Aku turun dari mobil dan berjalan sedikit menuju tempat tujuanku, kasino termegah yang berdiri di daerah ini. Lampu-lampunya tersusun rapi membentuk tulisan besar-besar: KING’S CASINO.
Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata ataupun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?).
Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku, namun sambutan meriah itu bukanlah untukku tapi untuk tuanku. Bisa dikatakan aku hanyalah seorang pelayan biasa dari rumah mewah yang berusaha untuk membalas budi atas kebaikan tuannya selama ini. Aku mengenakan jas buntut hitam dengan celana sepanjang mata kaki.
Aku berdiri agak jauh dari tempat tuanku, menjaga jarak dengannya di dalam keramaian manusia yang haus akan keberuntungan. Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai macam jenis permainan judi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku sendiri hanya tahu sedikit tentang poker.
“Elliot, mendekatlah.” Ia melambaikan tangannya padaku. Aku segera mendekatinya dengan mempercepat langkah kakiku. “Perkenalkan dia Pheles, Mephisto Pheles. Kolega bisnisku sekaligus pemilik King’s Kasino.”
Aku termangu mengamati penampilannya yang agak norak dan eksentrik. Ia memakai kemeja folkadot dengan syal warna merah menyala. Tidak kalah eksentrik, ia memadukannya dengan jas dan celana warna kuning emas. Kedua kakinya ditutupi sepatu pantofel motif zebra. Aku tidak tahu mengapa ia mengenakan semua hal yang menggelikan itu padahal dia masih muda berkisar umur 25 sampai 28 tahun. Wajahnya pun cukup tampan jika dibandingkan dengan pria seumuran dengannya. Tubuhnya pun tidak terlalu kurus dan gemuk, terlihat proporsional. Kepalanya ditutupi sebuah topi panjang warna kuning dengan sebuah pita warna hitam melingkar. Dia terlihat sangat aneh di mataku.
Mephisto mengulurkan tangannya. “Well, salam kenal, boy. Aku tidak tahu kalau Raphael memiliki seorang putra.” Aku hanya menyambut tangannya tanpa mengatakan apapun.
“Bukan, dia adalah kepala pelayan di rumahku. Namanya Elliot Theophille, dia merupakan anak yang kuasuh ketika keluarga satu-satunya meninggal. Ia telah kuberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri tapi ia justru memutuskan untuk mengabdi padaku. Saat ini hanya dia sanak keluarga terdekat yang aku miliki.” Jelas Raphael.
“Menarik.” Mephisto tersenyum picik. Entah mengapa perasaanku tiba-tiba terasa tidak enak. Hanya dengar mendengar namanya saja aku teringat dengan sebuah mitos yang biasa kubaca untuk mengisi waktu luangku. Tapi aku tidak tahu, apakah tuan melihatnya atau tidak. “Boy, kamu terlalu muda untuk menjadi seorang kepala pelayan.” Dia mengusap kepalaku layaknya aku masih seorang bocah.
“So, bagaimana kabar Elize?” Tanya Mephisto sambil tersenyum.
“Elize meninggal seminggu yang lalu akibat penyakit leukemia.” Ujar Raphael dengan nada sedih.
“Maaf, aku tidak tahu putrimu ternyata mengidap penyakit yang sama seperti Isabelle.” Mephisto menepuk pundak Raphael. “Mari kita bermain semalam suntuk untuk melupakan luka di hatimu, old man.” Mephisto mengajak kami ke sebuah ruangan yang biasa ia gunakan untuk bertaruh.
“Hari ini kau ingin mempertaruhkan apa Mephisto?” Tanya Raphael dengan nada antusias.
“Well..” Pria yang berbicara dengan mencampur bahasa itu melihat ke arahku. “Bagaimana jika kau mempertaruhkan dia.” Tangan yang ditutupi sarung tangan warna putih menunjuk ke arahku.
Raphael terlihat kaget dan panik, ia langsung mengalihkan pandangannya padaku. “Saya menerima apapun keputusan tuan.” Aku sedikit menundukkan kepalaku.
Aku pernah mendengar rumor jika cara bertaruh pemilik King’s Casino sangat aneh. Ia meminta lawan bermainnya mempertaruhkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Atau bahkan mempertaruhkan hal-hal yang tidak logis dan masuk akal. Dan saat ini aku berada di tengah permainannya yang tidak masuk akal itu.
“Tentu saja, aku pun mempertaruhkan sertifikat kepemilikan kasino ini sebagai gantinya. Setara bukan?” Tawar Mephisto sambil membentangkan kedua tangannya.
“But, kalau kamu merasa ragu memenangkannya kita bisa memainkan permainan lain di luar meja ini.” Mephisto meletakkan tangannya di atas meja judi lalu memangku wajahnya dengan tangan kanan. “Dengan taruhan yang lebih kecil dan membosankan tentunya.” Ia tersenyum datar.
Sedangkan Raphael, ia masih terlihat kebingungan, ia tidak tahu harus memutuskan apa. “Jangan khawatir, old man. Aku tidak akan memaksamu mengikuti permainan, karena kita sudah berteman cukup lama.” Mephisto mulai beranjak dari tempat duduknya, ia merasa bosan menunggu keputusan Raphael.
“Baiklah, aku ikut.” Raphael menjawab dengan nada penuh keragu-raguan.
“No, no, no, old man. Aku masih mendengar nada ketidakyakinanmu. Sebaiknya kita hentikan saja.” Wajah Mephisto menunjukkan rasa tidak puas atas jawaban Raphael.
“Tidak, kita harus bermain.” Kali ini nada bicara Raphael jauh lebih tegas. “Aku yakin permainan kali ini akan menyenangkan.”
***
Aku berjalan ke tengah bersamaan dengan diletakkannya sertifikat kasino di atas meja. Satu per satu kartu di bagikan. Meskipun aku tidak ikut memegang kartu tapi suasana tegang begitu terasa sampai mengalirkan keringat dari leherku. Permainan berjalan ketat, tentu saja hal ini bermasalah jika Mephisto memenangkan permainan ini. Karena Raphael tidak lagi muda dan umurnya telah menginjak kepala lima. Aku sangat ingin bersamanya sampai detik terakhir, itu saja.
Tidak kusangka kini aku terjebak di tengah permainan iblis. Aku hanya dapat diam memperhatikan permainan mereka yang semakin jelas siapa yang akan memenangkannya.
Raphael menaruh kartu di tangannya di atas meja dalam posisi tertutup. “Aku butuh waktu istirahat.”
“Tentu saja, kita sudah terlalu lama duduk di atas kursi panas. Sedikit udara segar, pasti dapat menyegarkan otak kita.” Mephisto memiringkan posisi duduknya.
Raphael beranjak dari kursinya lalu berjalan ke arah Elliot. “Aku tidak tahu, tapi sepertinya dua putaran terakhir ini aku akan kalah dan kehilanganmu.” Ia menggenggam bahu Elliot cukup kuat. Wajah Raphael terlihat gusar.
“Jangan khawatir tuan, saya akan menggantikan anda atas persetujuan anda tentunya.” Elliot menyentuh pundak Raphael.
“Elliot.. maaf..”
“Tenanglah tuan, saya pasti akan memenangkan permainan ini.” Aku berusaha terlihat tenang, tapi hatiku tidak yakin bisa melawan pemilik kasino yang juga lebih berpengalaman dalam permainan kartu.
“Tuan Mephisto Pheles, izinkan saya menggantikan tuan saya.”
“Hoo, benda taruhan yang berusaha untuk memenangkan pertaruhannya sendiri. Fine, kita ulangi dari awal. Karena akan sangat tidak adil jika melanjutkan permainan yang sudah hampir sampai pada keputusan akhir. Benda taruhannya belum berubah hanya sedikit tambahan, aku meminta kau mempertaruhkan kesetiaanmu. Bagaimana?” Mephisto meletakkan beberapa jarinya di atas kartu yang berserakan.
“Baik.” Elliot menjawab tantangan Mephisto tanpa sedikit pun ada keraguan.
Mephisto melemparkan kartu miliknya ke tengah meja. “Menarik, ini menarik. Kau di luar dugaan,boy. Cepat bagikan kartu yang baru..” Mephisto terlihat sangat antusias dengan sikap Elliot.
Mereka bermain cukup imbang meskipun Elliot hanya mengetahui sedikit tentang permainan poker tapi ia dapat mengejar ketertinggalannya. Kini permainan mereka telah masuk pada putaran terakhir. “Royal straight flush..” Elliot membuka kartu as hati yang tertutup terakhir di meja.
“Jangan senang dulu, boy. Milikku pun royal straight flush hanya saja, jika kedua pemain memiliki royal straight flush maka pemenangnya adalah pemilik sekop.” Mephisto tersenyum penuh kemenangan.
“Anda.. curang..”
Meskipun Elliot mendesah sangat pelan namun Mephisto dapat mendengar dengan jelas. Dalam sekejap Mephisto berada di hadapan meja sambil berdiri. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya. “No, no, no, boy. Itu bukan curang. Ini hanya trik yang digunakan dalam game of gamble yang kita mainkan. Hanya saja, trik yang aku gunakan sedikit naughty.”
“Well, bertaruh tetaplah bertaruh. Pemenang mendapatkan semuanya.” Mephisto menjentikkan jarinya. Detik itu juga tubuhku bergerak sesuai keinginannya. Sebuah suara yang sama terngiang di telingaku. “Nah, boy, sekarang kau milikku. Kau tidak akan bisa mati jika aku tidak mengijinkanmu untuk mati. Selama aku hidup kau akan terus hidup melayaniku.” Elliot akhirnya sadar, lawannya adalah makhluk dari dunia yang berbeda dengan mereka.
“Sampai jumpa, old man. Permainan kita telah selesai, akan kusuruh beberapa pengawalku untuk menemanimu keluar.” Mephisto berjalan menjauhi Raphael diikuti oleh Elliot.
“Tu, tunggu, tunggu sebentar! Berapa pun, berapa pun pasti akan kuberikan asal kau kembalikan dia!” Raphael kehilangan kontrol. Ia benar-benar panik.
“Perjanjian adalah perjanjian, kau bisa mengambilnya kembali di lain kesempatan. Aku akan selalu mengirimimu undangan, jangan sungkan untuk datang.”
“Tidak! Ayo bermain sekali lagi!” Raphael memeluk kaki kiri Mephisto. “Aku mohon kembalikan dia padaku!”
“Old man, bukankah sudah kuberi peringatan sebelumnya. Kita dapat bermain lagi lain waktu dengan taruhan yang lebih menarik. Hanya saja kali ini kamu benar-benar sedang kacau. Beristirahatlah.” Dua orang penjaga bertubuh kekar yang dibalut jas warna hitam datang menarik Raphael dari kaki Mephisto.
“Tidak! Sekali lagi! Sekali lagi! MEPHISTO!!” Teriakan Raphael bahkan tak dapat membebaskan Elliot dari belenggu milik Mephisto.
***
Setelah kejadian itu, Raphael terus menerus datang untuk merebut kembali Elliot. Meskipun dalam permainan mereka Mephisto tidak meminta apapun dari Raphael. Menurutnya keberadaan Elliot sendiri saja sudah memuaskannya. Namun lama kelamaan permainan mulai membosankan dan Mephisto meminta Raphael untuk mempertaruhkan kehidupannya. Hingga akhirnya ia tidak datang lagi ke King’s Casino.
“Boy, kamu dapat mendengarku kan?” Elliot hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mephisto.
“Mau coba bertaruh denganku?” Elliot mengarahkan pandangan matanya pada majikannya yang baru.
“Jika kau dapat menemukan old man, tentu saja kau akan mendapatkan kembali kehidupanmu. Tapi, jika selama 365 hari kau belum menemukannya, maka aku akan memangsa jiwamu. Cukup adil kan?”
Kesadaran Elliot dikembalikan seutuhnya sesuai taruhan yang mereka sepakati. “Baiklah, aku pasti dapat menemukannya. Apapun yang terjadi!”
“Menarik, aku tidak sabar menanti hasilnya..”
Fin
Ps, dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/958413-lomba-cerbul-kasfan-juli-12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar