Senin, 28 November 2016

[Fantasy] The Last War

Aku tidak tahu siapa atau apa diriku. Aku juga tidak tahu berapa usiaku yang sebenarnya. Terkadang, aku bisa hidup berhari-hari tanpa makanan dan tidak merasa lapar atau haus. Kondisi tubuhku tetap sama sejak bumi ini masih belum dipenuhi manusia seperti sekarang.  Yang pasti, ingatan yang kumiliki saat pertama kali membuka mataku adalah membunuh Demon.

Aku tidak menua, juga tidak mengalami regenerasi. Aku pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Menikah dan hidup bersama tapi kami tidak memiliki keturunan. Seiring usia, keriput melahap pasanganku. Sejak awal memang ada yang berbeda denganku. Manusia normal pasti akan takut hidup bersamaku. Tapi, gadis itu sama sekali tidak merasa takut. Ia justru menyuruh pergi untuk menyelamatkan diri dari amukan warga desa. Aku kembali menjalani kehidupanku yang suram. Berganti tempat tinggal, bersembunyi lalu muncul dengan nama berbeda.

Aku telah menjalani berbagai profesi dalam hidupku. Memalsukan identitasku agar tidak dicurigai. Menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarku. Bersikap sewajarnya di siang hari dan berburu saat malam datang.

Aku berjalan menyusuri gang sempit kotor; tumpukan sampah di tiap sisi, genangan air sehitam malam, dan bau busuk yang menjijikkan. Demon amat menyukai tempat lembab dan kumuh seperti ini. Terkadang aku datang agak terlambat dan hanya menemukan bangkai manusia yang telah terkoyak mengerikan. Jika masalahnya seperti itu, aku hanya akan menyerahkan masalahnya pada pihak berwajib dan bersikap seolah tidak mengetahui apapun. Masalah manusia harus ditangani oleh manusia. Aku hanya akan dianggap tidak waras dan dijebloskan ke dalam rumah sakit jiwa jika berkata jujur. Dan dampaknya latar belakangku akan terbongkar. Tentu kalian akan amat girang mendengarnya dan para peneliti bersiap melakukan berbagai uji coba pada tubuhku. Tidak, tidak. Bukan berarti aku pernah mengalaminya.. err.. baiklah, hampir.

Pedang dalam genggamanku bergetar pelan. Aku berlari mendekati sumber getaran. Semakin dekat, semakin keras getaran yang kuterima. Dan kudapati lima ekor Demon tengah berpesta menikmati tubuh manusia yang masih segar. Dengan kemarahan yang teredam aku mencabut pedangku dan membantai mereka.

Aku memotong menjadi dua bagian tubuh Demon yang membelakangiku. Ia segera hancur menjadi buih. Empat Demon lainnya terkejut dan menyumpah dengan kasar. Mereka berusaha membalas kematian temannya dengan melontarkan plasma. Namun berhasil kuhindari. Aku melompat lalu menusuk kepalanya. Serangan kembali datang. Mereka berusaha mencabikku dan berhasil menggores kulit lenganku. Goresan yang disebabkan oleh Demon berbeda dengan luka yang disebabkan dengan benda tajam. Rasanya tubuh merinding hebat, menciutkan nyali, dan dapat menyebabkan demam hingga seminggu ke depan. Aku menguatkan genggaman pedangku. Mereka tertawa mengejek. Aku tidak menyiakan kesempatan itu, dengan cepat aku memotong ketiganya tanpa kesulitan.

“Dasar Pengkhianat!” Seru Demon dengan tubuh berbulu warna hijau. “Kami tidak akan pernah mengampunimu, Azriel! Akan datang waktunya pembalasan!” Ia tertawa terbahak sambil menyemburkan cairan warna biru dari mulutnya.

Aku menarik pedangku dari sarungnya dan menancapkannya di wajah si Demon. Ia pun hancur menjadi buih di udara. Bukan sekali atau dua kali aku mendengar hal itu. Aku telah membaca banyak buku mengenai Demon dan cukup terkejut dengan penjelasan yang kudapatkan. Sepertinya memang ada sesuatu dalam tubuhku. Hal itu akan kupertimbangkan lagi nanti, sekarang aku harus segera beranjak dari tempat ini atau mendapat tuduhan yang tidak kulakukan.

Aku berendam dalam air hangat yang telah dibubuhi tumbuhan herbal. Inilah cara terbaik untuk meminimalisir dampak dari luka yang kudapatkan. Aku melirik pedang yang kusandarkan dekat pintu kamar mandi. Sejak awal pedang itu sudah ada bersamaku. Aku tidak tahu siapa pembuatnya dan mengapa aku memilikinya. Hanya saja, aku sangat terbantu. Sangat mudah memotong Demon dengan menggunakan pedang ini. Meski tidak melukai jika digunakan pada manusia karena mata pedangnya tumpul.

Sudah tidak terhitung berapa Demon yang telah kubunuh. Aku juga tidak menguasai ilmu bela diri khusus. Kemampuan itu mengalir begitu saja tanpa kupahami, seolah aku terbiasa. Rasanya tubuhku amat ringan sehingga dapat kugerakkan dengan leluasa. Rasa takut dalam diriku pun memudar saat menghadapi Demon dengan bentuk mengerikan. Apakah pedang itu yang melakukannya?

Yah, sudahlah. Saatnya aku pergi bekerja. Aku beranjak dari bak, mengambil handuk, dan segera berpakaian. Menurutmu, bagaimana aku bisa menyewa kamar apartemen ini jika tidak memiliki uang?

“Pengunjung hari ini cukup sepi, Josh. Kau bisa bersantai.” Seorang pria berusia tiga puluhan menepuk pundakku. Ia memperbaiki posisi tas ranselnya dan bersiap pulang.

“Jika begitu, kurasa malam ini agak sedikit membosankan, Will?”

Will tertawa geli. “Tentu tidak. Kau bertugas bersama dengan Sophia. Kau sangat beruntung.” Ia menyenggol lenganku.

“Jika boleh memilih, aku lebih suka sendirian.”

“Jangan terlalu suram begitu. Kelihatannya ia menaruh hati padamu. Baiklah, istriku sudah menunggu di rumah. Malam ini kami akan merayakan ulang tahun pernikahan.”

“Aku belum menyiapkan kado untuk kalian. Ingin kubungkus beberapa potongan ayam untuk hadiah?”

“Tidak, tidak. Hampir setiap hari aku membawa sisa ayam untuk dibawa pulang. Kali ini aku menyiapkan sesuatu yang istimewa.” Will memperlihatkan liontin dari perak dengan bandul berbentuk huruf R dari aksara sambung.

“Josh, aku penasaran. Benda panjang apa yang selalu terbungkus kain itu?”

“Ini? Ini senjata untuk pertahanan diri. Kau tahu ‘kan lokasi tempatku tinggal? Amat rawan kejahatan di sana.”

“Pindahlah dari sana.”

“Sulit menemukan tempat tinggal nyaman yang murah.”

“Jika aku boleh memberi saran, tongkat kayu amat kuno, kawan. Kau perlu senjata api.”

“Kurasa, aku telah terbiasa dengannya.”

“Baiklah, semoga sukses kawan.”

“Terima kasih.”

Will tersenyum sebelum meninggalkan ruang ganti. Aku membuka pintu lokerku lalu mengenakan seragam restoran cepat saji. Aku menyelipkan senjataku di dalam loker. Jika boleh, aku ingin membawanya kapanpun dan dimanapun. Hanya saja, aku tidak ingin menarik perhatian dan mendapat cap sebagai karyawan bersenjata. Hal itu tentu akan menakuti pelanggan.

Aku berjalan keluar dari ruang ganti dan bertemu dengan gadis itu. Ia tengah duduk, sepertinya sengaja menantiku.

“Hei.” Gadis itu menyapaku dengan riang.

“Kalau kau bersantai begini, bisa-bisa dianggap telat.”

“Aku sengaja menunggumu, lho.”

“Aku tahu.” Aku berjalan di depan meninggalkannya. Aku berbalik. “Kau tidak akan absen?”

“Tentu saja, bisa-bisa gajiku dipotong.” Ia berlari kecil mendekatiku dengan wajah ceria.

***

Sejak tadi aku sangat gelisah dan rasanya seperti sedang diawasi. Aku harus segera mengambil senjataku.

“Sebaiknya kau pulang. Aku akan mengatakan pada manajer bahwa semalam kau tidak enak badan.”

“Apa maksudmu?”

“Entahlah, kupikir saat ini akan terjadi sesuatu yang buruk. Dan sebaiknya aku tidak melibatkanmu.”

“Kau sangat misterius, Josh. Jika memang ada masalah yang ingin kau bicarakan aku akan mende

“Tidak, tidak. Ini bukan masalah seperti itu.” Aku mencengkram bahunya yang mungil. “Pulanglah, Sophi.”

“Baiklah, aku akan mengambil tasku dulu.”

“Aku akan mengantarmu.”

Aku harus mengambil senjataku terlebih dulu baru mengantar gadis dengan mata cemerlang itu ke lokernya. Akan berbahaya jika kami diserang tanpa bisa melawan. Seperti saat ini. Aku menarik tangan Sophia, memaksanya berlari menuju pintu belakang. Tubuh besar makhluk itu terjepit palang pintu. Hanya tangannya yang panjang dan gemuk mencoba menggapai kami. Kami melompat melewati pintu belakang kemudian jatuh terguling, lalu segera berdiri. Aku harus segera ke pintu samping dan mengambil senjataku di ruang loker.

Kalian penasaran, mengapa bisa seperti ini? Mari kita kembali ke lima menit sebelumnya. Segalanya baik-baik saja hingga aku merasakan udara semakin pekat dan berat. Ini pertanda tidak baik. Aku menghentikan langkahku.

“Ada apa?” Tanya Sophia penasaran.

“Ada yang tidak beres.”

Mendadak, dinding sebelah kiri di belakang kami hancur. Aku dan Sophia terhempas sejauh satu meter. Seekor Demon setinggi empat meter, bertubuh gempal, dan berlipat-lipat muncul. Di sekujur tubuhnya menempel lendir yang menguar bau tidak mengenakkan.

“Azriel, kau tidak akan bisa bersembunyi dariku!” Suara makhluk itu terdengar berat dan penuh dendam.

Aku harus segera mengambil senjataku atau hidup kami berdua berakhir. Gadis itu masih trauma, ia duduk sambil menatap ketakutan makhluk di hadapannya. Aku menarik tangannya, lalu memaksanya berdiri, dan berlari mengikutiku.

“Mau kemana Azriel?! Apa kau lupa dengan sahabatmu sendiri?!” Makhluk itu menghancurkan lantai. Tawanya menggema sepanjang lorong.

Aku hendak berbelok ke kiri, hingga kusadari seekor makhluk yang tak kalah mengerikan telah berdiri di sana. Tubuhnya membungkuk menghalangi pintu. Aku harus memancing mereka ke pintu belakang lalu mengambil jalan berputar dan masuk lewat pintu samping.

Aku masih menarik tangan gadis itu. Berlari memutari bangunan. Setelah cukup aman, aku melepaskan tangannya. “Sembunyilah. Selamatkan dirimu.”

“Bagaimana denganmu?” Tanyanya gusar.

“Aku akan baik-baik saja. Cepat pergi!” Aku segera meninggalkannya.

“Jangan bercanda!” Gadis itu berlari mengikutiku.

“Apa yang kau lakukan di sini?! Tempat ini berbahaya!”

“Justru berbahaya jika aku sendiri!” Sophia menunjuk beberapa Demon yang muncul dari kegelapan.

Oh, sial. Aku mempercepat langkah kakiku. Menikung lalu membuka pintu samping. Seperti dugaanku, ruangan kosong. Aku bergegas menuju loker, memasukkan kunci, memutar dan–dinding di belakangku hancur.

Sophia menjerit kalut. Tubuhku melayang rendah di atas lantai. Kuku-kuku tajam berwarna hitam menembus tubuhku. Aku memuntahkan darah. Demon itu mengibaskan tangannya. Aku terlempar ke dinding. Gadis itu berlari mendekatiku.

“Tidak, tidak, tidak. Apa yang harus kulakukan?” Ia memangku kepalaku.

“Larilah Sophia.. Aku tidak akan sanggup melindungimu.” Aku melirik pedangku yang terlempar jauh. Gawat, kesadaranku makin tipis. Sayup-sayup aku mendengar tangisan Sophia. Inikah akhir kehidupanku?

Kelebatan ingatan kehidupan yang kulalui selama ini. Lalu kelebatan sesuatu yang asing. Tunggu, apa ini? Apa maksudnya ini? Potongan ingatan yang semakin banyak dan silih berganti! Rasanya jantungku berdetak begitu cepat dan akan meledak. Hentikan!

***

Aku membuka mataku. Dan menatap gadis manusia yang menangis disisiku. Di sekeliling kami berdiri bermacam bentuk Demon. Aku mengibaskan tanganku. Seluruh makhluk itu terpental ke seluruh penjuru ruangan. Gadis itu terkejut kebingungan.

“Josh?” Ia memanggilku lirih. Aku tersenyum.

“Sekarang, semua akan baik-baik saja. Istirahatlah, manusia.” Aku menempelkan tanganku. Menghapus memori tentang diriku dan semua kejadian menakutkan yang ia alami barusan. Serta memasangkan pelindung.

Begitu rupanya. Sekarang aku paham semuanya. Aku mengambil pedangku yang masih terbungkus kain. Melepaskan tiap ikatan tali yang membelitnya, lalu mengeluarkan dari sarungnya dan menghunuskan ke langit memanggil para sekutuku. Ribuan makhluk putih bersayap turun dari langit. Sudah saatnya menyelesaikan pertempuran yang terbengkalai ratusan ribu tahun lalu.

Aku menusukkan pedangku ke dada kemudian mencabutnya. Gumpalan cairan hitam keluar dari luka yang menganga di dadaku. Lama kelamaan membentuk sesosok musuh bebuyutanku.

“Lama tidak bertemu, Gabriel.” Sapa makhluk hitam yang masih berusaha memulihkan bentuk tubuhnya.

“Azriel.. Seharusnya waktu itu aku menghancurkanmu. Bukan menyegelmu dalam tubuhku.” Sedikit demi sedkit luka di dadaku menutup, seolah tidak pernah tergores apapun sebelumnya.

“Kalian sangat terdesak waktu itu, jadi sebagai pemimpin kau mengambil keputusan yang memalukan, bukan begitu?” Desis Azriel tajam. “Dan tetap berusaha memusnahkan kami meski terkunci dalam tubuh manusia. Amat menyedihkan..”

“Kurasa saat ini, aku lebih siap untuk menghadapimu.” Aku membuka lipatan sayapku.

“Jika begitu, ini peperangan terakhir untuk memutuskan kepemilikan langit.” Bayangan hitam itu melebar dan menerjangku.

Aku menangkisnya. “Tidak akan kubiarkan kau mengacau!”


Fin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar