Rabu, 09 November 2016

Another Story of White Castle



Dahulu hidup seorang putri yang berwajah cantik dan elegan di sebuah kastil yang diberi julukan White Castle. Kastil ini tidak hanya bermakna “putih” tetapi ada hal yang lebih dalam dari itu, “tulus”.


Sang putri begitu mencintai kastil itu, hingga ia tidak pernah menginjakkan kakinya keluar kastil. Hingga suatu hari sang putri terkena penyakit yang mewabah di desa tempat tinggalnya. Setiap detik, kondisinya semakin bertambah parah. Seluruh tabib di penjuru desa telah datang untuk mengobatinya, namun tidak ada yang berhasil.


Lalu, perdana menteri memberi usul untuk membawa sang putri berobat di luar desa, akan tetapi sang putri menolaknya mentah-mentah. Raja dan Ratu negeri itu pun semakin resah dengan kondisi putri mereka. Di dalam pikiran mereka terlintas sebuah penyesalan karena menghadiahi sebuah kastil terkutuk untuk putri semata wayangnya.




Semakin lama, penyakit yang diderita sang putri semakin parah. Di saat-saat terakhirnya, datanglah seorang iblis yang menawarkan keabadian pada sang putri. Tanpa pikir panjang, sang putri menerima tawaran tersebut, karena ia tidak ingin berpisah dengan kastilnya apapun yang terjadi.


Keinginan itu pun terkabul, tetapi sang putri harus menerima konsekuensi. Ia akan selalu terikat dengan kastil miliknya namun dalam wujud yang lain, sebagai
pemangsa jiwa…


***


Pagi yang cerah pada musim semi tahun ini. Semua orang memulai segala aktifitas dengan semangat tidak terkecuali siswa dan siswi SMA Ravers.


Suara deru langkah seorang gadis berambut sepanjang punggung menggema dari koridor sekolah. Ia langsung memasuki kelas XI yang pintunya terbuka lebar. Di dalamnya terdapat beberapa siswa dan siswi yang sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Gadis berambut hitam itu berlari dengan pelan mendekati seorang siswa yang sedang mengobrol dengan teman sekelasnya. Gadis bertubuh langsing itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menepuk pundak siswa tersebut. “Yo, pagi Haruka.” Siswa laki-laki tersebut mengangkat tangan kanannya hingga setinggi telinga.


“Eh? Kok bisa tahu?” Haruka menurunkan tangannya.


“Aku sudah mengenalmu cukup lama.” Siswa lelaki itu membalikkan tubuhnya. “Bagaimana bisa aku melupakan ‘tinju’ penuh semangat yang hampir mematahkan tulang punggungku, Haruka?” Rambutnya yang halus tertiup angin lembut. Matanya yang tajam menyempurnakan wajah ovalnya.


“Akito, hentikan. Kau membuatku merasa jijik.” Dari wajah Haruka terlihat jelas rasa kesal.


“Ah, ini bukan untukmu kok. Tuh, buat cewek-cewek yang berkerumun di depan pintu kelas.” Akito menunjuk mereka sambil merapikan rambutnya yang sependek leher.


“Kyaa!! Kyaa! Akito senpai!! Keren!!” Jerit siswi-siswi yang berkumpul di depan pintu kelasnya. Mereka tidak berani melangkah masuk ke dalam kelas karena ada ‘Sang Anjing Hitam’.


“BERISIK! CEPAT KEMBALI KE KELAS KALIAN MASING-MASING!” Haruka membentak mereka dengan kasar sambil memukul meja.


“Kyaa!! Seram! Si Anjing Hitam!” Siswi-siswi itupun berlari menjauhi kelas dimana Akito berada.


“Pantas saja gak ada yang mau. Kasar begini sih.” Akito mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Itu tidak ada hubungannya! Haah.. sudahlah.” Haruka mengehela nafas. “Aku dengar akan ada karya wisata minggu depan. Kamu akan ikut?” Tanya Haruka singkat.


“Tentu saja.” Jawab Akito dengan wajah serius sambil memainkan rambutnya. “Memangnya aku akan melewatkan kesempatan emas seperti itu? Aah.. gadis-gadis muda dan cantik.” Wajah Akito merona merah, ia berada dalam imajinasi yang tidak akan dimengerti oleh siapapun.


“Kau membuatku takut. Hentikan segera.” Haruka berjalan menuju meja meja keempat dari barisan kedua.


Ia meletakkan tas ransel yang dibawanya di atas meja. “Aku tidak yakin soal ini.” Haruka menggenggam erat dasi berwarna biru tua yang ia kenakan. Akito hanya memperhatikan perilaku Haruka, dengan pandangan dingin.


***


“Eh? Benarkah? Kalian akan ikut?” Tanya seorang gadis berambut ikal sambil memegang garpu di tangan kanannya.


“Iya, memangnya kenapa Emi?” Tanya Haruka penasaran.


“Tahu tidak, orang tuaku menentangnya. Aku sampai dimarahi habis-habisan.” Emi menusuk buah melon di hadapannya dengan rasa kesal bercampur marah.


Seorang siswa yang duduk di sebelah Akito memperhatikan sikap Emi dengan rasa khawatir. “Emi, piringnya juga bisa pecah kalau kamu menekannya seperti itu.”


“Ah iya, benar juga. Hahaha.. bisa-bisa nenek peot itu berisik lagi.” Emi memasukan potongan melon yang cukup besar ke dalam mulutnya. “Hah, hya. Hahuya hugha hikut? (Ah ya, Takuya juga ikut?)” Tanya Emi sambil mengunyah melon.


“Habiskan dulu, baru ngomong. Ah nggak, ada game yang harus aku bereskan.” Takuya beralih melihat seorang siswa bertubuh agak gendut yang sibuk menghabiskan makanannya. “Hey, Kazu.” Siswa bertubuh tambun itu tidak menghiraukannya, ia terus menjejalkan sendok demi sendok makanan ke dalam mulutnya. “Kazu?” Ia masih berkosentrasi pada makanan di hadapannya. “Oi, G.E.N.D.U.T!”


Kedua bola mata Kazu bersinar, ia terlihat begitu marah. Tangannya yang besar memukul meja cukup keras. “Siapa yang berani memanggilku seperti itu, HAH??!”


“Aku.” Takuya menunjuk dirinya dengan wajah dingin.


“Ah, uh. Maaf. Sepertinya tidak. Kakekku mengajak kami sekeluarga berendam di pemandian air panas terbuka, di bawah kaki gunung.” Kazu tersipu malu.


Akito tidak berbicara apapun. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Makanan yang ia pesan pun hanya menjadi mainan, ia mengacak-acak nasi gorengnya dengan garpu. Perutnya belum menerima makanan apapun. “Akito? Ada apa?” Tanya Emi penasaran.


“Ah, uh. Yah..” Akito bergaya layaknya seorang pujangga yang mendambakan kekasih.“Aku terpikir tentang seorang gadis yang baru kutemui di koridor. Ia menebarkan pesona yang menjerat hatiku. Ooh.. aku bahkan belum menanyakan nama dan nomor teleponnya..”


“Berisik. Bisa tenang sedikit tidak?” Seorang siswa menutup buku yang dibacanya cukup keras.


“Lian, ini bukan perpustakaan. Tapi ya sudahlah, aku ke kelas duluan ya.” Akito meninggalkan teman-temannya.


“Akito sedikit aneh ya, hm, tidak biasanya begitu.” Bisik seorang gadis yang duduk di sebelah kanan Haruka.


“Iya, sepertinya sedang ada masalah. Ah, sudahlah tidak perlu dipikirkan, Sayaka. Nanti juga normal sendiri.” Haruka hanya tersenyum, ia kembali memakan mi kuah yang ia pesan.


***


“La.ma!” Mimik wajah Akito terlihat masam.


“Ekspresi macam apa itu Akito. Kamu benar-benar terlihat buruk.” Seorang siswa keturunan cina mengomentarinya.


“HAH! Lian! Ngapain di sini?!” Akito seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Lian.


“Gak sopan! Aku juga ikutan karya wisata kali ini.” Lian menjawabnya dengan wajah cemberut dan tangan terlipat.


“Dasar, dari sekian banyak teman yang kukenal baik, kenapa kamu yang ikut?” Gumam Akito sambil mengalihkan pandangannya.


“A, apa kau bilang?!” Lian terkejut dengan apa yang dikatakan Akito.


“Huh, baguslah kalau gak denger.”


“Aah, sudah-sudah. Lihat, bisnya sudah datang.” Haruka berusaha menenangkan mereka dengan mengalihkan topik pembicaraan.


Tawa dan canda menemani keberangkatan mereka ke sebuah kastil. Keceriaan jelas terlihat saat itu. Namun di sisi lain, telah ada seseorang yang menunggu mereka dengan rasa lapar. Menanti untuk melahap jiwa-jiwa yang haus akan nafsu. Ia berdiri di sebuah jendela menara yang berwarna putih dan dipenuhi semak belukar. Tidak berapa lama sosok itu pun menghilang bersama hembusan angin.


***


“Duh, capek.” Akito merenggangkan tangannya ke depan.


“Tentu saja, lihat.” Lian menunjuk ke langit. “Bulan sudah menggantikan posisi matahari.”


“Itu juga aku tahu.” Ucap Akito sinis.


“Sudah-sudah, ayo masuk. Semuanya pasti lelah, kan?” Haruka mendorong Lian dan Akito masuk ke sebuah hotel berbintang 3 tempat rombongan sekolah mereka menginap.


Akito tidur sekamar dengan 4 orang lainnya. Tapi ia belum dapat menutup matanya, lalu Akito berjalan dan berhenti di depan jendela. Ia melihat keluar, pandangannya langsung tertuju pada sebuah kastil yang berwarna putih. Kastil itu lebih menonjol daripada pemandangan yang lainnya.


Secara tidak sengaja Akito melihat seorang wanita mengenakan gaun putih berdiri di dekat jendela menara. Wajahnya begitu pucat namun cantik, pandangan matanya terlihat sangat sedih. Wanita itu membalikkan tubuhnya lalu berjalan masuk.


“Aneh, seharusnya di sana tidak ada orang kan?” Akito bertanya setengah berbisik pada dirinya sendiri. Ia mengernyitkan dahinya yang lebar. Akito mengambil jaket berwarna hijau lumut dari dalam tas lalu memakainya.


“Mau kemana?” Tanya Lian dalam posisi miring di tempat tidur.


“Ah, tidak. Aku hanya mau cari angin di luar.” Akito hanya tersenyum, kemudian ia berjalan keluar dari kamar itu.


“Cari angin ya?” Lian mengamati AC yang dinyalakan di kamar itu.


***


Akito berjalan keluar lobby, ia sangat penasaran dengan apa yang dilihatnya barusan. “Eh? Akito?” Haruka secara tidak sengaja melihat Akito, ketika ia sedang menikmati secangkir kopi hangat di salah satu sofa di lobby. Ia meletakkan cangkirnya lalu mengikuti Akito dari belakang secara diam-diam.


Haruka memegang daun pintu lobby dan hendak membukanya, namun seseorang memanggilnya. “Haruka?” Lian berlari mendekati Haruka. “Apa yang sedang kamu lakukan jam segini?” Tanyanya singkat


“Tadi aku melihat Akito, mungkin sebaiknya aku ikuti. Begitu..” Jelas Haruka dengan nada khawatir.


“Ah, aku juga. Kalau begitu mari mengikutinya sama-sama. Lebih baik seperti ini kan?” Lian tersenyum ramah.


“Iya.”


Mereka berjalan pelan-pelan mengikuti Akito dari belakang. Terkadang mereka harus bersembunyi agar tidak ketahuan. Hingga kemudian, Akito sampai di tempat tujuan. Pintu pagar kastil itu terbuka, seakan mempersilakan Akito untuk masuk. Lian segera memanggil nama Akito, tetapi ia tidak mendengarkan suara Lian.


“Kita harus segera mengejarnya, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Lian menarik tangan Haruka.


“Iya.” Haruka mengikuti Lian. Mereka berjalan memasuki pagar itu dan mengikuti Akito masuk ke dalam White Castle. Perlahan-lahan pagar dan pintu masuk White Castle kembali tertutup dan terkunci seperti sebelumnya.


“Ah, Haruka? Lian? Sedang apa di sini? Hah? Tempat apa ini?” Tanya Akito kebingungan.


“Justru seharusnya kamilah yang bertanya begitu.” Jawab Lian dengan nada kesal.


Mereka berdiri di tengah ruangan yang megah dan terawat baik bagi sebuah bangunan tua. Jalan keluar telah tertutup, sudah tidak ada kesempatan untuk kembali. Akito melihat lampu gantung yang mewah terpasang di tengah ruangan. Lampu itu terbuat dari untaian kristal yang berkilauan. Ada 10 buah lilin yang menyala di atasnya. Selain itu, adapula 8 lilin-lilin gantung yang terpasang dengan rapi di dinding ruang utama.


Ada beberapa lukisan yang terpasang di dinding kanan dan kiri, terlihat simetris. Di hadapannya Akito melihat sebuah tangga yang dilapisi kain putih menuju lantai dua. Tapi tidak hanya tangga itu saja yang berwarna putih, hampir keseluruhan ruangan didominasi warna putih. Di pojok sebelah kanan di bawah tangga terdapat sebuah jalan menuju ke ruangan yang lain.


Tiba-tiba seluruh lilin yang menyala, mati dalam sekejap. Mereka kehilangan keseimbangan dan terjatuh dalam kegelapan. Untuk beberapa saat mereka kehilangan kesadaran.


***


Haruka terbangun di lantai sebuah kamar tidur. Haruka mencoba untuk bangun tapi kepalanya masih terasa pusing. Kemudian ia mendengar suara langkah kaki yang menggema dari koridor kastil itu. Haruka begitu panik, ia segera melihat sekitarnya untuk mencari tempat bersembunyi. Lalu ia memutuskan untuk menyembunyikan keberadaannya dalam sebuah lemari pakaian di kamar itu.


Suara pintu kamar yang dibuka, terdengar begitu jelas di telinga Haruka. Tubuhnya bergetar ketakutan. Dari sela-sela pintu lemari, ia dapat melihat sebuah cahaya lilin yang cukup terang. Tidak berapa lama suara langkah kaki itu bergerak keluar dari kamar dan menjauh dari ruangan tersebut. Tidak terdengar lagi gemaan dari langkah kaki tersebut. Haruka merasa lega, ia sedikit merasa lebih tenang.


“Syukurlah.” Bisiknya pelan. “Eh?” Ada sebuah tetesan air yang jatuh di punggung tangannya. Ia menyentuh tetesan air tersebut. Terasa sedikit lengket dan licin. “Deg!” Jantung Haruka berdebar keras. Warna wajahnya berubah pucat.


Haruka mengangkat wajahnya. Tetesan air liur membasahi pipi kiri Haruka. Pupil mata Haruka mengecil, bola matanya bergetar seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di langit-langit lemari ada seorang wanita mengenakan gaun putih yang menahan tubuhnya dengan mengandalkan kuku-kuku jarinya yang tajam. Kepalanya berputar ke belakang sehingga ia dapat melihat Haruka dengan jelas. Rambutnya yang berwarna blonde menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang merah menatap tajam layaknya serigala kelaparan. Gigi taringnya yang tajam terlihat jelas dari senyumannya yang dingin. “Ketemu..” Lemari tempat Haruka bersembunyi berguncang keras disertai jerit kesakitan. Entah apa yang terjadi di dalam sana. Tidak berapa lama ruangan itu kembali tenang. Darah segar mengalir dari sela-sela pintu lemari pakaian membasahi lantai.


***


Samar-samar Haruka mendengar sebuah suara yang memanggilnya. “..ka.. ruka.. Haruka..?” Haruka membuka matanya. Ia segera duduk. Wajahnya begitu pucat, tubuh dan mulutnya bergetar.


“Syukurlah, kamu tidak apa-apa.”


“Akito..?” Suara Haruka masih terdengar lemah. Ia segera memeluk tubuh Akito dengan erat. Airmatanya mengalir membasahi dada Akito.


Akito membuka jaketnya lalu mengenakannya pada punggung Haruka. “Sudah, tidak apa-apa.” Akito mengusap-usap kepala Haruka dengan lembut. Dari jendela kamar itu terlihat sebuah bayangan yang mengawasi mereka dengan penuh hasrat.


“Sebaiknya, kita segera keluar dari sini dan mencari Lian. Kamu bisa berdiri?” Tanya Akito sambil memegangi pundak gadis yang ketakutan itu.


Haruka mengangguk lemah. Akito membantu Haruka berdiri dan memapahnya berjalan keluar dari ruangan itu.


***


Lian membuka matanya. Ia berada sendirian di sebuah ruangan sempit tanpa jendela. Ruangan itu didominasi warna putih yang lembut. Hanya ada satu jalan keluar dari ruangan itu, dengan menuruni tangga entah menuju kemana. Tanpa ragu, Lian berdiri lalu menuruni tangga tersebut. Setelah menuruni beberapa anak tangga, sebuah pintu muncul menutup ruangan itu rapat-rapat. Lalu menghilang ditelan kegelapan. Lian tidak mempedulikannya, ia terus berjalan menuruni anak tangga yang cukup sempit dan panjang.


Tiba-tiba anak tangga tersebut menghilang. Lian kehilangan keseimbangan tubuhnya. “Eh?” Ia tergelincir dan jatuh terduduk. Kemudian Lian meluncur dengan cepat melewati bentuk spiral yang membuat perutnya menjadi mual. Sebuah jalan lurus terlihat, ia meluncur lurus menuju sebuah cahaya yang berasal dari sebuah ruangan. Semakin lama, Lian semakin mendekati cahaya tersebut, ia sedikit menyipitkan matanya untuk menahan silaunya cahaya tersebut.


Lian melompat keluar dan mendarat di atas kedua kakinya. Ia melihat ruangan yang dipenuhi dengan buku. Karpet putih yang berhiaskan mawar merah menutupi lantai dengan sempurna. “Ini..” Ia berjalan mendekati rak buku yang berada paling dekat dengannya di sebelah kiri. Di rak itu berjajar buku-buku tebal seperti kamus, namun tidak ada judul atau pengarang yang tertera di sampulnya.


Tangannya menyentuh salah satu buku lalu membukanya. Ia tidak menemukan tulisan apapun di dalamnya. Ia mengembalikan ke tempat semula, lalu mengambil buku di barisan yang berbeda. Tetapi lagi-lagi tidak tertulis apapun di dalamnya. Kemudian Lian mengecek beberapa buku dari rak yang berbeda, hasilnya pun tetap sama.


Lian memperhatikan keadaan sekitarnya, ia melihat sebuah pintu. Tetapi di sana terdapat larangan untuk memasukinya. Ia mencabut larangan tersebut lalu memutar daun pintunya. Di sana terlihat tangga menuju ke atas. Lian berjalan menaiki anak tangga. Kali ini tidak sepanjang sebelumnya, Lian memasuki sebuah ruangan yang lagi-lagi dipenuhi buku. Ia mengamati satu per satu, ada sebuah buku yang menarik perhatiannya. Buku itu bersampul putih, berbeda dengan yang lainnya. Ia mengambil buku tersebut lalu duduk di atas kursi yang terletak pada pojok ruangan.


Dalam sekejap, ada seorang wanita yang mengenakan gaun putih duduk di sebelahnya. Wajahnya tertutupi rambutnya yang berwarna blonde, panjang dan tebal. Lian begitu kaget, rasanya tadi hanya dia saja yang berada di sana. Tapi ia tidak ambil pusing, ia segera membuka buku berwarna putih tersebut. Lagi-lagi isinya kosong. “Tulis dengan darahmu..”


“Apa maksudmu?” Lian mengalihkan pandangannya pada wanita yang duduk disebelahnya.


Wanita itu mengayunkan tangan kirinya dengan cepat ke arah leher Lian. Beberapa tetesan darah terciprat di bawah matanya yang menatap tanpa belas kasihan. Ia justru terlihat menikmati pemandangan tersebut. Sebuah kepala jatuh berguling di atas lantai. Tubuhnya masih duduk dengan tegap di atas kursi yang sama. Darah berceceran di atas kertas kosong. Samar-samar Lian masih dapat melihat wanita itu mendekatinya, dalam sekejap semua terlihat gelap.


***


“..an..”


Lian membuka matanya, tubuhnya basah oleh keringat. Ia bangun dengan cepat dan beradu kepala dengan seorang laki-laki.


Nafasnya tersengal-sengal. Lian menyentuh lehernya, tidak ada goresan apapun di sana. Sesaat perasaannya menjadi lega. Lian segera mengalihkan pandangannya ke samping kiri. “Kalian..?” Lian menyentuh keningnya yang terasa sakit.


“Akhirnya ketemu juga. Sudah kuduga, mungkin Lian ada di sini.” Jawabnya sambil tertawa. Tangan kanannya tengah sibuk mengusap-usap dahinya yang juga terasa sakit.


“Ayo bangun, kita harus segera keluar dari sini.”


Lian menarik kerah pakaian yang dikenakan lelaki tersebut. “Akito, bagaimana kamu bisa tahu tempat ini? Rasanya mustahil bagi kita yang baru masuk dapat menebak dengan tepat.”


Akito tersenyum sedih. “Nanti akan kuberitahu. Yang penting kita harus keluar dengan selamat dari sini.” Lian mengangguk pelan, lalu ia melepaskan genggamannya.


Mereka berjalan keluar dari ruang perpustakaan tersebut. Gema langkah mereka tidak lagi terdengar di ruangan tersebut. Seorang wanita bergaun putih muncul di ruang perpustakaan yang kosong itu. Ia berdiri sambil memeluk sebuah buku bersampul putih. Dari dalam buku tersebut berjatuhan tetesan-tetesan darah segar.


***


Lian dan Haruka mengikuti Akito di belakang. Ia berjalan seolah sudah mengenal tempat itu. Lian memperhatikan gerak gerik Akito dari belakang, ia berpikir macam-macam seiring setiap langkahnya. “Bagaimana bisa kamu mengingat jalan serumit ini? Padahal jalan ke rumahku saja, kamu masih salah bahkan gak jarang nyasar ke kota sebelah.”


Akito tiba-tiba berhenti. Lian sangat kaget. “Ada apa?” Tanyanya penasaran.


“Kita sudah sampai. Kalian keluarlah lewat pintu itu.” Jawab Akito sambil tersenyum hangat.


“Apa maksudmu?!” Bentak Haruka dengan kasar.


“Aku masih harus berada di sini untuk sementara waktu. Ada hal yang harus kukerjakan.” Akito membalikkan tubuhnya, ia mulai berjalan di arah yang berlawanan.


Lian menarik tangan kanannya. “Jangan bercanda!”


“Kalian tahu kan, aku tidak sedang bercanda.” Akito melepaskan genggaman Lian dengan lembut.


Dari kejauhan terdengar dentang lonceng jam. “Jika kalian masih di sini saat dentang lonceng jam yang ke-12, kita semua akan terkurung selamanya di sini.”


Pintu keluar itu terbuka lebar-lebar, Akito mendorong kedua teman-temannya cukup kuat hingga mereka jatuh tersungkur di tanah. Perlahan pintu itu tertutup, meninggalkan Akito dengan wajahnya yang tersenyum hangat.


“Akito!” Haruka bergegas bangun, tetapi kakinya terkilir. Ia hanya dapat menyeret tubuhnya mendekati pintu yang hampir tertutup itu.


Lian berusaha bangun, tetapi kepalanya terasa sakit. Darah segar mengalir di pelipis kanannya yang baru saja membentur sebuah batu. Ia hanya berteriak memanggil nama Akito.


“Selamat tinggal teman-teman.” Akito berjalan masuk ke dalam meninggalkan teman-temannya yang terus berteriak memanggilnya.


Seekor iblis yang kelaparan sudah menanti kedatangannya di ruang makan yang dipersiapkan spesial hanya untuk Akito.


***


Akito berdiri di tengah ruangan yang gelap. Sebuah suara muncul memberikan sebuah pilihan sulit.“Pilihlah, siapa yang akan kamu selamatkan?”


“Apa maksudmu?” Rasa bingung terlihat jelas dari wajahnya.


“Kamu hanya bisa menyelematkan satu orang jiwa. Sisanya akan tinggal.”


Akito menundukkan wajahnya. Ia terlihat lesu. “Aku.. aku tidak bisa memilih salah satu, aku harus melindungi mereka berdua!” Bentak Akito.


“Manusia memang makhluk yang serakah ya. Padahal, aku sudah berbaik hati, dengan memberikan sebuah pilihan yang mudah.”


Akito terlihat kesal. “Aku tidak bisa mengorbankan teman-temanku.” Ia mengalihkan pandangannya. “Ambilah aku sebagai pengganti mereka.” Akito terlihat begitu sedih. Tapi itu bukanlah kesedihan karena takut dimangsa, tetapi rasa sedih karena tidak akan berjumpa lagi dengan orang-orang yang disayanginya.


“Dengan senang hati.” Suara misterius itu menampakkan wujudnya yang kelaparan. Kuku-kuku tajam di setiap jarinya bersiap mengoyak tubuh Akito. Gigi taringnya yang lancip sudah tidak sabar untuk ditancapkan ke dalam leher Akito yang lembut. Tenggorokannya yang kering mendambakan darah yang mengalir dalam tubuh manusia itu.


“Tapi aku minta satu hal. Aku ingin mengantar mereka keluar.” Akito terlihat begitu menyesal, ia memikul sebuah beban di pundaknya. Ia tahu, akibat kebodohannya, jadi mencelakai teman-temannya dengan membawa mereka ke tempat ini. Hanya dengan cara itu, ia dapat menebus kesalahannya dan merasa tenang.


“Hmm.. perjanjian yang sulit. Manusia adalah makhluk yang dapat melakukan apapun demi dirinya sendiri, termasuk berbohong dan berkhianat.”


“Aku tidak akan berkhianat. Kau dapat mempercayaiku.”


“Baiklah, jika sampai itu terjadi, akan kutarik kalian semua dalam kegelapan.”


***


“Hiduplah dengan baik, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian semua.” Bisik Akito lembut.


Angin berhembus kuat tepat pada dentang lonceng jam yang ke-12, membawa serpihan-serpihan kelopak mawar putih terbang ke langit. Membawa tetesan-tetesan airmata dan kenangan jauh dari jangkauan manusia.


Bisikan lembut itu sampai pada hati Haruka dan Lian. Mereka menangis meraung-raung di depan pintu yang terkunci rapat. Walaupun mereka meninju dengan keras, menendangnya dengan kuat bahkan menghantamnya dengan batu-batu besar, Akito tidak akan kembali..



Fin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar