusia.
Sayangnya aku tidak terbiasa memakan mereka, meskipun banyak pilihan cara yang dapat digunakan untuk mengolah daging dan tulang mereka dengan bumbu tradisional bangsaku, Jörmungandr. Sewaktu kecil ayahku pernah membawa beberapa potong bagian tubuh mereka. Dan dengan cekatan ibuku mengolahnya menjadi masakan penuh gizi yang menghilangkan seleraku.


Hal ini tidak berarti bangsaku memburu manusia untuk dikonsumsi. Hanya saja saat itu perang tengah berkecamuk. Ladang, sektor pertanian, perkebunan serta peternakan musnah. Kami hampir mati kelaparan. Itu sebabnya ayahku membawa potongan yang masih layak dimakan. Maaf, aku tidak bermaksud kasar, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya.
Setelah peperangan besar yang akhirnya reda, bangsaku berpencar ke seluruh pulau yang ada. Berkat segala kerusakan dan akibat tidak mengenakkan populasi kami pun berangsur punah. Dan di sinilah aku sekarang, menjadi penjahat barbar purba di tengah gerusan zaman.
Kuusap kulitku yang ditumbuhi sisik tebal. Udara malam yang menusuk tidak begitu kurasakan karena mantel yang berhasil kurampas. Apa? Kau pikir sisik kehijauan ini saja cukup untuk melindungiku dari perubahan cuaca? Kelebihan tubuhku ini lebih cocok dimanfaatkan dalam peperangan, pelarian dari kejaran amuk massa, dan gigitan ikan piranha saat bersembunyi dalam sungai. Meski begitu, tetap saja aku memiliki kelemahan, tapi tidak akan kuberitahu. Kalian para manusia begitu comel dan tidak dapat menyimpan rahasia.
Mari kesampingkan dulu curahan hatiku yang berbicara tak terkontrol. Ah ya, kondisi hutan sedang diambang krisis. Aku sudah lama tidak melihat burung serta hewan lainnya di sini, itu sebabnya aku sedang kesulitan memenuhi kebutuhan perutku–aku bisa melahap seekor rusa jantan dewasa dalam sekali santap. Yah, mungkin memang sudah takdir mu–
Ah! Bau manusia!
Aku mengendap-endap mengamati dari balik semak-semak. Kedua mataku dapat melihat dengan baik dalam kondisi gelap gulita, namun tidak bersinar seperti seekor kucing. Manusia beraroma tajam, meski ia berada di dalam kereta yang dikusiri oleh seekor goblin tua mengenakan jubah lusuh dan topi lebar usang. Aku menyukai itu–jubah dan topinya–akan kuambil nanti.
Tapi apa yang membuat mereka melakukan perjalanan pada malam hari? Yang sudah jelas terdapat bahaya tengah mengincar mereka–yaitu aku. Ah.. aku mencium sesuatu yang mencurigakan di balik kebiasaan ganjil ini.
Akhirnya aku mengikuti mereka; mematikan bara api dengan air yang tersisa di botol kulitku, memelankan suara derap kakiku, dan sebisa mungkin menyamarkan hawa keberadaanku. Tidak kusangka perjalanan ini cukup jauh dan agak membuatku kerepotan. Mereka ingin melakukan sesuatu yang tidak ingin diketahui siapa pun. Aku semakin penasaran.
Aku bersembunyi di atas sebuah pohon tua besar. Mereka berada delapan ratus meter dariku, tapi tak masalah. Aku masih bisa melihat mereka seakan segalanya terjadi di depan jempol kakiku. Kulihat si goblin menjentikkan jarinya yang keriput dan berkuku panjang serta tak terawat. Tiba-tiba sebuah kastil dengan tembok berwarna abu-abu kusam muncul. Pada dindingnya terdapat lumut yang berkerak tahunan serta tanaman liar merambat menggerogoti lapisan semen dan batu bata. Yang membuatku tak habis pikir adalah, tidak ada seorang prajurit pun yang berdiri menjaganya.
Meski dilapisi perisai yang membuat kastil besar, tinggi serta menakutkan tak terlihat. Setidaknya jika ada penghuninya yang royal, ia pasti meminta disediakan lusinan pelayan serta satu kompi prajurit untuk melindunginya. Setidaknya itu– ooh! Mereka bergerak. Si goblin memecut cambuknya. Menghendaki Kludde miliknya menarik mereka masuk ke dalam gerbang. Tiga puluh detik kemudian, kastil itu kembali tak terlihat. Aku akan menyusup masuk. Kemungkinan mereka menyembunyikan sesuatu yang berharga di dalam sana. Apapun itu, akan kurampas hingga tak bersisa.
Aku mengaktifkan kemampuan pupil mataku untuk melihat menembus perisai. Aku dapat melihatnya sejelas tengkorak di dalam tubuh manusia. Seperti cetak gambar biru arsitektur hanya saja warna hitam dengan garis tegas mendominasi.
Aku menyusup masuk.
Di dalam sini jauh lebih normal. Kereta dan Kludde di parkir dengan rapi. Anehnya anjing bersayap itu tidak melolong memberi peringatan pada majikannya. Ia terlihat tidak peduli dengan kehadiranku. Dapat kutebak, si kusir membawa Kludde yang malang itu ke rumah penjagal. Membiarkannya memotong moncongnya, merusak indra penciuman dan pendengarannya agar tidak mengganggu jam istirahat. Kudengar di dekat Hutan Archt terdapat rumah jagal yang mengurus hal itu dengan ahli.
Aku melangkah semakin jauh, cahaya lilin menerangi ruangan sebesar Aula Pertemuan di Kota Fourthen. Begitu luas hingga kau dapat membangun kolam renang dan mengadakan pesta barbequeserta mengundang tiga puluh keluarga besar untuk dijamu.
Telingaku menangkap suara langkah kaki berat setengah diseret. Aku segera bersembunyi begitu mengenali bau asam bercampur aroma lumpur yang lembab serta amis ikan salem. Bisa saja aku menyerang si goblin duluan untuk mendapatkan jubah dan topinya, tapi ada hal lain yang lebih menarik di sini. Manusia yang diantarnya ditinggalkan di tempat ini.
Aku menunggu hingga decitan suara roda menghilang. Begitu kesempatanku datang, aku mengikuti wangi masakan koki kelas atas memenuhi sepanjang lorong yang kulewati. Aku mengintip perlahan di sela-sela pintu. Seorang wanita tengah menikmati makanan yang tengah dihidangkan. Sedangkan si pelayannya berdiri santai menanti majikannya selesai. Tidak ada komunikasi apa pun di antara mereka. Dari balik celah tipis itu aku melihat simbol aneh di pergelangan tangan si pelayan ketika membereskan piring dan gelas anggur. Sudah saatnya aku menghilang. Mencari lokasi nyaman dan aman untuk beristirahat.
***
Suara cicit burung membangunkanku. Matahari sudah cukup tinggi dan perutku berteriak minta diisi. Jadi hal pertama yang harus kulakukan sebelum memulai hari adalah mencari makanan. Di dekat kastil ini terdapat aliran anak sungai. Kuharap dapat menjaring beberapa ekor ikan untuk sarapan.
Aku merayap turun dari loteng menara. Dan tanpa sengaja melihat gadis yang sama dalam balutan pakaian berbeda. Semalam aku tidak menangkap jelas bentuk wajahnya, tapi saat ini, secemerlang langit biru! Wajahnya oval agak tirus. Ia memiliki mata yang sayu dengan bulu mata lentik cukup panjang hingga dapat disentuh ketika ia menutup matanya. Kulit tubuhnya berwarna putih pucat seperti mayat. Dan ia– lho?
“Apa yang kau lakukan?!” Aku berseru sambil melompat lembut di atas rerumputan tebal. Aku bergegas menghampirinya. “Keluarkan dari mulutmu!” Aku memegangi tangan kurusnya. Setengah potong tubuh ulat hijau tak berbulu yang sehat dan montok dengan luka gigitan, terjatuh.
“Jika kau lapar, panggil pelayanmu dan suruh ia untuk membuatkanmu makanan! Baiklah. Berhenti menatapku seperti itu, bulu kudukku sampai merinding.” Tapi gadis itu tidak menjawabku. Ia menatapku kosong tanpa rasa takut. Seolah pikirannya tak berada dalam tubuhnya.
“Pe.. la.. yan?” Ia bertanya kaku. Menatapku lurus seperti pandangan anak kecil yang meminta mainan.
“Err, iya, kau tahu. Orang yang bisa kau suruh-su–” Samar-samar aku mendengar derap langkah berlari mendekati kami. Waktunya aku pergi.
Aku melompat ke dinding dan hampir tergelincir akibat panik. Aku segera merayap kalap sambil menebas-nebas ekorku. Telingaku menangkap desingan benda padat berwarna perak dilemparkan ke arahku. Aku bergerak semakin kalut hingga ke batas dinding. Kepalaku terantuk, kakiku terpeleset, dan aku jatuh menghunjam tanah dengan posisi kepala duluan sebelum akhirnya tubuhku ambruk setelah bersalto.
Aku terlalu pusing untuk segera bangun dan lari. Akhirnya aku merapalkan mantra ilusi. Si pelayan berderap mendekatiku. Ia tidak melihat apa pun kecuali jajaran bongkahan batu. Ia mendengus kesal lalu mengambil sendok sayur yang menancap tidak jauh, sebelum masuk kembali ke dalam kastil.
Aku sedikit bersyukur, pelayan itu tidak memastikan batu di hadapannya. Ia bukanlah manusia berkemampuan biasa yang sengaja diutus untuk mengurus penghuni tunggal kastil ini. Pasti ada penjelasan logis untuk segalanya. Sebelum itu, aku ingin berbaring sebentar lagi untuk menghilangkan nyeri di kepalaku.
***
Aku merenung menatap aliran sungai. Di sampingku terdapat bekas pembakaran tanpa sisa duri ikan, akan lebih mengenyangkan jika aku melahap segalanya. Kesimpulan yang dapat kuambil, si pelayan tidak suka jika majikannya bersosialisasi. Itu sebabnya ia hanya memperingatkanku dengan sambitan ringan. Auranya sama sekali tidak menunjukkan ia ingin membunuhku. Tapi apa alasannya? Yah, jika pelayannya tidak ingin memberitahuku. Akan kucari tahu langsung dari majikannya.
Jadi, setiap hari aku mencoba untuk mengobrol tanpa diketahui si pelayan. Diluar dugaan, wanita ini tidak mengingat identitasnya. Ia bahkan kesulitan untuk menyebut nama benda-benda di sekelilingnya. Ia juga tidak tahu mengapa berada terkucilkan di Kastil Terbuang ini. “Baiklah nona, aku akan bertanggungjawab untuk mengajarimu. Aku tidak akan mengorek masa lalu yang membuatmu trauma sehingga menghilangkan memori penting dalam hidupmu. Aku akan menuntun dan menjagamu sebagai seorang kekasih.” Bagus bukan? Inilah yang kumaksud dengan sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dan wanita ini? Ia menyetujui tanpa berpikir.
Dan akhirnya, musim semiku pun dimulai. Aku memperkenalkannya pada berbagai hal yang belum pernah ia ketahui. Memberitahunya bermacam-macam benda dan menemaninya tidur hingga ia terlelap. Kendalanya hanya satu, aku harus melakukannya diam-diam. Meski begitu, pelayan manusia itu menyadari perubahan signifikan yang terjadi pada majikannya. Ia semakin memperketat penjagaan, yang berdampak pada berkurangnya waktu kami bersama. Sebenarnya aku sudah mencoba untuk menyingkirkannya, tapi ternyata ia dapat membalikkan keadaan. Aku pun tersudut dan mundur dengan kekalahan telak. Biar begitu, aku tidak akan menyerah demi calon istri masa depanku.
Setahun telah berlalu sejak aku melakukan perlawanan secara sembunyi-sembunyi. Malam semakin larut, aku membelai lembut rambutnya yang panjang bergelombang berwarna cokelat keemasan. “Safgh sayangku, beberapa malam ini aku selalu bermimpi buruk. Hatiku selalu terasa sakit dengan kelebatan-kelebatan ingatan mengerikan. Apa yang sebaiknya kulakukan?”
“Kalista sayang,” aku suka sekali adegan drama picisan ini akhirnya bisa kuterapkan dalam kehidupanku yang suram. Ngomong-ngomong, aku yang memberinya nama itu, manis bukan? “Seandainya, aku bisa menghapus kegundahanmu. Tapi mungkinkah hal itu pertanda seluruh ingatanmu akan kembali? Apakah kau tidak senang?”
“Jadi, aku harus menerimanya? Ingatan tentang diriku yang bersimbah darah itu? Aku tidak mau!” Kalista memeluk tubuhku, tangannya bergetar. Inilah saatnya bagi seorang pria sepertiku membuatnya tenang. Tapi keinginan itu tiba-tiba menghilang ketika sorot mata gadismu berubah buas, garis wajahnya berubah keras, dan dari tubuhnya menguar hawa membunuh yang kuat.
Aku melompat menjauh, bersiaga dengan belati di tanganku. Apa yang telah terjadi di sini? Aku menelan ludah, keringat mengalir di pelipisku, punggungku basah akibat derasnya peluh. Aku ingin menyingkir dari tempat ini secepatnya. Atau, jika aku memang harus menghadapinya, aku tidak akan sanggup sendirian.
Bantingan pintu. Aku tersentak kaget. Si pelayan berdiri dengan nafas tersengal. Di tangannya terdapat lilin. Kami saling berpandangan, ia jelas memandangku penuh kebencian dan amarah. “Inilah yang kutakutkan, kebangkitan Lady Crastafell.” Si pelayan mengeluarkan belati yang dipenuhi cetakan tulisan kuno. “Masih ada waktu sebelum kebangkitannya sempurna.” Ia bergegas maju dengan belati siap dihunuskan ke arah dada.
“Mau apa kau?!” Aku segera mencengkram tangannya lalu memuntirnya ke punggung. Seperti petugas yang tengah mengamankan penjahat.
“Cepat lepaskan Makhluk Hina! Jika ingatannya telah sempurna, hal itu justru akan membahayakan segalanya!” Si pelayan bergerak kalut. Aku sendiri bimbang.
Tubuh wanita yang telah mengisi hatiku yang hampa, kini terangkat perlahan ke udara. Aku tidak ingin menyakitinya, tapi agak mengerikan jika aku membiarkannya. Apa yang sebaiknya kulakukan?
Aku terendam dalam pikiranku hingga kusadari ‘Kalista’ menatapku dengan sorot dingin sedalam samudra. Ia tersenyum hambar, lalu pergi dengan menghancurkan jendela. Pecahan kaca dan kayu berhamburan.
“Kau sudah puas? Dalam hitungan detik dia akan membangkitkan makhluk kegelapan dan menciptakan kerusakan di atas bumi. Singkatnya kiamat!” Si pelayan meronta untuk dilepaskan. Aku pun mengikuti keinginannya. “Sekarang aku harus memberitahu kegagalanku pada Kepala Pendeta Suci. Dan ini semua berkat kebodohanmu!”
“Baiklah, cukup sampai di situ, Makhluk Menyedihkan.”
“Kau! Berani-beraninya! Padahal aku sudah memperingatkanmu dengan lemparan ringan sendok sayur, tapi kau tidak juga jera. Aku juga sudah menyudutkanmu dan mengampuni nyawamu, tapi kau tidak juga mengerti! Lihatlah aki–”
“Yak, cukup. Sekarang giliranku berbicara. Aku akan membantumu mengatasi masalah ini, yang tentu saja penyebabnya adalah diriku. Aku minta maaf. Tapi kau harus menjelaskan hal yang perlu kuketahui.”
“Baiklah, sekarang bersiaplah mengantarku. Aku akan menceritakan segalanya selama perjalanan.”
Kami melesat menembus hutan. Selama menumpang di punggungku, pelayan yang kuketahui namanya adalah Viern, bercerita tentang simbol di tangannya. Ia memperolehnya tidak sejak lahir, tetapi saat pemilik sebelumnya mati. Ia sendiri bahkan tidak tahu mengapa bisa mendapatkan tanda tersebut. Yang jelas, begitu mendapatkannya kau dibebani tugas untuk mengurus dan mengawasi Lady Crastafell.
Ia selalu diperingatkan oleh mentornya untuk tidak menjalin hubungan sosial dengan Lady Crastafell. Karena melalui cara itu, ingatannya akan kembali. “Wanita itu diberi julukan Lady Crastafell bukan tanpa sebab. Ia lahir membawa kutukan kematian, kehancuran dan kejatuhan makhluk hidup. Meski akan mudah sekali untuk membunuhnya, tapi Nafas Agung menangguhkan keberadaannya. Hei lihat ke depan! Ia tidak boleh ma–hei awas! Apa kau sengaja melakukannya?!”
“Maaf, konsentrasiku terpecah. Silakan lanjutkan.”
“Baiklah, gadis itu tidak boleh mati. Jika mati, keseimbangan akan rusak dan dunia ini pun kiamat.”
“Tapi tadi kau mau menusuknya–”
“Aku belum selesai bicara. Dengar, dengan menghancurkan jantungnya ia akan kehilangan segala ingatan yang ia miliki. Namun sebagai gantinya, ia akan mengambil kehidupan orang yang menusuknya dan hidup kembali seperti boneka. Itulah tugasku sebagai budaknya, tidak memperkenankannya untuk mempelajari suatu apapun. Dengan begitu, perasaan dan ingatannya tak akan pernah terkumpul.”
“Tidakkah ada cara lain untuk menyelamatkan Kalista?”
“Aku tidak percaya kau bahkan memberinya nama,” Viern tergelak kering.
“Jawab saja pertanyaanku.”
“Ya, ya, tentu ada, berperang sampai salah satu pihak hancur. Dengan begitu tidak masalah jika kiamat datang.”
Ah, buruk.
***
Sesuai pernyataan Viern. Langit ditutupi awan gelap padahal baru memasuki musim panas, hewan-hewan gelisah tak karuan, dari wilayah hutan terdalam bergaung suara makhluk-makhluk yang haus darah. Makhluk yang bahkan aku sendiri tidak dapat membayangkannya.
Para petinggi suku dipanggil untuk mengikuti rapat di Aula Pertemuan di Kota Fourthen. Aku diperkenankan ikut. Aku diperintahkan untuk mengumpulkan Suku Jörmungandr yang masih bisa kutemukan untuk ikut berperang. Waktu yang diberikan padaku hanya seminggu, tapi itu sudah lebih dari cukup. Begitu meninggalkan ruang pertemuan yang suram dan penuh tekanan, aku singgah sebentar di Asrama St. August untuk mempersiapkan perbekalan.
Aku memiliki banyak pertanyaan tentang belati itu. Akhirnya dengan enggan dan frustasi aku berdiri di depan pintu kamar Kepala Pendeta Suci. Aku mengetuk pelan. Terdengar suara mempersilakanku untuk masuk.
"Sudah kuduga kau akan datang." Si pendeta tua duduk santai di kursi tingginya dengan bantalan empuk berwarna merah di belakang meja kerjanya.
"Yah, memang cukup berat untuk datang kemari. Ada hal yang ingin kutanyakan."
"Kau ingin menyelamatkannya, bukan begitu?"
"Kira-kira seperti itu. Kau, maksudku, Anda mengetahui caranya bukan?"
Si pendeta menutup buku kitab dan fokus pada pembicaraan kami. "Belati itu dibuat oleh mendiang temanku, dengan mantra Pengikat yang kuat. Ia pernah memberitahuku tentang penyegelan permanen yang menjadikan pembawa simbolnya penyegel tetap. Tapi ia tidak memberitahukan tata cara pelaksanaan pelepasannya."
"Apa itu artinya aku harus melakukan penyatuan dengan mantra Pengikatnya?"
"Entahlah, hanya itu yang bisa kusampaikan. Istirahatlah, besok pagi kau akan memulai perjalanan panjang."
"Aku mengerti." Aku ke luar dari ruangan itu dengan beban stres yang semakin berat.
Keesokannya, aku berangkat pada pagi buta menyusuri selama lima hari Wilayah Selatan, Daratan Neum, Pegunungan Barat, dan Hutan Deep Trest, tempat aku menemukan bau khas kaumku. Dan aku pun kembali dengan membawa empat puluh lima prajurit yang siap bertempur, serta serombongan keluarga mereka yang berharap perlindungan. Syukurlah, meski terdapat sedikit perselisihan, namun dapat diatasi dengan baik. Karena bukan saatnya berselisih paham, semuanya bertempur untuk tujuan yang sama. Kelangsungan seluruh kehidupan di bumi.
Aku berdiri memimpin pasukanku. Di tubuhku dan yang lainnya terpasang zirah besi sesuai dengan kebangsaan masing-masing. Di daratan tandus ini terbentang dua kubu pasukan. Menanti komando dari panglima utama perang masing-masing.
Di seberangku berdiri ratusan makhluk berkaki empat dengan lima mata yang berkedip tak beraturan. Mulut mereka terbuka, lidahnya yang panjang terjulur keluar. Dua pasang gigi taring mengkilat basah, seakan siap mengkoyak lawannya. Namun tidak hanya mereka yang bersiap menyerang kami, makhluk yang lebih tinggi dari bangsaku berdiri dengan dua kaki dan memiliki empat tangan. Di punggungnya terdapat sepasang sayap kelelawar, mereka tidak hanya bersiap di darat tetapi puluhan makhluk seperti itu telah bersiaga berputar-putar di langit. Dan masih ada jenis lainnya yang semakin lama semakin aneh.
“Hei Manusia, tetaplah berada di dekatku.”
Viern mengerutkan kening. “Kau sendiri tidak akan mampu membukakan jalan untukku. Bergabunglah dengan yang lain.”
“Jangan khawatir, kau bisa mengandalkanku.”
“Telingamu berguna tidak sih? Kau tidak dengar?”
“Ssshh.. berkonsentrasilah, Nak. Kau tidak dengar tiupan horn bugles pertama itu?”
Begitu tiupan ketiga, kami menyerang. Kalista pun memberi aba-aba untuk melawan. Dan untuk kedua kalinya aku melihat neraka, namun kali ini aku tidak hanya duduk, bersembunyi di ruang bawah tanah, atau merengek memeluk ibuku. Aku berjuang!
Teriakan, suara tulang remuk, dan gesekan besi dingin berlumur darah. Sudah hampir seharian aku di sini membunuh puluhan musuh. Jumlah pasukan kami berkurang, namun tidak dengan milik Kalista. Begitu tersisa setengahnya, ia akan kembali memanggil makhluk dari dasar Jurang Leviathan. Jika dibiarkan terus kami akan musnah tanpa bala bantuan.
Aku memberi aba-aba dengan efek paralel. Dari tiap kompi pasukan seekor naga muncul di tengah-tengah mereka. Melemparkan bola api, mengibaskan ekor panjangnya yang kuat serta mencabik pasukan Kalista. Viern terkesima sedetik, sebelum kutarik tangannya yang lemas. “Perhatian mereka teralih, ini kesempatanmu.” Viern berlari pincang sambil menekan perutnya. Ia terkena luka tusukan. Aku mendecakkan lidah. “Tidak bisakah kau melindungi dirimu sebentar saja sampai kubuatkan celah seperti yang kau inginkan?” Aku menggendongnya di punggung.
Viern kesulitan bernafas. “Tidak apa, aku masih bisa.” Ia merogoh sesuatu dari balik punggungnya. Memantapkan posisi tangannya untuk lurus mengacungkan ujung belati.
Kami hanya tinggal lima puluh kaki dari Kalista. Namun, ia kembali memanggil pasukannya. Aku berlari membelok ke arah pepohonan. Aku merapalkan mantra ilusi, lalu mendudukkannya bersandar. “Viern, berikan belatinya. Aku akan mengusahakan sesuatu.” Viern menyerahkannya, ia terbatuk, darah menyembur dari mulutnya. Aku mengeluarkan obat herbal dari dalam tas kulitku. “Makan ini, setidaknya akan menghentikan pendarahannya.” Viern mengangguk lemah. “Akan kuselesaikan sebisaku.”
Aku mencengkram belati di tangan kiriku dan pedang di tangan kananku. Aku menerjang dengan kecepatan tinggi sambil membuka celah untukku sendiri. Aku merapal mantra Pelepasan, tubuhku membengkak dan memanjang. Kusemburkan api, membakar hingga matang lawan yang menghalangi jalanku.
Aku hanya tinggal menusuk jantungnya. Tapi tubuhku bergetar menolak keinginan otakku. Apa yang akan kulakukan, akan kuputuskan begitu di dekatnya. Aku menembus perisai Kalista, ia segera mengambil tombak hitam dengan mata tombak berwarna kuning gading. Namun Kalista kalah cepat denganku, aku segera melilit tubuhnya dengan ekorku. Mengunci rapat tubuhnya.
Senyum tipis mengejek tersungging di bibirnya yang tipis. “Kau Makhluk Hina! Beraninya kau menyentuh tubuhku!” Suaranya tercekat akibat sesak. Namun jelas kulihat gerakan mulut tanpa suara itu adalah rapalan mantra. Benar saja, tombak hitam itu melesak menusuk dadaku, meski tak ada yang melemparnya. Aku memuntahkan darah. Sudah kuduga, sejak pertama melihatnya perasaanku tidak enak.
Batang tombak itu ditempa dari campuran baja, titanium, dan sisik naga hitam. Mata tombaknya lebih berbahaya, dibuat dari campuran gigi dan tulang si naga. Ditambah, racunnya yang terus keluar secara alami. Aku dapat mengatakannya, karena tombak jenis itulah yang membunuh kaumku dulu.
Kekesalanku memuncak. Kulempar belati yang tersimpan aman dalam cakarku, lalu kutelan. Hanya itu cara penyatuan termudah yang bisa kupikirkan. Sebuah tanda yang sama dengan milik Viern terukir di dadaku, dengan tambahan lingkaran dan tulisan rune. Kutusuk jantungnya dengan ekorku. Ia menjerit. Seluruh pasukannya terdiam, membatu, dan hancur menjadi pasir halus.
Sedangkan aku, rasanya tubuhku semakin menciut dan terkunci di sebuah ruangan kecil kosong yang dipenuhi cahaya. Sepertinya aku salah. Inikah rasanya menggantikan kehidupan seseorang?
***
Seorang gadis menanti tenang di ruang makan. Seseorang mengetuk pintu, lalu berjalan ringan menghidangkan makanan. Sisik hijau yang menutupi kulit tubuhnya tidak membuat gadis itu merasa jijik. Si gadis menikmatinya. Aku menanti dengan sabar, hingga ia selesai. Heran? Mengapa aku masih hidup? Aku pun berpikir begitu.
Seharusnya aku mati, karena menggantikan jantung kehidupan gadis ini. Tapi berkat belati yang kini masih diperutku dan tanda yang terukir ini, aku akan menjadi penjaga dan pengawas abadi miliknya. Kukira dengan menelan belati itu, aku bisa menyegelnya bersamaku. Ternyata hasil akhirnya jauh dari dugaanku. Aku tidak perlu makan atau minum, meski aku memiliki tubuhku sendiri, asupan energi di suplai dari majikanku. Setidaknya aku akan terus berada di sampingnya hingga waktu kehancuran yang seharusnya tiba.
Fin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar