Minggu, 13 November 2016

White Castle, Ver.1



Dahulu hidup seorang putri yang berwajah cantik dan elegan di sebuah kastil yang diberi julukan White Castle. Kastil ini tidak hanya bermakna “putih” tetapi ada hal yang lebih dalam dari itu, “tulus”.






Sang putri begitu mencintai kastil itu, hingga ia tidak pernah menginjakkan kakinya keluar kastil. Hingga suatu hari sang putri terkena penyakit yang sangat parah yang mewabah di desa tempat tinggalnya. Seluruh tabib di penjuru desa telah datang untuk mengobatinya, namun tidak ada yang berhasil.






Lalu, perdana menteri memberi usul untuk membawa sang putri berobat di luar desa, akan tetapi sang putri menolaknya mentah-mentah. Raja dan Ratu negeri itu pun semakin resah dengan kondisi putri mereka. Di dalam pikiran mereka terlintas sebuah penyesalan karena menghadiahi sebuah kastil terkutuk untuk putri semata wayang mereka.








Semakin lama, penyakit yang diderita sang putri semakin parah. Di saat-saat terakhirnya, datanglah seorang iblis yang menawarkan keabadian pada sang putri. Tanpa pikir panjang, sang putri menerima tawaran tersebut, karena ia tidak ingin berpisah dengan kastilnya apapun yang terjadi.






Keinginan itu pun terkabul, tetapi sang putri harus menerima konsekuensi. Ia akan selalu terikat dengan kastil miliknya namun dalam wujud yang lain, sebagai pemangsa jiwa…






***






Pagi yang cerah pada musim semi tahun ini. Semua orang memulai segala aktifitas dengan semangat tidak terkecuali siswa dan siswi SMP Ravers.






“Selamat pagi, Akito!” Seorang gadis yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas.






Akito tengah berbincang dengan teman sekelasnya yang lain. Kemudian ia membalikkan tubuhnya ke arah suara yang memanggil namanya. “Pagi, Aya.” Sahut anak lelaki itu sambil melambai-lambaikan tangannya.






Aya berjalan menuju kursi dan bangku tempat ia biasa duduk. “Aku dengar akan ada karya wisata ya?” Tanyanya singkat sambil meletakkan tas ransel berwarna ungu di atas meja.






“Iya, begitu kata Fujiwara sensei. Kamu mau ikut?” Tanya Akito balik.






“Entahlah, kalau Emi, Sayaka dan Kyo ikut, aku juga akan ikut.” Jawab Aya penuh semangat. “Eh, kamu sendiri bagaimana?” Tanya Aya penuh dengan rasa penasaran.






“Sudah pasti ikut, karena jika bukan aku, siapa lagi yang akan mengerjai orang-orang di sekolah ini.” Akito mengusap-usap kepala Aya dengan kasar. Rambut Aya yang sudah disisir rapi menjadi berantakan.






“Kyaa! Cukup!” Bentak Aya, sambil mencoba menghentikan tangan Akito.






Tidak berapa lama, teman-teman sekelas mereka datang satu per satu memenuhi bangku-bangku kosong di kelas tersebut hingga penuh. Bel tanda belajar-mengajar dibunyikan, jam pertama ini diisi oleh Fujiwara Sensei sampai 2 jam ke depan.






“Anak-anak, sudah dengar kan, rencana karya wisata minggu ini?” Tanya Fujiwara Sensei membuka sesi belajar di kelas itu.






Takuya mengangkat tangan kanannya, Fujiwara Sensei pun mempersilakan kepada Takuya untuk mengajukan pertanyaan. “Saya belum dengar tujuan karya wisata ini, Sensei.” Ucap Takuya singkat.






“Baiklah, Sensei akan memberitahu. Tujuan karya wisata kali ini, pergi ke White Castle. Untuk waktu, akomodasi, dan kebutuhan kalian, akan Sensei beritahu lewat surat ini saja ya.” Sensei mengangkat selembar kertas putih yang sudah dilipat rapi. “Nah sekarang kita mulai kelas ini.” Seluruh siswa dan siswi di kelas itu segera mengeluarkan buku latihan matematika dan alat tulis yang dibutuhkan. Mereka sudah paham hak yang harus mereka dapatkan di dalam kelas itu, sebuah ilmu yang bermanfaat.






***






Siswa dan siswi SMP Ravers tengah menikmati jam istirahat. Sebagian ada yang menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya di halaman belakang sekolah, adapula yang mengisi tenaga di kantin, ada di antaranya tengah sibuk memilih dan memilah buku di perpustakaan.






Aya dan teman-teman dekatnya tengah mengisi tenaga dalam satu meja besar di dalam kantin. “Aku belum pernah ke sana. Kira-kira ada hal yang menarik tidak, ya?” Satu potongan buah melon masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Gigi yang tersusun rapi itu pun mulai mengunyah melon yang ada dalam mulutnya.






“Ah, mungkin sama saja dengan kastil atau istana yang lain deh. Terkesan kuno dan elegan.” Kyo memainkan sendoknya di tumpukan mi goreng yang ia pesan.






“Kalian tidak tahu?” Tanya seorang siswa keturunan cina singkat dengan wajah serius. Ia duduk di ujung meja. Tangannya yang putih menutup sebuah buku sejarah. Pertanyaan itu menarik perhatian teman-temannya yang duduk satu meja dengannya.






“Apaan sih Lian, bikin tegang aja. Bisa gak nafsu makan nih kalau kamu yang cerita.” Seorang siswa bertubuh agak gemuk merasa tidak nyaman dengan sikap Lian.






“Tenang Kazu.” Akito berusaha menenangkan Kazu dengan mengusap-usap punggungnya yang lebar. “Memang ada apa di sana?” Tanya Akito penasaran.






“Hmm, gimana ya. Bisa dibilang legenda atau juga mitos tempat itu. Kudengar, dulu ada putri yang meninggal karena sakit. Mungkin saja dia mengutuk tempat itu sebelum kematiannya datang.”






“Mana ada hal seperti itu.” Sayaka meminum jus strawberi yang ia pesan melalui sedotan.






“Ini bagus.” Sahut Emi riang.






“Ih, bagus sebelah mananya sih?! Serem tahu!” Seru Kazu tidak menyetujui pernyataan Emi.






“Kazu, badan doank yang gede. Tapi nyali kecil.” Aya mengambil potongan melon, kemudian memakannya lagi.






“Bukan begitu!!” Bentak Kazu sambil memukul meja. Wajah Kazu merona merah karena malu.






“Sudah, sudah.. besok kita lihat lagi situasinya. Tuh, bel sudah berbunyi. Yuk, cepetan masuk. Sekarang pelajaran Mr. Smith.” Akito beranjak dari tempat duduknya. Satu per satu, teman-temannya mengikuti dari belakang.






***






“Masih lama ya?” Tanya Kyo dengan nada setengah kesal. Sejak tadi ia tidak bisa menunggu dengan tenang. Ada saja hal yang dilakukannya, dimulai dari memainkan resleting tas, menendang batu-batu kecil, hingga menggambar sesuatu di tanah dengan menggunakan patahan cabang pohon.






“Sebentar lagi mungkin bisnya akan datang.” Jawab Aya sambil memperhatikan sela-sela kukunya yang baru saja ia bersihkan. Sesekali aya meniup jarinya dari serpihan-serpihan kecil kikiran kuku.






“Ini sudah jam 11 siang. Keterlaluan!” Kyo menendang sebuah batu ke arah pepohonan.






“Baru juga 2 jam telatnya, santai saja Kyo.” Lian tersenyum canggung.






Seluruh siswa kelas 2 sedang menunggu datangnya bis yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan, di depan bangunan sekolah mereka.






“Ah! Kyo chan, lihat itu bisnya!” Seru Emi sambil menunjuk ke gerbang sekolah. Ada 15 bis dengan tempat duduk sebanyak 30 orang di tiap bisnya. Mereka segera beranjak dari penantian yang cukup membosankan dan menyebalkan itu.






“Akhirnya datang juga, hampir saja aku memakan pilar gedung sekolah kita.” Ucap Kazu dengan perasaan lega.






“Yang benar ah, pilar begituan kok dimakan, kan gak enak. Hahahaha..” Tawa Akito pecah saat itu juga ketika mendengar ucapan Kazu. Ia merangkul bahu Kazu dengan hangat.






“Uh, bagaimana ini?” Rasa bingung tergambar jelas dari wajah Sayaka.






“Kenapa? Sampai pucat begitu.” Takuya mengernyitkan dahi.






“Aku, mabuk perjalanan.”






“Ah, soal itu. Aku juga kok. Makanya sudah kusiapkan cukup banyak.” Takuya mengambil bungkusan plastik berwarna hitam dari dalam tas ranselnya. “Yuk, nanti ketinggalan lho.” Takuya menarik tangan Sayaka yang berjalan lambat di belakangnya.






Tawa dan canda menemani keberangkatan mereka ke sebuah kastil. Keceriaan jelas terlihat saat itu. Namun di sisi lain, telah ada seseorang yang menunggu mereka dengan rasa lapar. Menanti untuk melahap jiwa-jiwa yang haus akan nafsu. Ia berdiri di sebuah jendela menara yang berwarna putih dan dipenuhi semak belukar. Tidak berapa lama sosok itu pun menghilang bersama hembusan angin.






***






Kazu merenggangkan kedua tangannya ke atas. “Uwaaaaghhh… Pegal banget deh badan.”






Lian berjalan keluar dari bis. “Cukup jauh juga ya.” Lian mengalihkan pandangannya pada matahari yang telah terbenam.






Fujiwara Sensei sudah berdiri di luar bis. Ia berbicara dengan menggunakan megaphone. “Nah, anak-anak hari ini kita beristirahat dulu. Besok pagi kita akan berkeliling kastil. Jangan pergi sendiri-sendiri, usahakan berkelompok ya.” Ia mematikan megaphone di tangannya. Kedua bola mata Fujiwara Sensei mengawasi dengan ketat anak-anak asuhannya. Ada 150 mentor yang Fujiwara Sensei tugaskan untuk mengawasi 60 kelompok. Setiap kelompok berisi 5 orang siswa dan siswi, yang diawasi 2 sampai 3 orang mentor. Mereka menginap di tempat yang berbeda namun tidak jauh dari White Castle.






Sayaka merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. “Semoga besok jadi hari yang menyenangkan.” Bisik Sayaka lembut.






***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar