Minggu, 27 November 2016
White Castle ver 2
Para penghuni Hotel Tiqua, berjalan keluar dari kamar masing-masing menuju lobby untuk menikmati sarapan yang disajikan khas hotel berbintang 3, tidak terkecuali siswa dan siswi SMP Ravers yang kebetulan menginap di sana.
Sayaka dan Kazu mengambil pastry untuk sarapan mereka pagi ini. Mereka duduk di meja yang sama. “Tidurmu nyenyak?” Tanya Kazu, sambil menahan kantuknya.
“Iya, lumayan.” Sayaka mengambil donat yang dibalut dengan coklat, lalu menggigitnya sedikit.
“Begitu juga aku. Ahh.. bagaimana dengan yang lain ya?” Tanya Kazu sambil menggigit roti gandum yang sudah dilapisi selai lemon.
“Mungkin sama tegangnya dengan kita.” Sayaka mengambil gigitan yang cukup besar.
***
“TES, TES, 1, 2, 3, DENGARKAN BAIK-BAIK. KALIAN AKAN BERKELILING DESA DAN MENDAPATKAN KETERANGAN MENGENAI KASTIL ITU. TAPI JANGAN SEKALI-KALI MASUK KE SANA. DENGARKAN APA YANG DIKATAKAN MENTOR KALIAN. MENGERTI??” Tanya Fujiwara Sensei singkat.
“MENGERTI!!” Seluruh murid yang ikut menjawab dengan serempak.
“BAIKLAH, SILAKAN IKUTI MENTOR KALIAN.” Fujiwara Sensei mematikan megaphone di tangannya lalu berjalan di depan, memimpin karya wisata tersebut.
Siswa dan siswi yang telah dikelompokkan berpencar sesuai dengan mentor pembimbingnya. Banyak diantaranya berjalan ke dalam desa untuk mengenal penduduk setempat. Tetapi hanya kelompok Akito saja yang terlebih dahulu melihat White Castle itu. Di depan pagar besi yang tinggi tertulis pelarangan untuk memsauki tempat itu. Tetapi dari jauh, Akito melihat seorang wanita mengenakan gaun putih berdiri di dekat jendela menara. Mengawasi mereka dengan pandangan yang sangat sedih. Wajahnya begitu pucat namun cantik. Wanita itu membalikkan tubuhnya lalu berjalan masuk.
“Akito, mau sampai kapan kamu berdiri di sana? Ayo cepat, nanti tertinggal, lho..” Mentor kelompok Akito tersenyum hangat.
“Ah iya, maaf Kotori Sempai.” Akito berlari mendekati teman-temannya. Sesekali Akito melihat ke arah menara putih itu, memastikan bahwa ada seseorang yang tinggal di sana.
***
Pada istirahat makan siang, seluruh siswa dan siswi dikumpulkan dalam satu ruangan. Mereka diberi mi goreng dan snack. Akito memanfaatkan situasi itu untuk mencari teman-temannya dan mendiskusikan sesuatu.
Mereka duduk membuat lingkaran kecil di bawah sebuah pohon rindang yang letaknya agak jauh dari keramaian.
“Jangan bercanda, Akito!” Kazu segera berdiri dengan tegap, menentang ide yang Akito sampaikan. Wajahnya terlihat sangat marah.
“Kazu, tenang dulu. Duduklah..” Lian berusaha menenangkan Kazu. “Aku memang penasaran tapi tidak segila itu untuk masuk ke sana.”
“Lagi pula, gerbangnya terkunci kan?” Sayaka terlihat sangat khawatir.
“Ini menyenangkan kok, sekali-kali berbuat salah, tidak apa-apa kan?” Emi mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
“Perasaanku gak enak soal ini.” Takuya menyentuh dadanya yang berdetak keras.
“Begitu ya, sepertinya hasil dari musyawarah ini berarti ‘tidak’.” Akito menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
“Iya benar, jangan melakukan hal bodoh Akito. Ada orang yang menanti kepulangan kita.” Kazu beranjak dari pohon itu, kembali ke kelompoknya.
“Maaf Akito.” Lian mengikuti Kazu dari belakang, begitu juga dengan yang lainnya.
Akito termenung sendirian di sana, ia memikirkan wanita yang barusan ia lihat. “….”. Akito berdiri kemudan menghampiri mentor kelompoknya. “Maaf Kotori Sempai, saya kurang enak badan. Boleh saya kembali ke kamar?” Tanya Akito singkat.
“Ah ya, kalau kamu memang merasa kurang sehat, silakan istirahat dulu. Sebentar lagi juga yang lain menyusul.” Jawab Kotori Sempai lembut.
Akito kembali ke penginapan kelompoknya yang berada 3 blok di dekat White Castle. Akito duduk di samping jendela, ia mengamati White Castle di jarak pandangannya. Ia banyak berpikir sambil terus mengamatinya.
Matahari telah terbenam cukup lama, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Semua orang tengah beristirahat untuk memulai kegiatan baru esok hari. Seorang anak lelaki berjalan keluar dari tempat penginapannya menuju suatu tempat. Ia berdiri di depan pagar tinggi dan besar yang dikelilingi pagar tanaman. “Bagaimana caranya aku masuk ya..” Ia berbisik pelan.
“Akito! Sudah kami duga kau akan datang.” Seseorang memanggilnya dari belakang. Akito membalikkan badannya.
“Teman-teman?” Tanya Akito heran. Mereka berjalan mendekati Akito yang tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
“Kami tidak mungkin membiarkan kamu masuk sendirian.” Takuya tersenyum lembut.
“Terima kasih.” Akito tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya, menatap dengan rasa penasaran ke pagar besar yang terkunci rapat. “Tapi bagaimana kita masuk ke sana..?”
“Griiiiiieeeett..” Perlahan-lahan pagar itu terbuka sendiri, seakan mempersilakan mereka untuk masuk.
“Tuh sudah terbuka, yuk masuk.” Ajak Emi.
“Eh, Emi?” Akito merasa janggal dengan sikap Emi yang tidak menaruh curiga pada pagar itu.
“Iya, ayo masuk. Mumpung pintunya terbuka.” Kazu melangkah masuk ke dalam dengan langkah mantap.
“Kazu? Bukannya kamu..” Akito belum menyelesaikan kata-katanya, Sayaka dan Takuya berjalan masuk tidak menghiraukan keberadaan Akito di dekat mereka.
“Lian, tidakkan ini aneh?” Akito mengalihkan pandangannya pada Lian.
Lian tidak menjawab apapun. Dari matanya tergambar jelas sebuah hasrat untuk memasuki kastil tua itu. “Tidak usah dipikirkan, ini akan menyenangkan.” Lian menarik tangan Akito.
Akito hanya berjalan mengikuti teman-temannya masuk, perlahan-lahan pagar itu kembali tertutup dan terkunci seperti sebelumnya. Pintu kastil yang tertutup rapat itu terbuka lebar, mempersilakan mereka untuk masuk lebih dalam untuk mengenal tempat itu.
Akito tidak mengatakan apapun, ia hanya mengamati sekitarnya dengan perasaan takut. Ia ingin menghentikan langkah kakinya dan mengajak teman-temannya keluar dari tempat itu, tapi teman-temannya sama sekali tidak menghiraukan Akito. Mereka berjalan lurus memasuki White Castle itu, seakan ditarik oleh sebuah kekuatan magis.
Mereka berdiri di tengah ruangan yang megah dan terawat baik bagi sebuah bangunan tua. Jalan keluar telah tertutup, sudah tidak ada kesempatan untuk kembali. Akito melihat lampu gantung yang mewah terpasang di tengah ruangan. Lampu itu terbuat dari untaian kristal yang berkilauan. Ada 10 buah lilin yang menyala di atasnya. Selain itu, adapula 8 lilin-lilin gantung yang terpasang dengan rapi di dinding ruang utama.
Ada beberapa lukisan yang terpasang di dinding kanan dan kiri, terlihat simetris. Di hadapannya Akito melihat sebuah tangga yang dilapisi kain putih menuju lantai dua. Tapi tidak hanya tangga itu saja yang berwarna putih, hampir keseluruhan ruangan didominasi warna putih. Di pojok sebelah kanan di bawah tangga terdapat sebuah jalan menuju ke ruangan yang lain.
“Ah, aku lapar. Kuharap ada banyak makanan di tempat ini.” Kazu mencoba untuk mengendus bau makanan yang dapat ia tangkap.
“Kudengar ada sesuatu di sini yang dapat membuatku cantik dan awet muda.” Emi tersenyum sambil menyentuh wajahnya.
“Hihihi.. sejarah. Aku akan terlibat dalam sebuah sejarah dan menjadi terkenal.” Lian menyentuh tembok kastil itu dengan wajah yang penuh nafsu.
“Teman-teman?” Perasaan Akito semakin tidak nyaman dengan perubahan sikap teman-temannya.
“Benar, di sini pasti tersimpan harta. Iya, sebuah harta karun.” Kedua bola mata Takuya memperhatikan benda-benda di sekitarnya.
“Di sini benar-benar nyaman ya. Dapat menenangkan hati. Aku jadi tidak perlu memikirkan hal-hal yang akan terjadi. Cukup begini saja.” Sayaka menutup matanya, menikmati keadaan di sekitarnya.
Akito berjalan ke arah Aya yang diam memperhatikan ruangan itu. “Aya, kita harus segera membawa mereka semua keluar dari sini.” Akito menepuk pelan pundak Aya.
“Tidak! Aku harus selamat! Bukan! Akulah yang harus selamat!” Bentak Aya kasar.
Akito melihat teman-temannya kehilangan kesadaran. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada mereka. “SADARLAH KALIAN!! JANGAN SEPERTI ITU!!” Seru Akito dengan suara keras. Suara itu bahkan menggema ke seluruh ruangan.
Kesadaran teman-temannya kembali, mereka bahkan kebingungan karena bisa berada di tempat itu. “Sebaiknya kita keluar dari sini, jangan terpisah.” Akito memperhatikan teman-temannya, ia begitu kaget. Ada seseorang yang menghilang dari pandangannya. “Kazu mana?”
“Eh, bukannya tadi di sini?” Sayaka menyentuh kepalanya yang terasa pusing.
“Sial! Kalian di sini saja dulu. Jangan kemana-mana sebelum aku datang. Usahakan bergerak secara berkelompok!” Akito berlari menuju tangga di hadapannya. Sebenarnya Akito ingin membawa seluruh teman-temannya bersamanya, tapi tidak bisa. Kondisi mereka masih belum stabil.
“Kazu, jangan melakukan hal yang bodoh!” Akito berbicara setengah berbisik pada dirinya sendiri.
Kazu berjalan tidak menentu. Hanya makanan yang ia pikirkan. Ia membuka satu per satu pintu di sepanjang koridor panjang dan gelap itu. “Makanan.. dimana makanannya..” Kazu berjalan sempoyongan.
“Jiwa serakah yang melupakan keberadaan dirinya, akan menjadi rasa pembuka.” Suara misterius itu pun menghilang.
Seketika itu Akito merasakan keberadaan Kazu. “Eh? Kazu!!” Ia segera berbalik untuk mengejar. Akito begitu panik. Tubuhnya gemetaran, ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa teman semasa kecilnya.
***
“Akito lama nih. Aku ingin ke toilet.” Ucap Emi singkat.
“Tahan sebentar lagi.” Perintah Takuya dingin.
“Tidak bisa, lagipula kata Akito kan, yang penting berkelompok. Ayo semuanya, anterin.” Emi berusaha memaksa mereka untuk mengikuti keinginannya.
“Bagaimana jika dia kembali dan tidak ada siapa-siapa di sini?” Tanya Lian singkat.
“Ya sudah begini saja, Aya, dan Takuya mengantar. Sisanya menunggu Akito di sini.” Jelas Sayaka.
“Ide bagus, Sayaka. Ayo semuanya, kan sudah diputuskan begitu.”
“Yah, baiklah. Hati-hati ya.” Takuya beranjak dari tempatnya duduk.
“Iya kalian juga.” Sayaka tersenyum.
***
Dari kejauhan, Kazu melihat seorang wanita yang mengenakan gaun putih berjalan ke sebuah pintu. Ia memegang lilin pijar di tangannya. Kazu segera mengikuti sosok tersebut. Begitu pintu terbuka, Kazu melihat satu meja panjang yang penuh dengan makanan. Tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.
“Semuanya milikku.” Tanpa pikir panjang Kazu memasuki ruangan itu dan mulai melahap makanan yang ada di atasnya.
Tiba-tiba pintu tertutup dengan keras, tetapi Kazu tidak menghiraukannya. Ia terus melahap makanan yang tersaji di atas meja. Lilin yang menerangi ruang makan itu, satu per satu mati. Kesadaran Kazu kembali, ia merasa takut berada di ruangan itu sendirian. Kazu mencoba berjalan ke arah pintu, ia menabrak beberapa kursi sebelum tangannya mencapai gagang pintu. Sekuat apapun Kazu memutar dan berusaha untuk membuka pintu tersebut, tidak menghasilkan apapun. Usahanya sia-sia, tapi ia tidak menyerah. Ia berteriak sekeras-kerasnya, tetapi tidak ada yang datang menolong.
Dari belakang tubuh Kazu muncul sebuah cahaya. Tubuh Kazu bergetar, ia sangat ketakutan. Cahaya itu terus mendekati Kazu yang diam terpaku dihadapan pintu yang terkunci. “Ini tidak akan sakit.” Tangan yang dibalut lengan panjang menyentuh dengan lembut pundak Kazu. Lilin pijar terjatuh ke lantai, ruangan kembali gelap. Kedua tangan itu membalikkan tubuh Kazu, sehingga mereka saling berhadapan. Air liur menetes dari sela-sela senyuman serigala yang kelaparan. Sesaat terdengar teriakan ketakutan, seluruh penghuni kastil itu pun menyadari sesuatu telah terjadi. Akito mempercepat langkahnya, seekor kupu-kupu putih muncul di hadapannya. Akito berhenti mengamati kupu-kupu yang terbang melewatinya. Kemudian kupu-kupu itu menghilang ditelan kegelapan.
“Kazu..?” Air mata menetes membasahi kedua pipinya. Akito jatuh terduduk, tetesan-tetesan air mata mengenai kedua tangannya yang mengepal keras. “KAZUUU!!!” Akito berteriak memanggil nama teman semasa kecil yang tidak akan ia jumpai lagi. Sepintas ia teringat sikap, kata-kata dan pesan nonverbal lainnya dari bayangan Kazu.
Akito berjalan kembali ke ruang utama, dimana teman-temannya sudah menanti kedatangannya. “Akito, ada apa? Mana Kazu?” Sayaka bertanya dengan penuh rasa khawatir.
“Kita harus segera keluar dari sini. Mana yang lain?” Tanya Akito mencoba untuk terlihat kuat.
“Eh? Tidak mungkin.. kan?” Sayaka menutup mulutnya yang gemetaran.
Lian menundukkan wajahnya yang lesu. “Yang lain, ke toilet..” Tangannya menunjuk lorong yang terletak di pojok bawah tangga.
“Sudah kubilang kan, jangan kemana-mana!!” Akito segera berlari mengejar 3 orang temannya.
***
“Ini dimana sih, toiletnya kok gak ada..” Emi menggenggam erat kedua tangan temannya.
“Makanya sudah kubilang kan, tahan sebentar sampai Akito kembali.” Takuya menghela nafas, ia merasa sedikit kesal.
Aya tidak berkata-kata, ia hanya memperhatikan lukisan-lukisan yang terpasang di dinding koridor yang mereka lewati. Di koridor itu terbentang karpet merah yang panjang. “Umm, lukisannya aneh deh. Hanya bergambar tentang kastil dan seorang wanita. Tidak ada gambar lainnya.”
“Aya, sudah jangan diamati lagi. Kita harus segera menemukan toilet dan kembali ke tempat yang lainnya.” Takuya hanya memperhatikan koridor yang tidak terlihat begitu jelas, karena hanya menggunakan lilin yang ditempel di dinding sebagai penerangan.
Aya berhenti di depan sebuah lukisan wanita yang tergambar hingga pinggang. Mimik wajah wajahnya terlihat jelas. “Sepertinya baru lukisan ini saja yang menggambarkan dengan jelas penghuninya.”
“Sudah, ayo cepat jalannya.” Takuya menarik kedua temannya untuk terus berjalan. Sepeninggal mereka, mata lukisan wanita itu bergerak mengawasi teman-teman Akito. Mereka tidak sadar, seorang wanita bergaun putih keluar dari dalam lukisan itu. Kemudian ia berjalan menembus dinding, yang tertinggal hanya kain kanvas putih berbingkai kayu dengan ukiran lembut.
“Raja yang terjatuh dari singgasana, masuk dalam kekuasaan palsu.” Lagi-lagi Akito mendengar suara yang sama. “Raja? Jangan-jangan.. Ugh!” Akito berusaha mempercepat gerakannya untuk mengejar keberadaan teman-temannya. Di depan lorong terdapat sebuah pintu kayu berwarna coklat, Akito segera membukanya. Dari balik pintu itu terbentang lorong yang tidak beraturan seperti dalam kisah fantasi. Lantainya diselimuti keramik warna hitam dan putih, bentuknya berkelok-kelok seperti ular. Di sisi kanan dan kiri hanya terdapat ruang hampa. Akito merasa adanya kejanggalan pada lorong itu, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain selain menelusurinya.
***
“Sepertinya, ini.” Emi membuka pintu di ujung tikungan koridor. “Wah, benar.” Emi melangkahkan kakinya masuk.
“Cepetan, jangan lama-lama.” Perintah Takuya ketus.
“Emi, tidak apa-apa jika tidak kutemani ke dalam?” Tanya Aya khawatir.
“Tenang saja.” Jawab Emi singkat. Ia tersenyum lembut untuk menenangkan Aya.
“Takuya, di sana gelap ya.” Aya menunjuk koridor di hadapan pintu toilet.
“Iya, sudahlah jangan dipikirkan.” Takuya mengalihkan pandangannya.
Barisan lilin yang menempel di koridor yang gelap itu menyala, menerangi sebuah jalan meunuju istirahat abadi. Tapi mereka tidak menyadarinya.
“…..” Takuya melangkahkan kakinya, berjalan di koridor sunyi yang hanya ditemani barisan lilin-lilin lemah.
“Takuya? Takuya! Takuya! Mau kemana?” Aya, segera menarik tangan Takuya yang berjalan menjauhinya.
Takuya melepaskan genggaman tangan Aya dengan kasar dan terus berjalan menelusuri koridor di hadapannya. Aya merasa ragu, ia harus menunggu atau mengejarnya, ia tidak bisa meninggalkan Emi sendirian. Aya mengetok pintu toilet cukup keras. “Emi cepatlah! Takuya..” Aya mengalihkan pandangannya pada lorong, ia melihat Takuya semakin jauh dari pandangannya. Setiap lilin yang dilewati Takuya, kehilangan cahayanya. Perlahan koridor itu kembali gelap.
“Emi!! Cepat!!” Aya mengetok pintu toilet semakin keras dan cepat.
“Iya, iya, sabar sedikit dong.” Emi membuka pintu toiletnya dengan wajah yang agak kesal. “Tuh, udah tuh. Segitu kebeletnya ya.”
“Bukan itu.. Takuya..” Aya menunjuk koridor gelap di hadapan mereka.
“Eh? Takuya..” Emi segera berlari, tetapi langkahnya terhenti. Ia menabrak sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. “Ini seperti dinding kaca.” Emi memandang Aya dengan rasa curiga. “Benar, tadi dia lewat sini?” Emi mengetuk-ngetuk dinding kaca yang disentuhnya.
“Iya, tadi lilinnya tiba-tiba menyala, kemudian begitu dia melewatinya, koridornya.. kembali gelap.” Kedua kakinya terasa lemas, Aya jatuh terduduk. “Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu..” Aya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang halus berwarna kuning langsat. Air mata membasahi wajah dan pakaiannya.
Emi tidak tega melihat sahabatnya menangis, ia segera menghampiri Aya dan memberinya sebuah pelukan. “Tenang Aya, semua pasti akan baik-baik saja. Sshh.. sudah..” Emi mengusap-usap punggung Aya.
***
Akito masih menelusuri lorong panjang yang berkelok-kelok. Ia mulai merasa lelah, akhirnya Akito berhenti untuk mengambil nafas dan beristirahat sebentar. “AAARRGGGHHH!!! Aku tidak bisa lama-lama di sini!! Ada orang yang harus kulindungi!!” Akito kehabisan nafas, ia berusaha untuk tenang. Tetapi tidak demikian dengan pikirannya.
Sebuah pintu keluar muncul di hadapan Akito, ia tidak membuang kesempatan itu. Akito segera membukanya. Akito melihat dua orang gadis berpelukan, salah seorang diantaranya menangis dan seorang lagi berusaha menenangkannya. Akito berjalan mendekati mereka. Sedikit demi sedikit pintu itu menghilang.
Pola nafas Akito masih tidak beraturan. “Emi? Aya?”
Emi melepaskan pelukannya, ia kembali berdiri tegap. “Akito?” Aya segera berlari ke arah Akito. Ia memegang erat pakaian Akito yang basah akibat keringat. “Takuya, di.. sana..” Aya mengangkat jarinya, menunjukkan arah Takuya berjalan.
Mimik wajah Akito berubah, ia terlihat sangat marah dan kesal. Tidak hanya itu, perasaan sedih akan ditinggal seseorang tergambar jelas dari air mukanya. Akito berlari menuju koridor tapi ia tidak bisa melanjutkan langkahnya. Ada sebuah penghalang yang tidak dapat ia tembus. “TAKUYAAA…!!!” Ia berteriak sangat keras, suara itu memekakkan telinga Aya dan Emi. Aya hanya menutup telinganya dengan telapak tangannya, ia menundukkan wajahnya. Sedangkan Emi hanya mengalihkan pandangannya dengan wajah penuh rasa pilu.
Tangan Akito yang besar memukul-mukul lapisan itu. Mulutnya tidak berhenti memanggil nama Takuya hingga berulang-ulang. Sesekali Akito mendobrak lapisan transparan di hadapannya. Akito berteriak lantang memanggil nama Takuya, kemudian menendang dengan kuat. Tetapi tidak ada retakan bahkan sebuah goresan pada lapisan itu.
Akito meletakkan kedua tangannya di dinding transparan itu, ia melihat lurus dan dalam pada koridor panjang dan gelap di jarak pandangnya. “Takuya…” Ia memanggil dengan nada lirih. Dari kejauhan, seekor kupu-kupu putih muncul dari sebuah ruangan. Kupu-kupu itu memancarkan sebuah cahaya hangat, kemudian menghilang bersamaan dengan dinding transparan yang menahan bobot tubuh Akito. Tubuhnya terasa lemas, ia bahkan membiarkan tangannya jatuh dan berayun tanpa tenaga.
“Kita kembali ke tempat yang lain. Jangan sampai terpisah..” Akito membalikkan tubuhnya kemudian berjalan sempoyongan. Ia membiarkan tubuhnya bersender pada dinding koridor sebelah kiri. Akito menangis dengan menahan suaranya. Ia mengepalkan tangannya lalu meninju dinding tempat ia bersandar.
Emi membantu Aya berdiri. Air mata mengalir deras dari kedua bola matanya yang berwarna coklat, Emi hanya dapat menggigit bibirnya yang tipis. Tatapan mata Aya kosong, ia tidak mengatakan apapun. Akito menghapus air matanya lalu membantu memapah tubuh Aya. Mereka berjalan dengan perasaan yang bercampur aduk.
***
Akito, Aya, Sayaka, Emi dan Lian duduk membentuk lingkaran di tengah ruang utama. “Untuk seterusnya, kita harus tetap bersama. Apapun yang terjadi..” Jelas Akito singkat.
“Hey, Akito..” Panggil Aya pelan.
“Apa?” Akito merespon dengan cepat.
“Bagaimana kamu tahu Kazu dan Takuya sudah..” Aya tidak melanjutkan kata-katanya, hal tersebut begitu sulit untuk dikatakan saat itu.
“Mati maksudmu?” Tanya Lian dengan santai.
“Lian, hentikan!” Seru Sayaka. Wajahnya terlihat sangat terganggu dengan perkataan Lian yang terus terang.
“Itu.. entah mengapa aku mendengar sebuah suara yang memberikanku petunjuk. Kupu-kupu itu juga, aku tidak begitu yakin tetapi, firasatku mengatakan demikian..” Akito memeluk lututnya dengan erat. Ia pun merasa aneh dengan dirinya yang dapat merasakan sebuah tanda.
“Kalau begitu.. siapa yang akan menyusul selanjutnya?” Tanya Aya kaku.
Lian, Sayaka dan Emi merasa terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Aya dengan sikap tenang seperti itu. “Aya, tidakkah itu terlalu..”
“Kalian juga, kalian juga pasti takut kan? Pasti ingin mengetahui siapa selanjutnya kan? Walaupun kalian berkata seperti itu, kalian juga ingin selamat dari sini kan? Ingin kembali ke kehidupan yang normal..” Lian, Sayaka, dan Emi menundukkan wajah mereka. Walaupun terdengar kasar, mereka juga ingin tahu siapa yang akan mati selanjutnya. Mungkin memang benar, ada kehidupan di atas sebuah kematian.
Sayaka mengunci rapat mulutnya, ia tengah disibukkan oleh pikirannya sendiri. “Aku rasa tempat ini tidak seburuk itu kok. Jika kalian melihatnya dari sisi yang berbeda, kastil ini begitu..”
Sebuah suara wanita, masuk ke dalam pikiran Sayaka. “Nyaman?”
Sayaka begitu kaget, ia memperhatikan sekitarnya dengan jeli. Emi menyadari apa yang dilakukan Sayaka. “Ada apa Sayaka? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” Tanya Emi dengan rasa penasaran.
“Ah tidak, bukan apa-apa.” Sayaka tersenyum lembut. Ia kembali diam, dan mencoba untuk terhubung dengan suara misterius yang masuk ke dalam pikirannya.
Sayaka menutup matanya dalam-dalam. “Siapa?”
“Aku hanyalah penghuni, di sini. Keberadaanku tidak terlalu penting. Bagaimana denganmu?” Suara misterius itu bertanya dengan lembut.
“Ah, aku hanyalah manusia yang diliputi dengan rasa khawatir. Tetapi aku senang di sini. Perasaanku sangat nyaman, bahkan berbicara denganmu membuatku tenang.” Jawab Sayaka dalam pikirannya. “Ah ini.. mungkin terdengar gila. Tapi.. apa boleh aku tinggal di sini?”
“Boleh saja, sebagai imbalan aku akan selalu berada di sisimu. Tetapi kau tidak bisa keluar dari kastil ini setelah mengikat perjanjian denganku. Masih tertarik?” Tanya suara itu singkat.
“Tidak apa, aku tidak ingin merasakan hal itu lagi.” Sebuah senyuman yang hangat, nampak dari wajah Sayaka yang tenang.
“Baiklah.” Suara itu menghilang dari pikiran Sayaka.
Lilin-lilin yang menerangi seluruh sudut ruang utama, mati dalam sekejap. Teman-temannya merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Sebuah suara kembali muncul memberikan peringatan pada Akito.
“Maid yang mengemis keabadian pada penguasa kegelapan.”
“Tidak mungkin..” Akito segera meraih tangan Emi dan Lian yang duduk di dekatnya. “Jangan panik! Semuanya berpegangan tangan!” Perintahnya singkat.
Sayaka membuka kedua matanya. Tatapan matanya kosong. Ia melihat Akito, Aya, Emi, dan Lian tengah berpegangan tangan satu sama lain. “Eh? Siapa mereka?” Bisik Sayaka pelan. Ingatannya melemah. Sosok mereka semakin lama semakin menjauh dari jarak pandang Sayaka. Tubuhnya ditarik masuk ke dalam kegelapan oleh sepasang tangan yang memeluk dengan erat.
Lilin kembali menyala. Seekor kupu-kupu putih muncul di dekat lampu gantung, ia terbang mendekati Akito. Akito mengangkat wajahnya yang dipenuhi rasa putus asa. Lalu ia mengangkat tangannya, mempersilakan kupu-kupu putih itu hinggap di jari telunjuknya. Akito menurunkan tangannya, matanya tidak lepas dari kupu-kupu putih yang ada di hadapannya. “Sayaka..?” Akito memanggil namanya dengan nada sedih. Kupu-kupu putih itu pun berubah menjadi butiran-butiran cahaya dan menghilang. Lian, Emi, dan Aya melihat kejadian tersebut dengan rasa perih yang mengoyak hati.
“Ayo kita bergerak mencari jalan keluar. Tidak ada gunanya berdiam diri di sini.” Akito berdiri, diikuti dengan yang lainnya.
***
Mereka berjalan memasuki koridor yang terletak di pojok bawah tangga. Koridor itu hanya mengandalkan secercah cahaya dari lilin-lilin yang berdiri di dinding. Mereka berjalan melewati lukisan yang sama. “Ini.. sepertinya di sini terlukis seorang wanita. Tapi.. kenapa hanya kanvas putih?” Aya menunjuk salah satu lukisan yang tergantung di dinding koridor. Mereka berhenti sejenak mengamati lukisan yang dimaksud Aya.
“Hanya perasaanmu saja mungkin, sudah tidak perlu dipedulikan.” Lian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
“Aneh.” Aya berlari kecil mengejar ketertinggalannya.
30 menit telah berlalu, mereka berjalan menelusuri kastil tersebut, berharap menemukan jalan keluar. Mereka telah melewati beberapa koridor dan anak tangga, namun belum menemukannya. Aya menatap keluar jendela besar. “Tadi kita sudah melewati tempat ini.”
Emi mengernyitkan dahinya, mencoba fokus. “Benar, itu pohon yang sama. Jangan-jangan sejak tadi kita hanya berputar-putar saja?” Emi terlihat ketakutan.
“Tidak, aku tidak mau mati di sini. Masih ada hal yang ingin aku lakukan.” Aya berjalan mundur, berusaha menjauhi teman-temannya.
Lian berlari ke arah Aya, ia memegang erat kedua tangannya yang gemetaran. “Aya, tenanglah. Kita pasti akan segera mene..” Lian belum menyelesaikan kata-katanya, tanpa diduga Aya menampar wajah Lian.
“Lepaskan!” Aya menarik tangan kirinya dengan kasar. Lian hanya terpaku memandangi perubahan sikap Aya.
“Aku harus keluar dari sini!!” Aya berlari pada arah yang berlawanan.
Lian berusaha mengejar, tetapi Akito menahannya. “Kenapa?” Lian bertanya penuh dengan tanda Tanya.
“Humpty Dumpty kembali menjatuhkan dirinya dalam dasar jurang kebinasaan.. itu, yang aku dengar barusan.” Jawab Akito dengan mata berkaca-kaca.
“Masih sempatkah jika..?” Lian bertanya dengan penuh harapan pada Akito. Tetapi Akito hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.
Emi melihat keluar jendela. Tangannya menyentuh kaca jendela yang berukuran cukup besar. “Kupu-kupu putih..”
Lian dan Akito mengalihkan pandangannya keluar jendela. Kupu-kupu putih itu terbang tinggi kemudian berubah menjadi serpihan kelopak mawar hitam yang terbawa hembusan angin. “Lian, Emi, ayo jalan lagi..” Akito berjalan duluan memimpin teman-temannya yang sudah merasa putus asa.
Emi masih berdiri di depan kaca jendela, ia menyentuh pantulan bayangan dirinya yang tipis. “Emi?” Panggil Lian pelan.
“Iya, maaf.” Emi berjalan di belakang.
***
Emi masuk dalam lamunannya semakin dalam pada setiap langkah kakinya. Ia melihat dirinya sendiri yang dipenuhi perasaan takut. Pantulan bayangan dirinya yang dipenuhi rasa takut terlihat jelek di dalam penglihatan Emi. “Seandainya dapat kuhilangkan.. aku tidak ingin terlihat seperti itu di hadapan yang lain. Seharusnya aku menjadi kekuatan bagi teman-temanku dan mendukung mereka.” Emi hanya menatap punggung kedua temannya yang tersisa.
Sebuah cermin berukuran setinggi tubuh Emi muncul di sampingnya. Ia menghentikan langkahnya, lalu mengamatinya. Ia melihat pantulan dirinya yang terlihat cantik dan penuh semangat. Emi menyentuh bayangannya yang terpantul di cermin. Perlahan, tangan Emi masuk ke dalam cermin, kemudian melangkahkan kakinya masuk hingga seluruh tubuhnya terkunci sempurna dalam cermin. Sebuah retakan besar membelahnya menjadi 2 bagian. Serpihan-serpihan kecil terbang dan menghilang.
“Emi, sejak tadi kamu diam saja, kenapa?” Lian membalikan tubuhnya. Ia sangat terkejut. “Akito.. Emi..” Wajah Lian terlihat begitu pucat.
“Eh? Kenapa? Padahal aku tidak mendengar suara apapun.” Akito mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Ia menutupi bibirnya dengan tangan kanannya. “Lian, apa kamu melihat kupu-kupu putih?” Tanya Akito kemudian.
Lian hanya menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba mereka kehilangan keseimbangan dan terjatuh dalam kegelapan yang pekat. Mereka tidak dapat melihat satu sama lain bahkan mungkin mereka terjatuh di tempat yang berbeda. Akito melayang dengan posisi tubuh horizontal. Ia tidak melihat dasar dari ruangan itu.
Akito menutup kedua matanya. Ia harus mengatakan sesuatu, walaupun tidak ada siapapun di sana. “..Tinta hitam.. menetes.. membasahi surat takdir..” Akito menggigit bibirnya cukup kuat, darah segar mengalir pelan. Ia tidak ingin melanjutkannya, tetapi ia harus menyelesaikan sebuah kalimat. Seakan tubuhnya dikontrol seseorang. “…yang berbisik.. akan kematian..” Akito menengadahkan tangannya. Seekor kupu-kupu putih muncul, menyinari wajahnya dan masuk di celah-celah kelopak matanya yang tertutup.
“Lian..” Cahaya dari kupu-kupu itu meredup dan berganti warna menjadi hitam. Ia terbang meninggalkan Akito sendirian. “Jadi seperti ini akhirnya ya. Aku sudah banyak berpikir tadi. Mungkin akan datang juga hal yang sama padaku.”
“Penggembala kecil..”
“Penggembala kecil? Iya, sebutan itu sepertinya cocok untukku. Akulah yang menggiring mereka masuk..” Air mata Akito berjatuhan. “Padahal, padahal aku hanya ingin melihat sebuah senyuman dari wajah itu. Jika memang kesepian, kami bisa menjadi teman. Tapi kenapa? KENAPA??!!!” Akito menutup seluruh wajahnya. Menyembunyikan penyesalan.
“Penggembala kecil berhati tulus, aku hanya bisa memberitahu satu hal. Kau harus segera keluar sebelum dentang ke-12 pada tengah malam. Jika tidak, selamanya kau akan dikutuk bersamaku.”
Gravitasi kembali berfungsi di ruangan itu. Akito menapakkan kakinya di atas lantai. Walaupun ia hanya melihat kegelapan di sekitarnya.
“Tapi kenapa?”
“Ini adalah perjanjianku dengan sang iblis. Hanya hati yang tulus dan bersih, yang dapat keluar.”
“Tapi aku juga.. hatiku..”
“Hatimu begitu putih, aku mengetahuinya saat pertama kita bertemu. Aku sangat berterima kasih.” Sosok itu menunjukkan wujudnya di depan Akito. Seorang wanita yang mengenakan gaun putih sepanjang mata kaki dengan lengan panjang. Rambutnya berwarna blonde, agak bergelombang dibiarkan terurai menutupi pinggang. Dari wajahnya terlihat sebuah senyuman tulus. Tubuhnya bercahaya dalam gelap, menghangatkan hati. “Perasaanku jadi begitu hangat. Tetapi aku tidak bisa melanggar jalan takdir sebagai pemangsa jiwa yang kotor.”
Akito begitu tersentuh mendengar pernyataannya, sekaligus terpesona dengan senyuman hangat dan lembut. Tetapi waktu tidak bersahabat dengannya. Dentang pertama sudah terdengar dari kejauhan. “Sekarang, pergilah.. sebelum semuanya terlambat.”
Akito berlari menuju sebuah cahaya kecil. “Aku, Maria. Mendoakanmu agar kelak bertemu dengan manusia-manusia berhati tulus sepertimu.”
Akito tersenyum mendengarnya, kalimat itu memberinya kekuatan untuk mengejar cahaya kecil yang berada di depannya. Semakin cepat Akito berlari, semakin besar bentuk cahaya itu. Pada dentang lonceng ke-9, Akito berhasil melompat keluar dari ruangan yang diselimuti kegelapan. Ia melihat Emi tidak sadarkan diri di dekat sebuah pohon yang cukup rindang.
Dentang lonceng jam masih terus berbunyi. “Emi? Emi?” Akito menggoyang-goyangkan tubuh Emi. “Sadarlah..”
Perlahan, Emi membuka matanya. “Akito?” Emi memeluk erat tubuh Akito. Ia menangis sekeras-kerasnya. “…Yang lain? Bagaimana dengan yang lain?”
“Jangan pikirkan itu dulu. Sshh.. sudah, tidak apa-apa. Semua sudah berakhir.” Akito mengusap-usap kepala Emi dengan lembut.
Tepat pada dentang lonceng ke-12 berbunyi. Akito dan Emi merasa aneh dengan apa lakukan saat itu. “Eh?” Mereka mengucapkannya bersamaan.
“Sedang apa kita di sini?” Emi melepaskan pelukannya.
“Aku juga sama penasarannya denganmu. Lalu kenapa kamu menangis?” Akito mengelap air mata Emi.
Wajah Emi merona merah. “Sudahlah, kita harus segera kembali. Jika tidak, Fujiwara Sensei akan marah.”
“Benar.” Akito membantu Emi berdiri, mereka berjalan keluar pagar.
Dalam sekejap, mereka melupakan kejadian yang terjadi. Tepat pada dentang lonceng jam yang ke-12 tadi, Maria menghapus keberadaan orang-orang yang ia mangsa. Tidak ada kenangan yang tersisa, tidak hanya teman-teman sekolah dan para guru, tetapi juga orang-orang yang mengenal mereka.
Perlahan, pagar kastil itu tertutup dan terkunci rapat. Maria berdiri di depan kastil miliknya. Ada beberapa kupu-kupu berwarna putih hinggap di pundaknya dan sisanya terbang di sekitar Maria. Ia memberikan penghormatan terakhir pada Akito dan Emi dengan menundukkan kepalanya. Tubuh Maria dan kupu-kupu yang bersama dengannya memudar seiring dengan langkah kakinya memasuki White Castle.
Fin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar