Selasa, 03 Januari 2017

Silent Teror



Sekitar abad ke-15, terdapat sebuah pulau kecil di sekitar Samudera Atlantik dekat daratan Eropa. Kebanyakan orang menyebutnya Pulau Antilia. Pulau tersebut terdiri dari 7 kota besar yakni Aira, Antuab, Ansalli, Anseselli, Ansod, Ansolli dan Cod. Pemerintah setempat menjadikan Kota Anseseli sebagai ibukota dan pusat pemerintahan, dimana gedung Dewan Perwakilan berdiri.

Tata wilayah kota dikonsep sedemikian rupa sehingga terasa nyaman dan indah. Terdapat beberapa kanal air yang menyambungkan ketujuh kota Pulau Antilia. Beberapa diantaranya dapat dilalui perahu kecil, gondola dan sebuah kapal yang dapat menampung beberapa penumpang. Sebagian besar masyarakat memanfaatkannya sebagai sarana transportasi, berdagang, bahkan pariwisata.

Terdapat banyak bangunan kuno di Pulau Antilia. Bentuk arsitekturnya dipengaruhi Romano-Byzantium dengan sentuhan mosaik yang kaya akan pahatan marmer dan hiasan pada atapnya. Selain itu, terdapat 3.561 patung dengan beragam bentuk dengan sebuah cerita menawan dibaliknya, meskipun belum terbukti kebenarannya. Juga berdiri sebuah monumen sejarah berbentuk menara jam di pusat kota dengan hamparan halaman batako luas yang dapat menampung hingga 4.500 orang. Dibalik keindahan dan seribu pesona Pulau Antilia, terdapat sejuta misteri yang masih belum terungkap.
Seluruh penduduk selalu mengunci diri mereka pada hari Chaos Sabrie yang diperingati pada tanggal 21 Oktober. Hari yang dikenal sebagai Pemancungan Seribu Kepala dipercaya dapat membawa sial. Sebab roh korban yang mati pada hari itu akan kembali ke dalam pulau untuk mengambil manusia hidup sebagai bentuk balas dendam. Otomatis dalam sekejap Pulau Antilia berubah menjadi kota mati. Tidak ada aktivitas yang berlangsung. Semua kegiatan berhenti tanpa terkecuali.

Konon pada masa kepemimpinan Archbishop of Porto I, sebuah kepercayaan sesat yang bersandar pada satanis dan aksi murderisasi berkembang pesat. Meskipun pihak gereja telah melakukan penyuluhan dan antisipasi, gerakan tersebut tetap hidup secara gerilya. Hingga kemudian, salah seorang seniman yang menganut kepercayaan satanis –pihak gereja menyebutnya Seniman Yudas– bergabung dalam kelompok pemahat patung tanpa disadari pihak gereja.

Banyak yang mengatakan, ia meniupkan jiwa pada patung-patung buatannya. Setelah itu menghilang tanpa jejak begitu menara jam berdiri. Tepat pada malam pertama suara lonceng terdengar, terdapat beberapa orang yang mengaku melihat patung-patung tersebut berpindah. Dan secara ajaib ‘berkumpul’ di halaman depan menara.

Hal tersebut telah menjadi sebuah rahasia umum. Namun lambat laun pesan itu sampai di telinga Archbishop of Porto I. Ia segera memanggil seluruh seniman yang ikut terlibat dalam pengerjaan patung-patung Antilia. Dan detik itu juga menjatuhkan hukuman mati tanpa terkecuali.

Tepat pada tanggal tersebut, puluhan nyawa menjadi korban. Keluarga dan kerabat yang menentang keputusan tersebut melakukan pemberontakan. Kota Anseseli juga mengalami kerugian material yang cukup besar atas dampak kerusakan sarana dan prasarana umum. Bahkan peristiwa tersebut mempengaruhi perekonomian sehingga menimbulkan krisis yang menyebabkan kelaparan dan lonjakan tindak kriminal.

Kemudian hari itu pun dikenal dengan sebutan Chaos Sabrie. Namun anehnya, secara otomatis lonceng Jam Besar Antilia hanya berdentang setahun sekali –padahal tidak ada yang mengatur dentang bel jam tersebut– seolah ikut berduka atas peristiwa tersebut.

Meskipun demikian, banyak yang beranggapan tradisi tersebut tidak hilang. Dan sebaiknya, manusia tidak ikut campur untuk menghindari kemungkinan terburuk.

***

Suara ketukan sepatu menyentuh jalanan beralas batako yang lembab terdengar redup. Semakin lama, gadis kecil itu mempercepat langkahnya menembus dinginnya malam di Pulau Antilia. Berulang kali terlihat hembusan udara hangat dari mulutnya. Hidung dan pipinya memerah bagaikan buah apel. Kedua tangannya yang mungil berusaha membetulkan syal rajutan yang dililit di leher. “Gawat.” Gadis itu bergumam sambil terus berlari melintasi Kota Anseseli. “Jika ketahuan, aku akan kena hukuman.” Ia semakin memacu langkahnya untuk segera sampai di sebuah bangunan yang digunakannya sebagai tempat tinggal.

Hari itu, ia terlalu bersemangat untuk sekedar bermain di rumah temannya. Hingga kemudian memutuskan untuk menginap selama satu malam. Namun sial baginya, ia begitu asyik bermain sampai melupakan hal yang penting.

Gadis berambut kecoklatan terduduk di atas kasur, ia terlihat masih mengantuk. Tangan mungilnya mengusap-usap kedua matanya sambil menggenggam erat sprei. “Serra mau kemana?”

Serra mengkancingkan mantel tebal dan melilitkan sebuah syal warna coklat di lehernya. “Aku harus pulang, jika tidak, ibu dan yang lainnya akan khawatir.”

Ia segera turun dari kasur lalu menggenggam erat tangan Serra, “jangan! Bagaimana kalau kamu sampai diculik roh jahat?”

Serra menatap sahabatnya yang cemas dan panik, “Jeylle, ibu bilang tidak ada roh jahat di kota. Mereka semua tinggal di hutan di ujung pulau, jadi jangan khawatir.” Serra tersenyum sambil melonggarkan genggaman Jeylle di mantel yang dikenakannya.

“Tapi..”

“Sudah, jangan khawatir. Ibuku tidak pernah berbohong jadi kau juga bisa percaya padanya, ya?” Jeylle mengangguk pelan, lalu melepaskan genggamannya.

Mereka berjalan menuju pintu, kemudian Serra berbicara seraya berbisik pada Jeylle. “Begitu aku keluar, cepat kunci pintunya dan rahasiakan hal ini dari siapapun.” Jeylle mengangguk, meskipun wajahnya tidak menyetujui hal itu.

Ia mengangkat tangan kanannya, “kalau begitu, aku pulang dulu ya Jeylle. Salam untuk keluargamu.” Serra membuka pintu dengan hati-hati lalu berlari pulang. Jeylle segera menutup dan mengunci pintu rumahnya. Ia hanya memperhatikan anak kecil berumur 6 tahun itu dari jendela. Jeylle hanya bisa mendoakan keselamatan teman sebayanya agar sampai dengan selamat.

Rumah Jeylle berada cukup jauh dari tempat tinggal Serra, ia harus melalui beberapa jalan kecil dan besar juga sebuah jembatan yang agak lebar sebelum sampai. Tetapi Serra tidak merasa takut, ia sudah terbiasa sendiri tanpa asuhan ibu atau ayah. Tempat tinggal satu-satunya hanya Rumah Asuh St. Gierss. Ia tinggal bersama puluhan anak yang bernasib sama atau mungkin lebih buruk darinya. Meskipun demikian, ia merasa bersyukur memiliki sebuah keluarga yang hangat bahkan mungkin lebih erat dari keluarga pada umumnya.

Hanya tinggal melalui lapangan Jam Besar Antilia, Serra dapat pulang ke rumah setelah melewati sebuah toko roti. Sebenarnya ia dapat mengambil jalan memutar untuk sampai di sana namun waktu begitu kurang bersahabat. Tanpa pikir panjang, Serra memutuskan untuk mengambil jalan pintas melewati Jam Besar Antilia. Sayangnya ia kurang beruntung, lonceng berdentang membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

Hanya dalam sebuah kedipan mata, halaman luas itu dipenuhi patung-patung yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tapi Serra tidak berteriak, ia hanya sedikit terkejut. Baginya hal tersebut lebih baik daripada melihat roh orang yang mati kecelakaan, bunuh diri atau dibunuh dengan cara dimutilasi.

Ia merupakan anak yang istimewa di Rumah Asuh St. Gierss. Kemampuannya sudah terlihat sejak berumur 4 bulan, lebih cepat dibandingkan bayi lainnya yang dapat melihat ketika menginjak umur 6 atau 7 bulan. Itu sebabnya, ia selalu menangis ketakutan di malam hari atau saat diajak jalan-jalan sekitar kota.

Kini, Serra sudah memahami kemampuannya dan selalu berusaha untuk tenang saat melihat hal-hal yang tidak membuatnya nyaman. Ia tidak mau membuat ibu dan saudara-saudaranya khawatir dan takut. Tapi terkadang, ia memanfaatkan kemampuannya untuk menjahili saudara-saudaranya ketika merasa bosan.

Serra memperhatikan gerak gerik patung-patung tersebut. Entah mengapa mereka hidup, berbicara bahkan ‘berpesta’. Ia berjalan semakin mendekat, bukan menjauhi kerumunan patung tersebut. Perlahan berbagai pertanyaan timbul di benak Serra dan ia terus mendekati mereka hingga salah satu dari kelompok itu menyadari kehadirannya.

“Kau manusia, bagaimana bisa berada di tempat seperti ini?” Pertanyaan yang terdengar seperti bisikan terdengar hingga ke ujung kumpulan tersebut. Mereka saling berbisik satu sama lain seakan memanggil ketua kegiatan tersebut.

Sebuah patung berbentuk seorang wanita dengan rambut panjang terikat di samping menutupi pundak kanannya berjalan memecah barisan. Ia mengenakan atau lebih pantas dikatakan pakaian yang dipahat ditubuhnya berupa kain yang diikat ke pundak kiri. Beberapa bunga dipahat dekat telinga kanannya.

Mereka saling menatap satu sama lain, memperhatikan dan mengamati. Namun sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Serra, “mengapa kalian bergerak? Bukankah seharusnya benda mati tidak bisa hidup? Apa ini semacam sihir, seperti yang ibu katakan?”

Salah satu patung yang lain menarik tangan patung wanita tersebut, lalu bertanya di dekat telinganya. “Nona Aeriths, apa sebaiknya kita meminta bantuan sang kucing untuk menghapus ingatan gadis kecil itu?”

“Vantt, bukannya ini menarik? Dia sama sekali tidak merasa takut dengan kita. Ini hanya pendapatku saja, tapi mungkin ia bisa membantu kita untuk mengingatkan kembali alasan mengapa kita dapat bergerak seperti manusia kebanyakan.” Aeriths melirik penuh minat pada Serra yang sedang berbincang dengan patung lainnya.

Sepertinya Vantt memiliki jalan pikiran yang berbeda, hal tersebut terlihat jelas dari raut wajahnya. Ia menyadari sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan Aeriths. Karena hal tersebut melanggar peraturan yang telah disepakati sejak lama. Keberadaan manusia di tengah pesta kecil mereka akan berdampak buruk dan dapat merusak tradisi.

Manusia selalu memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar hingga mereka tidak sadar, hal tersebut bisa menimbulkan malapetaka.

***

Vantt tidak mengatakan apapun, ia hanya diam melihat pesta yang terbelah menjadi dua kubu. Satu kubu yang terdiri dari 20 patung bercengkarama dengan gadis kecil. Sisanya melakukan hal yang biasa dilakukan setiap tahun. Berusaha untuk menjaga diri mereka sendiri dari bencana kehancuran.

Semakin lama perilaku Aeriths dan patung lainnya menunjukkan emosi yang terdapat pada manusia. Vantt tidak merasa nyaman dengan perkembangan tersebut. Ia pun jalan menghampiri mereka, “Aeriths sudah waktunya kita kembali. Sebentar lagi manusia akan memulai aktivitas mereka.”

Raut wajah Aeriths dan patung lainnya terlihat sedih, seakan tidak rela berpisah dengan Serra. Vantt tentu semakin gusar dengan perubahan yang terjadi pada 20 patung lainnya termasuk Aeriths. “Kalian sebaiknya berhati-hati jangan sampai menjadi Pembangkang.” Vantt kembali diikuti patung yang lain kecuali mereka.

Aeriths sedikit berjongkok ia meletakkan tangannya di dekat telinga Serra, “besok mari kita bertemu lagi pada jam yang sama.”

***

Malam berganti pagi, semua terasa cukup cepat bagi Serra yang begadang semalam. Ia terlihat lelah, meskipun begitu baginya hal tersebut adalah pengalaman yang paling menyenangkan.

“Serra, kamu terlihat pucat. Apa kamu sedang sakit?” Tanya seorang wanita paruh baya yang tengah membagikan roti dan mentega untuk sarapan.

“Tidak bu, aku tidak apa-apa.” Serra tersenyum dan berusaha terlihat bersemangat.

Seluruh anak Rumah Asuh St. Gierss telah berkumpul di meja makan, mereka berdoa bersama sebelum melahap habis sarapan yang disediakan. Meski terasa kurang tapi itu lebih baik daripada kelaparan. Setelah itu mereka membagi tugas untuk membersihkan rumah dan kegiatan lainnya. Hari itu Serra ditugaskan ke pasar untuk membeli telur dan beberapa ikat sawi. Selama perjalanan ia menemui patung-patung yang berbincang dengannya semalam. Tidak lupa ia memberikan salam pada mereka. Segaris senyuman hangat terlihat di wajah patung-patung tersebut, ada yang menyadari ada juga yang tidak.

Patung yang seharusnya tertidur kini terjaga dan terbangun sebelum waktu yang ditentukan datang. Setiap malam mereka berkumpul di tempat berbeda, mencari tempat sunyi yang tidak diketahui manusia lainnya. Ketika berkumpul, Serra selalu diminta untuk bercerita kegiatan yang ia lakukan selama seharian. Baik tugas sehari-hari atau makanan yang ia lahap seharian itu.

Serra lupa, ia telah melangkah terlalu jauh. Sebuah perasaan iri menyelimuti patung-patung tidak terkecuali Aeriths. Jika sebelumnya mereka hanya memperhatikan gadis kecil itu saja, kini di siang hari, patung-patung tersebut juga mengamati manusia lainnya. Hal tersebut tentu bukanlah hal yang menyenangkan. Perasaan terganggu karena diawasi sesuatu yang tidak diketahui asalnya tentu sangat mengganggu.

Malamnya mereka kembali berkumpul, 20 patung lainnya juga Aeriths kini masuk dalam barisan Pembangkang. Mereka tidak lagi mengikuti peraturan dan tradisi yang diikat di atas garis takdir. Mereka mulai berjalan atas kehendak masing-masing.

“Hari ini aku bertemu dengan paman penjual kentang mentega. Kami berbincang sebentar lalu ia memberikan kentang mentega untuk dimakan bersamanya. Aku begitu berdebar menerimanya, karena itu adalah makanan kesukaanku.” Serra bercerita dengan antusias.

“Berdebar? Bagaimana caranya?” Tanya Aeriths dengan wajah kaku.

“Eh?” Serra yang menyadari hal tersebut merasakan hal buruk karena perubahan perilaku Aeriths dan patung lainnya. “I, itu.. karena manusia memiliki jantung..”

“Aku ingin merasakan kentang itu, apa boleh aku meminjam lidahmu sebentar?” Timpal patung yang lain.

Betapa terkejutnya Serra dengan pertanyaan itu, “maaf, ini sudah larut. Aku harus segera pulang.” Serra membenarkan syal di lehernya.

“Tunggu, jangan dulu pulang.” Dengan segera Aeriths menghentikan Serra. “Aku juga ingin merasakan apa yang kamu rasakan, pinjamkan aku kulitmu.”

“I, itu tidak mungkin kan? Soalnya, soalnya jika dipinjamkan..”

“Kamu bilang, kamu suka meminjam barang kan pada manusia sekitarmu? Kenapa kami tidak boleh?” Tanya patung yang lain.

“Iya benar, nanti pasti kami kembalikan lagi. Jadi jangan khawatir.” Tambah yang lain.

Serra berusaha berteriak, tetapi suaranya terputus. Patung-patung tersebut melakukan pembunuhan pertama mereka malam itu. Mereka mengambil apa yang dimiliki tubuh Serra untuk ditanam dalam tubuh dingin mereka.

“Aku tidak merasakan debaran, benda ini sama sekali tidak bergerak meski sudah kusimpan di dadaku.” Ujar Aeriths kecewa.

“Iya, aku juga tidak merasakan apapun melalui lidah ini. Walaupun sudah kuletakkan seperti di mulut Serra.” Patung-patung tersebut mengeluh dan merasa kecewa. Padahal mereka sudah menempelkan bagian-bagian tubuh Serra untuk merasakan apa yang manusia rasakan.

“Sepertinya ini sama sekali tidak bekerja dengan baik, sebaiknya kita kembali ke tempat masing-masing dan mendiskusikannya besok.” Mereka pun kembali ke tempat masing-masing dengan perasaan tidak terpuaskan. Mereka bahkan tidak peduli dengan kondisi Serra yang begitu naas dan meninggalkannya begitu saja tanpa diketahui siapapun.

***

Keadaan semakin memburuk, satu persatu manusia dikabarkan menghilang tanpa jejak. Dalam seminggu 17 orang menghilang. Patung-patung tersebut semakin terobsesi untuk menjadi hidup seperti manusia.

Dari kejauhan, sepasang mata emas terbangun dari dalam kegelapan. Memanggil para pelayannya yang tersebar di seluruh pulau untuk datang menghadap. “Dengarkan perintahku dan patuhilah, jadilah mata dan pendengaranku. Amati dan awasi para Pembangkang.” Beratus-ratus mata yang bersembunyi dalam sunyi menghilang mematuhi perintah tanpa bersuara.

Di sebuah tempat yang jauh dari jangkauan mata kucing, para Pembangkang mengikat perjanjian dengan iblis Bernael. Iblis yang hidup dalam kejahatan dan kegelapan. “Tuanku Bernael, bagaimana dengan tumbal yang kami berikan?” Aeriths berlutut di hadapan seorang iblis yang duduk di atas singgasana semu.

Bernael memainkan 3 bola mata manusia di tangannya, “masih belum cukup. Jika kalian ingin hidup, bawakan seluruh jiwa yang ada di pulau ini padaku. Maka akan kukabulkan keinginan kalian.” Para Pembangkang semakin gencar mengincar. Mereka tidak hanya melakukan hal tersebut di malam hari tetapi juga saat siang demi mewujudkan sebuah keinginan terpendam.

Banyak manusia yang menjadi korban, hal tersebut tentu mengubah tempat yang tenang dan nyaman menjadi teror. Meski mereka tidak tahu siapa atau apa yang mengincar mereka selama ini, rasa terancam membuat mereka mengambil keputusan yang berat. Manusia yang masih bertahan memutuskan untuk meninggalkan Pulau Antilia dan hidup di negara yang berbeda. Antilia sudah tidak sehangat dulu, kini pulau itu ditinggalkan seluruh penguninya. Akhirnya banyak fasilitas umum serta bangunan tidak terawat dan menjadi rusak.

Hal tersebut tentu sudah melebihi batas. Perang antar patung pun terjadi, sang Pembangkang dan Terbekati –patung-patung yang masih menjunjung tradisi dan menjauhi keberadaan manusia– saling berhadapan di tengah menara jam ketika terik menyengat. Pertempuran yang memakan waktu selama berminggu-minggu itu berlangsung sengit. Mereka saling menghancurkan satu sama lain, hingga tidak menyisakan sang Terbekati. Pembangkang yang bertahan termasuk Aeriths sampai pada kesepakatan yang baru. Mereka berencana menyerang manusia di luar pulau.

Kemarahan Caith Sith pun memuncak, langit berubah gelap. Awan hitam disertai guntur menciptakan ancaman. Sebuah suara menggelegar di langit luas, menyadarkan para Pembangkang. “Kalian menyia-nyiakan kehidupan yang diberikan untuk hal yang tidak berguna. Hanya dengan berkumpul dan saling bercengkrama sudah cukup agar sepi menghilang. Rupanya keserakahan telah membutakan segalanya.”

Aeriths menyadari sesuatu, ia pun lantas bertanya kembali pada suara tersebut. “Apa maksudmu menghilangkan rasa sepi?”

“Aku yang telah hidup selama ribuan tahun ikut menjadi saksi bagi kebangkitan kalian. Pria itu bukanlah Seniman Yudas seperti julukan yang diberikan padanya. Ia hanya memiliki keinginan sederhana untuk memberikan ‘kehidupan’ pada kalian agar kalian tidak merasa kesepian hanya dengan berdiri tanpa melakukan apapun. Ia memberikan kesempatan pada kalian untuk merasakan kebersamaan dan membuang rasa sunyi. Dia tahu seperti apa rasanya hidup tanpa siapapun, itu sebabnya kalian berada di sini. Dan dengan bodohnya mengikat perjanjian dengan iblis terkutuk untuk mewujudkan keinginan itu seperti yang kalian lakukan saat ini. Aku yang tergerak dengan perjuangannya memberikan kelonggaran. Tapi rupanya aku salah, seharusnya aku hancurkan kalian sejak dulu!”

Betapa terkejutnya Aeriths mendengar jawaban dari suara misterius itu. Tetapi sudah terlambat baginya untuk menyesali segala tindakan. Yang dapat dilakukannya hanya menyelesaikan apa yang telah dimulainya.

Bumi bergetar hebat di tanah Antilia menciptakan kepanikan diantara Pembangkang. Mereka berusaha berlari keluar pulau tetapi sesuatu seperti tembok penghalang membatasi langkah mereka. Akhirnya mereka hanya berputar-putar di dalam pulau. Angin berhembus keras dan menciptakan pusaran yang melemparkan apapun didekatnya. Beberapa pembangkang terbawa putarannya dan berakhir ketika menghantam tanah. Adapula yang langsung hancur berkeping-keping terkena sambaran petir. Dalam hitungan detik hanya tersisa 4 Pembangkang yang berhasil mengelak bencana tersebut dalam kondisi tidak utuh tidak terkecuali Aeriths. Sebagai penutup, Caith Sith menenggelamkan Antilia beserta isinya ke dasar Samudera Atlantik. Menyegel Pembangkang dalam dingin dan gelap.

***

Walau berabad-abad waktu telah berlalu para Pembangkang tidak mati. Mereka masih menunggu di dasar samudera untuk dibebaskan, demi memenuhi perjanjian dengan Bernael.

Fin

NB; dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1064761-lomba-cerbul-kasfan-oktober-12#comment_60515737

Tidak ada komentar:

Posting Komentar