Selasa, 18 Oktober 2016
Black Ceremony
“Tuanku,” seorang pria bertelinga berujung lancip, berkulit putih sepucat salju dengan rambut terkepang rapi berlutut, ia meletakkan helm yang terbuat dari titanium dan campuran sisik naga perak di hadapannya. Si pria melirik pada buku yang kubaca lalu menghela napas–aku dapat melihat ia cukup kecewa mengingat situasi saat ini sangat genting. “Persiapannya sudah selesai, kami hanya tinggal memperbarui pasak perlindungan.”
“Terima kasih, Aleiner.” Aku menanggapinya dengan posisi masih duduk penuh wibawa di kursi megahku dan menutup dengan anggun buku yang bercerita tentang cinta kalangan muda Elf Putih. Aku cukup menyukai tema-tema demikian. “ Kau boleh pergi, oh, dan ingatkan pada pasukanmu untuk waspada.”
“Akan saya laksanakan.” Si komandan mengambil topi besinya, kembali bersikap sempurna, memberi salam lalu keluar dengan gagah–hal itu terkesan dengan tegas dan dalam dari kibaran jubah merah suram yang ia kenakan di pundaknya.
“Dan satu lagi, Aleiner, sebelum kau benar-benar keluar.” Aku teringat sesuatu, “ajak sekutu-sekutu kita untuk bersiap.”
“Mereka sudah di lapangan utama, Tuanku.” Aleiner menjawab dengan datar, tapi jika memperhatikan baik-baik kerutan alisnya yang tipis itu, kau bisa tahu kalau dia benar-benar jengkel diperlakukan buruk dan tidak sopan–mengingat pemimpin perayaan kali ini yaitu aku, memperlambat kegiatan dan bersikap seenaknya. “Jika ada hal lain yang ingin anda sampaikan?”
“Tidak, terima kasih. Kau bisa melanjutkan kegiatanmu.” Aku mengangkat sebelah tanganku.
“Baiklah, saya permisi.” Ia mendengus pelan, sebelum beranjak keluar.
Oh, ayolah, pemimpin selalu memeriksa paling akhir untuk menunjukkan kepeduliannya atau sekedar menunjukkan ‘aku peduli’ meski sebenarnya anak buahmu lebih cekatan dan dapat diandalkan. Atau setidaknya aku ingin merasa sedikit menunjukkan naluri ‘pemimpin’.
Baiklah, mari kesampingkan dulu opini pribadi yang menunjukkan aku ingin diperhatikan. Malam ini merupakan bulan ke tiga puluh lima dalam kalender tahun Iether atau dikenal sebagai siklus bulan merah. Sebenarnya di berbagai belahan benua dikenal berbagai siklus bulan dilihat berdasarkan warnanya. Bangsa Elf Putih menyebar ke wilayah-wilayah yang memungkinkan dapat melihat dengan jelas siklus bulan ini setiap tahunnya, kami sendiri hanya mengetahui lima siklus bulan yaitu; Bulan Biru (Reindill), Bulan Kuning (Jjyern), Bulan Hitam (Lieffe), Bulan Merah (Iether), dan Bulan Perak (Eiyrn).
Tahun ini merupakan tahun siklus bulan merah terpanjang yang pernah kami alami. Seharusnya tiap tahun hanya terbatas hingga 21 sampai 30 bulan–yang perlu digarisbawahi, kami tidak memberi nama tapi menghitungnya dimulai dari pergantian tahun siklus bulan, sebab akan sangat merepotkan jika tiba-tiba terjadi penambahan tak terduga. Penambahan pada tahun Iether merupakan pertanda buruk jika kau pernah mendengar kaum Elf Hitam.
Akan kuceritakan sambil bergerak menuju lapangan utama. Jadi, hal ini pernah terjadi berpuluh ribu tahun yang lalu saat generasi pertama elf putih tua, yaitu kakek dari kakek-kakek buyutku, hidup. Elf Hitam sebenarnya kaum Elf Putih yang melakukan pelanggaran-pelanggaran berat, misalnya membahayakan dunia, merusak tatanan alam, menciptakan permusuhan yang berujung perang, merapal mantra terlarang, serta melakukan penelitian berbahaya. Elf Putih yang melakukan pelanggaran akan dibuang ke daratan gelap, tandus, tanpa cahaya yang dikenal sebagai Lyein Vytrr melalui Gerbang Bungkuk–nama sebenarnya Alleiner, tapi aku pernah melihat secara langsung lintasannya yang mirip dengan punggung penyihir tua Bukit Feirr.
Kudengar dari cerita mendiang ayahku yang dimana ayahku mendengarnya dari kakekku dan seterusnya, Elf Putih yang dibuang akan menyerap energi alam yang buruk dari daratan Lyein Vytrr dan mengubah warna tubuh mereka menjadi pekat serta menghancurkan wajah mereka sehingga kau hanya akan menatap lingkaran hitam tak terbatas di wajah mereka. Seharusnya dengan kondisi demikian akan menghancurkan jiwa dan tubuh para pembangkang itu secara otomatis tapi tidak. Rupanya para pembangkang itu menjadi penghisap jiwa dan penghancur tubuh yang ahli. Begitu kau tertangkap, jiwamu akan dihisap seperti menyedot ingus yang mengalir tak terkontrol dari hidung yang gatal dan begitu habis, tubuhmu berubah menjadi butiran debu kristal. Indah memang tapi kehidupanmu berakhir detik itu.
Aku melangkah memasuki lapangan utama lalu berhenti di samping Raja Golemut–err..itu gabungan dari golem dan berlumut. “Lama tak berjumpa Raja Seihrr. Kuharap kali ini gerbangnya tidak terbuka.”
“Kuharap juga demikian, Pendeta Agung. Sebab akan sangat sulit mengatasi nafsu makan mereka yang buas.” Ia menjawab dengan suara serak khas batu-batu. Meski begitu, ia terlihat perkasa dengan zirah perang mewah–terdapat ukiran dengan tulisan Golem Kuno dan butiran batu zamrud–yang hanya dipasang pada tangan, dada serta kakinya yang terlihat seperti tiang dari batu alam.
“Kau membuat kami menunggu cukup lama, Pendeta Agung.”
Oh si kerdil mulai berulah. “Maafkan saya Raja Béogorr. Hobi yang membuat lupa waktu.” Aku terkekeh canggung.
“Saat kau asyik membaca drama picisan itu, setengah dari desa bisa musnah tanpa kau sadari.” Dia berbicara dengan sangat angkuh dan menyebalkan. Tidak pernah berubah. Selalu bersikap sarkastis terhadap hobiku. Yah… dia memang sangat mirip dengan pendahulunya, pemimpin kaum kurcaci di Pegunungan Féorr.
“Maafkan keteledoran saya.” Aku mencoba bersikap tenang. “ Jika begitu mari kita mulai perayaan ini.” Aku hanya mencoba untuk terkesan ironi.
Lapangan utama terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Semua mata tertuju padaku sambal menggenggam erat senjata masing-masing. Aku melangkah masuk dalam lingkaran yang dipenuhi dengan mantra yang ditulis dalam Bahasa Tinggi Elf Putih Tua. Bulan Merah sudah berada dalam garis lurus, waktunya memulai pemanggilan gerbang. Kuharap masih tertutup rapat. “Atas nama Zeirr Valleiyh Ieytrr.” Lingkaran di bawah kakiku bersinar kebiruan terang. “Aku memohon perlindungan atas kaumku dan kaum sekutuku.” Lambat laun sinar biru itu menyebar ke seluruh lapangan utama dan bagi yang bertugas untuk menyebarluaskannya, mereka berkewajiban menyampaikan hingga menjangkau tiap kaum Elf Putih di seluruh daratan. Untuk selanjutnya akan digunakan sebagai perlindungan orang banyak.
Aku merentangkan tanganku, “atas nama ayahku Ieytrr Valleiyh Meiskh dan para leluhurku yang agung, aku meminta izin untuk memanggil Gerbang Alleiner.” Elf Putih yang bertugas untuk membantuku mengunci gerbang, mulai merapalkan kalimat mantra yang lain. Hal itu berfungsi sebagai penahan agar kaum Elf Hitam tak dapat melewati gerbang. Sisanya bersiap berperang menghunuskan senjata.
Siluet gerbang muncul, semakin lama semakin jelas. Dan aku dikejutkan dengan pintu raksasa yang telah terbuka. Terdapat puluhan Elf Hitam yang menyerbu hendak melintasi gerbang namun terhalang oleh dinding tak kasat mata. Aku bergegas merapal mantra yang dapat mendorong mereka masuk kembali sebelum mengunci gerbang dengan mantra pengikat yang lebih kuat. Kalian sudah sadar bukan? Dengan melihat fakta ini berarti tinggal menunggu serangan dari arah yang lain. Sebelum itu terjadi–oh tidak. Suara jeritan, dentingan senjata dan melemahnya penghalang. Serangan dimulai…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar