Kamis, 26 Januari 2017

Sweets

Aroma manis menyeruak memenuhi sebuah ruangan di setiap rumah. Membangunkan perut-perut mungil berpiyama yang kelaparan di tengah malam. Tanpa disadari, setiap lahapan dapat mengurangi kesadaran dan membimbing mereka untuk melangkah di jalan sepi mengikuti alunan melodi seruling logam. Suara langkah kaki yang terdengar lebih lembut daripada hembusan angin malam tidak mengganggu tidur orang dewasa yang terlalu lelah untuk terjaga.
Tanpa rasa takut, anak-anak yang berbaris rapi mulai meninggalkan kota kecil berpenduduk padat menuju jalan setapak dalam hutan gelap yang dipenuhi orkestra serangga dan makhluk malam. Mata-mata tajam yang tersembunyi dalam rerimbunan daun tidak berani mengganggu alunan nada hipnotis seruling logam meski lapar menusuk perut. Para makhluk itu mengetahui konsekuensi berat yang menanti walau hanya berupa intuisi.

Satu per satu jiwa kecil yang rapuh memasuki sebuah gerbang dengan dua pintu utama terbuka keluar; tersusun dari batangan besi berdiameter 10 cm setinggi 30 kaki berwarna suram. Setelah gadis kecil terakhir yang ditemani boneka beruang memasukinya, gerbang tersebut secara otomatis tertutup dan terkunci. Begitu tersadar, anak-anak tersebut berada dalam taman hiburan. Namun bukan sekedar taman bermain biasa, tempat itu dibangun di atas lapisan gula pasir berwarna-warni. Terdapat berbagai wahana menarik: bianglala berbahan dasar marshmallow dengan tunggangan berbentuk kuda poni serta kereta kuda, korsel berbahan dasar gulali dengan batang-batang plastik sebagai penyangga serta gula kapas empuk dan lembut sebagai bantalan kursi, roller coaster berbahan wafer coklat dengan roda dari es krim dan lintasan berbentuk spiral berputar dari gulali padat serta permainan lainnya yang tak kalah menggiurkan saliva.
Dalam wangi olahan gula dan susu yang memabukkan, teriakan antusias terdengar nyaring. Sebagian besar langsung berlari ke arah wahana yang disukai, sisanya; menangis ketakutan, terdiam bingung, bahkan menganalisa keadaan dengan cermat. Seorang gadis berumur sekitar 8 tahun berpiyama garis vertikal diam tak beranjak satu langkah pun menuju wahana yang disediakan. Begitu juga dengan anak lelaki yang bersandar di sampingnya. Mereka saling menatap dalam pandangan asing.
“Tidakkah semua ini aneh?” Tanya si gadis berambut pirang berkepang.
“Ya, dan kelihatannya gerbang ini terkunci. Kita tidak bisa pulang menggunakan pintu yang ini.” Si bocah lelaki berkulit pucat menghela nafas sambil menundukkan wajahnya dengan kecewa.
Si gadis menggigit kuku ibu jarinya. Berpikir keras. “Dilihat dari jumlah seluruh anak di sini, aku berpendapat berasal dari seluruh desa. Tapi untuk apa? Mengapa bisa ada karnival di tengah malam seperti ini?”
“Tidak lupa dalam hutan.” Si anak lelaki memalingkan wajah ke belakang tubuhnya lalu kembali menunduk dengan mata terpejam.
“Siapa namamu?”
“Maksudmu aku?”
“Ya, ya, memang siapa lagi yang dapat kutanya di sini?”
“Oh ya, benar. Aku Richard, kau?”
“Frella, Frella Bell. Apa kau tidak memiliki nama lengkap?”
“Kalaupun aku punya, untuk apa aku memberitahukannya padamu?”
“Hanya sekedar ingin tahu saja. Jadi sekarang bagaimana? Apa kau punya ide untuk keluar dari sini?”
“Tidak ada, kepalaku kosong seperti kanvas bersih. Tapi aku punya kecurigaan dengan dua tenda di ujung sana. Terlihat berbeda.”
Hanya beberapa meter dari surga fatamorgana, berdiri dua tenda setinggi 25 kaki dari permukaan tanah. Jika seluruh wahana bahkan badutnya pun dilapisi makanan manis, dua tenda itu hanya terbuat dari kain bergaris sederhana, warnanya pun tidak menarik. Lebih tepat sudah kusam. Tenda sebelah kanan bertuliskan ‘jalan keluar’ sedangkan yang kiri pun sama hanya saja tulisannya terbalik.
“Kalian yang berada di sini, apa kalian mau mengikutiku? Kita ak–”
Sebuah payung cokelat seberat 150 ton dengan tinggi 46 kaki berujung tajam jatuh dari langit lalu menghantam bianglala. Dalam 5 detik kemudian terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. Bianglala tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil marshmallow dan melemparkan penunggangnya ke segala arah. Meski demikian tidak ada yang terlempar keluar gerbang, seakan terdapat perisai tak kasat mata di sana. Hujan payung berikutnya menyusul dan menghancurkan wahana-wahana di sana satu per satu. Bergiliran. Frella, Richard dan 20 sisa anak lainnya berlarian panik berusaha menyelamatkan diri dengan tanpa sengaja memasuki tenda usang bertuliskan ‘jalan keluar’ terbalik.
***
Tiga puluh delapan tangan saling berpegangan erat membentuk barisan panjang. Saling mengawasi dan menjaga satu sama lain dengan aba-aba suara. Berjalan menelusuri lorong gelap yang bahkan tidak terbesit harapan untuk melihat jalan keluar. Isak tangis, keluhan, serta celotehan mengasihani diri sendiri mewarnai tiap langkah tanpa kepastian. Frella tidak mampu untuk menenangkan mereka. Ia pun merasa gelisah, sama seperti rekan sebayanya. Memberi motivasi untuk tetap berjuang terasa seperti menipu diri sendiri. Frella hanya dapat menggigit bibir menahan rasa takut, meski matanya tak mampu membendung rasa sedih dan kesal. Namun sebagai pemimpin dari rombongan kecil ini memaksanya agar terlihat kuat. Sesekali ia mengusap mata dengan keras hingga meninggalkan beberapa goresan luka tipis.
Entah sudah berapa kali Frella menabrak sesuatu di depannya. Terasa datar dan empuk beraroma susu coklat tak berujung, terkadang lengket beraroma lemon segar yang lembut menenangkan, kadang juga kasar seperti tumpukan gula batu yang beraroma lebih busuk daripada bangkai. Tak terhitung pula berapa jumlahnya, rombongan itu tersentak dari langkah mereka membentuk lapisan-lapisan akordeon yang memendek, disertai kalimat bernada kesal karena jalan yang mereka lalui buntu. Lelah datang tanpa diundang menyelimuti kaki-kaki kecil yang tak kuasa bertahan lebih lama. Mereka berdiri diam tepat di jalan buntu lainnya. Frella mengetuk dalam keraguan, suara familiar yang biasa ia dengar.
“Apakah sebuah pintu?” Tanya salah seorang anak antusias.
“Entahlah, tapi kurasa begitu.” Frella menjawab tidak yakin.
Serentak seluruh anak di sana mendesak Frella untuk membukanya. Decitan pelan membiarkan cahaya harapan hadir, berharap sebuah jalan keluar dari mimpi mengerikan.
Sayangnya harapan tinggal harapan. Begitu terbuka, sebuah tangan tirus kurus yang panjang meraih salah seorang anak di sana lalu menariknya ke dalam dan pintu kembali tertutup. Kilatan kuku tajam mengerikan cukup membuat kericuhan pada kelompok kecil itu. Sebagian berlari menyelamatkan diri entah kemana, sisanya jatuh terduduk berteriak histeris memanggil kedua orang tua mereka. Frella berdiri dengan wajah pucat. Tanpa sadar ia telah membasahi celana piyamanya. Tubuhnya bergetar, lalu terduduk lemas.
“Si, siapa, siapa yang ma, masih di sini?” Frella masih belum dapat mengendalikan ketakutannya.
“A, aku..” Richard menjawab dalam isak tangis.
Dalam derai air mata seorang gadis muda memeluk boneka beruangnya, “I, Isabelle.”
“P, Pe, Peter..” Si bocah lelaki berusaha mengatur nafasnya, ia berdiri bersandar pada dinding.
“Clara..” Terdengar suara membersihkan ingus dengan baju yang dikenakannya.
Dalam satu helaan nafas berikutnya Frella dapat berbicara cukup tenang, “dengar, kita harus berpegangan tangan lagi seperti tadi agar tidak terpisah.” Mereka mencari tangan teman terdekat yang dapat ditemukan. “Untuk sementara, kita akan beristirahat di sini. Jangan ada yang melepaskan tangan!”
“Aku mau ibuku..” Rengek Isabelle manja. Suaranya bahkan hampir tak terdengar jelas.
Gadis berambut pirang berkepang itu berusaha menenangkan anak yang berusia di bawahnya–meski ia sendiri merasa rapuh, “Itu sebabnya kita di sini, Belle. Untuk mencari jalan pulang. Aku berjanji, kita semua pasti dapat keluar dari sini dengan selamat. Itu sebabnya kau juga harus kuat, kau mau bertemu lagi dengan ibumu ‘kan?”
Isabelle mengangguk dengan mantap. “Emm!”
Suara lembut terdengar malu-malu, “anu.. Frella, aku ingin buang air kecil.” Permintaan itu diikuti sahutan Peter, Clara, dan Richard.
“Err.. kupikir kita tidak akan menemukan toilet di tempat ini. Aku sendiri tadi mengompol,” suara Frella tercekat. “Ini bukan anjuran yang baik tapi kalian dapat meniru apa yang kulakukan. Mengingat keadaan kita saat ini.” Anak-anak tersebut terlalu takut untuk melepaskan genggaman masing-masing. Walau memalukan, apa boleh buat.
Satu jam berikutnya perut yang keroncongan bersuara nyaring, bergema dalam lorong. “Aku, lapar..” Richard tak kuasa membohongi kebutuhan tubuhnya.
“Aku juga, dan kupikir kalian pun demikian. Tapi kita sama sekali tidak membawa perbekalan.” Jika terdapat cahaya, mungkin wajah merengut penuh sesal Frella akan terlihat jelas.
Suara endusan terdengar keras dari hidung si anak lelaki yang kelaparan, “wangi ini.. vanila!” Seru Richard antusia, lalu segera melepaskan genggamannya dan beranjak dari posisi duduknya mencari sumber makanan. Ia mengetuk dinding di belakang punggungnya. Menghancurkan lapisan tipis dan mengorek isinya. “Hei, ada biskuit!”
Clara, Isabelle, Peter, dan Frella tidak ingin ketinggalan kesempatan berharga itu. Meskipun mencurigakan, Frella harus mengisi energi dan tenaga untuk perjalanan yang tidak diketahui kapan akan berakhir. Beberapa saat yang lalu, rasa takut rupanya membutakan sebentar indera penciuman Frella, hingga tidak sadar bahwa ia dikelilingi makanan yang melimpah ruah.
Semakin lama garukan jari-jari kecil kelaparan membentuk lorong sempit yang mengijinkan cahaya untuk masuk melalui sela-sela urat retakan dinding biskuit yang semakin tipis. Mereka tidak lagi menggali untuk mengisi perut yang kelaparan tetapi untuk menemukan jalan keluar baru dari pintu yang tidak sengaja ditemukan.
“Minggir sebentar,” Peter yang memiliki tubuh lebih besar dari teman-teman di kelompoknya, menggunakan tendangan kakinya untuk membuat jalan lebih lebar agar dapat dilalui.
Terpesona disertai rasa takjub, itulah yang mereka rasakan ketika memandangi pemukiman yang dibangun di atas permen karet warna hijau, tepat berada di seberang lorong gelap. Lampu dari dalam bangunan menerangi setiap sudut yang tersisa. Jajaran rumah yang tidak beraturan terbuat dari gulali padat yang dibentuk dalam berbagai desain unik; salah satunya mengambil bentuk kubah besar sebagai inti bangunan dibuat dari lilitan gulali berwarna biru transparan, di tiap sisinya terdapat lima silinder-silinder ruangan yang lebih kecil disambungkan oleh tangga saling menopang beralur rumit. Para penghuninya–permen lolipop, cokelat batangan, dan agar-agar jeli mini berbentuk beruang–bertemperasan keluar dari kediamannya masing-masing menyambut dengan girang.
Seluruh keramahtamahan yang ditawarkan mengaburkan tujuan mereka. Sampai semuanya terasa memuakkan, “bagaimana jika tambah lagi?” Tanya beruang jeli warna ungu. Ia menuangkan teh yang terasa sangat manis hingga menusuk lidah.
“Atau mau sepotong kue lagi?” Sebuah batangan coklat menyiapkannya dalam ukuran besar.
“Ugh.. err.. tidak, kami buru-buru.” –Frella menarik lengan Isabelle dan Richard, lalu memberi isyarat pada Peter dan Clara–“kami sungguh berterima kasih atas kebaikan kalian. Tentu saja kami tidak akan melupakannya. Maaf, saat ini ka–”
“Kalian..” –suara mereka berganti berat dan dalam disertai bentuk tubuh yang berubah menyeramkan: raut wajah berkerut penuh kutil, tangan tirus kurus yang familiar, mata merah menyala– “..anak-anak nakal! Anak nakal harus dihukum!” Seluruh penghuni berjalan perlahan, mendekati kelima anak-anak yang semakin terpojok di depan sebuah bangunan. Isabelle sangat terkejut saat tangannya dicengkram kuat oleh si beruang merah. Gigi tajamnya berkilat tertimpa cahaya dari dalam rumah tepat di belakang mereka.
Tanpa pikir panjang, si bocah lelaki memukul lengan sang beruang merah untuk melepaskan genggamannya. “Masuklah! Biar aku yang menahan mereka!” Peter melebarkan tangannya berusaha menghalangi kumpulan manisan yang membusuk dengan tubuhnya.
Dengan berat hati Frella menarik tangan Isabelle untuk memasuki pintu yang telah dibuka Richard. Isabelle meraung-raung meneriakkan nama Peter di tengah kekacauan. Si bocah lelaki menoleh pada gadis bermata sembap, membisikkan sebuah kalimat yang hampir tidak terdengar, lalu tersenyum sebagai tanda perpisahan. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya untuk menghalau monster yang memaksa mendesak.
Isabelle terpaku tanpa suara, membiarkan Frella menyeretnya masuk. Teriakan kesakitan terdengar, mereka berdiri membelakangi pintu transparan, “jangan lihat ke belakang.” Frella menutupi kedua mata Isabelle yang basah dengan telapak tangannya.
“Mereka datang! Jangan diam saja! Tahan pintunya!” Richard memegangi gagang pintu yang terasa meleleh di tangannya.
Clara merosot, ia menumpukan kepalanya yang terasa berat di lutut. “Tidak ada gunanya, semuanya sudah berakhir. Ini sia-sia, kita hanya akan berakhir seperti Peter.”
“Tidak! Pasti masih ada jalan yang lain!” Richard berusaha menyemangati, “ayolah, cepat bantu aku menahannya!” Tiba-tiba tanah di sekitar mereka berguncang kuat hingga menggetarkan setiap sudut ruangan. Para monster itu bertemperasan tidak beraturan seperti anak-anak ayam yang panik.
Sebuah lubang hitam muncul; menghisap monster-monster mengerikan, mengikis tiap inci bangunan, menciptakan aula hitam raksasa. Richard beserta temannya yang lain–Frella menopang tubuh lemas Clara serta menggenggam tangan ketakutan Isabelle–mundur hingga ke tengah ruangan. Sedikit demi sedikit lantai tempat mereka berpijak menguap. Menjatuhkan Richard lebih dulu. Teriakannya menggema membentuk gelombang yang kemudian menghilang. Disusul tiga orang terakhir.
***
“Hei.. kau tidak apa-apa?” Richard menepuk-nepuk wajah Frella, ia terlihat khawatir.
Frella berusaha membetulkan posisi duduknya, “mana yang lain?” Si bocah lelaki menunjuk ke belakang punggungnya; Isabelle dan Clara dibiarkan terbaring.
“Ini..?”
“Yah.. aku juga cukup kaget. Ternyata kita terjatuh di atas lapisan kenyal marshmallow.” Richard mencubit sedikit, memainkannya di antara jari telunjuk dan jempol. “Tadinya kukira, kita akan terjatuh di atas lapisan permen sekeras aspal atau mendarat pada sesuatu berbentuk stalagnit yang siap menghancurkan tubuh kita seperti daging cincang.”
Gadis itu merengut kesal, “Berhenti tertawa mengerikan seperti itu, sama sekali tidak lucu.”
“Ya, ya, aku tahu. Ayo bangunkan yang lain, kita harus segera keluar dari sini.” Si bocah lelaki menunjuk ke arah sumber cahaya yang berjarak sekitar 50 kaki dari lokasi mereka.
Asap putih muncul dari segala arah ketika mereka tengah sibuk untuk membangunkan Isabelle dan Clara. Lama kelamaan asap tersebut membentuk sesosok tubuh badut padat tak bercelah. Si badut berambut duri tajam yang panjang, berdiri tegak; tinggi tubuhnya mencapai 2 meter. “Well? Hanya tinggal kalian berempat?” Richard dan Frella segera menoleh mendengar ucapannya. Mereka tertegun selama beberapa saat mengamati pakaiannya yang eksentrik; tuksedo ketat warna jingga dengan lilitan jeli warna pelangi, permen lolipop tanpa gagang di sepanjang lengan, 10 lencana di dada kiri, sepatu ujung runcing yang dipasangi sebuah lonceng emas berukuran besar. “Jika begitu, sudah saatnya kita mengakhiri permainan ini.” Kepalanya berputar searah jarum jam.
Makhluk kegelapan muncul dari balik bayangannya yang samar. Tangan-tangan dua dimensi menarik tubuh Isabelle dan Clara, namun Frella serta Richard tidak tinggal diam mereka berusaha untuk mempertahankan. Sayangnya kalah kuat.
“Kita harus lari! Apa yang kaulakukan?! Cepat lepaskan tangan mereka!”
“Aku sudah berjanji!”
“Aku tahu! tapi kalau kau juga mati, pengorbanan semuanya akan sia-sia! Tidak ada yang akan menyampaikan kejadian mengerikan ini pada orang dewasa di luar sana!” dengan berat hati, Frella mengikuti perkataan Richard.
Di tengah kejaran bayangan yang siap menerkam, mereka berlari sekuat tenaga untuk menjauh. Namun naas bagi Frella, ia tersandung jebakan kecil yang disiapkan untuknya. Richard menoleh pada Frella yang tengah mengulurkan tangannya dalam raut keputusasaan. Bayangan itu telah menelan hampir setengah tubuhnya. Dalam tatapan penuh iba, Richard berlari menyelamatkan diri.
Kedua bola mata gadis itu merekamnya..
Jeritan pilu menggema mengiringi langkah Richard.
Ia melihat kebenaran..
Richard menghalau semburan cahaya dengan tangannya.
Itu bukanlah sikap penuh sesal..
Bocah lelaki itu..
Tatapan merendahkan, wajah mengejek penuh kemenangan, dan senyum memuakkan..
Ini semua.. Sudah direncanakan!
Tepuk tangan menyambut kehadiran si bocah lelaki. Dalam sekejap pintu di belakang punggungnya menghilang terhisap kegelapan pekat. “Bravo! Bravo Richard!” Sahut si penonton dengan antusias. “Sandiwara yang menarik, seperti biasa, eh?”
“Ya, ya, simpan bualanmu, Mephistopheles. Aku tidak butuh.” Jawab Richard ketus.
“Wah, wah, tidak baik seorang budak menepis pujian dari majikannya yang tengah berbaik hati,” –ia turun dari atas singgasana mewahnya, mendekati Richard– “kau tahu?”
“Ngomong-ngomong, seruling yang bagus, darimana kau mendapatkannya, eh?”
“Matamu cukup tajam juga,”–Richard mengambilnya dari balik pinggang–“aku hanya meminjam sebentar dari Hamelin.”
“Ah, sayang sekali. Aku jadi tidak ingin kehilangan budak yang dapat menyediakan ‘manisan’ terbaik seperti dirimu.”
“Ingat, Mephisto, kita sudah membuat perjanjian.”
“Oh, ya. Ya, tentu, perjanjian itu? Perjanjian saat London dikelilingi bara api?” –Mephisto mengubah suaranya menjadi nada ejekan–“Siapapun, oh, siapapun, kumohon selamatkan keluargaku–”
Si bocah lelaki merasa jengkel, “itu masa lalu.”
“Benar, benar.” Mephisto menekan wajah si anak lelaki dengan ibu jari dan telunjuknya, mendekati wajahhnya. Raut wajah dan nada suaranya berubah suram. “Masa lalu yang menjadi masa kini dan kuharap menjadi masa depanmu, Nak.” Richard berusaha melepaskan wajahnya.
“Tidak akan pernah! Aku akan berhenti jadi budakmu! Kita telah membuat perjanjian baru, perjanjian di atas darah!”
“Ya, tepat.” Mephisto melipat kedua tangannya. Ia menatap tajam pada Richard. “Tinggal 13.876 jiwa lagi yang harus kau kumpulkan.”
“Aku sudah di tiga per empat jalan, tidak ada alasan bagiku untuk mundur.”
“Yah, baiklah. Lagipula waktumu tinggal seminggu lagi dari waktu yang telah disepakati. Tapi apa yang akan kau lakukan setelahnya? Keluargamu sudah mati beratus tahun yang lalu. Mengapa kau tidak menjadi budak yang baik dan tinggal bersamaku?”
“Apa yang akan kulakukan setelahnya, itu bukan urusanmu lagi.”
“Well, well, tapi saat ini aku masih majikanmu, eh?” Mephisto merangkul Richard dari belakang. Tapi Richard tidak mengatakan apapun. “Baiklah, baiklah, sebelum kau melaksanakan pekerjaanmu, aku, sebagai majikan yang baik memberimu izin untuk memanfaatkan sisa ‘manisan’ yang tak terpakai.” Mephisto melepaskan rangkulannya.
Ia berjalan menuju sebuah tempat di dimensi lain. Ruangan yang dipenuhi tubuh-tubuh lemas tanpa jiwa. “Ya, manisan yang terasa pahit di lidahku.” Richard menyeringai, gigi tajam terlihat di sela bibirnya yang terbuka.
fin
NB; dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1215829-lomba-cerbul-kasfan-februari-13#comment_69393762

Tidak ada komentar:

Posting Komentar