Kamis, 12 Januari 2017

God's Play



“Dari semua divisi yang ada, kenapa juga aku harus berada di bagian ini..”


“Hoi, anak baru! kerja yang betul!”


“Maaf tuan Vrill, saya juga saat ini tengah melakukan apa yang anda perintahkan. Dan terus.. saya juga punya nama, Cliey, Cliey Cexalliss. Anda tidak bisa terus menerus memanggil saya anak baru.” Anak lelaki berumur 17 tahun itu tengah membereskan ruangan berantakan tempatnya bertugas saat ini. Ia mengenakan kacamata dan jubah warna abu-abu sesuai dengan seragam divisi yang menaunginya.


“Aiih, jangan panggil tuan donk. Berasa formal banget, panggil ketua aja deh.. Dan terus, bagiku kamu tetap anak baru di sini.. ahahahahhaa”


“Baik ketua..” Ia kembali melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya yang sempat terganggu.“Siiiaaaaal!! Padahal aku adalah lulusan terbaik yang lolos ujian dewa! Kenapa malah ditempatkan di divisi peringkat terendah?!!”



“Ini semua gara-gara orang itu!” Ia memicingkan matanya ke arah Vrill, “Benar, gara-gara orang konyol yang menjabat jadi ketua divisi lawakan ini! Seharusnya aku bisa menempati divisi dewa kematian yang merupakan divisi tertinggi di sini. Aaaarggghhh..! Benar-benar sial!!”


“Kalau diingat-ingat, kejadiannya masih belum terlalu lama. Sekitar 3 bulan yang lalu, saat penerimaan dewa baru karena banyak yang gugur akibat melawan pemakan jiwa Level Spesial… Tidak semua roh orang yang meninggal akan masuk surga atau neraka, beberapa diantaranya ada jiwa terpilih yang harus menjalani asrama yang akan menjadi dewa pemula. Salah satunya adalah aku.”


“Ah.. aku pikir Tuhan sedang bercanda karena semuanya berbeda dengan apa yang kupelajari selama aku hidup. Ternyata banyak rahasia Tuhan yang tidak kuketahui, salah satunya itu.. ah iya, aku adalah penganut agama yang taat, tapi tidak kusangka umurku cukup pendek. Siaaal! Padahal aku belum mengungkapkan perasaanku pada seseorang, ah oke, bagian itu dilewat saja..”


“Kemudian aku pun menjalani kehidupan asrama sambil menimba ilmu sebagai dewa pemula. Akhirnya semua itu dapat kuselesaikan dalam 2,5 tahun saja. Tidak lama kemudian, aku mengikuti ujian dewa. Semua tes yang kujalani berjalan lancar, kecuali 1 yakni wawancara. Padahal ketua bodoh itu hanya memandang foto dan hasil tesku, lalu tanpa mengajukan pertanyaan ia langsung memutuskan divisi badut ini! Arrrghhhh..!!”


“Lho?” Cliey berhenti sejenak. “Kemana yang lain?”


“Pertanyaan bodoh, hahaha.. tentu saja mereka sedang bertugas merefil upil manusia di seluruh dunia. Kita kan berada di Divisi Dewa Perefil Upil. Memangnya kayak kamu, gak ngapa-ngapain..”


“Ugh!” “A, apa?! Berani-beraninya dia bilang begitu!! Memangnya siapa yang nganggur selama ini, HAH?! Lihat meja ini!! Penuh dengan cangkang kacang dan kaleng minuman soda! Lagian dapat darimana juga benda-benda beginian, ini kan bukan dunia manusia!! Siaaal! Dibandingkan kantor pusat divisi, tempat ini lebih cocok tempat pembuangan sampah!!”

Seorang pria berjalan masuk sambil memegang sebuah kertas. “Ada fax nih ketua.” Ia langsung menyerahkannya.


Dalam sekejap wajah ketua berubah drastis. “Hoi, mata empat.. ada tugas untukmu.”


“Eh, ah..” Ia tidak dapat berkata apapun. Karena baru kali ini ia melihat wajah ketua seserius itu. “Ini, pertama kalinya aku melihat ketua seperti itu. Apakah sikap konyol, bodoh, dan plin plannya selama ini hanya kedok belaka? Entah mengapa rasanya jantungku berdebar lebih keras hanya karena ingin mendengar kalimat selanjutnya..”


“..belikan nasi padang..”


“Ba, baik..eh.. lho kok?” Cliey terdiam sejenak. “Hah?! Apa?! Apa yang barusan dia katakan?!”


“Ke, kenapa..?”


“Kok nanya? Sudah jelas ‘kan, memang itu yang tertulis di sini.” Ketua tertawa girang. “Lagipula, apa kamu tidak memikirkan kakak-kakak seniormu? Setelah merefil upil mereka pasti merasa lelah dan lapar. Jahat sekali jika junior baru sepertimu tidak memikirkan hal itu. Seharusnya kau juga lebih perhatian pada mereka demi mempererat solidaritas diantara kalian. Selain itu..” Belum selesai ketua melanjutkan ceramahnya, Cliey yang sejak tadi merasa kesal langsung memotong perkataannya.


“Iya, iya, saya paham,” Cliey bergegas meninggalkan ruangan itu dengan kekesalan yang semakin memuncak.


“Ng.. ketua.. bukannya tugas itu..”


“Hehe, belum, masih belum saatnya, Onigiri..”


***


“Siiiiiiiaaaaal!!! Kenapa juga harus aku yang beli?! Apa karena hanya tinggal aku seorang saja yang belum dapat tugas, HUH! Lagian kenapa juga harus nasi padang?! Memang setting cerita ini ada dimana sih?! Dasar ketua buuuuuodoh!!” Cliey menendang tong sampah yang berada di sisi jalan. “Ditambah lagi, aku harus menyamar jadi sesuatu hanya untuk mendapatkan nasi padang ini, dan aku baru sampai tingkat menyamar jadi hewan -dewa apapun tidak boleh menunjukkan wujud asli mereka karena dapat merusak keseimbangan alam, terutama dewa yang pernah hidup di dunia. Karena bisa terjadi kehebohan sebab dianggap bangkit kembali-. Ahh.. pikirkan kesulitanku hanya untuk memilih lauk dan sayur yang ada.. cih..” Cliey menghentikan langkah kakinya. Ia terpaku melihat sesuatu yang berada di hadapannya. Sesuatu bertubuh besar, bukan iblis maupun peri. Berbentuk buruk rupa, hanya dapat hidup dengan memakan jiwa manusia.


“Pe, pemakan ji..wa..”


Makhluk itu membuang tubuh seorang gadis dari cengkramannya yang kuat. “Dewa.. kematian?”


“Bu, bukan..! Aku hanya dewa dari divisi konyol yang gak penting, hehe.. Eh! Tu, tunggu dulu.. kau.. kau bisa berbicara? Pemakan jiwa level A, B dan C tidak mungkin dapat berbicara seperti itu..”


“Tepat, aku Level S dengan kemampuan spesial duplikasi. Level rendahan seperti itu tidak bisa disamakan dengan diriku.” Detik itu juga ia berubah menyerupai Cliey. “Namaku Jeyelle.” Cliey melempar sekantong kresek nasi padang yang baru ia beli. Dengan wajah pucat dan panik, Cliey berlari menjauhi tempat itu.


Nafas Cliey masih terputus-putus, ia berusaha untuk tenang menghadapi kondisi di hadapannya. Cliey mengintip dari balik tembok tempatnya bersembunyi, lalu kembali berpikir. “Ah, ini parah sekali. Hingga saat ini aku baru menghadapi pemakan jiwa level A, kenapa di saat seperti bisa bertemu hal begitu..” Cliey mengambil sebuah senjata dari balik jubah yang dikenakannya. “Stun gun ini tidak akan berpengaruh, mungkin akan terasa seperti sengatan nyamuk saja. Lagian, kenapa juga hanya aku yang diberi stun gun?!!.. aahh, ini benar-benar gawat..” Ia terjongkok lemas.


“Seandainya aku berada didivisi utama dewa kematian, hal seperti ini tentu dapat diselesaikan dengan mudah. Kenapa juga aku berada di Divisi Perefil Upil.. lagipula kenapa juga namanya perefil upil, lalu kenapa juga sekarang aku fasih melafalkan perefil upil?! Arrgghhh.. siiiiaaaal!!! Benar-benar menjijikan!!”


“Kutemukan..”


“Eh?” Cliey mendongak ke ujung tembok. Jeyelle tengah berdiri di bawah sinar rembulan.


“Kudengar, jika memakan jiwa dewa dapat meningkatkan kekuatan,” Jeyelle menarik deathscythe dari lengannya yang kurus, “..dan menambah kemampuan istimewa..” Ia melompat sambil mengarahkan ujung deathscythe ke kepala Cliey. “Seperti ini!!” Cliey tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya menatap benda tajam menuju dirinya. “Mati!.. aku pasti mati!”


Sebuah suara benturan benda logam menyadarkan Cliey. “Tu, Tuan Vrill..” Rambut perak Vrill sepanjang betis dibiarkan terurai tidak seperti biasanya diikat dengan sebuah pita tebal.


“Ah.. untunglah aku datang, ya anak baru..?” Wajah Vrill terlihat cemas. “Walaupun sama, kekuatannya berbeda jauh!” Vrill mengayunkan Deathscythe di tangannya membelah Jeyelle. Dia menatap Cliey yang setengah sadar lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Cliey berdiri. “Tidak apa-apa?”


“Ah iya..” Cliey merasa canggung, ternyata orang yang selama ini dianggapnya bodoh, konyol, dan plin-plan, begitu hebat dan kuat.


“Ah, bukan maksudku nasi padangnya tidak apa-apa ‘kan?” Vrill bertanya hal tersebut dengan polos. Tentu hal itu menyulut emosi Cliey. “Brengseeeeeeekk!! Aku salah! Orang ini benar-benar bodoh! Tolol! Tidak berperasaan! Siaaalaaan!!”


“Apa-apaan wajah merengut itu, anak baru? Seharusnya kamu dapat membereskan misi itu tanpa gagal. Aihh.. hari ini makan masakan Onigiri lagi deh, booseeeennn..”


Cliey membetulkan posisi kacamatanya, ia hanya berdiri melihat punggung Vrill. “Orang itu.. aku benar-benar tidak mengerti isi otaknya..”


***


Suara ketukan pisau terdengar nyaring dari dapur. “Dari tadi, aku bingung.. apa benar dewa butuh makan juga? Dan makanan ini benar-benar manusia banget! Apa tidak ada ‘makanan’ yang aneh seperti pemakan jiwa?”


“Yo!” Suara itu mengalihkan perhatian Cliey. “Kamu terampil dalam memasak ya, padahal yang bertugas di dapur ‘kan aku.” Pria itu tersenyum ramah.


“Ah! Kak Onigiri!”


“Aku Serravi, Serravi Houssell.. kamu orang kedua setelah dia, yang memanggilku begitu.. boleh tahu alasannya?” Tanyanya.


“Soalnya, kakak ‘kan hanya pandai membuat nasi onigiri.” Jawab Cliey singkat sedangkan Serravi, ia hanya bisa tersenyum canggung menerima jawaban Cliey.


“Oya kak, ada yang ingin kutanyakan soal ketua..” Cliey tidak mengalihkan pandangannya pada Serravi, ia masih terfokus pada wortel yang ada di tangannya.


“Pasti tentang perilakunya ‘kan?” Cliey hanya mengangguk meng-iyakan pertanyaan Serravi.


“Kalau boleh jujur, itu hanya kedok..” Serravi mengambil kentang lalu mengupasnya.


“Oh begitu.. aku pikir dia orang yang bodoh, konyol, plin plan dan tidak berotak.” Gumam Cliey.


“Iya benar, selain itu perilakunya juga susah ditebak dan kekanak-kanakan. Terus, norak dan gak jelas. Aahh.. aku sendiri jadi ragu, apakah kemampuannya yang keren dan hebat itu yang kebetulan ya..”


“Ehem! Bukan itu yang ingin kukatakan..” Serravi tersenyum canggung. “Meskipun seperti itu..” raut wajah Serravi melembut, “..ia adalah pemimpin Divisi Dewa Kematian selama 18 periode,”


“Kemudian, 5 tahun yang lalu entah apa yang ia pikirkan sewaktu beristirahat.. dia mengatakan ingin keluar dari Divisi Dewa Kematian. Ahh.. kupikir ia sedang bercanda, ternyata dia serius..” Serravi meletakkan kentang yang sudah bersih lalu mengambil yang lain. “Entah apa yang ia lakukan hingga Tuhan dapat menghendaki keinginannya.” Ia menghela nafas,


“Yak, hanya segitu yang bisa kukatakan Sudah yaa..” Serravi segera meletakkan pisau dan kentang yang baru setengah dikupas.


“Tu, tunggu sebentar kak! Ada yang ingin kutanyakan..”


Serravi membalikkan tubuhnya, “Hehe, kalau berbicara lebih dari ini, aku bisa dibunuh olehnya.” Ia berlalu meninggalkan Cliey sendiri.


“Ah.. apa aku disuruh mencari tahu sendiri..? Hegh! Menyebalkan!”


***


“Seminggu sudah berlalu tapi pengintaianku sepertinya sia-sia. Tidak ada celah bagiku untuk mengetahui rahasia ketua.. ahh.. ini kelihatan sia-sia. Apa sebaiknya aku menyerah saja ya?” Raut wajah Cliey berubah drastis. Semangatnya menghilang karena ia tidak menemukan titik terang dari rasa penasaran yang mengganggunya. Namun saat Cliey akan kembali ke Divisi Perefil Upil, seorang gadis menyapa Vrill. Gadis itu begitu mirip dengan Vrill, hanya rambutnya saja yang berbeda. Ia memiliki rambut perak sepanjang bahu.


Tanpa sadar Cliey keluar dari tempat persembunyiannya. “Ke, ketua..?”


“Oh, hei anak baru,” Vrill bersikap kikuk, seperti seorang anak yang ketahuan melakukan hal buruk. “Ah, ini saudara kembarku, Vrillia.” Vrillia membungkukkan sedikit tubuhnya untuk memberi salam pada Cliey.


Cliey tidak bisa melepaskan pandangan matanya, Vrillia begitu anggun dan elegan dengan pakaian yang dikenakannya. Vrill menepuk pundak Vrillia, “Bukankah sudah saatnya kamu kembali ke asrama?” Vrillia hanya mengangguk, kemudian ia tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum pergi dari lorong itu.


“Ia kehilangan suaranya akibat kesalahanku, seandainya waktu itu aku lebih hati-hati, kamu pasti bisa mendengar suaranya yang indah.” Cliey tidak mengatakan apapun, ia hanya memperhatikan raut wajah Vrill yang dipenuhi dengan rasa bersalah. “Itu sebabnya aku memutuskan untuk keluar dari Divisi Dewa Kematian, itu kan jawaban yang ingin kamu ketahui?” Tanya Vrill singkat sambil tersenyum.


Cliey tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang bahkan tidak terasa gatal, “Dewa dan dewi terlahir secara hermaprodit, tidak seperti kamu yang sudah ditakdirkan sejak awal menjadi laki-laki. Saat menginjak kedewasaan, para dewa dan dewi akan memutuskan mereka ingin menjadi siapa artinya kamu bebas memilih ingin menjadi perempuan atau laki-laki sesuai kecenderungan sifat masing-masing. Selain itu, tubuhmu tidak akan bertambah tua dan rusak bisa dibilang waktu penuaan berhenti dan kamu akan tetap berada pada kondisi yang sama setelah mengikuti upacara kedewasaan. Tapi aku yang terlahir kembar tidak bisa seperti itu. Salah satu dari kami harus menjadi laki-laki dan lainnya menjadi perempuan untuk menjaga keseimbangan. Kelahiran seperti itu hanya terjadi 1 perbanding 1 miliar. Hal tersebut bisa dikatakan keberuntungan dan sekaligus kesialan.” Mereka berbicara sambil berjalan melalui lorong Gedung Pemerintahan Pusat.


“Sisi beruntungnya kamu tidak akan pernah merasa sendiri, meskipun berjauhan kamu dapat merasakan kehadiran masing-masing. Kami bisa saling merasakan perasaan masing-masing bahkan berbagi kekuatan. Kelebihanku akan menjadi kelemahannya, dan kelemahannya akan menjadi kelebihanku, karena itulah kami bisa saling mengisi satu sama lain. Sampai akhirnya kami harus memutuskan untuk menjadi siapa di upacara kedewasaan. Aku ingin menjadi laki-laki dan juga ingin memiliki adik laki-laki, tapi tentu saja hal itu tidak bisa terwujud. Tapi dengan mudahnya dia memasrahkan dirinya untuk menjadi perempuan agar keseimbangan terus terjaga.”


“Sejak saat itu nama kami berubah, Vrillian dan Vrillia. Ia pun mulai membiasakan diri untuk ‘hidup’ sebagai wanita. Bagiku, semua terlihat memuakkan. Tapi Vrillia selalu memberiku semangat, tidak ada penyesalan di wajahnya. Tapi justru hal itu semakin membebaniku. Namun sedikit demi sedikit aku menyadari bahwa ia berusaha terlihat bahagia untukku, dia bahkan tidak menyalahkanku. Makanya aku pun harus bahagia demi dirinya yang sudah mengalah.” Vrill berdiri di sebuah ruangan, ia memutar gagang pintu lalu mempersilakan Cliey untuk masuk. “Akan lebih nyaman jika kita berbicara di sini, mungkin agak sedikit berdebu karena sudah lama aku tidak datang ke sini.”


“Ini..” Cliey memperhatikan ruangan tersebut.


“Dulu, ini adalah ruang kerjaku.” Vrill menarik tirai berwarna merah hati. Cahaya matahari yang terang masuk ke dalam ruangan berdebu dan terasa agak lembap. Pemandangan alam yang masih belum terjamah memuaskan rasa haus indera penglihatan. Cliey terkagum-kagum melihat hal tersebut, sewaktu masih hidup ia belum pernah melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Karena semua keindahan alam yang didambakannya telah dirusak manusia pongah dan serakah.


“Ekspresimu sama sepertinya ketika dia kuajak masuk ke ruangan ini pada hari pertama pengangkatanku sebagai ketua Divisi Dewa Kematian.” Vrill menarik kain-kain berwarna putih yang menutupi perabotan yang berada di dalam ruangan tersebut. “Ada sisi positif dan juga negatifnya dari pertalian darah kami. Jika aku terluka, Vrillia pun akan merasakan apa yang kurasakan. Hanya saja aku dapat langsung sembuh dengan mengambil kekuatan Vrillia, sedangkan dia..” Tubuh Vrill bergetar, ia langsung meninju tembok di hadapannya. “Kenapa dia tidak bilang apa-apa kalau cedera yang kualami berpindah padanya, dia selalu saja tersenyum seakan tidak terjadi apapun! Padahal dia terluka, dia menderita, dia kesakitan! Sial!” Vrill berteriak, airmata keluar membasahi kedua pipinya. Tapi ia segera mengendalikan emosinya, Vrill segera mengatur nafas untuk menenangkan dirinya.


“Yang bodoh itu aku, seandainya aku lebih cepat menyadarinya, dia tidak perlu menderita..” Vrill menggosok-gosok matanya dengan punggung tangan yang dikepalkan. “Ahh, menangis seperti ini, kayak bukan diriku saja..” Ia tertawa dengan wajah masam. Vrill mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan menghadapkan punggung tangannya ke wajah. “Maaf ya Vrilli, tanganmu pasti terasa sakit sekarang.”


“Iya, memang tidak seperti ‘ketua’ saja. Orang yang kukenal itu, terkenal bodoh, konyol, dan seenaknya sendiri. Bukan cengeng seperti ini!” Cliey berlari meluncurkan sebuah tinju di pipi kiri Vrill.


“A, dasar bocah sial. Apa-apaan itu, ngomong seenaknya aja. Pukulanmu ini masih terasa seperti gigitan nyamuk tahu!” Vrill melempar Cliey keluar jendela ruangannya. “UWAAAAAAAA!! Ketua siaaaaal!!”


“Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan. Ya sudahlah, dia kan pernah mati sepertinya tidak akan apa-apa.” Vrill berjalan keluar dari ruangannya, ia melihat jam di tangan kirinya. “Wah, wah, sudah saatnya kumpul pasukan.”


“Bocah, masih terlalu cepat 100 tahun bagimu untuk mengetahui kebenaran Divisi Perefil Upil. Seharusnya kamu bisa lebih menghargai dirimu sendiri yang sudah masuk divisi yang kukelola ini. Benar, divisi ini bahkan lebih tinggi dari Divisi Dewa Kematian yang kamu idam-idamkan itu. Mereka justru hanya back up bantuan. Di divisi ini, Tuhan pun bisa mati jika kuperintahkan.”


“Yah tidak dapat kupungkiri, walaupun sambutan para dewi untuk Divisi Dewa Kematian begitu meriah saat upacara penerimaan kemarin. Tapi mau bagaimana lagi, kita ini harus bergerak seperti bayangan.. hihihihi.” Vrill menarik deathscyhte dari balik punggungnya.


Seorang pria yang berwajah sama dengan Vrill berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di samping sebuah pilar. Kedua tangannya ditekuk seperti wajahnya yang terlihat masam.


“Hei, Vill -panggilan Vrillia-.. sudah lama menunggu?” Vrill mengacungkan deathscythe-nya.


“Iya, lumayan. Ngomong-ngomong kak, kenapa aku harus berpakaian seperti seorang wanita? Bahkan kakak tega menyuruhku memotong rambut..” Vill telah mengganti pakaiannya dengan seragam yang sama dengan Vrill.


“Hahaha, kamu ‘kan sudah tahu jawabannya, soalnya sudah lama aku menginginkan adik perempuan ‘kan? Aiihh soal itu, nanti juga rambutmu tumbuh lagi deh.” Vrill menjawab sambil memanggul deathscythe.


“Tetap saja, sebagai laki-laki aku ‘kan malu.” Vill merengut hampir menangis.


“Iya, iya, nanti kutraktir sarapan deh. Ada daftar tugas untuk malam nanti?” Vill langsung menyerahkan tumpukan kertas kepada kakaknya. “Hmm, ada banyak juga level S yang harus dimusnahkan, cukup berat jika ini dikatakan kerja sambilan. Ngomong-ngomong aku terkesan dengan aktingmu, kapan-kapan kita jailin bocah baru itu lagi, ya?”


Fin


NB: dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1030967-lomba-cerbul-kasfan-september-12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar