Rabu, 22 Maret 2017

Fang

Aku turun dari mobil dan berjalan sedikit menuju tempat tujuanku, kasino termegah yang berdiri di daerah ini. Lampu-lampunya tersusun rapi membentuk tulisan besar-besar: KING’S CASINO.

Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata ataupun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?).

Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku. Sebuah aroma kematian menarik minatku untuk berjalan lebih dalam. Menelusuri kerumunan manusia yang tengah tenggelam dalam keserakahan. Mempertaruhkan apapun yang mereka miliki untuk memperoleh kesenangan semu. Tak jarang nyawa pun dilemparkan ke atas meja judi.


Seorang gadis berpakaian terbuka mempertontonkan lekuk tubuhnya berjalan ke arahku. Ia mendekatkan tubuhnya lalu menyentuh punggungku. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya yang ramping. “Jann, aku sudah menemukannya.” Ia berbicara sambil berbisik di telingaku. Nama asliku adalah Jann McCullough, aku menggunakan nama samaran di tempat ini.

“Orang itu?” Tanyaku singkat sambil melirik ke arahnya.

“Ya.” Wanita itu mendekatkan wajahnya lalu menempelkan mulutnya di bibirku. Ia bersikap biasa saja seolah sebuah salam. Sedangkan bagiku, itu adalah yang pertama. Meskipun aku berharap tidak hilang di tempat seperti ini.

Ia tersenyum lalu menuntunku ke sebuah ruangan yang jauh dari keramaian. Kemudian membukakan pintu kamar di hadapanku. “Selamat datang di kerajaanku, Brooke Liebermen Kurtz.” Seorang pria bertubuh tambun menyambut kedatanganku. Di sepuluh jari tangannya terdapat cincin dari berbagai bentuk. Ia membakar sebuah cerutu lalu menghisapnya dalam-dalam.

Nama asliku adalah Jann McCullough, aku menggunakan nama samaran di tempat ini. Sedangkan gadis yang bersamaku tadi adalah Alethea Evelyn Zazulia. Dia pun sama sepertiku bahkan kami merupakan partner kerja.

“Evelyn, kemarilah.” Pria bertubuh tambun itu memanggilnya lalu mempersilakan Evelyn untuk duduk di pahanya yang gempal. Pemandangan itu nyaris menyulut rasa cemburuku.

“Tidakkah kau merasa lapar? Aku sudah menyiapkan beberapa makanan pembuka di dalam ruangan.” Ia menyeringai, gigi taringnya yang tajam sengaja ia perlihatkan padaku.

“Tentu saja Tuan Ellenor. ” Aku tersenyum lalu berjalan masuk mengikuti keinginannya. Kututup pintu kamar lalu menguncinya. Jantungku berdegup keras, nyaris membongkar penyamaranku. Belum pernah aku melihat vampir sungguhan seperti itu. Nafasku berantakan tak karuan. Aku benar-benar bingung, apa yang sebaiknya kulakukan.

Kulihat gadis-gadis pelacur berserakan di lantai, ada 5 orang dalam ruangan yang sama denganku. Aku benar-benar bingung bagaimana menggunakan gigi transplantasi ini. Kusentuh gigi taring kananku dengan jempol. Aku berjalan mendekati tubuh gadis terdekat denganku.

Kutopang tubuhnya lalu kutancapkan di lehernya. Kurasakan setruman di seluruh tubuhku, sensasi yang membuatku ketagihan. Apakah karena pengaruh obat hormon yang kuminum?

Benar, untuk menutupi bau manusia dari tubuhku ilmuwan yang bekerja di bawah naungan Perusahaan Stone menciptakan sejenis obat yang dapat menumbuhkan hormon vampir. Obat itu disebut DK-13 tapi aku tidak tahu, pengaruhnya justru menjadikanku seperti mereka. Sial! Aku nyaris melupakan diriku sendiri. Untuk mengelabui mereka, aku hanya menancapkan saja, meninggalkan bekas gigitan di leher mereka. Lalu kubuka pintu dengan wajah tanpa ekspresi.

“Bagaimana makan malammu tuan Brooke?” Tanya salah satu pengawal pribadi si babi busuk itu.

“Cukup memuaskan.” Aku mengelap darah di bibir dan leherku. Sisanya mengotori pakaian yang kukenakan.

“Mari kutunjukkan jalan, Tuan Ellenor telah menunggu Anda di sisi ruangan yang lain.” Ia berjalan di depanku menunjukkan keberadaan majikannya. Walaupun dari luar terlihat seperti tempat perjudian, namun di dalamnya lebih dari itu. Kumasukan sapu tangan yang dipenuhi noda darah ke dalam saku celana.

Ruangan yang begitu luas dan masih ada ruangan lain di bawah tanah. Bau amis, pengap dan lembap menusuk hidungku. Butuh waktu bertahun-tahun sampai mereka dapat mempercayai dan membiarkanku masuk ke dalam sarang mereka. Dan semua itu tidaklah mudah, mulai dari latihan seperti di neraka dan hidup seperti mereka. Menanggalkan sisi kemanusiaan dari diriku, memakan apa yang mereka makan. Menjijikan! Aku nyaris kehilangan akal dan berubah menjadi seperti mereka.

“Silakan masuk tuan.” Ia membukakan pintu.

“Terima kasih Saviour.” Aku duduk di atas sova dengan posisi berhadapan. “Aku baru tahu kau menyimpan seluruhnya di sini.”

Ellenor mengambil sebuah gelas yang telah terisi darah segar. “Tentu saja, aku harus mengontrol mereka, jika tidak mereka akan berkembang biak layaknya kecoak. Dan hal itu akan merugikan bisnisku.” Dia tertawa sambil menenggak darah bak segelas anggur.

“Akan kutunjukkan caraku berbisnis. Cukup bersih, efisien, dan efektif.” Ia tersenyum. Di mulutnya kini telah nyala sebuah cerutu merek terkenal. Aku berdiri dari tempat dudukku lalu berjalan mengikutinya di belakang.

***

Brengsek! Aku hanya dapat menahan kemarahanku dengan mengepalkan kedua telapak tanganku. Kepalaku terasa akan meledak. Perutku mual dibuatnya, hampir aku muntah di tempat. Kakiku bergetar tak karuan. Ini bukanlah film yang biasa kutonton di bioskop, rumah atau DVD. Ini benar-benar terjadi.

Ellenor mengajakku ke sebuah ruangan tempat pembantaian manusia. Vampir tidaklah menyebarkan virus lalu menduplikat begitu saja lewat gigitan. Begitu manusia kehabisan darah mereka akan mati dan membusuk. Ia tidak menyia-nyiakan hal itu. Organ tubuh yang masih dalam keadaan bagus ia ambil lalu menjualnya ke pasar gelap. Sedangkan yang buruk ia jadikan makanan hewan -para pengawal itulah hewan peliharaan miliknya-. Aku tidak dapat melakukan apapun, atau bahkan dapat dikatakan aku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya dapat melihat pemandangan yang menyedihkan itu dengan kemarahan yang luar biasa. Jika aku sampai salah langkah, penyelidikan ini akan sia-sia. Tapi tidak kusangka sampai kanibalisme pun ada. Kedua bola mataku terasa panas seperti disiram lelehan lahar.

Tubuh yang telah ‘bersih’ kemudian diisi dengan puluhan kilo obat-obatan terlarang. Terkutuk! Bahkan tempurung kepala pun ia belah lalu diisi dengan pil-pil haram. Ini benar-benar membuatku mual tak karuan. Dulu kukira hal seperti ini hanya imajinasi produser film Hollywood, tapi sekarang apa yang ada di hadapanku bukanlah hayalan belaka.

Dia berjalan sambil menceritakan hal lain. Benar, gadis yang masih muda dan berwajah cantik dipaksa menjadi budak nafsu sebelum akhirnya dijadikan paket kiriman. Aku sudah tidak tahan! Ini lebih parah dari siksaan yang kuterima selama karantina. Aku tidak bisa mempertahankan wajah dingin ini terus.

Ruangan terakhir yang kudatangi berisi manusia yang telah sakau dengan obat-obatan terlarang yang mereka gunakan. Begitu ajal menjemput sampah-sampah itu lantas langsung dibuang ke laut entah menjadi makanan hiu atau buaya air asin. Ini benar-benar gila, aku tidak tahu lagi harus menyebutnya apa. Dalam sekejap bibirku terkunci rapat.

“Matahari sudah menyingsing, saatnya kita beristirahat untuk bekerja besok malam Tuan Brooke.” Ia mengantarkanku ke kamar yang telah disediakan untukku.

“Saya sependapat dengan Anda, Tuan Ellenor.” Aku memasuki kamar itu lalu menutupnya rapat-rapat. Lampu kamar kubiarkan mati. Aku harus segera pergi dari tempat ini, jika lebih lama lagi aku akan benar-benar menjadi psikopat.

Aku mengeluarkan botol kecil berisi pil hormon. Sudah saatnya aku meminum pil itu sebelum mereka menyadari keberadaanku. Aku menelannya tanpa segelas air. Entah mengapa perasaanku sedikit tenang, kepalaku perlahan dingin dan kantuk mulai menyelimutiku dalam gelap. Berharap apa yang kulihat hanyalah mimpi..

***

Hari berikutnya, semua berjalan sama seperti kemarin tapi sekarang aku dapat mengontrol emosiku. Kali ini aku mengenakan pakaian yang berbeda, namun tetap kasual dan elegan. Di setiap ada kesempatan aku mengirimkan laporan menggunakan fasilitas email di telepon genggam. Hal itu jauh lebih aman daripada lewat peranti elektronik di sini. Bisa repot jika mereka sampai melacak riwayat situs yang kugunakan. Lagipula telepon genggam yang kugunakan saat ini telah dilengkapi dengan penangkal jaringan. Tidak semua orang dapat melacaknya.

Selama seminggu aku berada di sana, mencari celah untuk menghancurkannya. Aku harus bertindak cepat sebelum kegilaan menelan kewarasanku. Kurakit beberapa bom merkuri dengan daya ledak yang cukup kuat, meskipun ukurannya cukup kecil. Aku membutuhkan bantuan Evelyn untuk menyelesaikan misi yang diberikan pada kami.

Perusahaan Stone merupakan tentara bayangan yang mengurusi makhluk di luar logika manusia. Aku dapat masuk ke sana bisa dikatakan anugerah sekaligus bencana. Aku terpilih karena memiliki nilai yang cukup tinggi dalam ketahanan diri, IQ dan mental. Tapi tidak kusangka harus masuk ke dalam neraka sebelum mati.

Aku memanggil Evelyn ke dalam kamarku. “Letakkan di bagian vital gedung ini. Dalam satu jam kita akan bertemu di luar dan meledakkannya dari jauh.” Aku memberikan 30 bom tipis padanya. Ia dapat mnyembunyikan seluruhnya di sela-sela bra yang ia kenakan.

Setelah itu kami berpencar di pos masing-masing. Aku di bagian barat sedangkan dia di sisi sebaliknya. Dengan hati-hati kami menempelkan di sudut-sudut yang tidak dapat dicapai oleh kamera pengawas. Begitu selesai, suara ledakan terdengar memecahkan keheningan malam. Kuhancurkan tempat itu beserta manusia bejat di dalamnya, mereka bukanlah manusia. Mereka juga monster, akan lebih baik jika dimusnahkan.

Akhirnya aku dapat bersantai melepas stres bersama seseorang yang kusayangi. Kini kami berada di Hawaii, menikmati sinar matahari yang telah lama tidak kurasakan. Evelyn mendekatkan tubuhnya padaku, aku begitu tegang hingga pikiranku kosong. Ia membisikkan sesuatu di telingaku. Aku sangat terkejut dengan perkataannya.

“Percuma, tubuhmu tidak akan bisa digerakkan bila aku tidak mengijinkannya.” Ia tersenyum nakal padaku.

“Apa kau tidak merasa aneh? Semua terungkap begitu mudah seperti menjentikkan jari.” Ia memainkan jarinya di dadaku yang bidang. Seketika itu wajahku berubah pucat.

“Benar, terlalu mudah. Aku sampai lupa fakta itu.. jangan-jangan kau..”

“Tepat sekali. Ini semua naskah sandiwara yang telah kupersiapkan untukmu dan Stone. Lagipula aku sudah bosan berbisnis di sana. Pelanggan tidak sebanyak dulu, jadi kenapa tidak kuhancurkan saja sekalian bermain dengan anak kecil sepertimu..” Tatapannya telihat dingin.

“Gedung itu.. gedung itu juga..”

“Benar, itu hanya gedung tua yang kosong. Makanya dengan mudah kau dapat lumpuhkan. Lagipula aku sudah memindahkan anak buah kesayanganku ke tempat yang lebih aman.” Evelyn mengangkat tangan kanannya, menikmati sinar matahari. “Kenapa? Apa kau merasa kaget?” Ia tertawa kecil. “Peneliti di laboratoriumku sudah menemukan serum yang dapat memperkuat daya tubuh kami terhadap cahaya matahari persis seperti DK-13. Dengan begini kami dapat keluar sesuka hati dan mengembangkan sayap di bawah cahaya.”

Evelyn menyentuh batang leherku dengan jarinya yang lentik. “Alasanku melakukan hal ini sangat sederhana, untuk menyengsarakan musuh bebuyutan leluhurku dan menikmati darahmu yang manis. Saat ini sudah sangat jarang pemuda perjaka yang polos sepertimu.” Dia menancapkan taringnya di leherku. Lama kelamaan kesadaranku menghilang bersama kenikmatan palsu yang diberikannya padaku.

Fin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar