Kamis, 01 Desember 2016
Sisi Lain Dunia Kucing
Seorang gadis SMP kelas dua berjalan keluar rumahnya sambil membawa semangkuk makanan kucing lengkap dengan air. Ia mengenakan pakaian seragam lengkap dengan rambut dibiarkan terurai menutupi bahu. “Belle! Ayo sini makan dulu!”
Dari kejauhan seekor kucing Anggora betina berlari mendekati panggilan tuannya. Terpasang sebuah kalung dengan bandul lonceng warna emas pada lehernya, ia begitu lapar. Alicia meletakkan mangkuk yang dibawanya. Belle langsung menyantap makanan yang disediakan dengan lahap. “Kamu suka sekali main di luar ya Belle?” Ia hanya memperhatikan hewan kesayangannya.
Dari dalam rumah sederhana terdengar suara seorang pria paruh baya. “Alicia! Sarapan dulu!”
Alicia mengalihkan wajahnya ke dalam rumah. “Baik ayah!” Ia mengelus sebentar kepala kucing Anggora berwarna abu-abu miliknya. “Habiskan ya Belle.” Ia tersenyum sebelum meninggalkan Belle sendirian di halaman.
Belle terlihat tergesa-gesa, ia menghabiskan makanannya dalam sekejap bahkan tidak sempat meminum seteguk air yang telah disediakan. Ia berlari sekuat tenaga menuju hutan yang terletak di bukit belakang sekolah Alicia.
***
Belle berdiri di depan sebuah batu yang berukuran lima kali besar tubuhnya. Kemudian ia menyentuh batu tersebut, mulutnya sibuk melafalkan sebuah mantera. “Kelopak hitam yang jatuh menyentuh tanah, membuka tabir yang tersembunyi dari pandangan manusia.” Batu besar itu pun bergeser membuka lubang dimensi pada dasar tanah yang terhubung dengan dunia yang hanya dihuni oleh kucing, Krycatovia.
Namun konsentrasi Belle terpecah saat mendengar suara dari balik semak-semak di belakang tubuhnya. Ia begitu panik karena Krycatovia bukanlah tempat yang dapat dikunjungi manusia. Jika hal itu sampai diketahui manusia maka Frourás⁽¹⁾ Krycatovia tidak akan segan-segan mencabut akses masuk mereka dan memasukkannya dalam black list. Walaupun dimensi terbuka, mereka tidak akan bisa masuk justru terpental. Sedangkan bagi manusia, ingatannya tentang Krycatovia akan dihapus.
Belle merasa bingung hingga ia lupa mantera untuk menutup dimensi yang terbuka. Ia justru mengambil dedaunan kering untuk menutupnya tetapi itu semua sia-sia karena semuanya terhisap masuk.
“Yo, Belle.. apa yang sedang kamu lakukan?”
“Suara ini?” Belle membalikkan tubuhnya. “Kai, aku pikir ada manusia yang mengikutiku. Aku sudah membayangkan hukuman yang akan kuterima.” Belle merasa lega dengan kehadiran Kai.
“Oh, pantas saja kamu berusaha menimbunnya dengan dedaunan ya.” Kai menahan tawanya. “Padahal kamu seorang Analytiker⁽²⁾, tapi kenapa bisa seceroboh itu ya? Hahaha..”
Belle berusaha mengalihkan pembicaraan. “Ah ya, hari ini ada pertemuan lagi kan?”
“Iya, apa kamu sudah mendapatkan data yang kamu butuhkan?” Tanya Kai penasaran.
“Tentu saja.” Belle melompat ke dalam dimensi waktu, disusul oleh Kai.
***
Seekor British Shorthair mengenakan jubah berwarna ungu tua dengan untaian berlian pada kerahnya. Ia berdiri memberikan keputusan. “Tidak perlu disembunyikan lagi! Segera umumkan Jack The Ripper telah kembali!” Serunya.
“Tapi Sir Thomas, itu akan membuat penduduk panik! Belum lagi imbasnya terhadap ekonomi wilayah Salamander.” Bantah anggota Anó̱tatou Symvoulíou⁽³⁾ Krycatovia lainnya.
Sir Thomas merasa kesal, ia memukul mejanya cukup keras hingga menggema di seluruh ruangan. “Sudah tujuh ekor penduduk Lyszavard yang menjadi korban, apa kalian mau membiarkannya?!” Bentaknya kasar.
Belle berbicara setengah berbisik pada kucing Turkish Van betina yang bekerja di bawah naungan perusahaan Detektif Swasta Pawns. “Nona Eri, apa benar seperti itu?” Tanya Belle penasaran.
“Begitulah, Krycatovia dalam bahaya.” Jawab Nona Eri singkat sambil mencatat hal-hal penting di note book kecil bersampul hitam.
Belle termenung dengan sebuah logika yang muncul dalam pikirannya.“Krycatovia terbagi atas wilayah inti; Salamander, Gnome, Undine dan Slyph. Masalahnya tidak ditemukan kasus Jack the Ripper di luar wilayah Salamander. Lalu kenapa Sir Thomas memerintahkan untuk mengumumkannya ke seluruh Krycatovia? Ditambah lagi.. Setiap wilayah memiliki Dewan Tertinggi masing-masing dalam satu kepemimpinan Caith Sith. Jika ada masalah pasti akan mengabari Anó̱tatou Symvoulíou lainnya untuk meminta bantuan. Apalagi ini bukan kasus yang sederhana, tapi mengapa tidak ada? Apa mungkin masalah yang dikategorikan berbahaya ini masih disembunyikan?”
Kai beranjak dari tempat duduknya, ia terlihat bosan dengan ocehan yang tidak menemukan titik terang. “Mau kemana?” Tanya Belle.
“Toilet.” Jawab Kai singkat.
***
Belle dan Kai berjalan di koridor setelah keluar dari ruang Voorhal⁽4⁾. “Tadi lama banget ke toiletnya.”
Kai menggaruk-garuk kepalanya. “Maaf ketiduran, semalam aku berpatroli sampai subuh di jalan La Pearl tapi tidak terjadi sesuatu yang aneh di sana.” Kai menghentikan langkah kakinya, ia tertunduk lesu. “Paginya, aku dengar seekor Maine Coon betina ditemukan tewas di Jalan Clockbeat.” Ia mengepalkan tangannya. “Padahal hanya berjarak 10 blok dari lokasiku berpatroli, bodoh sekali kan?” Kai terlihat menahan amarah di balik senyumannya yang kaku.
“Bagaimana dengan hasil autopsinya?” Tanya Belle singkat.
“Masih dengan cara yang sama dengan korban sebelumnya. Jantung, hati dan sepasang ginjal diambil dengan cara yang kasar.” Jawab Kai.
“Kemarin aku mengobrol sedikit dengan Tuan Greell, kasus Jack the Ripper saat ini berbeda saat kakek buyutnya masih hidup.” Jelas Belle. “Entah dengan cara apa, karena tidak ditemukan bekas benda tajam atau tumpul. Apa mungkin ada kaitannya dengan forbidden spell?”
“Ah, entahlah. Kita makan dulu saja, kali ini aku yang traktir.” Ajak Kai.
***
Siang berganti malam, Belle berjalan di bawah cahaya lampu yang menerangi Jalan Catioheel sendirian. Ia biasa melewati jalan itu ketika hendak pulang ke dunia manusia. Gedung apartemen yang tinggi dan sebuah sungai di seberang jalan menemani Belle yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tiba-tiba teriakan seekor kucing betina membangunkannya dari lamunan. Belle sangat terkejut, di hadapannya berdiri punggung seorang pembunuh yang telah mencabut nyawa buruannya. Darah yang berceceran di sekitar Jack the Ripper dan mayat kucing betina tersebut membuat Belle bergidik, Jack the Ripper menggenggam jantung yang masih berdenyut dan hati di tangan kanannya serta sepasang ginjal di tangan yang lain.
Belle mencoba memberanikan diri, ia mengambil potongan kayu berukuran cukup besar di gang yang terhimpit diantara bangunan apartemen. Ia berlari ke arah Jack the Ripper secara diam-diam, namun langkahnya terhenti tanpa sebab.
Belle membiarkan potongan kayu itu lepas dari tangannya. Ia tidak dapat mengontrol tubuhnya sendiri yang berjalan mendekati Jack the Ripper. Belle terlihat panik, wajahnya berubah pucat pasi, dan tubuhnya bergetar hebat saat melihat wajah pembunuh legendaris itu. “Sir Thomas..?”
***
Kai berlari keluar Gedung Quiete, tempat berlangsungnya pertemuan mereka hari ini. Ia bergumam pada dirinya sendiri. “Aku kan sudah bilang untuk menungguku sebentar. Sudah tahu keadaannya sedang genting begini! Apa dia gak tahu keluar sendirian itu berbahaya!! Sial!!” Kai mempercepat langkah kakinya.
***
Nafas Belle tidak beraturan, ia terlihat kesakitan saat Sir Thomas mulai melafalkan sebuah forbidden spell. Tubuhnya kejang-kejang, darah segar keluar dari mulut dan hidung. Samar-samar terdengar teriakan memanggil namanya. “BELLE!!!” Kai melompat tinggi lalu menendang wajah Sir Thomas dengan keras.
Sir Thomas jatuh tersungkur di jalan yang dilapisi paping blok persegi. Ia langsung tak sadarkan diri setelah menerima tendangan Kai, kepalanya sempat membentur jalan. Kai segera mendekati Belle yang terkulai lemas tak berdaya.
***
Tiga hari telah berlalu semenjak kejadian itu, Belle masih belum sadar dari bangsal rumah sakit. Selama itu pula korban Jack the Ripper semakin bertambah.
“Masih belum juga Dok?” Tanya Kai khawatir.
“Luka yang dideritanya sangat parah, bisa dikatakan organ penting dalam tubuhnya sedikit meregang dari tempatnya.” Jawab dokter sambil mencatat perkembangan Belle.
Kai mengarahkan pandangan penuh rasa iba. “Cepatlah sadar, bodoh.” Ucap Kai setengah berbisik.
Jari telunjuk Belle bergerak merespon kesadaran. Perlahan-lahan matanya terbuka. “Kai..”
Kai segera mendekati Belle. “Syukurlah kamu sudah sadar.” Ia menggenggam erat tangan Belle.
Belle memejamkan matanya lalu ekspresinya berubah, ia meninju wajah Kai. “Kamu tadi bilang aku bodoh ya?! Beraninya mengumpat di belakang orang yang sedang sakit!” Belle meronta-ronta di atas bangsal, ia begitu kesal.
“Belle..” Kai menyentuh pipinya, ia kelihatannya terpukul dengan sikap Belle. “Beraninya bocah kerdil sepertimu menghajarku!! Kamu pikir kalau aku tidak ada di sana, siapa yang bakal menolongmu, hah!!” Kai mencubit kedua pipi Belle.
“Agh!” Belle mengerang kesakitan, ia menyentuh dadanya.
“Itu akibatnya baru sadar sudah ribut.” Dokter Samuel segera memeriksa Belle kemudian menyuntikkan obat.
Kai mengenakan mantel berwarna abu-abu. “Aku harus segera kembali, masalah semakin gawat. Jack the Ripper masih berkeliaran.”
Belle terkejut mendengar pernyataan Kai. “Bukannya sudah..”
“Iya, mungkin ada orang dalam yang ikut turun tangan. Aku sudah memberitahu Tuan Greell untuk menjagamu, jadi jangan khawatir.” Kai memutar daun pintu kamar pasien Belle, di hadapannya telah berdiri Tuan Greell yang siap menggantikan Kai. “Hari ini juga, mohon bantuannya ya, Tuan Greell.” Kai tersenyum ramah.
“Semoga harimu menyenangkan, anak muda.” Tuan Greell menepuk pundak Kai.
Kai pun berlalu dari pandangan Belle. Tuan Greell menutup pintu lalu mendekati Belle. “Sudah baikan?” Tanyanya singkat.
“Iya lumayan.” Belle tersenyum ramah. “Tuan Greell..” Belle tidak melanjutkan perkataannya, tetapi Tuan Greell sudah tahu arah pembicaraan Belle.
“Iya nona, kira-kira sampai hari ini sudah 12 orang.”
Belle termenung. “Apa semua peristiwa yang terjadi di tempat berbeda memiliki maksud tersembunyi?” Ia menyentuh dagunya. Tiba-tiba air wajah Belle berubah.“Jangan-jangan..” Ia memalingkan wajahnya pada Tuan Greell. “Tuan, bisakah saya meminta bantuan tuan?” Tanyanya perlahan.
“Dengan senang hati.” Jawab Tuan Greell bersemangat.
“Tolong ambilkan peta Kota Lyszavard, serta sebuah spidol.”
“Baik.” Tuan Greell segera keluar dari kamar lalu mengambil barang-barang yang diminta oleh Belle.
Tidak lama kemudian Tuan Greell datang dengan barang-barang yang diminta Belle. “Saya hanya menemukan spidol warna merah.”
“Iya tidak apa, terima kasih Tuan Greell.” Belle segera mengambilnya lalu membentangkan peta Kota Lyszavard yang terletak di wilayah Salamander. Ia mengambil spidol merah lalu menandai wilayah yang menjadi tempat kejadian. “Tuan, tolong tandai lokasi kejadian baru-baru ini.”
Tuan Greel mengangguk, ia segera memberi tanda silang pada lokasi yang diperitahkan Belle. Setelah itu belle menarik garis dari tanda-tanda silang yang ada di atas peta. “Ini.. Baphomet.”
“Baphomet?” Tanya Tuan Greell penasaran.
“Iya, lambang yang menggambarkan dewa jahat dan simbol setan. Sejak 1855, nama Baphomet telah dikaitkan dengan citra “Sabbatic Kambing” yang ditarik oleh Eliphas Levi.” Jelas Belle. “Tuan Greell tolong beritahu Beveiligingsdivisie⁽⁵⁾, lokasi selanjutnya di Jalan Phomilyph.”
“Baik nona.” Tuan Greell segera berlari keluar melakukan apa yang diinstruksikan oleh Belle.
***
Belle berjalan sempoyongan menuruni tangga darurat, ia bahkan tidak cukup kuat untuk berdiri tegak. “Aku harus memastikannya sendiri.”
Belle berhasil melewati penjagaan Rumah Sakit Louhent dengan memanfaatkan jalan pintas yang ia ketahui dari Tuan Greell. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah kota, banyak kucing penduduk Kota Lyszavard menaruh perhatian padanya. Tapi Belle tidak peduli, ia terus melangkahkan kakinya hingga ke sebuah taman yang terletak di dekat Jalan Phomilyph. Belle kehabisan tenaga, ia beristirahat sebentar di atas sebuah pohon yang dapat menyembunyikan dirinya.
Hari berganti malam, Belle tertidur pulas di atas pohon. Ia lupa akan misi yang harus dilakukannya. Dahan pohon yang dimanfaatkan sebagai tempat bersinggah tidak dapat menahan tubuh Belle lebih lama lagi, akhirnya ia terjatuh di atas tumpukan semak-semak liar.
***
Belle membuka matanya, begitu tersadar ia telah berada di dalam kamar mewah sebuah mansion pribadi. “Kai..” Ia cukup mengenali kondisi ruangan itu karena sebelumnya Belle pernah menginap beberapa kali di mansion Kai.
Belle beranjak dari tempat tidur menuju sebuah jendela lalu melihat keluar, tubuhnya terasa lebih baik dari sebelumnya. “Kenapa aku bisa berada di sini ya? Ah iya, aku jadi sadar, bagaimana bisa kucing memiliki mansion semewah ini.” Belle memperhatikan halaman mansion milik Kai dengan rasa takjub.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok seekor kucing yang berjalan agak tergesa-gesa di halaman rumah Kai, ia mengenakan mantel hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Belle bersembunyi di balik tirai sambil terus memperhatikan gerak gerik kucing tersebut hingga ia masuk ke dalam. Belle tidak mengatakan apapun, ia langsung keluar dari kamar dan menuju ruang utama. Tetapi tidak ditemukan siapa-siapa di sana, hanya cangkir yang berisi teh. “Ini baru disuguhkan.” Belle memperhatikan situasi sekitarnya. “Apa mungkin Kai memiliki ruang rahasia..” Gumam Belle. Ia mengamati ruang utama dengan jeli. “Tidak mungkin keluar ruangan secepat itu, pasti masih di sekitar sini.”
Belle memeriksa karpet, rak buku, dan dinding dengan mengetok-ngetoknya, namun ia belum menemukan apapun. “Masih ada yang kurang.” Belle melepas lukisan-lukisan yang menempel di dinding, pada sebuah lukisan yang berhadapan dengan rak buku terdapat sebuah tombol berwarna merah. Belle menekannya lalu jalan menuju ruangan rahasia muncul dari balik dinding. Ia tak langsung menuruni tangga, Belle mengambil pedang yang digantung sebagai senjata.
***
Belle bersembunyi di balik pilar-pilar tinggi, mengamati dari dalam kegelapan. Begitu kucing itu membuka mantel yang dikenakannya, Belle berlari memergoki mereka. “Kai! Bagaimana bisa Sir Thomas berada di sini?!” Ia tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.
“Belle, Sir Thomas hanya datang memberikan sesuatu yang aku butuhkan kok.” Kai tersenyum sinis. Di tangannya terdapat jantung, hati dan sepasang ginjal korban ketiga belas.
“Jangan bercanda!” Belle berlari menyerang Kai, namun langkahnya terhenti. Ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama seperti saat itu.
“Apa yang sebaiknya aku lakukan tuan?” Tanya Sir Thomas sopan.
“Atur ulang saja ingatannya, ia pasti berguna bagi kita.” Jawab Kai tenang sambil menyusun organ dalam yang telah ia dapatkan hingga membentuk simbol Baphomet.
“Kai!! Sadarlah! Bukan ini yang sebenarnya terjadi kan!” Airmata mengalir membasahi pipi Belle.
“Kamu salah Belle, dengan memberikan pengorbanan ini aku bisa mendapatkan kekuatan yang melampaui Caith Sith untuk mengontrol dunia manusia. Dengan begitu tidak akan ada lagi manusia yang sembarangan memperlakukan kita.” Kai berdiri di tengah baphomet ia mengangkat tangannya.
“Ini tindakan yang benar-benar bodoh, Kai! Lagipula tidak semua manusia sama seperti yang Kai pikirkan. Alicia dan aku memiliki hubungan batin yang kuat, makanya aku juga berharap Kai memiliki majikan seperti Alicia!” Namun tidak ada satupun perkataan Belle yang mampu menyadarkan Kai.
Tiba-tiba seseorang memukul kepala Kai dari belakang hingga ia jatuh tersungkur. “Yak, cukup sampai di situ.”
“Nona Eri! Bagaimana bisa Nona Eri bisa di sini?!” Tanya Belle kaget.
“Nanti akan kujelaskan.”
Sir Thomas mengarahkan tangannya pada Nona Eri namun ia terlihat tenang. Sebuah potongan kecil kelopak bunga mawar merah mengganggu konsentrasi Sir Thomas, disusul dengan munculnya ribuan kelopak mawar merah bak badai tornado. Tiba-tiba seekor kucing hitam yang berukuran satu setengah kali lebih besar dari tubuh Sir Thomas muncul di samping kanan Nona Eri. Ia tidak mengatakan apapun, lalu mendekati Kai kemudian menyentuh kening Kai yang terbaring. Sir Thomas tertegun
“Sith.” Suara seorang wanita dengan nada berat keluar dari bibir Kai yang menyeringai penuh kebencian.
“Gracelle.” Suara Caith Sith terdengar begitu lembut, siapapun yang mendengarnya akan merasa tenang tanpa sebab. “Datanglah padaku, akan kuhadapi kau secara langsung.” Kai hanya tersenyum sinis.
Caith Sith memejamkan kedua bola matanya yang berwarna kuning emas, kemudian muncul tiga belas pedang cahaya di udara.
Kai mendengus kasar. “Cara yang licik Sith.” Ketiga belas pedang cahaya menghujam tubuh Kai bersamaan dengan terbukanya kedua mata Caith Sith. Belle sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Caith Sith.
Kai berteriak kesakitan hingga kehilangan kesadaran. Mata kiri Kai terbuka nampak sebuah segel magis. Segel itu keluar dari matanya lalu membesar hingga seukuran tubuh Kai. Tidak berapa lama segel itupun hancur bersamaan dengan pedang cahaya Caith Sith.
Sir Thomas tersadar dari lamunannya, ia mencoba memanterai Caith Sith. Namun dalam sekejap Nona Eri muncul dihadapan Sir Thomas. “Cukup sampai di sini.” Nona Eri memukulnya hingga ia terlempar sejauh dua meter dan terpental beberapa kali sebelum menabrak dinding.
Belle jatuh terduduk, ia tidak mengatakan apapun. Ia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Kai. Belle mengalihkan pandangannya pada sang penguasa kucing, seketika itu rasa tegang, takut, dan khawatir menghilang dari dalam dada. Di dalam kedua bola mata emas Caith Sith terpancar aura kebaikan yang belum pernah ia temukan. Ia tidak dapat melukiskannya dengan kata-kata namun hal itu membuat Belle tersenyum lega. “Syukurlah.”
Tiba-tiba tubuh Belle bergetar hebat, ia banyak memuntahkan darah. Pandangannya berkabut, ia tidak dapat melihat jelas. Nona Eri berlari mendekatinya dengan wajah panik. “Sial! Aku terlalu memaksakan diri, sepertinya inilah akhir.. hidupku..” Belle terkulai lemas.
***
Belle membuka matanya yang masih terasa berat, ia terbaring di bangsal yang sama. “Kerja yang bagus.” Kai mengusap kepala Belle.
“Kai..”
“Nona penyidik, syukurlah anda sudah bangun. Jangan kabur seperti kemarin lagi ya.” Tuan Greell tersenyum lega.
“Tuan Greell, maaf ya.” Belle tersenyum canggung.
“Nona Eri?” Panggil Belle lemah. “Bagaimana bisa waktu itu..”
“Oh itu ya, sejak kamu mendapat serangan, aku mulai mengawasimu. Aku pikir mungkin kamu berada dalam bahaya.” Jawab Nona Eri sambil tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan Kai?” Tanya Belle khawatir.
“Tenang saja, dia tidak jadi tersangka kok. Paling wajib lapor saja.” Jawab Nona Eri tenang.
“Syukurlah Kai.” Belle tersenyum lega.
“Iya, terima kasih.” Kai tersipu malu.
“Tapi Nona Eri, bagaimana Caith Sith dapat muncul di sana? Kalian juga terlihat akrab satu sama lain. Lalu tentang suara aneh Kai saat itu..” Rasa penasaran memberanikan Belle untuk menggali informasi.
“Yah, kalau soal itu saya juga tidak begitu paham tetapi menurut ibu saya dulu, kita harus mempercayai keberadaan Caith Sith dengan sepenuh hati lalu memanggilnya dengan harapan kita.” Jelas Nona Eri. “Kemudian tentang Kai, kudengar dari Anó̱tatou Symvoulíou ia berada dalam kontrol Gracelle tapi syukurlah koneksi antara mereka sudah dihancurkan oleh Caith Sith. Data tentang Gracelle masih sangat minim jadi aku hanya bisa mengatakan, sepertinya ia otak dibalik kasus yang kita hadapi.” Papar Nona Eri singkat.
“Oh begitu ya.” Belle memejamkan matanya, ia berkosentrasi sesuai apa yang dikatakan Nona Eri. Namun saat membuka matanya ia tidak melihat kehadiran Caith Sith. “Lho? Kok tidak bisa ya?” Tanya Belle dengan suara pelan.
“Ada apa Belle?” Tanya Nona Eri penasaran.
“Ah, tidak ada apa-apa.” Jawab Belle sambil menarik selimutnya. “Kira-kira apa Nona Eri punya kemampuan khusus sehingga ia bisa memanggil Caith Sith ya? Ah sudahlah, yang penting kasusnya selesai” Pikir Belle.
***
Lima minggu telah berlalu di dunia manusia, Alicia mencari Belle ke seluruh penjuru kota. Ia terus memanggil-manggil nama Belle. Rasa lelah membawanya ke taman bermain di dekat rumahnya. Dari kejauhan terdengar bunyi lonceng yang sangat familiar ditelinganya. “Belle?” Alicia berlari mendekati Belle lalu menggendongnya.
Alicia mengelus-elus kepala Belle. “Kemana saja kamu selama ini? Kamu membuatku khawatir.” Belle hanya mengeong membalas pertanyaan majikannya.
Fin
Glosarium;
⁽¹⁾ Frourás: Penjaga (bahasa Yunani)
⁽²⁾ Analytiker: Analis (bahasa Jerman)
⁽³⁾ Anótatou Symvoulíou : Dewan Tertinggi (bahasa Yunani)
⁽4⁾ Voorhal: Aula (bahasa Afrikaans)
⁽⁵⁾ Beveiligingsdivisie : Divisi Keamanan (bahasa Belanda)
Cerita ini dikompetisikan di Lomba Cerita Pendek Fantasi Fantasy Fiesta 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar