Senin, 31 Oktober 2016
Bayangan Bulan di Atas Danau
“Selamat pagi, Kishimoto!” Seru seorang anak yang tengah berlari mendekati temannya berwajah campuran barat-asia. Ia mengenakan seragam sekolah yang terlihat elit. Dengan kemeja putih, celana dan sepatu pantofel berwarna hitam, dan tas ransel.
Ia berbalik dan tersenyum menunggunya. “Selamat pagi Heiji.”
“Bagaimana, tugas musim panas tahun ini sudah selesai?” Tanya Heiji penuh semangat.
“Iya, tahun ini kami sekeluarga berkunjung ke rumah nenek di Prefektur Hiroshima. Kalau tidak salah Pulau Mima.. hmm, apa ya, Jimamiya?” Jawab Kishimoto tidak yakin.
“Miyajima.. ya ampun, bahasa jepangmu masih payah. Padahal sudah tiga tahun menetap.” Heiji tertawa. “Apa kamu tidak malu dengan anak berusia lima tahun yang sudah mahir berbahasa jepang?” Ledek Heiji.
“Walaupun usiaku sudah 13 tahun, tetap saja aku butuh adaptasi di sini.” Kishimoto memonyongkan bibirnya.
Sebuah seruan memaksa mereka untuk berlari mengejar waktu. “Kishimoto Daniel! Kurosawa Heiji! Cepat! Gerbangnya mau ditutup!” Gadis itu melambaikan tangannya di dekat gerbang sekolah.
“Iya, iya bu ketua kelas.” Kishimoto dan Heiji memacu langkahnya untuk masuk sebelum gerbang dikunci.
Ruang kelas dua SMP Kagarasu begitu tenang saat jam pelajaran dimulai. Anak berambut coklat muda itu berjalan ke depan sambil membawa hasil pekerjaan rumah yang telah ia selesaikan lalu meletakkannya di atas meja guru. Ibu Hyorin mempersilakan Kishimoto untuk memulai memaparkan cerita yang ia tulis.
“Baiklah, cerita ini berasal dari tempat asal ibuku lahir yakni Prefektur Hiroshima tepatnya di Pulau Miyajima, Hatsukaichi..”
***
Jauh sebelum penduduk Hiroshima mengenal senjata modern, daerah Hatsukaichi merupakan pemukiman kecil yang mencintai perdamaian. Sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Desa mereka berada di dekat hutan dimana terdapat sebuah danau yang tersohor keindahannya, hanya saja tidak semua orang berani menginjakkan kakinya di sana. Kepercayaan tentang hantu dan siluman pemangsa manusia masih sangat kental. Hal itulah yang menyurutkan keinginan penduduk untuk melihat atau sekedar menikmati setetes air danau.
“Takei! Jangan pergi ke sana!” Perintah seorang nenek di depan rumahnya yang sederhana. Ia mengenakan yukata yang sedikit lusuh. Rambutnya yang putih di sanggul agar tidak merepotkan saat melakukan aktivitas.
“Iya nek! Kali ini main di sungai dekat rumah Kurosawa kok!” Bocah berumur 9 tahun itu menjawab sambil terus berlari bersama teman-temannya.
Ketika sosok nenek Harada tidak terlihat lagi, Takei berbelok ke arah hutan. “Takei? Bukannya ke sana?” Salah satu anak lelaki yang ikut dalam kelompok kecil itu menunjuk ke arah timur.
“Kalian duluan saja, nanti aku menyusul.” Takei berusaha menerobos semak-semak di hadapannya. Namun ia segera menghentikan langkahnya dan berbalik. “Kalian, jangan sampai memberitahukan hal ini pada nenek. Kalau sampai ia tahu dan menyusulku, awas. Habislah kalian besok.” Takei mengepalkan tangannya ke arah gerombolan anak lelaki. Mereka pun langsung mengangguk setuju. Mereka paham benar sifat Takei yang tidak pernah main-main dengan apa yang diucapkannya. Mereka berpisah di jalan dan tujuan yang berbeda.
***
Takei berjalan kira-kira selama 1 jam untuk mencapai danau yang biasa ia datangi semenjak ia berumur 5 tahun. Hal itu terjadi akibat keteledoran nenek Harada yang lupa untuk mengunci pintu ketika ia berada di dapur. Takei kecil berjalan menerobos dalam dan gelapnya Hutan Hatsu yang ditumbuhi pohon-pohon rindang. Insting manusia yang dimiliki Takei kecil menuntunnya ke sebuah danau. Ia menghabiskan waktu hingga matahari terbenam. Sementara Takei kecil menikmati tidurnya yang lelap, para penduduk desa kelimpungan mencari sambil meneriakkan namanya. Untungnya ia dapat ditemukan tanpa terluka sedikitpun.
“Ibu, aku pulang.” Baginya danau itu adalah ibunya. Sebuah perasaan aneh seperti adanya ikatan keluarga diantara mereka. Hal itulah yang menuntun Takei kecil mencapai danau tanpa tersesat.
Takei duduk di atas sebuah batu yang berukuran agak besar di dekat danau. “Oya bu, hari ini nenek kembali melarangku bertemu ibu. Padahal di hutan tidak ada siluman atau hantu seperti yang dibicarakan penduduk desa.” Takei terdiam sejenak memikirkan sesuatu. “Ah iya bu, kali ini aku tidak lupa mandi dan menyisir rambutku sendiri.” Takei menyentuh rambutnya berwarna hitam yang dipotong cepak. Ia tersenyum seolah ada seseorang di hadapannya.
Takei bermain seharian di sekitar danau. Ketika ia merasa lapar, ia segera melucuti seluruh pakaiannya lalu berenang ke dalam danau untuk mencari ikan. Takei pun mahir menyalakan api dengan hanya bantuan kayu yang digesekan. Begitu perutnya terisi penuh, ia mengunjungi seekor burung kecil berwarna kuning yang memiliki jambul berwarna merah. Takei menamainya Kotori.
Seminggu yang lalu, ia menemukan Kotori tergeletak di dekat akar-akar pohon yang menjalar keluar tanah dengan sayap yang terluka. Takei segera berlari menuju ‘ibu’ lalu membersihkan luka dan mengobatinya dengan dedaunan obat yang ia ketahui dari neneknya.
Takei menaiki sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi. “Syukurlah, kondisimu sudah semakin baik, Kotori.” Kotori menyahut perkataan Takei dengan kicauan-kicauan singkat, seolah memahami apa yang diucapkan Takei padanya. “Ingat, jangan turun dulu dari sarangmu. Aku akan segera membawakanmu beberapa ekor cacing.” Takei segera menuruni pohon dan mulai mencari cacing.
Seharian ia beraktivitas layaknya bocah lelaki yang penuh semangat dan belum pernah mengenal lelah. Namun begitu bulan menyingsing, Takei bahkan terlalu lemah untuk sekedar membuka matanya. Ia telah tenggelam dalam mimpi yang membawa imajinasinya jauh ke samudera fantasi. Ia lupa jika ia harus sudah berada di rumah sebelum pukul 5 sore dikarenakan hari itu merupakan siklus bulan penuh.
Nenek Harada mengunjungi teman-teman Takei, berharap ia menginap di salah satu rumah mereka. Namun harapan tinggal harapan ketika Handa mengatakan hal yang sebenarnya. “Anu.. Nek, saat bermain tadi, Takei memisahkan diri. Ia pergi ke dalam hutan.” Sontak nenek Harada sangat terkejut mengetahui cucunya bermain di tengah hutan yang penuh dengan mitos negatif dan hewan liar.
Ia segera meminta tolong kepada penduduk desa namun tidak ada seorangpun yang berani menginjakkan kaki ke dalam hutan. Siklus bulan penuh dipercaya sebagai pintu keluar-masuknya roh-roh jahat yang memangsa jiwa dan tubuh manusia. Namun hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk menolong seseorang yang telah ia anggap sebagai keluarga sendiri.
“Jika kalian tidak mau, aku sendirian pun masih mampu!” Nenek Harada memegang parang di tangan kanannya dan obor di tangan kirinya. Penduduk desa yang berada di luar rumah segera memegangi tubuh renta tersebut, berharap ia tidak melakukan tindakan bodoh. “Lepaskan! Aku harus segera menemukan cucuku! Hanya dialah kerabat terdekat yang aku miliki!” Seru nenek Harada dengan nada kasar.
Seorang pria bertubuh besar yang menahan tubuh gempal nenek Harada dari belakang berusaha menenangkannya. “Jangan khawatir nek! Takei pasti dilindungi para dewa! Ia selalu berdoa di kuil kecil yang diletakkan di 4 penjuru mata angin!” Serunya dengan nada suara yang agak keras.
“Bagaimana kau tahu hal itu Takeshi?” Nenek Harada menatapnya tidak percaya, kalau-kalau pria itu berbohong hanya untuk menenangkannya.
“Aku selalu berpapasan dengannya di jalan utama ketika ia akan sembahyang pada pagi dan sore hari. Hanya saja hari ini aku tidak melihatnya.” Jawabnya yakin.
Nenek Harada menurunkan parang yang sebelumnya ia angkat tinggi-tinggi. “Semoga saja.” Wajahnya terlihat lesu dan cemas. Akal sehatnya telah kembali, walaupun ia berkeinginan kuat untuk menyelamatkan cucunya, tapi apa yang dapat ia lakukan ketika berhadapan dengan binatang buas atau siluman berbahaya. Umurnya tidak lagi muda dan tubuhnya tidak sekuat dulu. Salah seorang wanita menyelimuti tubuh nenek Harada dengan kain tebal dan mengajaknya berpondok di kediamannya.
***
Sinar rembulan yang begitu terang membangunkan Takei dari tidurnya yang lelap. “Duh, gawat! Aku tertidur cukup lama.” Ia mencuci wajahnya dengan air danau dan bergegas pergi dari tempat itu. Namun langkahnnya terhenti saat melihat seorang wanita memakai kimono duduk di atas batu besar yang ia jadikan tempat beristirahat. Padahal sebelumnya tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya. Wanita itu bernyanyi dengan nada sedih yang diliputi rasa kesepian meskipun begitu suaranya terdengar merdu dan lembut.
Rasa penasaran mendorong Takei untuk mengetahui informasi lebih dalam tentangnya. “Siapa kamu?” Tanyanya polos.
Ia memalingkan wajahnya yang cantik ke arah Takei. “Namaku Ningyo.” Ningyo mengamati wajah Takei. “Kau..” Ia langsung melompat ke arahnya.
Takei sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, ia akhirnya sadar wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah manusia. Karena tidak mungkin seorang manusia dapat melompat sejauh itu. Jantungnya berdebar keras, tubuhnya gemetar ketakutan, wajahnya berubah pucat dan keringat membanjiri tubuhnya. Apa yang dikatakan nenek dan penduduk desa selama ini rupanya benar.
Ningyo menyentuh wajah Takei. “Kau, mirip sekali dengannya.” Kini wajah mereka berdua begitu dekat seakan tidak ada jarak. Sedangkan Takei semakin ketakutan, bagaimana jika wanita berkimono itu memakannya. Ia sangat menyesal kembali ke danau itu dan ingin segera pulang untuk meminta maaf dan memeluk neneknya.
Takei menepis tangan ningyo lalu melompat menjauhinya. Ia mengambil kayu yang memiliki ujung runcing. “Si, siluman jahat! Awas jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu!” Ningyo justru tersenyum lembut merespon sikap kasar takei.
Takei terpana melihat senyumannya, seperti ia pernah melihatnya di suatu tempat dari seseorang yang begitu ia sayangi. “Aku bukanlah siluman pemakan manusia. Sebenarnya aku tinggal dalam istana bawah laut. Tapi karena kondisinya sudah semakin berbahaya, aku dipindahkan ke sini.”
Takei tak dapat menyembunyikan ketertarikannya pada jawaban yang disampaikan Ningyo tanpa mengurangi kewaspadaannya. “Kondisi yang berbahaya?” Tanyanya.
“Iya, seorang ahli sihir hitam datang dan memporak-porakkan tempat tinggal kami. Hanya sebagian kecil yang berhasil melarikan diri, sisanya menjadi budak atau dimakan untuk memperoleh keabadian. Syukurlah perdana menteri kakek kura-kura berhasil mengeluarkan dan menyembunyikanku di sini, tapi tidak lama kemudian ia tewas terbunuh oleh manusia dan meninggalkanku sendiri.” Ningyo terlihat muram. “Kudengar dewa langit memberinya kewenangan menguasai lautan barat dengan menukarkan kekuatannya yang merusak. Hanya itulah satu-satunya jalan keluar agar tidak bertambah korban.” Sesal Ningyo.
“Tapi kejadian ini sudah berlalu 500 tahun yang lalu, meskipun begitu aku tidak dapat kembali. Sebutan pengkhianat telah melekat pada diriku karena ketakutan mereka jika aku mengucapkan sesuatu yang mengandung provokatif untuk memicu pemberontakan.” Takei tidak begitu memahami apa yang diucapkan Ningyo, namun ia sedikit mengerti pesan yang disampaikannya.
Kini ia justru merasa iba lalu melempar jauh potongan cabang pohon dari tangannya dan segera memeluk Ningyo, kewaspadaannya menghilang layaknya butiran debu tertiup angin. “Sendirian itu sangat sepi kan?” Pelukan Takei semakin erat. “Maaf, akulah yang telah bersikap jahat. Maaf..” Ningyo mengusap kepala bocah yang sedang terisak itu.
“Tidak apa..” Ningyo menyentuh kedua pipi Takei, lalu menatap wajahnya dalam-dalam. “Kamu benar-benar mirip dengannya, sangat mirip. Wajah, telinga dan sikap begitu mirip dengan Aoichi kun.” Takei tercengang mendengar pernyataan yang dilontarkan Ningyo.
“Bagaimana, bagaimana kamu bisa mengenal ayah? Bukan, tapi seseorang yang kuanggap sebagai ayah karena kemiripan kami.” Ningyo tidak berkata apapun, ia sama kagetnya dengan Takei.
Ningyo merengkuh Takei cukup erat. “Mungkin karena kau adalah anak kami.” Airmata menetes membasahi punggung Takei. “Karena hal itu, karena hal itulah aku merasa sangat mengenalmu, anakku..”
“Benarkah? Benarkah aku memiliki ibu?” Takei mulai menangis namun ia tidak sendirian, mereka menangis berdua di bawah sinar rembulan. Akhirnya ibu dan anak yang telah terpisah selama 9 tahun itu dapat berkumpul kembali.
***
Malam itu Takei tidak pulang ke rumah, ia terlalu senang karena dapat bertemu dengan ibunya dan mendengarkan kisah awal pertemuan kedua orang tuanya. “Ibu bertemu dengan ayahmu saat berusaha lari dari kejaran manusia yang ingin memakan ibu. Saat itulah ayahmu menyelamatkan ibu ketika sedang mengumpulkan kayu bakar pada dini hari.”
“Mengumpulkan kayu bakar selarut itu?” Tanya Takei tidak percaya.
“Iya, dia harus menjual kayu bakar di desa seberang. Pasar di sana mulai beraktivitas pada pukul 4 pagi dan berakhir pada jam 7 pagi. Makanya ia harus pintar mengatur waktu.” Ningyo tertawa kecil. “Dia yang selalu memahami diriku, menjagaku dan rela berkorban untukku, akhirnya kami terlibat sebuah cinta yang seharusnya tidak terjadi.” Kedua pipinya merona merah dan sorot matanya terlihat berbinar-binar.
“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Takei penasaran.
“Kami pun terikat dalam pernikahan yang disaksikan para dewa dan dewi agung, tidak seorang manusia pun yang mengetahuinya. Manusia yang sebagian besar dibutakan oleh kerumitan yang dibuat mereka sendiri, tentu tidak akan merestui kami.” Ningyo tersenyum hampa. “Banyak hal indah yang kami lalui bersama, walaupun ia hanyalah seorang manusia biasa.” Ia mencium pipi Takei dengan lembut.
“Tidak lama setelah itu, perang kekaisaran merenggutnya dari sisiku. Mereka merekrut pria-pria muda yang ada di desa tidak terkecuali ayahmu. Aku begitu khawatir dan takut tapi para dewa menghadiahkanmu dalam rahimku untuk menghibur kesendirianku.” Ningyo memeluk tubuh mungil Takei. “Aku pun tak sabar untuk memberitahukannya dan bertanya-tanya akan seperti apa ekspresinya nanti. Setiap bulan penuh hadir dan menyinari tempat ini, aku selalu mengirimkannya doa dan berharap tidak ada sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Namun aku salah.” Ningyo menundukkan kepalanya.
“Duniaku hancur dalam sekejap, kepalaku terasa kosong dan aku sama sekali tidak dapat memikirkan apapun. Tapi aku disadarkan dengan kelahiranmu. ‘Aku tidak sendiri’, begitu pikirku. Sayangnya aku tidak dapat mengurusmu sebagai dewa, karena darah manusia mengalir dalam tubuhmu. Aku pun tidak bisa mengurusmu selama 24 jam penuh karena pada saat bulan penuh saja aku dapat muncul seperti sekarang ini. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke dalam perkampungan dan menitipkanmu padanya, dengan harapan ia akan mengurusmu dengan kasih sayang seperti yang ia lakukan pada Aoichi, anaknya.” Ningyo terlihat kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak dapat menjadi ibu yang baik bagi Takei.
“Jangan khawatir, tidak apa-apa. Aku bersyukur dilahirkan meskipun saat itu ibu sedang bersusah hati. Ibu tidak berpikir untuk membuangku saat ayah meninggal. Aku bersyukur, ibu begitu memikirkan dan mengkhawatirkan masa depanku. Dan aku sangat bersyukur ternyata kamu adalah ibuku.” Takei memeluk Ningyo dengan erat. Ia tidak ingin melepaskan genggamannya, jika bisa ia ingin terus memeluk ibunya untuk selamanya.
“Takei, pada bulan penuh berikutnya berjanjilah untuk datang kembali ke sini. Kita akan menari bon odori, akan ibu usahakan agar kamu dapat bertemu ayah.” Ningyo mengusap punggung Takei.
“Iya, aku pasti datang. Aku berjanji, sekarang biarkan aku memeluk ibu sampai matahari terbit.” Takei tersenyum dalam pelukan. Pelukan ibunya terasa hangat walaupun udara di sekitar mereka terasa begitu dingin hingga menusuk tulang.
***
Sinar matahari yang hangat membangunkan Takei dari mimpi yang indah. Ia pun bergegas pulang. Ucapan syukur dan omelan harus Takei dapatkan akibat sikapnya. Ia dihukum tidak keluar rumah selama sebulan. Namun hal itu tidak membuatnya jera, Takei berlari menuju hutan di saat nenek Harada lengah ketika mereka menghadiri festival bon odori di kuil barat.
Betapa bahagianya Takei ketika keluarga kecil itu dapat berkumpul di riuh dan ramainya bon odori yang dihadiri dewa dan roh suci. “Takei, ibu pikir sudah saatnya kita hidup bersama, pada bulan penuh berikutnya ibu akan mengadakan ritual untuk membangkitkanmu dari tubuh manusia.”
Takei sangat terkejut dengan keputusan ibunya, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi di sisi lain ia pun merasa senang, karena untuk seterusnya ia akan selalu berada bersama keluarganya. “Ini memang terlalu mendadak. Kamu pasti merasa bingung.” Ningyo tersenyum. “Jangan khawatir, ibu akan memberimu waktu hingga bulan penuh berikutnya. Kamu dapat melakukan persiapan sebelum saat itu tiba.”
Perayaan bon odori di dalam hutan tidaklah begitu buruk justru sebaliknya. Namun di dalam rimbunnya semak belukar, sepasang mata tengah mengawasi Takei. Ia mendengar cukup jelas percakapan mereka. Kekhawatiran mendorongnya untuk berlari menuju kuil barat tanpa mempedulikan siluman atau roh jahat. Ia harus memberitahukan informasi yang baru saja didengarnya kepada nenek Harada.
“Benarkah Handa? Kamu tidak berbohong?” Tanya nenek Harada setengah tidak mempercayai perkataan Handa.
Handa menjawab dengan nafas tersengal-sengal. “Benar nek! Aku tidak bohong. Aku mengikutinya saat ia berlari ke sisi timur. Ternyata ia memang pergi ke sana lagi.”
Nenek Harada segera berlari menyusul Takei, namun mereka justru berpapasan di jalan. “Takei, ada yang ingin nenek bicarakan. Cepat kita pulang.” Nenek Harada segera menggenggam tangan Takei.
“Aku juga, sebenarnya ada hal yang ingin kukatakan pada nenek.” Kekhawatiran menyelimuti hati nenek Harada. Mereka pulang dengan wajah lesu.
Lampu minyak menerangi ruangan sempit dengan perabotan sederhana di dalamnya. Nenek Harada meminta Takei untuk berbicara terlebih dulu, agar ia dapat memahami sikap apa yang sebaiknya ia ambil. Namun kepalanya terasa buntu setelah mendengar seluruh penjelasan Takei. “Sebaiknya kamu tidur, besok kita akan membicarakannya lagi. Hari ini kamu pasti sangat kelelahan.”
Takei beranjak dari kotatsu tua yang menemaninya selama ini. “Maaf nek..” Ia membuka pintu kamarnya lalu merebahkan diri di atas kasur tipis dan selimut hangat yang telah menantinya.
Sepekan telah berlalu, mereka sama sekali tidak saling berbicara satu sama lain. Takei dan nenek Harada merasa bingung dan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasi kecanggungan mereka. Seiring waktu, Takei menyadari bahwa ia tidak dapat meninggalkan wanita yang telah mengurusnya selama ini. Perasaan ingin selalu melindungi dan menjaga nenek Harada membuatnya bimbang dalam mengambil keputusan.
Tanpa diduga waktu berlalu terlalu cepat, ini merupakan malam terakhir mereka bersama. Takei berusaha keluar dari kamar secara diam-diam namun nenek Harada sudah berjaga di dekat pintu rumah yang terbuka. “Nenek?”
Tanpa memalingkan wajah dari bulan, nenek Harada merespon panggilannya. “Tidak apa jika kamu ingin bersama mereka.” Suaranya terdengar getir. “Itu adalah pilihan hidupmu.” Ia tersenyum sedih ke arah Takei. Baru kali ini Takei melihat wajah nenek Harada seperti itu. Ia segera memeluk tubuh nenek Harada dengan erat, karena itu adalah terakhir kalinya mereka tinggal bersama.
***
Takei berdiri di atas batu yang sama, namun kali ini tempat itu dipenuhi dewa yang hadir untuk menjadi saksi dan merayakan lahirnya dewa baru. Ningyo memberikan sebuah cawan yang terbuat dari untaian embun. Didalamnya terdapat air yang sangat jernih. “Minumlah, air suci ini berasal dari Tuan Izanagi, Suzaku, Seiryu, Genbu, Byakko, dan setetes darahku. Setelah itu kita dapat hidup bersama. Ingatlah satu hal, kuatkan hatimu jangan sampai kau merasa bimbang.” Takei menerimanya. Ia melihat air yang berada dalam cawan itu. Dalam seketika kenangan bersama neneknya terpantul di atas permukaan air. Namun ia segera menggelengkan kepalanya lalu mulai meminumnya.
Tangan Takei bergetar kemudian menjatuhkan cawan yang di genggamnya. Ningyo begitu terkejut. “Apa yang kau lakukan?! Kalau berhenti tiba-tiba seperti itu, bisa-bisa..”
Takei terisak. “Maaf ibu, aku tidak bisa. Walaupun aku senang dapat bertemu ibu dan ayah bahkan dapat hidup bersama kalian. Tapi aku tidak bisa meninggalkan nenek sendirian.” Dari tubuh Takei muncul cahaya terang yang menyilaukan mata, ia berubah menjadi seekor bangau putih. Sang burung bangau memberikan salam perpisahan pada seluruh dewa yang hadir malam itu. Kemudian ia terbang menuju rumah nenek Harada, memutuskan untuk berbakti dan membalas budinya selama ini.
Ningyo terlihat lesu. “Begitu rupanya..” Ia tersenyum berusaha menerima keputusan Takei dengan lapang dada. “Putriku, rupanya kau sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat. Ibu bangga padamu nak. Kelak kita akan bersama lagi, itu pasti.. Takeichi Narumi chan..”
Akhirnya Narumi menemani dan menjaga hingga akhir hayat nenek Harada. Ia sama sekali tidak menyesal dengan wujudnya saat ini. Karena ia dapat melakukan hal yang sama pada keturunan yang masih memiliki darah keluarga Takeichi.
***
Kishimoto telah menyelesaikan tugas piketnya, kini ia berdiri di samping meja. Ia mengeluarkan sebuah buku harian kuno yang berisi catatan diari seseorang. Di dalamnya terselip sebuah foto yang sangat tua. “Terima kasih selama ini telah menjaga kami, nenek buyut Narumi.” Ia tersenyum sambil mencium foto tua itu dengan lembut. Terdapat gambar seorang nenek yang duduk bersama seekor burung bangau.
“Kishimoto! Ayo pulang!” Ajak Heiji yang telah membuang sampah.
“Iya!” Kishimoto menyahutnya dengan penuh semangat. Ia segera memakai tas ransel di punggungnya lalu keluar ruangan.
Fin.
Dilombakan di http://www.goodreads.com/topic/show/927241-lomba-cerbul-kasfan-juni-12
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar