21 Desember 2016
Seperti biasa, pada hari-hari biasa orang bekerja ada yang mengendarai kendaraan atau berjalan kaki. Bahkan ada pula yang memang pekerjaannya berjibaku dengan jalanan dan kendaraan. Tapi bukan itu inti masalahnya. Hanya memberikan gambaran singkat mengenai jalur yang selalu aku lewati.
Setiap hari atau terkadang, aku berbagi kendaraan dengan adik perempuanku yang tengah kuliah. Biasanya aku diantar sampai kantor atau terkadang kebagian jatah untuk membawa sendiri. Ada kalanya aku minta diantar sampai perempatan jalan lalu berjalan kaki menuju kantor. Atau ada kalanya juga aku lupa membawa ponsel dan harus pulang dengan menaiki angkot. Sebelum naik angkot itulah aku harus berjalan menuju perempatan yang sama. Sekali lagi bukan ini masalahnya, percayalah padaku.
Aku memang sudah terbiasa berjalan kaki. Bahkan pernah menantang kemampuan jalanku sendiri dengan berjalan dari tempat les di Cicaheum sampai ke rumah yang berada di Cinunuk sewaktu SMP. Atau saat SD berjalan pulang dari Cibiru sampai ke rumah di Cinunuk, jadi sebenarnya sudah benar-benar terbiasa.
Yang membuatku akhirnya menulis hal ini di blog adalah trotoar yang kugunakan untuk melalui jalan tersebut. Jika diperhatikan baik-baik, sepanjang jalur Cinambo amat minim trotoar-apalagi jalur menuju kantor. Kalaupun ada trotoar, dipergunakan untuk pohon, pot tanaman dan tiang besi. Pertanyaannya, aku harus berjalan dimana?
Pada akhirnya aku mengalah pada pohon-pohon dan tiang besi dengan berjalan di bahu jalan. Jika kalian tahun bentuk jalannya seperti apa, mungkin akan berpikir dua kali hanya untuk berjalan di bagian bahu jalan.
Kalaupun ada ruang untuk berjalan di tanah sisi lain trotoar yang berpenghuni, itu juga tetap berbagi dengan pohon dan tiang listrik. Jika sudah begitu, biasanya kuserahkan pada insting yang membimbing haha. Rasanya seperti melalui petualangan yang penuh rintangan layaknya mencari kitab suci.
Mari berharap, kelak akan ada trotoar yang layak untuk manusia lalui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar