Rabu, 26 Oktober 2016
Lock
Udara dingin ditambah kabut tipis turun di jalanan yang dipenuhi makhluk mengaku abadi. Aku memerhatikan mereka bersosialisasi dengan topeng kepentingan masing-masing. Tidak ada yang spesial. Sudah ribuan tahun bahkan ratus ribuan tahun aku memerhatikan ketamakan mereka yang menjijikkan. Aku hapal betul wajah palsu mereka. Jadi percuma. Percuma saja mencoba untuk menipuku –lagi pula tidak ada satu pun dari makhluk hidup itu yang dapat melihatku. Hal itu karena perbedaan tingkat kami. Semakin tinggi kemampuan dan keahlian yang kau miliki, semakin sulit makhluk yang lebih rendah darimu dapat melihat wujudmu dengan mata telanjang.
Kau bertanya ini di mana? Akan kujawab pertanyaanmu dengan mudah. Dunia Iblis. Terletak diantara belahan dimensi surga dan neraka. Aku sendiri berkewajiban untuk mencatat makhluk-makhluk biadab penuh tipu muslihat ini. Serta mengawasi jika mereka memutuskan untuk menyeberang menuju dunia roh yang terkunci dengan fisik, tepat sekali kuduga kau akan mudah menebaknya, Dataran Gaia–begitulah aku menyebutnya. Ada banyak spesies makhluk hidup yang dapat dirayu, digoda, dan dikendalikan. Dari makhluk busuk, tak berakal dan penuh belatung, hingga strata makhluk suci yang mengagungkan monarki.
Kau ingin tahu bagaimana aku melakukannya sambil duduk manis memainkan konsol game terbaru? Seluruh tubuhku dipenuhi bola mata dari tiap iblis dan setan yang lahir di dunia iblis ini. Semuanya muncul secara otomatis dalam inti kehidupanku. Inti dari api hitam milikku. Dan walaupun aku menutup mata milikku, aku dapat melihat, mengetahui, dan merasakan secara bersamaan apa yang dilakukan si pemilik mata yang bersangkutan. Hal ini membuat mereka tidak dapat menyembunyikan apa pun dariku.
Ah.. benar.. aku hampir lupa. Aku tidak memiliki tubuh fisik seperti yang dimiliki makhluk lain. Aku bebas mengambil wujud dan bentuk apa saja dan segala bola mata itu akan menyesuaikan tanpa kesulitan berarti.
Inilah kutukanku semenjak terbuang dari surga.
Setiap detik, jam, hari, minggu, bulan, tahunan, dekade, dan abad, hingga hancurnya sebuah peradaban langka, tidak ada yang luput dari pengawasanku. Keberadaanku di Dunia Terbuang ibarat Tangan Kiri Tuhan. Akulah yang bertanggung jawab mengatur Tanah Tanpa Sekat. Wah, wah, jangan mengerutkan alis begitu. Akan kujelaskan sedikit tentang geografi dunia yang harus kuawasi.
Tidak ada batasan khusus tentang wilayah di sini. Sebuah perkampungan kecil setara dengan luas tiga kali Dataran Gaia. Ditambah, perkampungan-perkampungan itu masih bagian dari sebuah pulau mengambang yang meski sebesar telapak tanganku, luas permukaannya bisa seratus kali lipat. Ditambah, pulau-pulau yang kusebutkan tadi bisa berjumlah ribuan di sini. Nah, nah, sudah mendapat bayangan, sebesar apa inti zat milikku?
Meski begitu, tidak ada hal baru dan menarik yang dapat mengalihkan perhatianku. Segalanya terasa berulang walau telah memasuki satuan waktu yang berbeda. Tidak ada yang istimewa jika kegiatan yang sama dilakukan oleh makhluk yang berbeda. Dengan kata lain, monoton. Dan hal itu sama sekali tidak cocok dengan jiwa liarku yang terkunci dalam hukum mutlak.
Yah, hal ini jadi membuatku teringat masa-masa indah dulu. Sewaktu aku masih mendampingi Malaikat Jatuh Agung sebagai iblis yang memimpin 89 legiun. Dengan kekuatanku, aku dapat menyaingi Michael. Dengan kemampuanku aku bisa memorak-porandakan Dataran Gaia. Dengan kekuasaan yang kumiliki aku bisa merusak keseimbangan gravitasi dan mengganggu lintasan orbit. Sayangnya, aku harus rela kehilangan berbagai berkah itu akibat kekalahan kami.
Meskipun aku masih diriku, kemampuan, kekuatan, dan kekuasaan yang sama, tetapi derajatku berbeda. Kebebasanku terenggut, statusku menyedihkan, dan kepercayaan diriku memudar, tak ubahnya tumpukan sampah.
Jika bisa, aku ingin memilih akhir yang pasti. Bukan dipekerjakan layaknya budak tak berharga. Benar. Aku lebih suka mati dari pada harga diriku tersakiti seperti ini. Sayangnya, keberadaanku serta yang lainnya ditangguhkan hingga Hari Kehancuran. Tidak adil bukan?
Tepat, ini semua tidak adil. Aku memiliki ego serta nafsu yang besar dan juga energi yang bisa kumanfaatkan untuk melakukan kerusakan. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk membunuh nyamuk pun aku tidak diizinkan. Aku terikat dengan tugasku.
Untuk terbebas dari masalah ini hanya ada satu hal yang bisa kulakukan, menantang Sang Pencipta serta memperjelas keberadaanku di sini. Tapi hal seperti itu tidak mungkin kulakukan, mencari jawaban dengan cara brutal begitu tidak akan memperjelas apa pun karena hasilnya sudah dapat diduga dengan mudah. Lagi pula kasus ini sama seperti keberadaan manusia yang diciptakan dengan prediksi berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di Dataran Gaia.
Uh-oh! Ada getaran pada perisai tipis yang kubuat menyelubungi dunia yang kuhuni ini. Aku membuka mataku dengan berat, mencari-cari makhluk yang bertanggung jawab atas gangguan ringan yang dibuatnya. Lompatan kecil seperti kelinci salju, tanpa kutangkap pun pelakunya datang sendiri menghadapku. “Ho, Astaroth Sang Pengkhianat. Sebuah mukjizat aku bisa melihatmu di sini, setelah berlari penuh suka cita dan memilih untuk memihak Kaum Putih.” Aku memerhatikan ekspresi wajahnya yang tersenyum sungkan.
“Ah itu,”–Astaroth menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal–“kisah lama bukan? Mari membuka catatan baru, Saudaraku.”
Emosiku meledak, “cerita lama?! Oh ya tentu! Sudah berapa lama kira-kira berlalu ya? Benar! Hanya enam ratus abad, bahkan tidak ada seperempatnya dari umurku, bah! ” Bentakku ketus.
“Yah, well, kau tahu, ada banyak hal tak terduga yang terjadi saat perang, bukan?”
Penjelasannya akan semakin panjang dan membosankan jika percakapan ini diteruskan, ingat, aku makhluk yang cukup sibuk. “Ya, ya, ya, jelaskan secara singkat, padat, lugas, dan cerdas, keberadaanmu di sini.”
“Well, tajam seperti biasanya, eh?” Dia berdeham, “kau masih menyimpan Buku Hades?” Tanyanya singkat.
“Tentu. Justru akulah penjaganya, lagi-lagi kau bertanya hal bodoh yang tak penting. Sebaiknya kau pergi sebelum aku berubah pikiran untuk melepasmu hidup-hidup.”
“Turunlah, dan baca sendiri.” Ia mengacungkan sebuah perkamen. “Ada tugas untuk kita berdua.”
Aku memuntahkan sebelah mataku, lalu membentuknya menjadi tubuh manusia berotot dengan kepala menyerupai babi dengan moncong serigala. Sepasang gigi taring mencuat ke atas dari dalam mulutku yang basah dan berair. Di punggungku tumbuh sayap kelelawar berwarna hitam suram. Yah, anggap saja sebagai kloningan untuk menyamar. Sebab akan sangat memalukan jika aku berkeliaran sebagai bola mata merah melayang. Pikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika kau berada dalam posisiku. Sudah dapat?
Aku menerima perkamen yang dibawanya, digulung kembali dengan berantakan. Khas Astaroth. Aku membacanya dalam sunyi, mengernyitkan kening, lalu menatap wajah antusias makhluk hina di hadapanku. “Baiklah, sajak mengerikan yang dibuat dengan diksi yang membingungkan. Sudah jelas dari Gabriel, ditambah stempel menyedihkan sederhana di pojok sini. Aku akan menemani tugasmu sebentar.” Aku membakar pesan itu dalam api biru. “Tunjukkan jalannya, aku akan mengikutimu dari belakang.”
Setelah tersasar, berputar-putar tak menentu di sebuah perkampungan kumuh yang barbar, serta merusak beberapa fasilitas, akhirnya kami menemukan buronan yang dicari. Ia tengah minum-minum dengan santai ditemani iblis wanita. Terlihat biasa. “Dia berada di sana, tepat di hadapanmu. Apa lagi yang kau tung–”
Astaroth mendesis kesal, “diamlah! Bagaimana jika ia mendengarnya dan kabur lagi?”
“Dia terlihat lemah dan bukan lawan yang pantas untuk ditakuti.”
“Meski begitu, dia malaikat. Kau pernah mendengarnya bukan? Samuel Holystone, pemegang segala rahasia. Kini ia memalingkan wajah dari cahaya menuju kegelapan untuk melakukan perlawanan pada Kaum Putih.”
“Kisah pengkhianat yang familier, lanjutkan.”
“Ia licin seperti belut dan memiliki kekuatan tersembunyi yang berbahaya. Kudengar ia cukup ahli merapal mantra ilusi untuk mengelabui musuh-musuhnya.” Astaroth bercerita dengan penuh semangat. “Itu sebabnya kita harus menangkap jiwanya untuk dijatuhi hukuman.” Ia mencengkram tanganku. “Tanpa terluka!”
“Oh, baiklah.” Aku menghilangkan kumpulan energi dari tanganku yang telah siap kulontarkan untuk sekedar meledakkan bar kecil tempatnya singgah dan semoga saja membuatnya pingsan jika masih selamat.
Dan kemudian, aku pun berputar-putar menikmati permainan kecil yang disuguhkan; bersembunyi, membuntuti, menyamar dengan bentuk lain, dan akhirnya berhasil memojokkannya di sebuah padang tandus kelam. Aku menyerahkan urusan penangkapannya pada Astaroth. Jujur saja, jika aku yang menanganinya, ia akan meledak menjadi kepingan koin sebelum menerima hukuman yang seharusnya.
Aku duduk sila melayang, membiarkan ekorku melecut-lecut udara dengan tajam, kulipat tanganku di dada sembari memerhatikan jalannya pertandingan. Berlangsung dengan membosankan. Diawali dengan percakapan panjang, yang mungkin bisa saja sambil diselipkan biodata diri serta sejarah keluarga. Tidak ada jerit kesakitan, ledakan plasma, rapalan mantra yang menyakiti lawanmu hingga memohon untuk mati, serta muncratan darah segar. Ah, sayang sekali. Setidaknya biarkan aku menikmati popcorn dan segelas soda ukuran besar sambil bersorak riang menyemangati.
Dia berjalan ke arahku dengan penuh kemenangan. Di tangannya terdapat cahaya biru yang mengambang tenang. “Kupikir kau butuh waktu seharian untuk mendapatkannya.” Aku menguap jenuh.
“Luar biasa, bukan? Aku bisa menangkapnya tanpa bantuanmu dan Buku Hades milikmu itu.” Ia menyahut penuh bangga.
“Ya, ya. Mari segera selesaikan, masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan.”
***
Kami menaiki anak tangga tanpa pengikat sambil membawa jiwa si terpidana menuju ajalnya. Entah telah berapa lama kami berjalan berputar-putar mengikuti alur undakan yang terasa tanpa batas. “Tidakkah ini janggal Naberius?”
“Apa maksudmu?”
“Tangga ini, tidak biasanya terasa begitu panjang.”
“Kau masih belum sadar?” Aku bertanya santai.
“Sadar? Tentang apa?”
“Tempat inilah kuburanmu.”
Astaroth tergelak geli. “Tajam seperti biasa, eh?” Aku tersenyum iba.
Jiwa biru lembut di tangannya menyusut dan meletup menjadi butiran atom. Raut wajah Astaroth berubah pucat, ia segera meregangkan sayapnya. “Sangat terlambat, Saudaraku.” Tubuhku melayang, terangkat dari anak tangga yang kupijak. Secara bersamaan, sayap abu keperakan di punggung Astaroth terkikis. Kemampuan sihirnya menumpul.
“Apa-apaan semua ini?!” Ia berseru kalut. Satu per satu anak tangga yang telah kami lewati dan anak tangga di atasnya menghilang.
Aku memamerkan Buku Hades dengan congkak. “Aku cukup terkejut kau tidak mengetahui maksud pesan yang kau berikan padaku, Saudaraku. Maksud dari perkamen yang kau bawa adalah mengantarkan kematian untukmu sendiri. Pengabdianmu tidak cukup untuk menebus segala dosa yang telah kau lakukan, agar dapat bersanding dengan Kaum Putih. Ngomong-ngomong pengejaran yang kita lakukan tadi, itu pun palsu. Segalanya telah diatur, hanya pelaksanaannya saja yang perlu improvisasi.”
“Tapi aku telah melakukan perintah-perintah mereka! Melaksanakannya sesuai perjanjian!”
“Ho.. jika begitu, keberadaanmu tidak lagi dibutuhkan.” Raksasa penuh tentakel menggeliat riang di Dasar Abyss. Mulutnya berseru penuh semangat menanti makanan jatuh.
“Naberius!–” Astaroth menatapku dengan wajah memelas. “Tolong aku! Aku masih belum ingin mati!”
Aku menatapnya dengan kilatan kebencian. “Selamat bersenang-senang, Pengkhianat.” Aku melambaikan tangan dengan anggun. Wajah makhluk menyedihkan itu berubah keras. Sumpah serapah, hinaan serta kutukan menyertai kepergiannya dengan gerakan manuver yang berantakan. Jika aku juri lomba renang, aku akan memberinya nilai minus. Lompatan besar dengan mulut berbau busuk yang terbuka lebar menyambar tanpa ampun. Perlawanan kecil dalam mulut, lalu terdengar seperti kotoran jatuh ke dalam kloset.
Aku membuka halaman Buku Hades, melihat sebuah nama dan susunan angka menipis lalu menghilang dari sana. Resonansi jiwa kami terputus. Tubuh sementaraku memudar dan hilang dalam kedipan mata dari pengadilan singkat yang penuh ketegangan.
Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku harus repot-repot mau mengurusi hal yang sebenarnya dapat ditangani dengan mudah oleh para malaikat pemalas itu? Well, jawabannya semudah membalikkan pulau di Dataran Gaia. Karena aku menangani Dunia Bawah, jadi aku mengistilahkan Kaum Putih sebagai Dunia Atas. Baiklah, Dunia Atas tidak bisa melenyapkan Para Petinggi Dunia Bawah, meski pun aku tahu mereka sangat ingin memusnahkan kami demi menciptakan tatanan Dunia Baru. Sayangnya, Roh Agung membuat aturan permainan yang tidak bisa diganggu gugat, walau kau memiliki kedudukan tertinggi sekali pun dalam kaummu, tetap masih di bawah kekuasaan Sang Agung. Di dalam aturan yang disampaikan secara lisan dengan bergaya kasual, formal dan mencolok, Dunia Atas tidak bisa mencampuri urusan Dunia Bawah–terutama urusan hidup dan mati. Untuk kasus Astaroth, keberadaannya setara dengan plankton yang berharap menjadi ikan paus, dan akhirnya ia hanya dimanfaatkan menjadi kurir. Begitu masa pemanfaatannya habis, kau tahu apa yang terjadi selanjutnya. Lagi pula dia pantas mendapatkannya.
Akhirnya, keseharianku kembali seperti semula. Kesenangan dan kegembiraanku berakhir serta butuh beberapa abad lagi hingga aku menemukan hiburan yang berharga. Sampai saat itu tiba, sepertinya aku akan kehabisan kesempatan dan berakhir dengan cara tidak bergengsi yang paling ketinggalan zaman serta memalukan, menanti hingga bosan sampai batas waktuku berakhir.
fin
NB; dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/1451657-lomba-cerbul-kasfan-agustus-13
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar