“Lihat, lihat, itu anak haram penyihir!” Seorang bocah lelaki menunjuk bocah lelaki lainnya yang memiliki rambut putih keperakan dengan bola mata putih.
“Oh! Benar! Anak haram! Itu anak haram penyihir!” Seorang bocah perempuan ikut mengolok-olok. Ia berteriak memanggil teman-teman yang lain untuk ikut memeriahkan pesta kecil sederhana menyakitkan itu.
Si bocah berkulit sepucat lilin berlari menjauhi desa. Saat ini tubuhnya dipenuhi luka lebam dan gores kerikil. Bajunya pun tak luput dari noda sayuran serta telur busuk. Anak-anak penduduk desa berkumpul semakin banyak, membawa apa saja yang bisa mereka lemparkan pada monster mengerikan yang berusaha menyelamatkan diri. Orang-orang dewasa di sisi jalan tanah berbatu, melihat dengan tatapan jijik pada bocah berdarah campuran. Mulut mereka tak henti-hentinya mencerca dengan kata-kata kotor. Dia mulai menangis tanpa menghentikan langkah kakinya yang semakin cepat menuju pepohonan hutan. Jubah kelabunya tersangkut semak-semak, ia tidak menghiraukannya dan meneruskan langkahnya hingga ke dalam hutan.
Si bocah berkulit pucat berjalan lesu hampir menyeret kakinya yang kini terasa berat. Ia menangis tersedu dalam kesendiriannya. Ia berhenti di sebuah pohon besar lalu menyentuh kulit kasar kayunya yang keras. Tabir tersingkap, pohon besar berusia ratusan tahun itu menghilang diganti sebuah rumah dengan pekarangan sederhana. Ia melangkah masuk, lalu menyamarkan kembali tempat tinggalnya agar tidak diketahui siapa pun.
Pintu berderit, bocah itu masuk sambil terisak. “Apa yang terjadi?” Seorang manusia dibantu kayu penyangga, berjalan pincang mendekatinya. “Kau terluka. Mau diobati dulu, Feihl?”
“Tidak, ayah. Nanti juga sembuh sendiri.” Feihl menangis semakin keras.
“Ada apa? Apa sangat sakit?” Ia mengusap-usap kepala anaknya agar tenang.
“Bukan… huhuhu… tadi aku tidak berhati-hati. Kakiku tersandung dan aku terjatuh, akhirnya tudung jubahku terbuka.” Feihl menelan ludah. “Seluruh belanjaannya jatuh dan terinjak ketika aku mencoba melarikan diri, maafkan aku ayah.”
“Tidak apa-apa.” Ayahnya mengusap ingus Feihl dengan kerah pakaian yang dikenakan anaknya. “Jamur dan daging burung yang kemarin kau kumpulkan masih bisa dimakan sampai nanti malam, jadi jangan khawatir soal itu. Besok, ayah akan berangkat pagi-pagi sekali untuk membeli bahan makanan dari uang yang tersisa dari hasil penjualan kayu bakar.”
“Tidak boleh! Ayah tidak boleh keluar rumah ini! Lihat apa yang dilakukan orang-orang itu terhadapmu.” Feihl melanjutkan, “kau berbeda denganku dan ibu. Tubuhmu akan rusak jika kau terluka. Besok, biar aku saja yang ke pasar. Aku pasti akan lebih berhati-hati.”
“Maaf ya, Feihl, ayah hanya menyusahkanmu saja.”
“Tidak perlu khawatir. Aku sudah berjanji pada ibu untuk menjaga ayah. Sekarang kita makan ya, yah? Perutku sudah kelaparan.”
“Baiklah, hari ini ayah membuat teh herbal spesial dengan tambahan kulit apel. Tunggulah di meja makan, akan ayah ambilkan tekonya. ”
Tawa pecah selama santap siang di dalam rumah kecil tersamarkan ilusi itu. Hanya saja, para pemiliknya tidak sadar jika ada seseorang yang selalu membuntuti si bocah sejak di pasar tadi pagi. Si penguntit kecil tersenyum puas. Buruannya telah ditemukan, saat ini ia cukup melapor pada warga desa dan menceritakan kejadian di luar nalar yang ia lihat.
***
Masa-masa tenang dan damai dalam persembunyian, berakhir. Malam sunyi yang biasanya diringi musik pepohonan dan binatang liar, kini berganti jeritan marah yang menyesakkan dada. Langit yang biasanya diterangi bintang, berganti obor penuh amarah. Angin malam yang biasanya menyapu pucuk-pucuk daun pepohonan hutan, kini berganti ujung tombak tajam. Iring-iringan penuh kebencian itu berjalan melalui jalan setapak yang membentuk liukan ular bercahaya yang berpendar menembus kesuraman hutan.
“Di sini!” Si bocah lelaki menunjuk penuh semangat ke sebuah pohon. “Tadi pagi aku melihatnya melakukan sihir!”
“Kau tidak melamun kali ini ‘kan, Dreist?” Si kepala desa memastikan.
“Tidak! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!” Dreist menjawab yakin.
“Cepat lemparkan obor kalian! Bakar pohon besar ini!” Perintah si kepala desa.
Jawaban serentak penuh semangat seluruh penduduk desa menciutkan nyali dua penghuni di dalam bangunan tersembunyi.
“Feihl, kenakan mantelmu dan bawalah ini.” Ayahnya memberikan seruling logam sepanjang 20 cm dan bubuk tembakau yang dibungkus kantong kulit. “Pergilah, biar ayah yang menghadapi mereka. Selamatkan dirimu.” Si pria pincang memaksa anaknya keluar melalui pintu belakang.
“Kita pergi bersama, ayah!”
“Cepatlah keluar sebelum mereka masuk!”
“Aku tidak akan pergi jika ayah tidak mau ikut!”
Suara tamparan menggema ke seluruh ruangan, mengalahkan keriuhan di luar rumah mereka. “Aku hanya akan memperlambat pelarianmu.” Feihl tertegun menatap ayahnya berjalan perlahan menuju lemari tua yang berisi perkakas petani; parang, garu, dan cangkul. Ia mengambil garu dan bersiap menghadapi penduduk yang berang. “Keluar, kataku!”
Feihl terkesiap mendengar bentakan ayahnya. Ia segera membuka pintu belakang dan berlari menerobos semak. Feihl berlari kalut melewati batang pepohonan, sesekali kakinya tersangkut akar karena belum terbiasa melihat dalam gelap. Pipinya terasa berdenyut akibat nyeri. Ini pertama kali dalam hidupnya ditampar oleh orang yang ia sayangi. Feihl menggosok kasar matanya, memfokuskan kembali penglihatannya yang kabur akibat tergenang air mata. Ia berusaha mempercepat langkahnya dan sebisa mungkin bergerak dengan tangkas menghindari akar pohon yang akan membuatnya tersandung.
Entah sudah berapa lama Feihl berlari, ia semakin merasa lelah dan langkahnya kian bertambah berat. Sayangnya, bukan waktunya bagi Feihl untuk beristirahat hanya sekedar mengatur napas. Para manusia kini bergerak secara bergerombol berpencar ke seluruh hutan. Sesekali, Feihl harus bersembunyi di balik pohon atau semak agar tidak tertangkap.
Peluh membanjiri tubuh kurus Feihl dan melembabkan pakaiannya. Udara dingin membuat otot kakinya sulit digerakkan. Feihl mencapai batas maksimal tubuhnya, ia berjalan sempoyongan sebelum akhirnya jatuh terantuk kakinya sendiri.
“Sebelah sana! Aku mendengar suara dari sana!”
Takut dan panik seketika menyediakan tenaga baru bagi Feihl ia memacu langkahnya melewati batang pohon kering. Tiba-tiba bocah berumur 11 tahun itu merasakan kejanggalan. Larinya melambat seakan berat dan lengket. Ia seolah berjalan menembus dinding agar-agar kental. Tangannya meronta-ronta mencari batang atau cabang pohon untuk menarik dirinya dari gumpalan udara pekat yang menyumbat pernapasannya. Setelah perlawanan sengit selama tiga menit itu, akhirnya Feihl berhasil keluar. Ia nyaris pingsan akibat kekurangan oksigen. Bocah dengan tubuh penuh luka itu tersungkur di tanah yang tertutupi dedaunan busuk dengan napas tersengal.
“Itu dia!” Salah seorang penduduk berteriak girang. Ia berlari sambil mengacungkan obor.
Feihl terlalu lelah untuk bangkit. Tenaganya terkuras habis hanya untuk menyeberangi pohon kering tua yang terkesan seperti batas wilayah. Ia memutuskan untuk menyerah dan pasrah jika para penduduk menangkapnya saat ini juga.
Kepala desa menarik lengan si pria yang antusias, langkahnya terhenti. “Apa kau gila?! Perhatikan batas itu!” Kepala desa menunjuk pohon kering. “Mulai dari sana adalah wilayah Hutan Black Spell, tanpa kita kejar pun ia akan mati dimakan iblis.” Si kepala desa memberikan aba-aba untuk kembali.
Cahaya remang obor semakin menjauh, Feihl ditinggalkan dalam gelap dan riuhnya suara serangga hutan. Butuh beberapa saat untuk membiasakan matanya melihat tanpa secuil cahaya. Feihl mendudukkan tubuhnya, ia menengadah. Dedaunan pohon yang menaunginya terlalu lebat, tidak ada celah bagi cahaya bulan. Ia menatap sekelilingnya, tidak ada tanda-tanda dari penduduk desa. Ia ingin kembali dan melihat keadaan rumahnya. Namun dinding agar-agar tak kasat mata itu masih ada dan Feihl tidak yakin dapat melaluinya kali ini–mengingat kondisi tubuhnya. Si bocah mendesah sedih, teringat ayahnya yang bernasib malang. Entah apa yang akan dilakukan para penduduk desa itu pada anggota keluarganya. Ia mulai menangis tersedu-sedu.
“Oh… lihat, keturunan penyihir putih.”
Tangis Feihl terhenti. Suara berat, dalam, dan bergetar dalam bayangan malam itu membuatnya bergidik. “Siapa?!”
“Ah… sudah lama aku tidak memakan daging penyihir.” Suara lain yang tak kalah mengerikan, menimpali.
Feihl merogoh saku mantelnya, ia menggenggam sesuatu di dalamnya. Ia mengawasi sekitarnya, jantungnya berdegup keras karena takut.
“Dia milikku!” Makhluk hitam dengan mata merah menyala melesat dari balik batang pohon. Ia menyeringai menunjukkan gigi geligi setajam pisau yang siap mengoyak tulang bocah lelaki itu. Dengan sigap Feihl melemparkan bubuk tembakau. Makhluk mengerikan itu mengerang kesakitan sebelum akhirnya mendarat menghunjam tanah. Ia berguling sambil mengaduh. Dari wajahnya mengepul asap bau telur busuk. Ini kesempatan bagi Feihl untuk menyelamatkan diri, ia berlari jauh ke dalam hutan. Feihl tidak sadar, semakin masuk ke dalam, semakin banyak makhluk kelaparan yang menanti kedatangannya.
***
“Jadi, mau sampai kapan kau akan duduk sambil memeluk lututmu yang kurus itu?”
Feihl menengadah lesu. Wajahnya semakin tirus dan pucat, bibirnya kering karena kurang air, sorot matanya tak lagi fokus. Ia kembali menundukkan kepalanya. Feihl terlalu lelah untuk diganggu iblis yang terkurung dalam Hutan Black Spell.
“Terlalu lemah untuk merespon, eh?” Si iblis turun dari batang pohon terdekat dengan si bocah. “Aku sudah bersusah payah memakan iblis lainnya untukmu. Tidakkah kau berpikir untuk membalas kebaikanku dengan melangkah keluar dari lingkaran pentakel itu dan menyerahkan dirimu padaku? Aku lebih memilih menyantap makanan dalam keadaan segar. Meski saat ini kau jauh terlihat lebih kering dari sebelumnya.”
“Dan lihatlah.” Si iblis berjalan mendekati kantong kulit kosong yang dibiarkan tertumpuk dedaunan lembab. “Kau juga sudah kehabisan bubuk tembakau. Kali ini kau tidak bisa mencari makanan atau mengusirku.” Ejek si iblis angkuh.
“Kau sendiri, Ra’el. Mengapa kau tidak keluar saja dari hutan ini jika memang lapar.”
“Kau sedang menyindirku ya, Bocah?” Ra’el melompat, merubah wujudnya menjadi seekor kucing besar dengan bulu sehitam malam. “Setiap sudut hutan ini dipasang Pasak Mantra, itu sebabnya kami tidak bisa keluar sesuka hati. Memangnya gara-gara siapa kami terjebak di sini?”
Feihl menatap tajam. “Jangan-jangan…”
“Tepat, seorang wanita dari golongan penyihir putih yang melakukannya. Hmm, kalau tidak salah namanya Carria Heiren White. Jika aku berhasil keluar dari sini, aku akan membalas dendamku dulu baru kunikmati tiap ons daging manusia yang dapat kutemukan.” Ra’el terkekeh.
“Carria?” Feihl terdiam beberapa saat. “Jika ibuku melakukan itu semua, maksudku dia menolong penduduk desa itu. Lalu mengapa mereka membalasnya dengan memperlakukan kami dengan kejam?” Ia menegakkan punggungnya. “Ayah bahkan selalu mengingatkanku agar tidak sembarangan merapal mantra untuk mencelakai manusia. Aku selalu dibimbing untuk menggunakan sihir dalam pengobatan. Mengapa para manusia itu tega mencelakai kami?”
“Nah, Nak.” Ra’el melanjutkan. “Akan kupinjamkan kekuatan padamu untuk membalas dendam, tapi sebagai gantinya bawa aku keluar dari sini.”
Hutan yang tadinya dipenuhi suara serangga, kini berganti cemoohan mulut makhluk beringas. Mereka meneriaki Ra’el pengkhianat. “Aku sudah bosan terkurung dan memakan jiwa kotor. Tidak masalah jika aku harus menundukkan kepalaku sebentar untuk menikmati kebebasan. Bukan begitu, Tuan Feihl?” Ra’el berubah menjadi gumpalan asap yang mengurubungi lingkaran Feihl. “Bagaimana, penawaran yang menarik bukan? Kau tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi jika terkurung dalam perlindunganmu tanpa makanan dan air. Tanpa bantuanku, kau juga tidak akan sanggup bertahan selama sedetik ketika melangkah keluar. Kau tahu mantra Perjanjiannya kan? Ucapkanlah sebelum aku berubah pikiran.”
Feihl merogoh saku kanannya, ia meremas seruling pemberian ayahnya. Wajah Feihl berubah keras, matanya kembali terfokus. Sekelebat cahaya menerangi Hutan Black Spell. Kontrak perjanjian diikat dalam darah. Si iblis kini berdiam dalam seruling dingin, menanti majikannya melantunkan nada-nada kematian.
Feihl meniup serulingnya. Ra’el muncul di luar pentakel majikannya. “Di dalam sana begitu kotor dan sempit. Kau harus membersihkannya sesekali. Yah… bukan berarti aku benci sih, hanya tidak nyaman.”
“Jaga mulutmu budak. Bawakan makanan dan air, lalu lindungi aku keluar dari sini dengan selamat.”
“Hih, bocah tak tahu untung.” Ra’el mendengus kesal. “Tapi mau bagaimana lagi. Sesuai keinginan anda, Tuan.”
Dalam lima menit Ra’el membawakan bermacam buah dan air dalam cawan daun. Begitu Feihl melahap habis makanan dan minuman yang disediakan untuknya, meski tak banyak, tenaganya kembali. Sesuai perintah Feihl, Ra’el membawanya hingga ke perbatasan perisai.
“Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Kekuatanku tidak cukup untuk dapat melewatinya. Aku bisa hancur.”
“Kau bisa kembali masuk. Biar dari sini, aku yang menangani.”
Ra’el bersiul pendek. “Sombongnya. Kalau begitu kuserahkan padamu.” Ia kembali masuk ke dalam seruling.
Feihl melompat. Tidak seperti sebelumnya, kali ini ia dapat mengatasinya dengan mudah. Tidak butuh waktu lama bagi Feihl untuk keluar dari dinding perisai yang dibuat ibunya. Feihl tertawa puas. Perasaannya bercampur aduk. Ia meniup serulingnya, memanggil Ra’el.
“Kupikir kau akan butuh sedikit dorongan untuk menembusnya. Sesaat tadi aku hampir tertidur.”
“Simpan ocehanmu, sudah waktunya kita memberi salam pada penduduk desa.”
“Inilah yang kutunggu sejak tadi.”
Si iblis membawa tuannya melesat menuju perkampungan yang terlelap. Feihl menatap kosong. Di dalam kepalanya muncul kelebatan-kelebatan kenangan buruk yang ia alami. Kebencian memenuhi perasaannya. Ia menempelkan seruling dingin itu di bibirnya dan memulai melodi kematian yang tidak menyisakan seorang pun hidup.
NB; dilombakan di https://www.goodreads.com/topic/show/1705104
Tidak ada komentar:
Posting Komentar