Sakit…
Gelap…
Dingin..
Rasanya sesak, paru-paruku terasa terbakar…
Aku memerhatikan sekelilingku. Tidak ada siapa-siapa. Aku… dimana?
Aku melompat dengan ringan. Seakan tubuhku tak berbobot.
Kemudian… muncul cahaya di kejauhan. Cahaya kecil yang hangat. Aku bergegas mendekatinya penuh semangat. Sebuah api lilin tunggal kecil berpendar kebiruan yang menenangkan. Aku menengadahkan tanganku, menciduknya. Seketika aku dapat mendengar desiran darah mengalir ke seluruh tubuh dan detak lembut jantung yang kurindukan.
“Oi, yang di sana!”
Aku terkejut, tersentak hampir terjengkang ke belakang dan melepaskan cahaya itu dari tanganku. “Siapa?”
“Lepaskan itu.” Dia menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan nikmat. “Api itu tidak bisa menjadi milikmu.”
Cring.
Suara lonceng. Aku menengadah. Seseorang turun perlahan, asap mengepul dari mulutnya. Ah bukan, daripada disebut mulut, lebih tepat merupakan moncong. Tubuhnya diselimuti bulu putih yang berpendar dalam gelap. Ia mengenakan atasan yukata bermotif musim semi dengan paduan warna dan corak mencolok yang bersemangat. Di telinga kirinya tergantung sebelah anting batu giok berbentuk bulan sabit. Matanya berwarna kuning keemasan menatapku tajam. Ia mengisap pipa tembakau panjang bercorak dengan dua cincin emas di tengahnya. Dua lonceng tergantung di ujung pipa. “Mengapa kau berada di sini?”
Aku terpaku, “bagaimana seekor rubah dapat berbicara?” Tanyaku takjub.
“Ah… ya, seekor rubah, tentu saja. Kau bisa memanggilku Kitsune Si Pembersih.” Ia mengetuk-ngetukkan pipanya, membuang abu tembakau. Lalu mengisapnya lagi dan mengembuskan perlahan. “Tentu saja aku bisa berbicara, karena aku ingin berbicara. Lalu bagaimana denganmu? Kau ini apa?” Kitsune menunjukku dengan pipa rokoknya, dua lonceng saling bersentuhan dan menimbulkan bunyi lembut yang nyaring.
“Aku… apa?” Aku menundukkan kepalaku, mengamati tubuhku sendiri. Aku mengangkat tanganku, menggerakkan setiap jarinya, “Manusia.” Jawabku mantap. “Si pembersih? Bagaimana bisa kau menjadi petugas kebersihan?” Aku tertawa geli.
“Yah, aku pun penasaran. Mengapa aku bisa menjadi si pembersih.” Jawaban yang konyol, tapi ia mengucapkannya dengan serius dan dingin.
Kitsune bergeming, ia menatapku datar. Suasana kembali hening. Aku benci ini.
“Jadi, apa maksudmu dengan api ini tidak bisa menjadi milikku. Aku bahkan tidak melihat pemiliknya.”
Ia mendesah berat. “Api itu milik orang lain, tentu saja. Sedangkan milikmu, di sini.” Si rubah mengangkat telunjuknya. Pada ujung kukunya berkobar lemah api berwarna oranye berpendar kebiruan yang tidak berdaya.
“Api itu tidak akan sanggup menghangatkan tubuhku.”
“Begitukah?” Ia terdiam sejenak. “Jadi tidak masalah jika aku meniupnya.”
Aku menatapnya, tidak ada jawaban dariku. “Baiklah jika begitu.” Lanjut Kitsune tenang. Ia meniupnya. Api itu mati.
Seketika aku merasa kehilangan yang amat sangat. Api di depanku bahkan tidak sanggup meredakan rasa sakit yang begitu menusuk. Aku terengah seakan paru-paruku berhenti memompa udara. Aku batuk sejadi-jadinya, berusaha mencari oksigen yang tiba-tiba saja menghilang. Apa ini?
“Api yang ada dalam tanganmu tidak akan berguna. Lepaskan, biarkan ia kembali ke pemiliknya.”
Aku masih berusaha untuk menghirup udara yang bahkan kuragukan ada. “Tidak mau.” Tolakku keras kepala. “Hanya ini yang kumiliki untuk menghangatkan tubuhku. Lagipula di sini gelap. Aku butuh cahaya.” Kueratkan genggamanku.
“Benarkah?”
Cring.
Bunyi lonceng lagi. Aku terkesiap, seketika ruangan gelap ini dipenuhi puluhan, ah mungkin ratusan api lilin yang sama seperti yang berada di tanganku. “Kau tidak akan melepaskannya, meski sudah memiliki cahaya sebanyak ini?” Ia melanjutkan.
“Ini ilusi!” Seruku marah. Aku dipermainkan! Apa-apaan makhluk tidak jelas ini, ia datang begitu saja dan seenaknya memberikan perintah. Aku tidak suka diperlakukan seperti ini!
“Tepat sekali. Ruangan ini, api itu, bahkan dirimu sendiri juga ilusi. Tapi bagaimana denganku, apa aku juga ilusi?”
“Berhenti berputar-putar! Katakan dengan jelas maksud semua ini!”
“Ah…” Ia mengisap dan mengembuskannya lagi. “Masalah ini akan menjadi sangat merepotkan.” Ia melemparkan pipanya kemudian kembali ke dalam genggaman tangannya menjadi sebuah seruling. Seruling dengan ornamen yang sama. “Jika begitu, mari kita melihat kenyataan bersama-sama.” Ia meniupnya.
Cring.
Entah mengapa tinggi badan rubah itu yang semula berada di bawahku, sekarang aku yang lebih kecil dibandingkan dia. Aku bahkan harus mendongakkan kepalaku hanya untuk melihatnya.
“Terkejut? Tentu saja kau terkejut. Itulah bentuk aslimu.”
Cring.
Si rubah menghilang. Kini aku berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi cermin. Bayanganku terpantul ke segala arah, dan mengejutkanku sendiri. Aku melihat seekor kucing duduk kebingungan. Menatap ke sana kemari, mengangkat kaki depannya, menggoyangkan ekornya untuk memastikan sesuatu. Aku menjerit, namun yang tertangkap telingaku hanya suara raungan kucing yang kesal.
Ruangan kembali gelap dan kosong.
Sebuah layar besar muncul di tiap sisi; kanan, kiri, depan, belakang, atas dan bawah. Layar besar itu memproyeksikan seekor kucing berwarna putih dengan bercak hitam dan oranye di tubuhnya yang kurus. Duduk di samping jalan, menanti kendaraan berangsur lengang. Tidak jauh dari jarak si kucing, sebuah sepeda motor melaju tak terkendali ke arah si kucing. Tabrakan pun tak dapat dihindari. Si kucing mati di tempat.
Gelap kembali menyelimuti.
“Kau terlalu lama tinggal di dunia dan menyerap kebencian yang seharusnya tidak kau sentuh. Emosimu bercampur dengan emosi manusia sehingga kau kehilangan dirimu sendiri. Pada akhirnya kau terikat dendam dan mencelakai siapapun yang melewati jalan itu.” Kitsune menatap sekelilingnya. “Jiwa-jiwa ini tidak bisa kau gunakan untuk hidup kembali. Kau sudah mati.”
“Diam!” Kemarahan meluap dalam diriku.
“Kau memang berhak untuk marah. Sayangnya kau telah bertindak di luar batas.”
Kelebatan ingatan menyebalkan memenuhi kepalaku, rasanya begitu nyeri. “Kubilang diam!”
“Kebenaran tentang keberadaanmu dan alasan mengapa kau mengumpulkan jiwa sebanyak ini pun sudah kuketahui. Sudah saatnya mengakhiri segalanya. Bukan begitu, Bake Neko-san?” Si rubah melempar seruling yang kemudian berubah menjadi sebuah belati. Ia menarik perlahan pisau belati dari sarungnya. Gesekan dingin yang membuat gigiku ngilu.
Aku meraung marah. Melompat jauh, bersiap menerkam si rubah yang kini terlihat kecil di mataku. Tidak akan kumaafkan!
NB; dilombakan di https://www.goodreads.com/topic/show/1614280-lomba-cerbul-kasfan-desember-13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar