Selasa, 21 Februari 2017

The Book of Seal


Grearz membuka matanya yang masih terasa berat. “Ah, hari ini umurku tepat 15 tahun.” Ia mengalihkan pandangannya ke sebuah meja kecil di samping tempat tidur. “Buku itu..” Grearz mengambil lalu membawanya keluar kamar.

“Selamat pagi, rupanya si anak merah sudah bangun.” Sapa salah satu anggota keluarganya yang telah berusia lanjut.

“Jangan membuat nama panggilan seenaknya Kek, hanya karena rambutku yang berwarna merah.” Grearz mengamati sekelilingnya. “Mana ibu?” Tanyanya singkat.

“Sedang berbelanja untuk pesta ulang tahunmu.” Kakek membuka lembaran surat kabar di tangannya.

“Lalu kek, maksud memberiku buku ini apa?” Grearz mengangkat buku bersampul warna hitam tersebut setinggi telinga.


Kakek menutup matanya lalu melipat surat kabar di tangannya. Mimik wajahnya berubah serius. “Kamu yang akan melengkapi buku itu.”

Grearz merasa tidak nyaman dengan keputusan yang dibuat kakeknya. “Buku ini yang merenggut nyawa kakak. Aku tidak sudi menerimanya!!” Ia melemparnya keluar jendela yang terbuka. Lalu bergegas kembali ke kamar.

“Grearz.” Ia terdiam sejenak mendengar panggilan kakeknya. “Hanya kamu yang bisa melaksanakan tugas ini, karena kamu adalah keturunan terakhir Van Candara.” Grearz berlalu mengacuhkan perkataan kakeknya. Ia mengunci pintu kamarnya lalu merenung di balik pintu.

“Ia masih belum bisa menerima kematian Qelve.” Seorang wanita setengah baya berdiri di ruang keluarga sambil menggenggam buku yang dibuang Grearz.

“Rachele rupanya kau sudah pulang.” Kakek menyeruput teh yang telah tersedia di atas meja. “Anak itu masih belum lepas dari bayangan kakaknya.” Ia menghela nafas.

Rachele mengetuk pintu kamar Grearz. “Kau di dalam? Ibu boleh masuk?” Tanyanya lembut.

Grearz membuka pintunya yang terkunci dengan air muka tidak nyaman. Ia mempersilakan Rachele untuk masuk. Mereka berdua duduk di atas kasur. “Entah bagaimana ibu harus memulainya, tapi ini merupakan tradisi turun temurun untuk mengemban tugas ini. Kamu tahu, keluarga kita merupakan penjaga ras manusia dari bahaya tercampurnya fallen angel dalam keturunan. Untuk menjaga kemurnian itulah kita harus menyegel mereka. Generasi Van Candara dari zaman ke zaman pun mengalami pengasingan karena kita berbeda. Bahkan diburu lantaran dianggap sebagai penyihir ilmu hitam. Meskipun manusia normal menolak kehadiran kita tapi ini semua dilakukan demi menghindari bencana Nuh.”

“Tapi..”

“Ibu dan kakek juga merasa kehilangan, tapi jika kamu menolaknya berarti kamu telah menyia-nyiakan jerih payah kakakmu selama ini. Hanya kalian berdua yang memiliki kemampuan istimewa. Maka dari itu ibu mohon..” Rachele memeluk Grearz dengan erat. Airmata mengalir membasahi pundak Grearz.

“Aku mengerti bu..” Grearz menundukkan pandangannya.

Rachele berjalan keluar sambil menyentuh pundak Grearz. “Selamat ulang tahun Grearz, ini satu lagi hadiah yang ingin kakek berikan.” Ia melemparkan sebuah kunci berwarna emas ke arah Grearz.

Tangannya segera menangkap lalu mengamati kunci tersebut. “Ini untuk apa?”

“Kelak, kau akan membutuhkannya Grearz. Sama seperti Qelve.”

Grearz menggenggam erat kunci di tangannya. “Kakak..”

***

Seminggu telah berlalu semenjak Grearz menjadi pemegang buku berikutnya. Ia berbaring di atas atap sekolah, meletakkan buku pemberian kakeknya di samping kepalanya. Kedua bola matanya memandang ke langit luas. “Istimewa, bukan berarti sekarang aku mempunyai keinginan yang sama. Walaupun dulu pernah..” Ia menutup kedua matanya, terlintas kenangan bersama kakaknya saat menyegel para penjaga kegelapan. Saat itu Grearz masih berusia 14 tahun, namun ia telah dapat menguasai beberapa sihir tingkat medium. Ia pernah bercita-cita untuk menjadi sosok hebat seperti kakaknya sebelum Lucifer muncul meninggalkan memori buruk akan kematian.

“Jadi, ini pemegang buku selanjutnya.” Suara seorang lelaki muda membangunkan Grearz dari lamunan. Sayapnya yang berwarna hitam menghalangi cahaya matahari. Ia mengenakan kemeja putih dengan pita hitam yang disampul kupu-kupu pada kerahnya. Lengkap dengan celana sepanjang mata kaki dan sepasang sepatu pantofel serta mantel warna hitam sepanjang lutut.

“Asmodeus!!” Grearz segera berdiri sambil memegang book of seal.

“Wah, wah, kau memiliki pengetahuan yang cukup luas rupanya, tapi mengetahui bukan berarti menguasai!!” Asmodeus melesat memotong arus angin. “Tunduk dan jadilah budak nafsu dalam neraka milikku!!” Tiba-tiba tubuhnya berhenti sebelum serangannya menyentuh Grearz. “A, apa?! Bagaimana bisa?!” Asmodeus tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia jatuh dalam perangkap buku segel.

Grearz menggigit jarinya hingga berdarah lalu meneteskannya di sampul buku segel. “Kupersembahkan setetes nyawa dalam pengorbanan. Memanggil roh yang terkunci dalam sunyi. Wahai buku pengekang jiwa yang kotor, dengarkanlah perintahku untuk mengunci pembangkang surga!” Buku segel mengeluarkan cahaya lalu melayang membuka lembaran kertas di dalamnya. Sebuah lingkaran magis berwarna merah muncul, menarik Asmodeus. Teriakan mengiringi perjalanannya masuk dalam buku.

Setelah menunaikan tugasnya, buku segel terjatuh di hadapan Grearz seperti benda mati lain. Ia mengambil lalu membuka halaman demi halaman. Tidak terdapat sebuah tulisan apapun hanya sebuah simbol Ankh terletak di tengah tiap lembar kertas. “Simbol ini tidak bisa kubuka hanya dengan pengetahuan yang kumiliki. Aku harus segera pulang dan mencari keterangan di sana.” Bel tanda istirahat berakhir terdengar, Grearz berlari menuruni tangga menuju ruang kelas.

***

Grearz berdiri di depan sebuah pintu kayu lusuh yang terletak di bawah tanah kediamannya. Ia menarik daun pintu yang tak kunjung terbuka. “Oh iya, kunci.” Ia merogoh kunci yang diberikan kakeknya dalam saku celana.

Ruangan penuh berbagai macam jenis buku telah menyambut Grearz. Anehnya ruang tanpa ventilasi itu tidak berbau apek dan pengap. Udara di dalamnya pun tidak terasa lembab serta buku-buku yang disusun menghadap tembok masih dalam kondisi prima. Grearz dapat menebak dengan mudah penyebabnya tanpa harus mengernyitkan dahi. Ia berjalan masuk lalu meletakkan buku segel di atas meja dan segera mencari buku lain yang dapat membantunya melepaskan lingkaran Ankh.

Siang berganti malam, beberapa buku setebal kamus telah menumpuk di atas meja namun Grearz belum menemukan buku yang tepat. Ia kembali mengambil tangga untuk mencapai rak teratas di perpustakaan bawah tanah itu. Matanya sibuk mengamati barisan buku yang terlihat sama. “Ini..” Tangannya meraih salah satu buku dengan sampul berwarna coklat kayu. Ia segera menuruni anak tangga dan bergegas duduk di meja yang sama.

Grearz membuka halaman demi halaman buku yang tidak memiliki daftar isi tersebut hingga kemudian ia menemukan apa yang dicarinya. Terdapat sebuah gambar lingkaran dan keterangan cara menggunakannya. Grearz mengembalikan tumpukan buku yang menggunung di mejanya lalu menggambar lingkaran yang tertera pada buku tanpa membuang waktu.

Seluruh persiapan telah dipenuhi, Grearz meletakkan buku segel di atas lingkaran magis yang tergambar dari darah segar. Beberapa tetes darah dari jari Grearz membasahi buku segel. Buku dan lingkaran magis itupun bereaksi menanti sebuah mantera perintah.

Grearz menghadapkan telapak tangannya ke dalam buku. “Kerajaan langit yang dimiliki 7 penjaga cahaya. Dalam kegelapan berdiri 7 pendosa penuh penyesalan. Di bawah penantian kematian yang panjang. Tiang guilotin telah disiapkan dalam jerit kesakitan. Airmata sekelam kutukan akan menemani kehidupan semu. Membuka tabir kejujuran yang tertutup abu. Atas nama Grearz Kaelith Van Candara, aku perintahkan untuk menunjukkan rahasia yang tersembunyi dalam Ankh!” Beberapa pita-pita halus muncul membingungkan Grearz. Mereka mengikat telapak tangan Grearz lalu menariknya dengan kasar ke atas halaman yang terbuka. Grearz berteriak kesakitan, darah mengalir membasahi kertas hingga keluar lingkaran. Pita-pita itu menghilang, Grearz menarik tangannya lalu menutupinya dengan kaos yang ia kenakan. Darah yang berceceran di atas buku menghilang hanya dalam sekejap mata membuka segel Ankh.

***

Kakek mengalihkan pandangannya ke barat. Rachele menyadari pesan nonverbal yang dilakukan kakek. “Ada apa?” Tanyanya lembut.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” Senyuman dingin terlihat di bibirnya.

Sementara itu, jauh dari kediaman Van Candara. Seorang pria bersayap abu-abu keperakan terbangun di atas singgasana renta. Rambut berwarna putih keperakan yang panjang diikat dengan seutas pita hitam. “Kali ini tidak akan kulepaskan.” Aura kematian yang ia pancarkan memaksa kelelawar berhamburan keluar. Ia terbang secepat cahaya untuk keluar dari dalam gua yang mengurungnya.

***

Tulisan berisi sejarah, keterangan, dan lingkaran magis untuk pemanggilan muncul dari dalam buku segel. Grearz kembali duduk dengan tenang, ia membaca halaman demi halaman tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Begitu belaian lembut di punggung menyadarkannya akan kehadiran Lilith. “Bagaimana bisa kamu muncul di sini?!” Air muka Grearz berubah masam.

Lilith menyentuh pipi kanan Grearz dengan lembut. “Saya hadir memenuhi panggilan Anda, tuanku.” Ia berpakaian minim bak pelacur yang tengah menjajakan dirinya pada hidung belang. Bohong jika Grearz sama sekali tidak tergoda untuk menyentuh tubuh indah nan molek itu.

Lilith mengirim sebuah pesan dalam bisu. “Ada hal yang ingin saya bicarakan, tapi saya tidak bisa membiarkan pihak ketiga mendengar isi pembicaraan kita. Dapatkah tuan mengunci suara dalam tempat ini?” Grearz mengarahkan tangannya pada langit-langit perpustakaan ia melafalkan sebuah kalimat sihir.

“Lalu apa yang ingin kau katakan? Aku juga tidak merasa telah memanggilmu.” Nada bicara Grearz terdengar dingin.

“Aku hadir seiring dengan terlepasnya segel Ankh. Kewajibanku memberikan jawaban atas pertanyaan dalam pikiran Anda.”

“Pertanyaan?” Grearz menyentuh buku segel dengan perasaan marah. “Aku tidak peduli kelak buku ini akan digunakan untuk apa. Yang harus kulakukan saat ini hanya melengkapi lembar kosong yang tersisa.”

“Tindakan setengah hati seperti itu akan menjadi bumerang bagi Anda. Buku segel ini tidak hanya menyegel Fallen Angel seperti saya saja, tetapi malaikat dalam arti jiwa manusia yang diberkati pun bisa terkunci di dalamnya.” Lilith menundukkan pandangannya.

“Apa maksudmu?” Grearz ingin mengetahui lebih lanjut informasi yang ia dengar.

“Ada Judas diantara keluarga Anda. Akan kuberitahu satu hal, malaikat suci yang memiliki sayap dari sepasang hingga dua belas adalah jiwa manusia yang akan dikorbankan demi sebuah kepentingan. Tidakkah Anda merasa janggal dari salah satu diantara mereka?”

“Itu.. untuk apa kamu memberitahukan hal ini padaku?” Grearz merasakan hal ganjil tengah terjadi.

“Siapapun yang memiliki buku itu akan menjadi majikan bagi penghuni yang terkunci di dalamnya. Jangan sampai kematian menyelimuti semesta seperti saat itu..” Wujud Lilith semakin memudar, ia kembali ke dalam buku.

***

Grearz mengobati tangannya yang terluka di dalam kamar sambil memikirkan perkataan Lilith. Tanpa diduga sebuah serangan menghantam kamar Grearz dan menghancurkan hampir setengah kamarnya. Ia terlempar ke dinding, telinganya berdengung memusingkan kepala. Beberapa kali Grearz terbatuk akibat debu yang terhirup. Di wajah, tangan dan kakinya terdapat luka goresan akibat serpihan kaca.

“Aku pikir sudah mati.”

Grearz mengangkat wajahnya. “Lucifer?!”

“Lama tidak bertemu, akan kubalas perbuatan kedua putra terkutuk Van Candara.” Lucifer mencabut sehelai bulu dari sayapnya lalu bulu tersebut berubah menjadi sebilah pedang. “Akan kupotong-potong tubuhmu!!”

“Feuer!!” Api keluar dari telapak tangan Grearz mengalihkan perhatian Lucifer. Ia langsung melompat ke samping tempat tidurnya yang berantakan mengambil buku segel di lantai. Sedangkan dari balik pintu terdengar suara ibu dan kakeknya memanggil namanya dengan nada khawatir. “Jangan masuk!! Berbahaya!” Teriak Grearz.

“Mainan anak kecil seperti ini tidak mempan terhadapku!!” Lucifer berusaha mengayunkan pedang miliknya namun kalah cepat dengan Grearz.

“Schwert!!” Puluhan pedang cahaya menghujani tubuh Lucifer, ia berteriak hingga memecah kesunyian malam. Lucifer jatuh terduduk di hadapan Grearz.

“Belum, ini belum selesai..” Lucifer berusaha untuk berdiri.

“Semua sudah berakhir.” Grearz menghadapkan tangannya ke atas kepala Lucifer.

Wajah Lucifer tertunduk. “Sebenarnya apa kesalahan kami?” Ia bertanya dengan nafas tersengal-sengal. “Ini semua berawal dari kalian yang berusaha mengurung dan memanfaatkan kekuatan kami sebagai energi tanpa batas.” Grearz terkejut dengan pengakuan Lucifer.

“Membuat alasan konyol tentang menjaga dunia dan kemurnian ras manusia! Jangan membuatku tertawa! Padahal, padahal kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri bukan?! Kalian pikir dunia ini akan seimbang dengan mengurung dan menjadikan kami budak kalian?! Jangan bercanda! Justru itulah awal kehancuran!!”

Pintu kamar Grearz yang terkunci rapat terbuka begitu ringan seolah kapas yang tertiup angin. “Tinggal satu Fallen Angel untuk menyempurnakan dunia ideal.”

“Apa maksud semua ini, kakek?” Grearz terkejut, ternyata dalang yang menarik benang dari balik layar adalah orang yang sangat berharga di dalam keluarganya.

“William dan Qelve sudah tahu terlalu banyak tentang tujuanku, aku terpaksa menyegel mereka di dalam buku. Tepat apa yang dikatakan Lucifer, aku membutuhkan buku itu demi kepentinganku. Kau juga sudah mendengar beberapa penjelasan dari Lilith bukan? Menggantungkan harapan pada bocah sepertimu memang benar, karena kau memiliki kekuatan lebih dari Qelve. Maka dari itu aku membutuhkan seseorang yang dapat dijadikan kambing hitam.” Kakek melirik ke arah Lucifer.

“Ayah, kakak bahkan ibu.. memanipulasi ingatanku sampai seperti itu, tidak bisa kumaafkan!” Grearz meletakkan buku segel di lantai lalu membuka tangannya lebar dalam posisi berdiri tegak. “Para penguasa yang terjebak dalam jeratan candu.”

“Masih terlalu cepat bagimu untuk membuka semua segel!” Kakek mengantisipasi mantera Grearz dengan sihir miliknya.

“Oliver Van Candara, musuhmu adalah aku!” Lucifer menyerang Oliver dengan pedang yang ia gunakan sebelumnya.

“Dengan tubuh lemah seperti itu, sudah dapat dipastikan pemenang dari pertarungan ini.” Oliver tersenyum picik.

“Jangan meremehkan musuhmu!” Lucifer mengarahkan tembakan bola api dari telapak tangannya. Oliver dapat dengan mudah menghindari serangan Lucifer. Peluang menyerang terlihat saat Lucifer mengarahkan tembakannya, tanpa membuang waktu Oliver melemparkan tombak dari listrik ke jantung Lucifer. “Pemenang dari pertarungan ini sudah terlihat jelas, pak tua.” Lucifer memuntahkan darah.

“Jangan-jangan maksudnya..” Oliver mengalihkan pandangannya pada Grearz.

“Atas nama Grearz Kaelith Van Candara, aku perintahkan untuk menukarkan jiwa terkutuk ini dengan kehidupan yang tersegel!!” Tiga belas iblis penjaga buku segel bermunculan, mereka menarik jiwa dan tubuh Oliver sebagai tumbal untuk membuka kunci segel. Seluruh makhluk yang terkekang dibebaskan tidak terkecuali William dan Qelve. Tanpa ragu Grearz membakar buku segel menjadi abu, berharap kejadian yang sama tidak terulang untuk kedua kalinya.

Fin

Cerita ini dilombakan di; http://www.goodreads.com/topic/show/896248-lomba-cerbul-kasfan-mei-12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar